Wednesday, December 12, 2007

AIFKR

Bingung ya baca judul di atas? Sengaja. Itu namanya anagram. Pernah dengar anagram? Atau malah merupakan hal biasa yang suka anda lakukan? Bila anda kenal permainan Scrabble dan suka memainkannya, anda pasti kenal istilah itu. Jika tidak, saya bisa simpulkan anda termasuk newbies dalam permainan ini. Anagram merupakan salah satu teknik yang digunakan dalam Scrabble. Teknik anagram dilakukan dengan cara menggeser-geser tile (huruf) yang dimiliki sehingga terbentuk sebuah kata. Karena permainan Scrabble menggunakan bahasa Inggris, tentu saja kata yang terbentuk harus kata bahasa Inggris. Sebagai contoh, bila memiliki huruf ABC, maka kata yang bisa dibentuk adalah CAB. Kata lain, BAC, bisa juga dibuat dari huruf-huruf itu. Masalahnya adalah apakah kata itu punya arti dalam bahasa Inggris, bila tidak, berarti kata BAC tidak bisa diterima.

Judul di atas misalnya, bisa kita susun menjadi beberapa kata. Saya tidak meminta anda untuk menyusunnya menjadi kata dalam bahasa Inggris. Pusing nanti. Saya hanya menanyakan kepada anda, kata apa dalam bahasa Indonesia yang terpikirkan di benak anda dengan melihat lima huruf itu yang bisa anda susun? Mungkin akan segera muncul di otak anda: FAKIR, KAFIR, atau FIKAR. Kata yang terakhir coba anda cek, ada tidak di dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Jika tidak ada, dalam permainan Scrabble, kata itu berarti unacceptable.

Sebenarnya tulisan ini tidak akan membicarakan tentang permainan Scrabble. Kalaupun saya mengawali dengan teknik anagram yang ada dalam permainan Scrabble, itu semata-mata sebagai prolog saja. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah kata bentukan dari anagram lima huruf itu yaitu kata fakir dan kafir. Bila mengacu pada kamus bahasa kita, fakir artinya orang yang sangat berkekurangan atau bisa juga orang yang terlalu miskin. Kafir punya arti lain lagi, yaitu orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya.

Antara fakir dan kafir jelas berbeda. Orangnya pun bisa tidak sama. Maksudnya, antara si fakir dan si kafir bisa lain-lain orangnya. Sebaliknya, mungkin saja fakir dan kafir itu satu orang. Namun demikian, meskipun dari segi makna berbeda, ternyata kedua hal tersebut bisa memiliki hubungan yang dekat dan saling terkait. Batas antara fakir dan kafir begitu tipisnya. Seperti dalam teknik anagram, fakir bisa berubah menjadi kafir. Dalam kehidupan nyata, hal itu pun dapat terjadi. Kefakiran bisa membuat manusia menjadi kafir karenanya. Banyak contoh yang bisa dilihat dalam hidup kita.

Barangkali anda pernah dengar kisah seorang yang bersekutu dengan jin untuk mendapatkan kekayaan. Hanya karena ingin bisa kaya, dia rela membuat perjanjian dengan mahluk halus ini. Bahkan dengan syarat menyediakan tumbal pun dia setujui. Tumbal dalam bentuk apapun, nyawa misalnya. Sampai segitunya. Malahan cerita tentang gunung Kawi, bukan hanya kemurtadan yang terjadi tetapi juga dibumbui dengan kemaksiatan. Bagi orang-orang yang berburu keberuntungan dengan jalan pintas, gunung Kawi ini menjadi salah satu tempat tujuan.

Saya sudah berusaha browsing untuk mencari kisah tentang gunung Kawi, termasuk di situsnya majalah Intisari dimana cerita tentang praktek kemusrikan yang terjadi di gunung Kawi dulu pernah saya baca. Sayangnya saya tidak (belum) menemukan data yang saya butuhkan itu. Yang saya temukan malahan gunung Kawi yang ada di Malang (Jawa Timur) yang juga menjadi tempat mencari keberuntungan. Seingat saya gunung Kawi yang saya maksudkan ini, kalau tidak salah, berada di antara tiga batas wilayah: Sragen, Boyolali, dan Grobogan di Jawa Tengah sana. Saya yakin namanya memang gunung Kawi, atau barangkali gunung yang saya maksudkan itu namanya bukan itu ya. Kalau anda tahu, tolong tunjukkan kepada saya jalan yang benar (tersesat kalee...).

Karena data tertulis atau sumber informasi yang ada di internet tidak bisa saya berikan, ya nggak papa kan jika saya cerita berdasarkan apa yang dulu pernah saya baca dan dengar. Gimana? Oke kan?

Meskipun saya suka mendaki gunung, untuk gunung yang satu ini saya belum pernah menaklukannya. Dan perlu anda ketahui, saya tidak ada rencana untuk mendatanginya. Gunung ini memang bukan untuk para pendaki. Gunung Kawi hanya diperuntukkan mereka yang memburu kekayaan atau yang biasa disebut dengan pesugihan, bukan sunrise atau sekuntum edelweiss. Saya memang belum pernah ke sana, tapi lebih dari sekali saya mendengar kisahnya. Percaya atau tidak, aroma kemesuman yang disebarkan oleh gunung itu akhirnya juga menarik kaum pekerja seksual untuk buka praktek di sana.

Kesakralan gunung Kawi memang dahsyat. Orang yang datang tidak hanya dari sekitar gunung, dari luar pulau Jawa pun ada. Apapun akan diserahkan. Sampai-sampai begitu relanya orang mau memberikan imbalan untuk dapat memperoleh keinginannya. Anda percaya kalau ada orang yang mau menyerahkan kehormatan dirinya di gunung Kawi? Itu justru yang terjadi di tempat itu. Dan itu pula yang menjadi persyaratan jika ingin keinginannya terpenuhi. Konon katanya, keberuntungan akan datang bila mereka telah datang tujuh kali dan juga melakukan hubungan badan sebanyak tujuh kali juga dengan orang yang sama. Apa nggak gila ini namanya? Tetapi ya memang seperti itulah yang terjadi. Kegilaan yang muncul sering tidak melibatkan otak untuk menjalankan fungsinya. Yang paling dominan sudah pasti nafsu manusia yang pemenuhannya kadang melalui jalur yang tidak masuk akal dan menjijikkan. Percaya atau tidak, itulah yang terjadi di sana, dan itulah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat kita. Ketika kehidupan ini sudah mentok, yang paling gampang adalah dengan lari ke klenik, takhayul, dan bentuk-bentuk pemujaan kepada selain Allah untuk mencari pemecahannya. “Quick and Simple,” barangkali seperti itu prinsip yang dipegang oleh pejabat, pengusaha, dan para pembesar kita yang masih setia mendatangi dukun dan paranormal. Jika akal sehat sudah tidak berguna dan keimanan bukan menjadi pegangan, tidak heran jika negara kita ini menjadi kerdil, dan akan tetap seperti itu selamanya.

Untuk anda ketahui, di Indonesia ini ada persekongkolan (untuk mengistilahkan persatuan) para dukun. Mereka memberi nama organisasinya IPI (Ikatan Paranormal Indonesia). IPI ini memiliki cabang atau yang dia sebut dengan DPC (dewan pimpinan cabang) di hampir seluruh pelosok Indonesia. Dan anda tahu berapa jumlah anggotanya saat ini? 13 juta! Selama bangsa kita masih dominan mempercayai hal-hal yang berbau klenik ini, jangan harap Indonesia bisa menjadi seperti Jepang, Singapura, Malaysia, apalagi Amerika.

Orang kalau sebuah negara agar dapat maju perekonomiannya syaratnya harus memiliki banyak entrepreneur, e lha kok kita ini yang banyak malah paranormal atau dukunnya. Ya bukannya menjadi maju tapi malah menjadi negara yang banyak demitnya. Serem ih.

No comments:

Post a Comment