Friday, February 24, 2006

Pulang ke Demak

Bis Nusantara kelas eksekutif membawaku pulang kembali ke kampung halamanku pada 17 Februari kemarin. Berangkat dari pool-nya di Sukasari pukul 15.30 wib. Tidak begitu banyak penumpangnya. Masing ada beberapa bangku yang kosong, karena saat itu bukan lebaran atau musim libur sekolah. Tidak ada masalah di jalan. Perjalanan lancar sampai ke tempat tujuan. Bis sampai di Demak jam tiga pagi. Aku turun di alun-alun depan masjid agung Demak. Aku berangkat sendiri ke Demak untuk menyambut kedatangan bapak & ibu dari tanah suci.

Demak sudah banyak berubah semenjak aku tinggalkan tahun 1992. Alun-alun tempat aku bermain bola, nonton layar tancep dan lain-lain sudah tidak seperti dulu lagi. Halaman depan masjid sudah dipaving semua. Teras serambi sudah diganti marmernya. Kolah Kayu (kolam kecil) tempat aku bermain air sudah tidak ada atapnya dan sudah jadi monumen yang hanya bisa dilihat dari luar pagar. Hanya menaranya yang masih seperti dulu. Di sepanjang sungai tuntang dimulai dari pasar ke arah Sampangan sudah dipenuhi oleh kios. Menunjukkan bahwa perekonomian masyarakat terus berkembang. Di Katonsari, ada jalan lingkar untuk kendaraan yang akan ke Kudus. Entah seberapa panjangnya. Aku sendiri tidak tahu. Katanya jalan itu tembus sampai wilayah Gajah.

Aku hanya menginap semalam di Demak. Minggu pagi, 19 Februari, aku sudah kembali ke Bogor dengan Fajar Utama. Adikku Bowo dan Asih, istrinya Bowo (Tia) dan anaknya Asih (Ema) mengantarku berangkat dari Demak menuju semarang jam enam pagi. Aku minta Bowo supaya menghentikan mobilnya sebentar di ujung jalan Kauman II. Aku sempatkan memotret masjid dan alun-alun untuk kenang-kenangan. Asih dan Ema didrop di rumahnya di Bangetayu. Kemudian Bowo dan Ita mengantarku ke Stasiun Tawang. Mereka langsung berangkat lagi karena Bowo mau ada rapat di kantornya pagi itu. Jam masih menunjukkan pukul tujuh. Tapi keretaku sudah ada menunggu. Masih ada waktu satu jam sebelum kereta berangkat. Aku sempatkan beli Kompas untuk menunggu dan sebagai teman dalam perjalanan.

Tuesday, February 21, 2006

Tia

Saya ingin menampilkan sekaligus memperkenalkan bintang tamu di blog ini. Namanya Tia. Berumur tiga tahun. Dia ini cantik parasnya. Bukan apa-apa, cuma kebetulan dia ini teman sekolah anak saya yang nomer dua, Reyhan. Mereka berdua saat ini sekolah di Dilutika. Reyhan kelas nol, Tia di playgroup. Reyhan sekolahnya sampai jam 11. Setelah itu dilanjutkan ke playgroup. Mereka menjadi teman di kelompok bermain tersebut sampai masing-masing dijemput orangtuanya. Playgroup Dilutika juga sekaligus merupakan tempat penitipan anak-anak yang kedua orangtuanya sibuk bekerja.

Tia ini berdarah Padang. Kedua orangtuanya berasal dari sana. Dia adalah anak dari teman sekantor saya. Kalau anda lihat foto Tia yang rupawan di atas, dia sedang berjalan di samping dinding Monumen Pahlawan Tak Dikenal di Bukit Tinggi. Saat dia sedang liburan dengan orangtuanya. Foto itu diambil 12 Februari 2006. Saya sendiri kalau mengamati foto tersebut, seperti melihat gadis dari Palestina atau negara Jazirah Arab lainnnya.

Wednesday, February 15, 2006

Berita Kehilangan

Sial bener hari ini. Buku yang aku dapatkan dari pak Maman S. Mahayana hilang di angkot 02 (Sukasari-Bubulak). Bukan harganya yang aku sayangkan karena memang buku itu dikasih gratis tapi nilai persahabatannya itu. Misalkan aku beli lagi bisa saja. Tapi nilainya pasti akan berbeda. Mudah-mudahan supir angkotnya atau siapa saja yang menemukan berbaik hati mau menghubungi, karena di buku itu aku tempelin stiker yang ada alamat dan nomer telepon rumah. Sebuah buku kumpulan cerpen pemenang lomba penulisan kreatif yang diadakan CWI (Creative Writing Institute) tahun kemarin. Judul bukunya diambil dari cerpen pemenang pertama yaitu La Runduma. Pak Maman sendiri merupakan salah satu dari tiga editor buku tersebut. Juga salah satu dari banyak juri dari lomba tersebut.

Aku ini termasuk mahluk book lover, jadi sedih banget kehilangan buku. Mendingan kehilangan uang daripada buku. Tapi mendingan lagi tidak kehilangan apa-apa lalu dikasih uang serta buku.

Tuesday, February 14, 2006

Jin

Terjadi peristiwa yang termasuk ghaib di tempat saya kerja pada Senin, 6 Februari kemarin. Ada salah satu mahasiswi yang kemasukan jin. Entah jin muslim atau kafir. Meskipun ketika disapa oleh pak ustadz yang didatangkan untuk meruqyah, jin tersebut menjawab ‘wa’alaikumsalam’ melalui mulut mahasiswi tersebut.

Bagi saya menyaksikan secara langsung peristiwa seperti ini bukan untuk yang pertama kalinya. Tapi entah kenapa ketika melihat kejadian kemarin, hati saya jadi gentar. Saya sendiri kasihan melihatnya. Namun saya tidak berdaya (mungkin lebih tepatnya tidak berani) untuk menolong. Saya merasa dalam tubuh sendiri juga ada jin. Hal ini bisa terjadi karena saya dua bulan terakhir pernah mengikuti sebuah perkumpulan senam pernapasan yang bernama Mahatma. Entah di dalam tubuh saya ini benar-benar ada jinnya atau tidak saya sendiri nggak tahu. Saran dari teman agar diruqyah untuk memastikannya sampai sekarang belum saya laksanakan.


Mungkin kalau anda membaca tulisan ini dan kebetulan juga ikut Mahatma, anda tidak setuju dengan saya. Ketidaksetujuan anda saya junjung tinggi penuh penghormatan. Saya sendiri sebenarnya juga tidak tahu apakah senam tersebut disertai jin atau tidak. Saya hanya menjadi ragu-ragu terhadap kegiatan tersebut setelah mendapat masukan dari beberapa teman bahwa kegiatan yang menggunakan tenaga dalam seperti Mahatma ini kadang-kadang bisa ada jin yang masuk ke dalam tubuh manusia. Disamping itu, kegiatan yang disebut oleh perkumpulan ini dengan istilah ‘pendadaran’ atau ‘buka energi’ yang telah saya jalani menambah keraguan saya. Pendadaran/buka energi adalah semacam bai’at, upacara peresmian menjadi anggota. Dapatkah anda pikirkan ketika saya yang baru ikut latihan kurang dari dua bulan bisa memecahkan teh botol yang ada isinya hanya dengan memukul tutupnya? Yaitu dengan tangan kiri memegang leher botol, telapak tangan kanan memukul tutup botol. Saya terus terang kaget dan takjub saat itu. Dalam perjalanan pulang baru saya berpikir, apa memang iya itu tenaga saya sendiri, bukan dari mahluk lain?

Saya tidak bermaksud mendiskreditkan Mahatma atau mempengaruhi anda untuk keluar dari perkumpulan ini. Semua kembali ke diri anda sendiri. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa keraguan tersebut akhirnya membuat saya mengambil keputusan untuk keluar dari Mahatma. Nabi Muhammad juga mengatakan untuk lebih baik meninggalkan apabila ragu-ragu.

Sunday, February 05, 2006

Jyllands-Posten



Rupanya yang namanya ketidakpedulian nurani orang lain akan tetap ada di muka bumi ini. Tidak hanya oleh orang-orang negara ketiga atau miskin, juga oleh mereka yang mengaku negara maju. Apa yang dilakukan surat kabar terbesar Denmark, Jyllands-Posten, dengan menerbitkan karikatur Nabi Muhammad sebanyak 12 gambar dan kemudian disebarluaskan oleh media negara-negara Eropa lain diantaranya Magazinet (Norwegia), Die Welt (Jerman), dan France Soir (Perancis) serta koran Selandia Baru, Amerika, dan Yordania menjadi contoh ketidakpedulian tersebut. Parahnya lagi, karena kerasnya hati yang membatu (mungkin), pemerintah Denmark tidak mau minta maaf kepada kaum muslim dengan alasan kebebasan pers seperti yang diberitakan di Republika, 4 Februari 2006. Jyllands-Posten sendiri sebenarnya telah membuat surat terbuka untuk kaum muslim di seluruh dunia yang dipajang di situs online-nya. Tetap saja apa yang sudah terlanjur dilakukan tidak bisa ditarik lagi.

Sebenarnya gambar karikatur ini pertama kali diterbitkan oleh Jyllands-Posten pada 30 September 2005 dengan judul artikel “Muhammeds ansigt" (Wajah Muhammad). Dua gambar yang memperlihatkan kepala Nabi Muhammad dengan bom di atas surbannya dan beliau sedang menyambut para pelaku bom bunuh diri di surga adalah yang memicu munculnya gelombang protes. Dua minggu setelah pemuatan itu sekitar 3.500 orang melakukan demonstrasi damai di Copenhagen. Bulan Nopember beberapa koran di negara-negara Eropa menerbitkan kembali gambar tersebut. Akibatnya, gelombang protes makin meningkat. Sampai saat ini bukan cuma protes, boikot untuk tidak membeli produk Denmark, dan penutupan kedutaan juga dilakukan.

Protes yang muncul bukan hanya dari Indonesia melainkan seluruh umat muslim di dunia. Peristiwa novel Satanic Verses yang ditulis Salman Rushdie yang menghasilkan perintah hukuman mati dari Syah Iran bagi penulis dari Inggris keturunan India ini rupanya tidak membuat jera. Kita yang di Indonesia tentu masih ingat kelakuan Arswendo Atmowiloto yang meranking orang-orang populer termasuk Nabi Muhammad di tabloid Monitor yang dia komandani. Akibat yang dihasilkan oleh perbuatannya itu adalah hukuman penjara. Dan itu masih mending. Kaum muslim Indonesia masih toleran.

Saya sendiri melihat gambar Nabi Muhammad yang ada di Jyllands-Posten sebenarnya karikatur biasa pada umumnya. Tapi bukan berarti hal itu terus boleh dilakukan begitu saja. Aturan tetap aturan. Sedangkan nabi sendiri saja melarang dirinya digambar. Hadist adalah tuntunan umat muslim selain Al Qur’an. Melanggarnya berarti melawan umat Islam di seluruh dunia.

Thursday, February 02, 2006

Met Ultah Dung

Kalau manusia hidup di dunia ini ibarat kontrak rumah, maka setiap ulang tahun berarti waktu tinggal di dunianya berkurang satu tahun. Bukan saya tidak setuju dengan mereka yang berpesta pora merayakan hari jadinya. Itu hak mereka. Tapi sangat disayangkan kalau dengan melakukan itu mereka jadi lupa terhadap fananya manusia.

Manusia hidup itu sudah dijatah lamanya. Berapa usia manusia, itu rahasia Allah. Tidak akan pernah ada yang tahu berapa lama umur manusia. Kalaupun ada yang bersumpah dia bisa menghitung jatah hidup manusia, jangan percaya. Dia itu seorang pembual. Apapun profesinya. Dokter sekalipun. Yang mana sering dia memvonis umur manusia. Seolah-olah dia punya hak untuk melakukan itu. Apa yang dia lakukan semata-mata berdasarkan hitungan yang juga buatan manusia. Apakah kehendah Allah bisa didikte oleh kepintaran manusia ciptaanNya? Mimpi disiang bolong itu namanya. Mana ada wayang memerintah dalangnya. Allah itu sutradara pencipta skenario kehidupan di dunia.

Tanggal dan bulan ini istriku ulang tahun. 36 tahun sudah dia menjalani kehidupannya. Dia bukan milik saya. Hanya saja dia tinggal sama saya. Menemani saya dalam suka dan duka. Memberikan teman-teman kecil, Izal & Reyhan, dalam kehidupan saya. Tidak ada yang bisa saya berikan untuk hari yang menurut orang-orang istimewa. Hanya doa semoga dia tabah dalam menjalani kehidupannya. Kalaupun ada kado yang saya berikan, itu tidaklah ada artinya. Apalah artinya sebungkus kado.

Kado itu saya berikan semata-mata sebagai usaha membarangkan, mengkonkritkan yang abstrak, rasa sayangku padanya. Tapi itu masih kurang. Sangat kurang. Rasa sayangku tidak bisa diwujudkan dengan bentuk kado yang teramat sederhana seperti itu. Hanya saya dan Allah saja yang tahu. Saya hanya bisa mencoba mewujudkannya dalam tutur kata, tingkah laku, dan perbuatan. Langsung maupun tidak langsung. Mudah-mudahan bisa nyambung.

Dia bukan milik saya. Saya hanya kebetulan menjadi orang yang dipercaya pemiliknya untuk mendampingi dia di dunia. Entah sampai kapan. Selamat ulang tahun Dung.

Wednesday, February 01, 2006

Welcome February

Nggak terasa. Sudah bulan kedua aku ngeblog. Kalau tulisanku kemarin-kemarin ada yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan yang membaca ya mohon disori saja. Semata-mata itu semua karena disengaja maupun direncanakan. Namanya juga catatan pribadi (yang tidak pribadi lagi). Jadi gak heran atau kaget kalo ada anak Yogya yang ditangkap polisi dan diinterogasi kayak kriminal gara-gara weblognya berisi foto SBY yang sudah dipermak habis-habisan. Memang yang namanya kreativitas itu kadang-kadang menyinggung privasinya orang lain. Dan itu emang suka nikmat dilakukan (kayak apa aja ya?). Atau bisa sering kebablasan. Boleh saja kan.

Dan sori juga kalau tulisanku bikin orang bingung. Baik isi maupun susunannya yang acak-acakan. Maklum, baru belajar. Jadi belum punya SIM alias surat ijin menulis. Padahal aku udah lama belajar nulis hlo, tapi kok ya gak bisa-bisa. Aneh ya?

Okelah. Awal bulan Februari ini aku cuma mau menyampaikan sedikit tentang apa yang rasanya perlu aku sampaikan. Itu tu tentang kelakuan pemerintah kita. Mungkin agak berat, tapi dikiiiiiiiiiittttt........

Tau kan, saat ini banyak hal-hal yang kadang bikin kita rakyat kecil ini merasa di-bego-in dengan kinerja pemerintah. Apa ya istilah lain dari kinerja? Kita sebut saja yang dikerjakan pemerintah gitu lah. Sudah berapa kali coba raport pemerintah yang dinilai merah oleh rakyat. Dari urusan sutet yang membuat penjahit celana punya saingan, karena sekarang mulut juga dijahit. Inul yang nangis-nangis di DPR karena wakil kita masih bingung bikin rancangan undang-undang pornografi maupun pornoaksi yang itu semua dipicu akan munculnya majalah esek-esek Playboy maret nanti. PLN yang dengan 2006 alasan akan menaikkan TDL alias Tarif Dasar Listrik bentar lagi. Yang sudah pasti akan makin menyengsarakan rakyat. Dan bisa jadi sebagian rakyat yang sudah di-smackdown sama Pertamina beberapa waktu yang lalu sehingga untuk masak harus pakai kayu bakar, sekarang harus juga bikin api unggun di dalam rumah gara-gara tidak mampu bayar listrik. Bisa sangit nanti. Kasihaaaaaaaannn deh lu rakyat!

Kalau dipikir-pikir lagi BUMN-BUMN kita ini kayak PJKA. Orang Bogor yang demen naik KRL suka bilang kalo PJKA itu singkatan Perusahaan Jawatan Kumaha Aing. Alias perusahaan yang ngelolanya suka-suka gue. Mau karcisnya naik, gerbongnya macet, tubrukan depan-depan, tubrukan ala sodomi, penumpangnya bejubel kayak pindang - pokoknya kumaha aing lah.

Dan sekarang ini, musim hujan. Banjir dimana-mana. Sudah pasti pelanggan banjir akan puyeng. Kita liat aja apa yang dilakukan pemerintah kita. Setali tiga orang eh uang. Masalah klise penanganan klise. Bosen jadinya. Bukannya rakyat nggak mau membantu. Andalah, hai para penguasa, yang sudah dipercaya jadi pemimpin rakyat untuk bertindak.

Mudah-mudahan presiden kita tidak seperti Kaisar Meiji di Jepang yang digambarkan dalam film "The Last Samurai"nya Tom Cruise. Tidak PD. Kayak kebo dicucuk hidungnya. Melakukan apa saja asal orang atau kelompok tertentu, BUKAN RAKYAT, senang.
Samurai:
"You are a living God. Do what you think is right."
Kaisar Meiji:
"I am a living God as long as I do what they think is right."


Kalau penguasa kita seperti itu, berdoa sajalah agar cepat sembuh.
Kalau tulisan ini dianggap seperti tulisannya blogger Yogya, ya berdoalah untuk saya.