
Akhirnya… saya mendapatkan ijin dari Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango untuk melakukan pendakian Gede Pangrango pada tanggal 13 & 14 April 2007. Permohonan ijin tersebut saya masukkan sebulan sebelumnya. Setelah ijin keluar, kesibukan mempersiapkan segala sesuatunya dimulai. Beberapa kali saya dan anggota tim pendaki lainnya bertemu di BEC. Jumlah peserta yang terdaftar dalam surat ijin yang dikeluarkan sebanyak 26 orang. Mereka merupakan gabungan dari anak-anak BEC angkatan 1, 8, 9 dan 10.

Sesuai kesepakatan, Jum’at pagi kami berkumpul di BEC. Hari itu pendakian dimulai. Dari 26 orang yang terdaftar, ternyata yang berangkat 19 orang. Mereka adalah Idan, Indra, Roni, Titi, Amira, Hudri, Adi, Danang, Ardi, Viena, Ayap, Ipul, Didik, Ujang, Ical, Encu, Imeh, Fitri, dan Rahmat. Setelah berdoa kami jalan ke arah Swalayan Naga untuk naik angkot jurusan Baranangsiang. Waktu pemberangkatan yang rencananya jam tujuh molor 45 menit. Siapa yang bisa naik angkot duluan dipersilahkan. Kami janji ketemuan di depan Pizza Hut.
Dari depan restoran siap saji tersebut transportasi akan disambung dengan angkot Colt yang suka dijuluki dengan angset (angkutan setan) karena kendaraan tersebut suka ngebut seperti pedal yang ada di bawah kaki sopir itu gas semua, tidak ada remnya. Tawar-menawarpun terjadi. Akhirnya disepakati masing-masing penumpang membayar Rp.12.000 untuk diantar sampai desa Gunung Putri. Desa dimana kami akan memulai pendakian. Berhubung jumlah orangnya 19 maka mobil yang disewa dua buah. Setiap mobil diisi 10 dan 9 orang plus barang. Jam 08.30 dua angset kami berangkat menuju arah Puncak. Karena hari kerja perjalanan di daerah Puncak lancar-lancar saja tanpa mengalami kemacetan sebagaimana yang terjadi kalau hari Sabtu dan Minggu. Oleh karenanya, jam 09.35 angset kami sudah sampai di pertigaan restoran Ayam Bakar Cianjur. Dari pertigaan tersebut kami belok kanan menuju desa Gunung Putri yang hanya memerlukan waktu dua puluh menit sehingga jam 09.55 kami sudah tiba di tempat. Pada waktu di jalan tadi, saya lihat ada angkot warna kuning dengan jurusan Cipanas–Pasir Kampung. Pasir Kampung adalah desa sebelum Gunung Putri. Kalau ingin sampai ke Gunung Putri, ada angkot yang dari pasar Cipanas dengan jurusan Cipanas–Gunung Putri dengan tarif empat ribu.
Rupanya angset yang saya tumpangi nyampe duluan. Kata si sopir mobil yang satunya tadi beli bensin dulu sebelum masuk tol. Saya pikir kami yang belakangan, ternyata malah ada di depan, jauh lagi. Begitu turun, uang untuk angset dikumpulin dan saya yang kebagian membayarkannya. Ternyata ada salah pengertian. Kesepakatan masing-masing penumpang membayar 12 ribu berlaku antara saya dengan sopir dari mobil satunya. Sedangkan sopir dari angset yang saya naiki ini dijanjiin oleh calo yang memang ada sebelum berangkat tadi dengan ongkos penuh, yaitu 15 penumpang x 12 ribu = 180 ribu. Tentu saja saya nggak mau. Saya bilang ke sopir tersebut bahwa saya tidak bohong. Kalau nggak percaya, saya minta untuk menunggu mobil yang satunya datang. Dia bilang kalau rugi banget, mana mesti mbayar calo 40 ribu. Saya nggak mau tahu. Saya katakan bahwa kami ini anak-anak sekolah yang uangnya pas-pasan. Sebenarnya sih kasihan juga. Tapi mau gimana lagi. Emang brengsek calo sialan tuh. Hanya modal suara dan tattoo sekujur badan, dia dapat uang dengan cara menakut-nakuti para sopir yang kerja keras mempertaruhkan nyawa di jalan raya. Sopir saya akhirnya setuju menunggu mobil satunya. Tapi nggak beberapa lama, dia memanggil saya dan mengatakan biar sajalah dapat uang segitu meskipun rugi banget. Pak sopir, saya doakan mudah-mudahan rejekinya lancar. Kalau anda orang jujur, pasti dimudahkan jalan rejekinya.

Rombongan kedua sudah datang. Segera mereka bergabung dengan kelompok saya. Pembayaran ke sopir tidak ada masalah. Memang dia yang tadi sudah sepakat sama saya. Apakah sopir yang pertama tadi tidak dikasih tahu tentang kesepakatan saya dengan dia, saya tidak tahu. Mudah-mudahan saja sopir yang pertama tadi jujur. Bukan memanfaatkan keadaan sehingga kami jadi belas kasihan kemudian memberikan uang tambahan.
Setelah beres semua, sudah ke toilet mesjid terdekat buat buang air, nggajal perut, beli nasi bungkus, mengecek barang bawaan, kami putuskan untuk berangkat. Walaupun demikian, hampir saja jaket saya ketinggalan. Kami rencana akan sholat lohor saja di jalan. Kalau nunggu Jum’atan dulu, kayaknya terlalu lama dan mungkin akan kemalaman di jalan. Jam 10.40 kami mulai meninggalkan desa Gunung Putri. Meninggalkan warung bubur dimana saya juga beli apel dan manggis untuk bekel di jalan. Meninggalkan nona mini yang cantik, entah siapa namanya.


Jam 13.00 perjalanan diteruskan kembali. Badan saya sudah kembali segar setelah perut diisi nasi bungkus dari mbak nona mini dan istirahat sejenak. Jalan setapak yang tadinya berupa batu kali yang disusun rapi berganti dengan tanah coklat yang kadang tertutup lumut atau dedaunan. Akar-akar pohon kadang nongol menghalangi jalan. Kalau tidak waspada, kaki ini bisa kesangkut. Kabut mulai turun, datang dan pergi. Matahari sudah tidak pernah nongol lagi. Sulitnya medan yang dilalui dan menanjak terus membuat saya harus sering beristirahat.

Perjalanan dilanjutkan. Badan mulai terasa penat, kaki leklok, dan punggung makin bongkok saja rasanya. Carrier yang dibawa Indra rupanya salah konstruksi, tidak ergonomis, sehingga menekan pundak kanan kiri. Akibatnya, mesti banyak istirahat. Danang yang biasanya jadi tukang panggul saat itu nyerah. Nggak kuat, minta ganti, punggungnya lecet katanya. Saya sendiri giliran membawa carrier tersebut saat mau sampai di alun-alun. Memang benar, berat banget dan membuat sakit di pundak.
Langit makin gelap. Nggak lama kemudian turunlah hujan. Yang bawa jas hujan maupun ponco segera mengeluarkannya. Sepanjang jalan kami kehujanan. Jalan yang dalam keadaan kering saja susah dilewati, sekarang jadi basah dan licin kehujanan. Bisa dibayangkan betapa sulitnya. Air hujan mengalir deras di sela-sela kaki kami. Beban yang ada di punggung jadi semakin berat karena basah. Rain cover yang saya pasang di ransel saya ternyata tidak dapat berfungsi seperti yang diharapkan. Segala barang yang ada di dalam ransel basah semua, kecuali yang dibungkus lagi dengan plastik. Cahaya semakin meredup. Jalan yang ada di depan semakin kabur karena cahaya yang sudah mulai temaram ditambah dengan air hujan yang terus-menenus. Kami semakin kepayahan. Anggota tim yang sudah jalan duluan sebagian diminta untuk kembali lagi menolong membawakan beban dari anggota tim yang tertinggal di belakang.
Hari sudah gelap dan hujan masih deras ketika kami sampai di pinggir alun-alun Suryakencana. Saat itu sekitar jam 18.00. Saya tawarkan kepada anggota tim yang lain untuk terus melanjutkan perjalanan menyeberangi alun-alun sampai di bawah jalur menuju puncak Gede atau, berhenti di sini dan mendirikan tenda. Karena kedinginan dan kecapaian, mereka memilih yang kedua. Saya pribadi ingin jalan terus melewati alun-alun dan baru mendirikan tenda di bawah jalur menuju puncak. Melihat kondisi mereka, saya jadi kasihan juga. Okelah, bisa jadi itu merupakan keputusan terbaik. Kalaupun dipaksakan, mungkin malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tenda segera dibongkar. Di bawah guyuran air hujan dan gelapnya malam, sebagian memegangi flysheet sebagian lagi memasang tenda di bawahnya. Yang cewek dan beberapa cowok yang tidak memasang tenda membuat bansus. Kami semua bekerja hanya diterangi dengan beberapa lampu senter.
Tiga tenda akhirnya berhasil didirikan meskipun seadanya. Walaupun lantai tenda basah, setidaknya kami bisa berteduh di bawahnya. Kami semua kedinginan. Semua orang, terutama Danang dan Rahmat, makin parah menggigilnya. Tampang mereka sudah mulai menghijau. Saya hanya khawatir mereka terkena hypothermia. Cara pencegahan yang bisa dilakukan untuk menghindari serangan ini adalah dengan segera mengganti baju yang basah dengan yang kering. Tetapi tidak ada baju ganti yang kering. Semua basah oleh air hujan meskipun sudah dibungkus dengan plastik sebelum dimasukkan ke dalam backpack maupun carrier. Segera saya ambil peples dan minta supaya diisi dengan air panas. Yang saya maksud dengan air panas adalah air putih panas, tapi yang dimasukkan bansus. Meskipun tidak sesuai dengan yang saya inginkan, setidaknya ada barang hangat yang bisa mengurangi dingin. Peples tersebut segera saya serahkan kepada Danang, Rahmat, dan Ical yang gemetaran di dalam tenda. Ketiganya jongkok membentuk segitiga hanya mengenakan cancut yang basah juga. Saya suruh mereka memegang peples tersebut bergantian untuk mengurangi dingin.
Setelah selesai menangani para calon yang nyaris jadi korban hypothermia, saya dan Ujang kemudian mendirikan satu tenda lagi yang dibawanya. Tangan ini sudah beku. Sakit rasanya. Baru dingin sekelas gunung Gede saja sudah terasa nyeri, tidak terbayang gimana rasanya kalau kena ‘frostbite’ sebagaimana biasa terjadi di pegunungan bersalju. Dengan perjuangan menahan dingin di sekujur tubuh, terutama tangan dan kaki, saya dan Ujang pelan-pelan mendirikan tenda. Masih untung tenda yang dipasang jenisnya doom, termasuk tiga tenda yang dipasang sebelumnya, sehingga cukup simpel. Begitu tenda terpasang, kompor segera dinyalakan untuk membuat kopi baru kemudian merebus mie instan yang sudah disiapkan buat makan malam. Dengan mengalirnya kopi panas ke perut, badan mulai terasa hangat. Kaos kaki cadangan satu-satunya segera saya pakai untuk menghangatkan kaki. Saya ngomong kepada yang lain supaya berhati-hati jangan sampai kopi atau minuman lain tumpah di dalam tenda. Baru selesai ngomong, eh hla kok kopi saya tumpah. Sialnya lagi mengenai kedua kaos kaki yang rencananya buat tidur nanti. Terpaksa saya lepas kaos kaki basah tersebut dengan ngomel-ngomel. Apa boleh buat, itu salah saya sendiri. Tidur dengan kaos kaki kering sekarang tinggal impian. Meskipun demikian, saya tidak ingin kejadian tersebut mengurangi saya menikmati makan malam yang sudah siap. Bersama Ujang, Hudri, Didik, dan Ayap, saya menikmati mie instan yang selesai dimasak dan nasi bekal dari rumah yang saya bagi untuk berlima. Sambil ngobrol ngalor-ngidul, semua makanan yang ada di depan habis semua diembat kami berlima. Nasi, mie instan, nugget tempe, semua tidak ada bekasnya. Jam 20.55 acara makan malam di tenda saya selesai.
Di Shelter 6 (Alun-alun) yang berada di pinggir alun-alun Suryakencana yang memiliki ketinggian 2750 mdpl, akhirnya menjadi tempat kami berkemah. Tidak ada kayu kering yang bisa dipakai untuk membuat api unggun. Udara malam yang dingin saya lawan dengan menyalakan dua lampu badai. Selain itu, saya merebus air yang kemudian saya masukkan ke dalam botol kaca bekas suplemen vitamin C. Botol yang berisi air panas tersebut membantu sekali mengurangi dingin dengan cara digulirkan ke bagian-bagian yang terasa dingin. Kaki, tangan, jidat, telinga, muka, hampir seluruh tubuh digerayangi botol panas tersebut. Dinginnya malam menjadikan anggota tim yang lain pada malas keluar tenda. Mereka lebih memilih di dalam tenda meskipun sudah saya iming-imingi kalau saya punya sesuatu yang bisa menghangatkan badan. Namun hal tersebut tidak bertahan lama. Satu persatu mereka keluar, walaupun tidak semua. Kami ngobrol sambil mendekatkan kaki dan tangan ke lampu badai dan merebus air lagi untuk menggantikan air yang ada di dalam botol bila sudah tidak panas lagi. Saya ikut ‘ngrumpi’ sampai jam 01.30 an. Setelahnya saya masuk tenda untuk tidur meskipun tidak bisa nyenyak agar besuk bisa agak fresh badannya.
Sabtu, 14 April 2007




Jam 11 kami putuskan membongkar tenda. Saat barang-barang diberesin, hujan turun. Terpaksa kami berteduh dulu di dalam tenda menunggu hujan reda. Begitu hujan berhenti, segera peralatan dikemasi, dimasuk-masukkan ke dalam tas masing-masing. Tenda dibongkar. Sampah dikumpulkan untuk dibawa. Setelah semuanya siap kami berangkat menuju puncak Gede. Jam menunjukkan pukul 11.30. Dalam keadaan hujan, kami menyusuri alun-alun Suryakencana. Rencananya akan melewati puncak Gede terus pulang lewat Cibodas. Udara makin dingin, kabut semakin tebal ada di atas dan sekeliling kami. Dalam guyuran hujan, setelah jalan beberapa saat, saya kumpulkan semua anggota tim. Dengan berkumpul di tengah alun-alun dan diguyur air hujan, saya tawarkan kepada mereka, apakah mau terus naik ke puncak atau kembali ke tempat berkemah tadi dan turun ke Gunung Putri. Puncak Gede memang sudah di depan mata, tapi dengan guyuran hujan yang terus-menerus dan kabut tebal sehingga membuat kami semakin kedinginan, apalagi Danang tidak memakai jas hujan, sangat tinggi resikonya untuk meneruskan perjalanan. Saya tahu mungkin sebagian di antara anggota tim sangat kecewa. Tetapi dengan melihat kondisi cuaca yang tidak bersahabat, apalagi baju cadangan masih banyak yang belum kering, rasanya nggak mungkin untuk berkemah lagi setelah melewati puncak Gede. Keputusan yang sulit ini harus diambil. Akhirnya kami setuju untuk kembali turun ke arah mana kami datang. Jalur Gunung Putri memang lebih pendek dibandingkan kalau harus ke arah Cibodas.
Jam 13.45 kami sudah sampai di Shelter HM 16. Tidak ada papan nama dari pos istirahat tersebut. Enam belas menit kami melepas lelah di situ. Jam 14.01 kami meneruskan perjalanan lagi. Dengan berkurangnya curah hujan, perjalanan bisa dilakukan dengan lebih cepat. Saya menyesal hanya memakai sandal gunung. Saya pikir, dengan memakai sepatu dan kaos kaki basah, kaki saya akan kedinginan. Ternyata dengan memakai sandal kaki ini penuh tanah dan lumpur serta dalam keadaan terbuka sehingga beresiko untuk luka bila terkait akar yang mencuat dimana-mana atau terantuk batu. Untungnya meskipun saya sempat jatuh dua kali karena jalanan yang licin, kaki saya tidak apa-apa. Seandainya sepatu yang basah tetap saya pakai, pasti saya merasa lebih safe. Kalaupun sepatunya kering juga percuma, pasti akan basah juga dalam guyuran air hujan dan dinginnyapun akan hilang setelah dipakai buat jalan.
Jam 14.12 saya sudah sampai Shelter 1 tempat kami istirahat, sholat, dan makan siang saat kemarin naik. Ical, Roni dan Idan yang tadi jalan di depan saya sudah ada disitu. Sambil menunggu yang lain turun, saya bikin kopi. Hangat rasanya di badan. Ketika Viena datang, dia menawari untuk membuatkan mie rebus. Dengan senang hati saya menerima tawaran tersebut. Terima kasih Vie. Saya keluarkan mie kari ayam yang ada di ransel saya untuk dimasaknya. Nikmat rasanya makan siang dengan mie dicampur nasi sisa masak tadi pagi yang sempat dibawa turun meskipun ternyata belum matang benar. Mudah-mudahan saja tidak bikin sakit perut (dan ternyata tidak).

Gerimis belum berhenti, malahan lebih banyak, ketika saya meninggalkan pos jaga. Begitu sampai di bawah, saya menitipkan tas di warung yang di situ sudah ada Ujang, Viena, dan Indra. Selanjutnya menuju masjid desa Gunung Putri untuk ganti celana training, kaos Alcatel, dan jas almamater yang sebelumnya saya jaga mati-matian agar tetap kering untuk dipakai pulang. Ketiganya sudah saya pakai tadi malam dan hanya barang itulah harta karun yang saya miliki yang masih kering sebagai baju ganti. Selesai ganti baju, saya ambil air wudlu untuk sholat lohor yang dijama’ dengan asar. Saya mengucapkan syukur akhirnya sampai di bawah. Meskipun target awal yang ditetapkan tidak tercapai tapi kami bisa selamat sampai di bawah lagi.


Setelah turun di Baranangsiang, kami janjian untuk kumpul di BEC. Saya seangkot sama Viena, Indra, dan Ujang. Indra sendiri sudah terkapar tak berdaya. Dia mabuk berat. Mukanya merah menyala. Ternyata ada yang lebih parah dari saya. Saya masih bisa ngomong meskipun sambil megangin kepala. Sampai di pertigaan Panaragan kira-kira jam 20.10. Viena dan Indra turun. Saya sendiri akhirnya memutuskan langsung pulang. Begitupun Ujang. Saya hanya titip salam buat anak-anak yang ngumpul di BEC dan mohon maaf tidak bisa ke BEC dulu.



With only have once climbing experience (it's about 20 years ago when we climbed Merbabu),I'd like to confirm several issues such as : is it Ok just wearing 'sendal gunung' rather than wearing boot for climbing? is it allright to wear AP rubber boot? it's look good to protect our feet getting wet. Do you bring topographic map & compass? just in case we are getting lost the map may could help..or at least we aware where are about or how far have we been walking if we bring the map with us..If we bring termal blangket it may help to keep our body heat stay warm..Indomie is OK but we have also to take higher calory meals with us just in case we have to stay further longer in the junggle..well prepared packing is also important to keep our clothes dry due to the rain..
ReplyDeleteBut regardless the above issues I think an experienced climber have already known,base on his experiences, what should or should not to do if something worst happen during his climbing. I do believe that everything has already been in his mind... (Salam, AM)
Terus terang saya iri dengan kalian. Ya. Kalian yang mendapatkan kesempatan menghirup segarnya udara di sana.
ReplyDeleteTernyata keyakinan yang ada di dalam hati saya bahwa sayapun mampu melakukannya seperti kalian, bagi sebagian orang dianggap omong kosong. Dengan mencibir, orang ini mengatakan bahwa saya tidak akan kuat.
Padahal kalau saja orang ini tahu, bahwa akan lebih bijaksana bila alamlah yang memutuskan. Berilah kesempatan. Pada akhirnya akan terbukti, apakah saya kuat atau tidak kan? Emangnya istirahat itu tanda seseorang tidak kuat mendaki ya? Naif banget ....
Never underestimate anything .....gitu loh.
pas naik ke gede ketemu teteh yang jaga warung diatas gak??
ReplyDeleteyang itu juga cakep tuh masih remaja.hahaha
salam kenal
Breyy: Halo bos salam kenal, trims yak buat sharing nya, mantap. Kebetulan sy dan temen2 mau liburan juga ke gede pangrango 10-12 okt ini, kira kira tulisan blognya boleh aku link kan ngga ke facebook sbg bahan bacaan, pasti bermanfaat? thx yajj
ReplyDelete