Monday, March 24, 2008

Kucing dalam Karung

Agak mirip dengan judul tulisan sebelumnya, yang satu kompos satunya lagi kucing. Tentu saja tidak ada kaitannya sama sekali. Kompos bukan makanan kucing, kucing tidak cocok dibuat kompos. Bisa memang, tapi aneh dan kejam bila binatang lucu itu dibuat kompos.

Saya sengaja memberi judul blog ini seperti itu. Hal ini terkait dengan peristiwa yang terjadi baru-baru ini di desa saya. Ada pemilihan kepala desa yang sedang berlangsung. Calonnya berjumlah lima orang. Dari semua calon ini, tidak ada yang layak untuk dipilih. Masalahnya bukan apa-apa. Bila kita memilih seseorang untuk dijadikan pemimpin, kan tidak bisa begitu saja seperti kita memilih sandal di pasar. Kita harus yakin benar bagaimana performance dan terutama sikap mentalnya, positif tidak.

Yang terjadi adalah, dan saya rasa ini bukan masalah saya saja tetapi juga mayoritas warga yang menjadi tetangga-tetangga di lingkungan saya, mereka yang mencalonkan diri untuk dipilih sebagai kepala desa adalah layaknya kucing dalam karung. Tidak jelas belang-bontengnya. Dari lima calon, yang dua adalah incumbent (kepala desa yang sekarang menjabat) dan mantan kepala desa sebelumnya. Saya memang kenal dengan mereka. Artinya, saya tahu bahwa mereka adalah kepala desa yang sekarang dan mantan kepala desa. Namun dari track record yang mereka miliki, keduanya memiliki catatan yang kurang bagus. Dengan raport yang banyak merahnya ini, tentu saja warga tidak akan memilih mereka lagi. Bagaimanapun juga, itu hak mereka bila tetap nekat mencalonkan diri lagi.

Tiga calon lainnya, persis seperti judul tulisan ini. Saya menghadapi kucing dalam karung. Sama sekali blank tentang hal-ikhwal mereka. Hanya kabar-kabur yang saya peroleh dan dengar. Sudah tentu hal ini bukan landasan yang bagus untuk menentukan pilihan. Mereka bertiga, juga dua calon lainnya, hanya menempelkan gambar-bambar mereka di tiang-tiang listrik dan tembok rumah orang untuk kampanye. Dua calon di antaranya juga menyertakan visi misi di bawah gambar diri yang mereka tempelkan. Tiga calon yang merupakan pendatang baru, hanya dikenal oleh tetangga rumahnya dan buat saya yang bukan tetangga mereka, tahu mereka hanya dari gambar yang ditempel. Sekalipun, saya belum pernah ketemu.

Sebuah keputusan sulit. Bagaimanapun juga saya mendatangi undangan pencoblosan itu. Awalnya saya memang berencana mau berperan serta mensukseskan hajatan desa tersebut. Acaranya diadakan hari Minggu (23/3) di lapangan parkir pinggir jalan depan pertokoan di komplek tempat saya tinggal. Kebetulan hari itu saya juga mau ke Bogor. Jadi sekalian, sebelum ke Bogor menyempatkan diri dulu mencoblos. Saat sampai di lokasi, lapangan parkir sudah penuh manusia. Antrian begitu panjangnya, baik antrian untuk laki-laki maupun perempuan. Panitia sengaja membagi antrian menjadi dua berdasarkan jenis kelamin. Bagus. Masalah yang muncul buat saya adalah, saya sudah punya janji dengan orang di Bogor sementara antrian begitu padatnya. Dan tidak mungkin saya bisa menepati janji bila menunggu sampai giliran saya mencoblos tiba.

Akhirnya saya putuskan saya tidak menggunakan hak saya. Pertimbangan saya adalah dari lima calon, yang dua memiliki track record negatif sedangkan tiga sisanya merupakan kucing dalam karung. Saya tidak mau memilih kucing. Mending kalau yang saya ambil kucing anggora yang lembut atau kucing persia yang anggun. Lha yang saya comot ternyata kucing garong, gimana coba? Kucing yang suka main sikat main embat apa sing liwat. Susah kan jadinya?

Di republik ini, jadi pemimpin memang tidak gampang. Tetapi, yang lebih susah lagi jadi rakyatnya. Pemimpin-pemimpin kita yang notabene dipercayai memegang amanah malah banyak yang mengkhiantai yang memberi amanah. Berapa banyak kasus korupsi yang terjadi? Tidak kehitung. Bila kpk mengungkap kasus-kasus korupsi yang ada, itu mah hanya seujung kuku. Korupsi-korupsi yang disidangkan itu kan hanya puncaknya gunung es yang terlihat di permukaan. Yang tidak kelihatan, bisa menenggelamkan kapal yang ditumpangi rakyat jelata bangsa ini. Bila anda melihat film Titanic, cerita tentang sebuah kapal yang dipromosikan tidak mungkin tenggelam itu karam bukan karena puncak es yang terlihat oleh nakoda, tetapi punggung gunung es dalam laut yang membobolkan lambung kapal mewah itu. Seperti itu juga bangsa ini. Lambung bangsa ini akan jebol juga oleh gunung es korupsi bila tindakan egois itu tidak segera diatasi. Kadang-kadang, sebagai rakyat yang tidak tahu apa-apa, sering muncul pertanyaan kenapa mereka yang korupsi itu tidak dimatikan saja.

Bila sudah berurusan dengan pemimpin, kita ini seperti masuk barisan laskar bingung. Kita bingung melihat pemimpin yang tidak amanah. Kita terheran-heran menyaksikan mereka yang lebih memprioritaskan kepentingan diri dan keluarganya daripada orang-orang yang dipimpinnya. Seringkali kita terkejut mengetahui orang-orang yang seharusnya menjadi panutan malah melakukan perbuatan yang melanggar hukum maupun norma susila. Kita terbengong-bengong menemukan pemimpin yang suka jalan-jalan ke luar kota atau negeri dengan alasan dinas yang sebenarnya tidak penting dan mengada-ada. Kita bingung menemukan diri sendiri terdampar di negeri yang rakyatnya hanya baru bisa mimpi.

Pemilihan kepala desa di lingkungan tinggal saya akhirnya kelar. Calon yang memiliki tim sukses lebih baik dan terorganisir pada akhirnya yang memenangkan pemilihan. Meskipun pemenang ini menyebarkan buku visi dan misi yang bisa dipelajari, bagi saya dia tetap kucing dalam karung. Dengan adanya isu money politic atau suka disebut dengan serangan fajar yang berhembus di seputar kemenangannya, bayangan kepemimpinan yang tidak amanah menggantung di depan mata. Komplek tempat saya tinggal memang tidak masuk sasaran pembagian amplop berisi Rp.20.000 karena mereka tahu taktik itu tidak akan efektif. Mereka membagi-bagikannya di perkampungan-perkampungan yang penduduknya secara ekonomi lebih rendah.

13 April nanti Jawa Barat juga akan memperdagangkan kucing dalam karung. Calon-calon gubernur dan wakilnya bagi sebagian besar masyarakat pemilih tetap sebagai kucing dalam karung. Beberapa di antara calon itu memang populer, tetapi visi dan misi sebenarnya yang diusung tetap menjadi tanda tanya. Popularitas tidak otomatis menjadikan mereka bukan kucing dalam karung.

Sunday, March 23, 2008

Kompos dalam Karung

Saya pernah janji kepada anda dalam blog saya yang berjudul Pemanasan Celana Dalam untuk menulis cara membuat kompos. Sekarang, janji itu saya penuhi. Mudah-mudahan saja bisa bermanfaat bagi anda atau siapapun yang membaca tulisan ini.

Dampak limbah plastik yang menjadi penyumbang terjadinya pemanasan global memang benar-benar dahsyat. Sampah plastik yang baru bisa hancur setelah 1000 tahun membuka mata kita, betapa barang itu mengandung bahaya potensial. Apa jadinya bumi ini bila plastik masih terus dikonsumsi dan mendominasi segala macam kebutuhan hidup manusia. Sekedar anda ketahui, di Indonesia saja ada 300 juta kantong plastik yang dibuang setiap tahunnya. Berapa jumlah total di seluruh dunia?

Banyak kampanye dan publikasi yang menginformasikan betapa pentingnya ozone bagi bumi. Sebagai pelindung bumi terhadap sinar ultraviolet, ozone harus terus dijaga. Namun polusi yang terjadi di bumi terus mempertipis lapisan ozone. Asap yang keluar dari cerobong pabrik atau sampah yang dibakar menjadi salah satu penyebabnya. Tentang cerobong pabrik, bila anda pemilik pabriknya barangkali anda perlu mulai memikirkan bagaimana asap yang keluar dari cerobong bisa ramah lingkungan. Mengenai sampah, anda pasti punya. Pada dasarnya kita semua produsen sampah. Anda akan pusing sendiri bila tahu jumlah sampah yang anda hasilkan selama sehari, seminggu, sebulan, setahun. Daripada sampah-sampah itu dibakar, kenapa tidak didaur ulang saja menjadi kompos. Gampang kok caranya. Tidak perlu teknologi dan peralatan canggih. Untuk mengubah sampah menjadi kompos, cukup menjalankan langkah-langkah sederhana. Saya akan kasih tahu caranya nanti.

Kompos itu produk ramah lingkungan. Pasti itu. Dia itu kan hasil penguraian sampah organik yang akan dengan mudah diproses dan diserap bumi. Dengan penanganan yang benar, sampah organik kita bisa menjadi kompos dalam waktu enam minggu. Bandingkan bila sampah itu didiamkan saja dan alam yang memproses, diperlukan waktu enam bulan, baru sampah itu menjadi kompos. Jadi kita akan menghemat waktu hampir lima bulan bila mau bercapek-capek sedikit mengolahnya.

Sebelum cara membuat kompos saya tuliskan, sebaiknya anda perlu tahu tetek-bengek yang terkait dengannya. Dengan demikian nanti tidak akan bertanya-tanya lagi saat mengikuti langkah-langkah dalam proses pembuatan kompos.

Pertama, yang perlu diketahui adalah bahan baku utama membuat kompos, yaitu sampah itu sendiri. Ada dua jenis sampah yaitu organik dan anorganik. Kita harus memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Yang termasuk sampah organik dan bisa dijadikan bahan kompos adalah sampah coklat (daun kering, rumput kering, serbuk gergaji, serutan kayu, sekam, jerami, kulit jagung, kertas yang tidak mengkilat, tangkai sayuran) dan sampah hijau (sayuran, buah-buahan, potongan rumput segar, daun segar, sampah dapur, ampas teh/kopi, kulit telur, pupuk kandang). Sedangkan yang masuk kelompok sampah anorganik adalah plastik, stereoform, kertas (mengkilat), logam, dan kaca.

Selain itu ada bahan-bahan yang sebaiknya tidak dibuat kompos yaitu:
  1. Daging, ikan, kulit udang, tulang, susu, keju, lemak/minyak, ampas kelapa, sisa sayuran yang bersantan (menyebabkan munculnya belatung).
  2. Kotoran anjing & kucing (kemungkinan membawa penyakit).
  3. Tanaman yang berhama (hama dan bijinya masih terkandung dalam kompos jadi).
  4. Ranting, dahan, dan batang kayu yang tidak mudah hancur dalam kompos (mengundang rayap).
Kedua, starter yang digunakan untuk mengurai sampah menjadi kompos. Di toko pertanian sebenarnya dijual starter siap pakai seperti EM4 (effective microorganism 4), tapi barangkali anda akan lebih puas jika bisa membuat sendiri. Selain itu, hemat. Starter yang dijual di toko harganya berkisar Rp.15.000. Mungkin lebih, mungkin bisa kurang. Anda cek saja sendiri deh. Yang pasti, anda tidak akan keluar uang sepeserpun bila membuatnya sendiri.

Starter buatan sendiri ini biasa disebut dengan MOL (mikro organisme lokal). Bahan yang digunakan untuk membuatnya bisa bermacam-macam, tergantung selera. Namun, di sini saya akan menjelaskan cara membuat MOL yang bahannya mudah didapat. Di rumah ada nasi kan? Kita bisa membuat MOL dari nasi, yang baru maupun basi.

Langkah-langkah membuat MOL yang merupakan starter dalam pengomposan:
  1. Nasi (baru maupun basi) dibentuk bulat sebesar bola ping-pong sebanyak 4 buah.
  2. Diamkan selama tiga hari sampai keluar jamur yang berwarna kuning, jingga, dan abu-abu.
  3. Bola nasi jamuran kemudian dimasukkan ke dalam botol/wadah plastik.
  4. Tuang air satu gayung yang sudah dicampur gula sebanyak empat sendok makan ke dalam botol/wadah yang berisi nasi jamuran.
  5. Diamkan selama satu minggu. Campuran nasi dan air gula tersebut akan berbau asem seperti tape/peuyeum.
  6. MOL sudah bisa digunakan sebagai starter untuk membuat kompos dengan dicampur air. Perbandingan MOL dengan air sebesar 1:5.
Ketiga, wadah untuk memproses sampah menjadi kompos. Wadah ini biasa disebut dengan komposter. Macam-macam jenisnya, ada yang terbuat dari batako, gentong plastik, ada yang namanya keranjang takakura, bahkan bila mau bisa beli jadi yang harganya sampai ratusan ribu. Tapi sekali lagi, anda mungkin akan balik kanan bila mau bikin kompos saja kok repot amat. Apalagi selain repot, mahal lagi. Mending dibuang ke kali deh, beres urusannya. Nggak usahlah ikut-ikutan birokrat hitam yang berprinsip “bila bisa dipersulit kenapa harus dipermudah.” Kita balik saja prinsip itu menjadi “bila dapat dipermudah kenapa mesti dibikin susah.” Kita gunakan karung sebagai tempat membuat kompos. Gampang kan? Di rumah pasti anda punya karung. Jika tidak ada, minta tolong saja emak anda untuk beli beras yang 20 kiloan. Berasnya dimasak jadi nasi kemudian dimakan, sebagian dibikin MOL, karungnya buat komposter.

Keempat, remeh-temeh. Sampah coklat kaya kandungan karbon (C) yang merupakan sumber energi makanan untuk mikroba. Sampah hijau mengandung nitrogen (N) yang diperlukan oleh mikroba untuk tumbuh dan berkembang biak. Sampah organik secara alami akan mengalami penguraian oleh ratusan jenis mikroba, enzim, jamur, dan binatang tanah. Proses penguraian memerlukan suhu tertentu, kelembaban, dan oksigen (udara segar).

Setelah semua hal di atas anda mengerti, sekarang waktunya melakukan tahap-tahap pengomposan. Kita gunakan karung sebagai wadahnya.
  • Langkah 1:

    Potong/cacah dengan ukuran 2 s/d 3 cm sampah organik yang akan dibuat kompos.
  • Langkah 2:

    Campur sampah coklat dan sampah hijau dengan perbandingan 1:2. Jika terlalu banyak sampah coklat, pengomposan akan memakan waktu lama.
  • Langkah 3:

    Ratakan sampah yang akan dibuat kompos sebelum dicampur dengan MOL.
  • Langkah 4:

    Sirami permukaan sampah secara merata dengan MOL.
  • Langkah 5:

    Aduk agar MOL tercampur merata. Siram kembali dengan MOL sampai sampah terlihat basah kemudian aduk kembali.
  • Langkah 6:

    Masukkan sampah ke dalam karung, setelah diangin-anginkan sebentar. Kemudian karung diikat agar tidak diacak-acak kucing, anjing, atau ayam.
  • Langkah 7:

    Karung ditusuk-tusuk dengan obeng atau alat lainnya secara merata agar oksigen (udara segar) bisa masuk.
  • Langkah 8:

    Simpan di tempat yang tidak kehujanan dan tidak terkena sinar matahari langsung.
  • Langkah 9:
    Seminggu sekali Langkah 3 s/d 8 diulang kembali. Dalam waktu enam minggu kompos sudah jadi dan siap digunakan.



Catatan:
  • Minggu ke-1 dan ke-2 mikroba mulai bekerja, suhu mencapai 45-65C. Karung terasa hangat bila dipegang.
  • Minggu ke-3 dan ke-4 suhu mulai menurun menjadi sekitar 40C.
  • Minggu ke-5 dan ke-6 suhu kembali normal seperti suhu tanah, kompos sudah jadi/matang.
  • Kompos yang sudah jadi berwarna coklat kehitam-hitaman dan baunya seperti tanah.
  • Kompos bisa disimpan di dalam karung sebelum digunakan.

Saturday, March 22, 2008

Oedipus vs Electra

Oedipus itu seorang raja dari kota Thebes di Yunani sana. Pernah ke Thebes? Sama kalau begitu. Sama-sama belum pernah ke sana. Tidak usah maksain lah jika nggak punya doku buat melancong ke kota itu. Saya juga sekedar nanya doang kok. Saya hanya ingin berbagi cerita tentang Oedipus, juga Electra. Anda akan ngerti, asal anda mau baca saja.

Saya masih ingat dulu pernah dapat tugas membuat ringkasan dari sebuah bacaan. Nama tugasnya adalah book report. Dan itu juga nama mata kuliahnya. Waktu itu, ada beberapa buku pilihan yang ditawarkan sebagai bahan bacaan yang kemudian harus diringkas dalam bentuk laporan. Salah satunya adalah Oedipus Rex, atau dikenal juga dengan nama Oedipus the King. Sebuah naskah drama yang ditulis oleh Sophocles dan dipentaskan pertama kali tahun 429 SM. Jadul banget ya? Hanya itu yang saya ingat. Mengenai isinya apa, jangan tanya. Saya harus baca lagi untuk bisa menjawab pertanyaan seperti itu. Maklum sudah puluhan tahun lalu. Itu tentang tugas yang dulu pernah saya buat yang ada kaitannya dengan nama Oedipus.

Kembali tentang Oedipus yang sebenarnya. Dia yang dalam mitologi Yunani ini merupakan seorang raja, memiliki keinginan yang tidak lumrah. Karena hasratnya yang tidak wajar, dia kemudian melakukan tindakan yang tercela. Apa itu? Oedipus diramalkan akan membunuh ayahnya sendiri agar bisa mengawini ibunya, sebab dia cinta mati dengan ibunya sendiri sehingga sampai tega berbuat seperti itu. Akibat perbuatannya ini lah yang membawa kehancuran bagi kota maupun keluarganya. Legenda ini sudah banyak dikisahkan dan memiliki banyak versi. Apa yang pernah anda baca atau dengar mungkin saja memiliki versi yang berbeda dengan kepunyaan saya.

Bangsa kita juga memiliki legenda yang mirip lakon raja Oedipus. Tahu Sangkuriang? Dia juga ingin memperistri ibunya sendiri, Dayang Sumbi. Bedanya, jika Oedipus tahu dari awal bahwa perempuan yang mau dikawin itu ibunya sendiri, Sangkuriang tidak. Karena sejak kecil Sangkuriang sudah dipisahkan dari ibunya, maka ketika dia dewasa kemudian jatuh cinta kepada seorang perempuan cantik, dia tidak tahu bahwa perempuan yang membuatnya falling in love itu ibunya sendiri. Begitu juga dengan perempuan itu. Dayang Sumbi awalnya tidak menyadari jika kekasihnya adalah anaknya.

Seru juga ya kisah cinta antara emak dan anak tersebut. Tapi amit-amit deh, jangan sampai kisah ini dialami siapapun. Semoga hanya sebatas dongeng. Bagi masyarakat Sunda, legenda ini demikian populer. Legenda ini masyhur karena terkait dengan cerita terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, Gunung Bukit Tunggul, dan Danau Bandung. Ingin tahu akhir kisah cinta Sangkuriang dan Dayang Sumbi? Beli dong bukunya!

Kemudian tentang Electra. Nama ini nggak ada urusannya dengan listrik. Barangkali anda pernah nonton film yang berjudul Elektra yang dibintangi Jennifer Garner produksi tahun 2005? Cerita tentang jagoan perempuan buta yang bernama Elektra. Nama Elektra bisa jadi diilhami oleh Electra yang pakai ‘c’. Mengenai isinya, juga nggak ada kaitannya blas (sama sekali) dengan kisah tentang Electra yang dari Yunani sana. Ngapain diceritakan kalau begitu?

Electra sendiri adalah nama putri dari raja Agamemnon dan permaisuri Clytemnestra dalam mitologi Yunani. Dalam kisahnya, Agamemnon dibunuh oleh cem-cemannya Clytemnestra yang bernama Aegisthus. Electra kemudian diungsikan oleh kakak laki-lakinya, Orestes. Setelah dewasa Electra menikah dengan anak raja Strophius yang bernama Pylades. Atas bantuan suaminya ini, Electra dan Orestes membalaskan kematian ayah tercintanya dengan membunuh Clytemnestra yang tidak lain adalah ibunya sendiri dan Aegisthus.

Oedipus (juga Sangkuriang) maupun Electra, masing-masing tidak ada hubungannya. Baik alur cerita maupun siapa yang menciptakannya. Namun dalam psikologi, antara Oedipus dan Electra kemudian memiliki hubungan. Setelah berhubungan bukan berarti terus kawin. Anda sih mikirnya kawin melulu. Mereka memiliki kaitan dalam hal penyimpangan perilaku. Jika dikatakan sebagai penyakit kejiwaan, bolehlah kalau anda menginginkan begitu.

Oedipus Complex pertama kali diperkenalkan oleh Sigmund Freud. Itu tuh psikoanalis kondang dari Austria. Oedipus dia ambil dari nama tokoh rekaan Sophocles yang saya ceritakan di atas. Oedipus Complex digunakan untuk menamai penyimpangan sebagaimana yang dilakukan Oedipus Rex. Jika anda lebih jatuh cinta kepada perempuan yang jauh lebih tua, seumuran emak anda, bisa jadi anda menderita Oedipus Complex. Bila anda punya kecenderungan seperti itu, nggak usah malu. Sebenarnya sih nggak papa juga kan? Asal anda mengawini janda, syukur-syukur jomblo, bukan istri orang. Jangan kemudian membunuh suaminya gara-garanya karena anda termimpi-mimpi ingin memiliki istrinya.

Sigmund Freud tidak mempunyai istilah khusus untuk wanita yang memiliki kelainan seperti Oedipus Complex. Dia hanya mengistilahkan dengan ‘perilaku Oedipus perempuan’ (feminine Oedipus attitude) untuk wanita yang lebih suka lawan jenis yang seumuran bapaknya. Oleh Carl Gustav Jung (ilmuwan psikologi dari Swiss) penyimpangan ini diberi label Electra Complex. Anda bisa tebak dari mana datangnya nama Electra. Istilah Electra Complex dikenal juga dengan nama Daddy Issues atau Bernfeld Factor.

Barangkali di lingkungan anda tinggal, anda menemukan pasangan yang jauh banget beda usianya. Anda tidak perlu heran lagi. Oedipus Complex-nya Sigmund dan Electra Complex-nya Carl bisa menjelaskan tentang pasangan-pasangan yang unik itu. Bisa jadi pasangan yang lebih muda merupakan penderita OC jika laki-laki atau EC bila perempuan. Namun perlu diingat juga, tidak otomatis semua orang muda yang mengawini kakek-kakek atau nenek-nenek menderita kelainan ini. Bisa saja mereka terpaksa menikah karena patuh kepada orang tua. Atau mungkin saja mau melakukan itu karena memang pada dasarnya mereka adalah co/ce matre. Orang yang mau dikawin itu tajir.

Omong-omong, saya ini bukan pakar psikologi lho. Jadi, jangan percaya begitu saja apa yang saya pokrolkan ini. Sebaiknya anda tanya kanan-kiri dan mengunjungi perpustakaan untuk mengklarifikasi apa yang saya tulis di sini. Mangga ti payun, ak, teh.

Tuesday, March 18, 2008

True Love


Peringatan:
Anda yang membaca tulisan ini harus berusia 17 ke atas, memiliki
ktp, sehat jasmani rohani, dan berakal sehat alias waras. Bila anda tidak
mematuhinya dan terjadi sesuatu dengan anda, saya tidak bertanggung jawab.
Tulisan ini mengandung apa yang disebut dengan adult material. Yaa… gitu
deeehhh….


Saya pernah nyinggung-nyinggung tentang profesor IPB yang memberi saya bunga kecombrang di blog ini bulan kemarin. Anda yang sudah baca tapi lupa atau anda memang belum pernah membacanya, bisa membacanya lagi dengan mengklik di sini. Karena profesor ini lah saya bela-belain berangkat dari Bogor jam 10 malam menuju Ciamis. Saya dapat undangan pernikahannya yang diadakan di desa Banjarsari, Ciamis.

Tepatnya jam 22.05 wib, 14 Maret, saya dan enam tetangga menggunakan apv berangkat ke Ciamis. Perkiraan lama perjalanan sekitar 7-8 jam. Dari ketujuh penumpang, ada tiga yang bisa nyopir. Sedangkan empat lainnya termasuk saya bisa dibilang tidak becus. Saya sendiri pernah bawa mobil, tapi sori aja, saya tidak berani pegang lagi sekarang. Apalagi perjalanan jauh seperti itu, dan sim saya sudah lama habis masa berlakunya. Nekat namanya jika tetap mau pegang kemudi. Dari tiga yang bisa nyopir, ada satu yang gila. Sialnya, justru yang gila ini yang menyopiri kami.

Anda tahulah, yang saya maksudkan gila di sini tentu saja bukan gila yang sebenarnya. Tapi anda pasti akan sport jantung bila anda naik mobil yang sopirnya lebih menganggap anda dan penumpang lainnya, sebagai kumpulan kambing. Jadi kita ini benar-benar dikambingkan. Nyawa kita dimain-mainkan oleh emosi liarnya. Orang seperti ini menurut saya tidak ada bedanya dengan Lewis Hamilton (Inggris) yang memenangi seri perdana F1 2008 GP Australia atau Valentino Rossi (Italia) yang beberapa kali menjuarai balapan sapi. Lho kok sapi? Ya, rally sapido motor.

Sopir saya yang gila dan para pembalap ini memiliki kesamaan, nyali mereka di atas rata-rata dalam mengendarai. Jika nyali (keberanian) dikombinasikan dengan ketrampilan dan otak kemudian digunakan di Sirkuit Albert Park, Melbourne, Australia atau arena balap di Sentul sana, okelah. Memang itu tempatnya. Jika dia mengkambingkan yang dia sopiri, lain bukan, hanya dirinya sendiri yang menjadi kambing. Nyawa orang lain tidak dipertaruhkan di sini. Celakanya jika otaknya ketinggalan di rumah saat mengemudi, dan mengemudinya bukan di arena balap tapi di jalan umum. Seperti yang saya alami hari Jum’at (14/3) dan Sabtu (15/3) kemarin.

Memang tetangga saya ini jago nyopirnya. Dia berani dan terampil. Namun jika hanya emosi yang dimiliki tanpa dibarengi nalar, ya yang terjadi adalah nekat dan egois. Saya rasa Lewis dan Valentino memiliki skill, pengalaman, dan keberanian sehingga bisa menang di arena balap. Namun bila emosi (nafsu) doang tanpa menggunakan otaknya, ya itu yang dinamakan nekat. Jika juga melibatkan orang lain, ya bisa dikatakan selain nekat sekaligus egois. Kebetulan sekali sopir jagoan tetangga saya itu punya hobi yang sama dengan Valentino, dia juga suka balapan sapi.

Sori agak banyakan nulisnya sopir gila. Yang merasa menjadi sopir gila dan membaca tulisan ini, bertaubatlah. Masih ada kesempatan. Lebih baik memanusiakan kambing, daripada mengkambingkan manusia. Hidup kambing! Saya hanya masih bingung, terkagum-kagum dan berterimakasih kepada Sang Pencipta, ternyata saya masih diberi kesempatan lebih lama berkumpul dengan keluarga juga tetangga dan teman-teman saya.

Memang repot menghadapi sopir gila. Yang bisa saya lakukan adalah hanya mengatakan kepadanya, “Jangan gila dooonggg….”

Setelah semalaman olah raga jantung dan beristirahat tiga kali selepas tol Cileunyi, di sebuah pasar di Ciamis, dan di depan deretan pertokoan di Banjar, saya sampai di desa Sindangjaya, kecamatan Mangunjaya, kabupaten Ciamis, Sabtu (15/3) jam 05.30. Desa ini berjarak 12 km dari Banjarsari yang sebelumnya telah dilewati yang menjadi tempat acara pernikahan profesor IPB. Hari masih belum terang benar. Matahari belum nongol dan sisa kabut semalam belum menghilang. Udara segar alam pedesaan tercium harum memenuhi paru-paru. Yang pasti, saya bisa bernafas lega untuk sesaat. Saya selamat sampai di rumah pak profesor. Selain mobil saya, tadi malam ada dua mobil lain yang berangkat sama-sama dari Bogor yang disopiri tetangga yang juga mengajak keluarganya.

Desa Sindangjaya merupakan desa yang makmur. Hampir di depan sebagian besar rumah terdapat gulungan anyaman bambu yang digunakan menjemur padi hasil panen. Rumah yang berderet di sepanjang jalan desa terlihat kokoh dan bagus-bagus. Meskipun desa, ada sarana tranportasi yang bernama angdes (angkutan desa) seperti angkot di Bogor yang mengantarkan penduduk desa bepergian. Jalannya pun bukan tanah atau bebatuan, tapi aspal, meskipun bukan hotmix. Untuk menuju desa itu dari Banjarsari, mobil saya mengikuti tanda panah yang menuju Lakbok. Saya nggak tahu di mana lokasi persisnya tempat yang namanya Lakbok. Mungkin dari desa Sindangjaya masih terus. Dengar namanya pun baru sekarang.

Mengingat Sindangjaya itu desa yang makmur, wajar saja bila penduduknya bisa menyekolahkan anak tinggi-tinggi. Siapa mengira, profesor yang berasal dari desa seperti itu bisa kuliah di IPB kemudian melanjutkan pendidikan tinggi s2 dan s3-nya di Minnesota Amrik sono. Selain otaknya yang brilian, dukungan ekonomi yang kuat juga berperan. Kami yang sebenarnya tetangga profesor di Bogor, oleh warga setempat dianggap sebagai orang-orang yang hebat seperti profesor yang merupakan penduduk desa itu. Sempat terdengar gumaman mereka ketika saya lewat di dekatnya, “Ini pasti para insinyur dan doktor.” Wuih, siapa berkawan dengan pedagang minyak wangi memang akan tertular bau harumnya.

Setelah sholat subuh dan ngobrol sebentar saya dan rombongan dipindahkan ke rumah lain yang lebih bagus untuk istirahat sejenak dan bersih-bersih badan. Saat istirahat sambil antri kamar mandi, sebuah kue yang disuguhkan menarik perhatian saya maupun yang lain. Bentuknya bagus, warnanya menarik, dan rasanya manis. Sayang saya tidak tahu namanya. Saat saya sudah sampai di rumah kembali dan cerita ke mantan pacar, katanya kue itu namanya noga yang terbuat dari beras. Hebat juga ya orang-orang itu bisa membentuk makanan seperti gelangnya gladiator. Karena tampilannya yang menarik, jadi sayang memakannya.

Kami sempat foto bersama sebelum berangkat ke rumah profesor dan kemudian menuju rumah mempelai perempuan yang menjadi acara akad nikah dan resepsi. Kelihatannya sih rapi-rapi semua. Yang terjadi sebenarnya, sebagian dari kami hanya mandi kucing. Dalam urusan esek-esek mandi kucing memang punya arti lain. Buat saya istilah itu maksudnya membasuh muka dan sebagian badan, jenis ilmu simpanan anak kos yang menjadi berguna untuk saat-saat seperti itu. Quick and simple. Masalah bau jangan tanya, kami punya trik menghilangkan bau yang sudah dipatenkan. Selain masalah waktu yang cuma sebentar karena kami harus sudah ngumpul di rumah profesor jam 07.30, juga begadang semalaman di perjalanan membuat badan tidak fit dan riskan bila harus mandi yang sebenar-benarnya.

Kami berangkat ke rumah profesor. Di rumah beliau, para pengiringnya sudah berkumpul. Begitu telepon dari pihak mempelai perempuan yang ditunggu telah datang, pengantin pria plus pengiringnya berkonvoi menuju kesana. Sopir gila menyopiri lagi mobil yang saya tumpangi. Namanya juga gila, semua orang desa yang ditemui di jalan disapanya. Sampai-sampai petani yang lagi nyangkul di tengah sawah menjulur-julurkan lehernya mencari tahu siapa sebenarnya laki-laki asing yang ada di mobil yang berteriak-teriak menyapanya. Kami yang ada di mobil tertawa terbahak-bahak. Kami semua malu.

Acara ijab kabul diadakan jam 09.00 di masjid Banjarsari, nggak tahu apa nama masjidnya, dekat rumah pengantin perempuan yang menjadi tempat resepsi. Setelah ijab kabul disambung acara resepsi. Selesai makan hidangan yang disajikan, jam 11.15 pamitan pulang. Udara sudah mulai panas. Saya segera masuk mobil. Dalam perjalanan pulang ke Bogor, kembali nasib saya diserahkan ke tangan sopir gila. Nasiiiibbb… nasib.

Tapi okelah. Setidaknya saya sudah punya pengalaman disopiri sopir gila jadi secara mental sudah tidak begitu shock-shock amat. Hanya berdoa yang bisa saya lakukan. Mudah-mudahan acara Fear Factor yang kedua ini bisa berjalan dengan mulus. Perjalanan siang hari rupanya kontras banget dengan malam. Saat jalan malam jalanan terlihat bersih, namun kelihatan kumuh dan berdebu di terang hari. Apapun keadaannya kami bertujuh rame ngobrol di dalam mobil sambil sekali-sekali mengingatkan sopir gila kami.

Fear Factor kedua mencapai puncaknya saat sampai di tanjakan Nagrek. Waktu saya melewati tadi malam, kepekatan malam dan jumlah kendaraan yang tidak terlalu banyak membuat kondisi tidak begitu mengkhawatirkan. Namun saat sekarang harus lewat situ lagi dan disopiri oleh orang yang sama dalam kondisi panas dan jalanan penuh dengan motor dan mobil, sekali lagi, saya hanya bisa berdoa dan pasrah. Informasi tentang tanjakan itu sudah sering saya dengar tetapi baru dua kali, siang itu dan malam sebelumnya, saya melewatinya. Sebenarnya sih sama saja dengan tanjakan-tanjakan yang ada di Puncak, tapi entah mengapa tanjakan itu terkesan lebih mengerikan. Cerita yang beredar selama ini mengkondisikan tanjakan Nagrek yang sebenarnya biasa menjadi menyeramkan. Apalagi sopirnya gila. Begitu tanjakan terlewati, legalah saya. Di ujung tanjakan, saya disambut deretan warung yang menjual oleh-oleh. Mobil saya berhenti di depan salah satu warung itu. Kami kemudian belanja sekedar untuk oleh-oleh yang di rumah. Saya sendiri membeli opak dan ubi cilembu.

Sesuai kesepakatan, setelah habis tanjakan Nagrek, sopirnya diganti. Lebih tenang rasanya naik kendaraan dengan sopir yang lebih hati-hati, tidak emosian, dan tidak egois. Saya dan penumpang lain bisa ngobrol lebih santai. Ngrumpi kemana-mana, termasuk tentu saja pesta pernikahan profesor yang barusan kami datangi. Dari segi usia memang jauh antara pengantin pria dan wanitanya. Selisihnya bisa separuh lebih. Tapi itulah yang namanya love, true love, atau cinta sejati. Mudah-mudahan saja benar-benar true atawa sejati, bukan fake atau artificial. Bagi profesor, ini merupakan pernikahan keduanya setelah sebelumnya divorced. Sedangkan buat pihak perempuan, merupakan perkawinan pertama. Semoga saja bukan hanya yang pertama tetapi yang terakhir. Bukan hanya true love tetapi juga endless love.

Obrolan dalam perjalanan pulang itu tak lepas juga dengan topik yang agak ngeres yang berbau 17 tahun ke atas. Barangkali anda akan penasaran jika tidak saya ceritakan di sini. Biar anda tidak senewen, bolehlah saya tulis juga. Asumsi saya, anda sudah 17 tahun ke atas dan bisa bertanggung jawab dengan apa yang sedang anda baca dan apa yang anda lakukan. Hanya saja saya tidak bertanggung jawab jika anda kemudian sakit perut atau malah menjadi sakit hati setelah membaca cerita di bawah ini.

Konon ada seorang yang bila dilihat usianya sudah tergolong kakek-kakek. Tetapi si kakek ini tidak mau kalah dengan yang muda. Dia beger juga. Kemana-mana naik motor Tiger, kedua lengannya bertato, suka pakai rompi doang meskipun badannya tidak kekar alias kerempeng. Dia suka main perempuan. Yang membuat tidak tahan, si kakek suka mengucapkan istilah-istilah asing yang dia sendiri sebenarnya tidak tahu maksud istilah itu sebenarnya, termasuk yang berkaitan dengan urusan sex.

Suatu hari si kakek dengan bangganya cerita kepada okem-okem muda yang sedang nongkrong di warung kopi. Dengan gagah dia katakan bahwa kemarin dia telah ngesek dengan tiga perempuan sekaligus sampai tiga jam. Anak-anak muda yang mendengarkan menjadi penasaran dan ingin tahu resepnya kakek yang tahan sampai berjam-jam itu. Mereka yang jauh lebih muda saja paling lama hanya setengah jam, itupun hanya dengan satu perempuan. Maka bertanyalah salah satu dari mereka, ”Rahasianya apa bang bisa lama begitu?” Memang meskipun sudah kepala tujuh, si kakek maunya dipanggil abang. ”Saya menggunakan gaya dogi stail (doggy style),” katanya. Yang mendengarkan makin heran. Bagi mereka justru gaya yang seperti itu lebih berat dan melelahkan. Apalagi untuk manusia seusia si abang ini. ”Bukannya itu gaya yang berat bang?” Tanya mereka lagi. ”Oh, tidak,” jawabnya. Kemudian ada yang bertanya lagi, ”Bagaimana sih dogi stail abang kok abang bisa begitu tahan lama?” Dengan bangga si kakek memamerkan dogi stailnya sambil berkata, ”Seperti ini lho. Saya endus-endus mereka.” Hanya karena segan saja mereka kemudian tidak mentertawakan kakek. Dalam hati mereka selanjutnya meneruskan, ”Hiya, setelah diendus-endus kemudian dikorek-korek. Bukan pakai kaki layaknya anjing, tapi menggunakan cotton bud.”

Dengan ngobrol ngalor-ngidul di antaranya seperti itu (penting nggak siihh.....?), tak terasa mobil sudah ada di wilayah Bogor. Rombongan menyempatkan diri mampir dulu makan soto lamongan di dekat Bogor Permai. Kata orang sih enak, buat saya biasa-biasa saja tuh. Tetapi lumayanlah, buat menghangatkan perut. Jam 22.15 mobil sampai di rumah kembali. Dengan demikian, bila dihitung sejak keberangkatan yang jam sepuluh malam juga sehari sebelumnya, maka persis 24 jam saya bisa dikatakan tidak tidur. Kalaupun di mobil merem, itu meremnya ayam (bukan tahi ayam loh), 24-hour awake.

Thursday, March 13, 2008

Pemanasan Celana Dalam

Betul, udaranya yang sejuk semakin memantapkan keputusan saya memilih Bogor sebagai tempat tinggal. Tapi sayangnya, sejuknya udara Bogor yang mengesankan saya itu terjadi bertahun-tahun yang lalu. Saya rasakan saat pertama kali masuk Bogor di tahun 1991 atau 1992. Persisnya saya lupa, maaf. Namun itu bukan hal yang penting untuk diceritakan di sini. Saya akan kisahkan untuk anda tentang kunjungan pertama ke Bogor yang saya lakukan itu. Rasanya itu yang lebih ingin anda baca barangkali. Betul?

Tahun itu saya sengaja ikut main ke rumah teman kuliah yang ngekost di Bogor. Pertama, karena memang saya belum pernah ke Bogor sehingga saat ada ajakan main ke kota hujan itu langsung saya iyakan. Lumayan, kan dijamin nggak kesasar dengan adanya pemandu. Kedua, saya sendiri memang punya rencana akan tinggal di Bogor, jadi selain main juga sekalian survei. Dengan naik KRL dari Jakarta, saya berdua dengan teman yang kostnya di Sempur Kaler, Bogor itu menikmati perjalanan senja hari. Karena harus kuliah dahulu sampai sore, maka perjalanan ke Bogor saya lakukan menjelang petang.

Perjalanan pertama ke Bogor itu juga pengalaman pertama saya naik KRL. Ndeso banget ya, baru sekali-sekalinya naik KRL. Saat kereta lepas dari stasiun Cilebut, stasiun terakhir sebelum stasiun Bogor, udara sejuk menyegarkan menyambut saya. Wajah ini segar banget diterpa angin malam. Saat sampai di Cilebut kira-kira sudah jam tujuhan malam. Saya benar-benar terkesan. Apalagi saat sudah mau masuk stasiun Bogor dan turun dari kereta, betul-betul unforgetable experience. Seluruh badan ini terasa segar banget. Badan yang saat di dalam kereta tadi terasa gerah dan penat karena penumpang yang empet-empetan, begitu kaki menginjak peron stasiun Bogor jadi segar lagi. Pengalaman dengan Bogor yang akan selalu saya ingat. Pasti itu!

Namun sayang seribu kali sayang, segarnya Bogor yang pertama kali saya nikmati saat di stasiun maupun di Sempur Kaler, perkampungan di pinggir sungai Ciliwung yang akhirnya saya kost di daerah itu juga, sekarang sudah hilang. Bogor sudah tidak nyaman lagi. Saat ini Bogor tidak ada bedanya dengan Jakarta, panas dan gerah. Bogor yang saat saya datangi beberapa tahun yang lalu begitu lancar lalu-lintasnya, sekarang berubah menjadi kota seribu angkot. Ada ribuan angkot yang berkeliaran di Bogor. Belum lagi tambahan mobil yang masuk dari Jakarta terutama pada akhir pekan.

Dengan makin padatnya lalu-lintas dan banyaknya rumah maupun pabrik yang dibangun, hal ini bisa menjawab pertanyaan mengapa Bogor sekarang tidak sesegar beberapa tahun yang lalu. Dulu saat masih kost di Sempur Kaler, saya pasti kedinginan di pagi hari. Selalu mencari-cari alasan untuk diri sendiri agar bisa mandi pagi agak siangan. Sekarang ini, Sempur Kaler yang berada di daerah cekungan sebelah sungai Ciliwung yang dulu (katanya) pernah mau ditenggelamkan menjadi bendungan saat pemerintahan presiden Soekarno sudah tidak dingin lagi. Sempur yang ada di bawah saja sudah tidak nyaman, apalagi wilayah-wilayah yang lebih tinggi. Sudah pasti deh mendidih.

Penyebab lain yang dituduh sebagai biang kerok panasnya Bogor, dan kota-kota lain termasuk di luar negeri sono, adalah yang disebut dengan global warming – pemanasan global. Saya pernah tulis di blog ini tentang global warming. Istilah yang saat ini semakin sering kita dengar atau baca. Ada hal-hal tentang pencegahan atau setidaknya memperlambat terjadinya pemanasan global yang saya tulis di situ. Anda bisa akses lagi halaman tentang global warming itu bila mau.

Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa bumi ini semakin panas. Bahkan orang Indonesia sudah menunjukkan kepada dunia bahwa global warming itu sudah terjadi lama. Di tahun 70-an orang kita ada yang membuat film berjudul Bumi Makin Panas. Film esek-esek yang dibintangi Suzanna. Ya, nenek-nenek yang sekarang lagi main film horor bareng sama ambulan itu. Tapi tunggu dulu, sebenarnya sih saya hanya bercanda. Nggak ada urusannya antara filmnya Ali Shahab dengan global warming. Namun saya bisa membuktikan bahwa global warming memang sudah dan sedang terjadi sejak ratusan tahun lalu. Bukti bahwa global warming itu ada adalah berdasarkan celana dalam yang dipakai. Lho? Jika nggak percaya anda bisa lihat bukti di bawah ini.


Saya sendiri sekarang sedang sok menjadi warga dunia yang peduli global warming dan berperan serta memperlambat pemanasan itu dengan membuat kompos. Rencana membuat kompos yang pernah saya sampaikan dalam tulisan berjudul global warming beberapa waktu yang lalu sekarang sudah terlaksana. Saya sudah berhasil mendaur ulang sampah organik yang ada di dalam maupun lingkungan rumah saya. Saat ini sudah ada dua karung kompos jadi yang berhasil saya buat. Dan ada beberapa karung sampah organik lagi yang dalam proses pengkomposan. Bila lancar, dalam waktu yang tidak lama akan ada tambahan berkarung-karung kompos. Tinggal penggunaanya nanti yang perlu saya pikirkan.

Dengan tersedianya kompos siap pakai, jadi muncul ide-ide kreatif dalam pemanfaatannya di kepala saya. Yang pasti saya akan menggunakannya untuk menanam cabe rawit, caisim, dan sayur-sayuran lainnya. Sudah tergambar di kepala saya seolah-olah hal itu sudah terjadi, tanaman yang hijau segar dan subur karena dipupuk dengan kompos. Tidak usah khawatir, buat anda yang tertarik juga membuat kompos seperti yang saya lakukan, saya akan menulisnya di lain waktu. Dengan demikian anda yang belum pernah, bisa belajar dari tulisan yang saya buat. Bagi anda yang sudah pernah dan berpengalaman, anda bisa mengoreksi tulisan saya itu. Mau kan?

Ya sudah, saya pikir cukup di sini dulu sajalah. Lain kesempatan saya akan tulis mengenai remeh-temeh yang terkait dengan kompos. Benda yang saat saya buat sempat membuat saya ragu, jadi nggak ya kira-kira. Dan nggak nyangka ternyata berhasil juga.

Oke bro, jika ada sumur di ladang, bolehlah kita menumpang mandi. Jika ada umur panjang, insyaAllah kita ketemu lagi.

Jika anda geli cicak, janganlah dekat-dekat dengannya, karena dia bisa mematikan. Nggak percaya? Di dunia ini tidak sedikit orang meninggal karena cicak napas.
So what gitu loh…