Friday, July 03, 2009

Tengil

Ah, ini sih tumpahan uneg-uneg saya tentang orang-orang tengil yang ada di sekeliling kita. Seperti apa sih tengil itu? Banyak, banyak perilaku yang dapat menjadikan seseorang pantas menyandang gelar tengil. Anda gimana, tengil atau tengik, atau kedua-duanya? Coba cocokkan diri anda dengan apa yang tertulis di bawah ini.

Entah kenapa muncul julukan tengil yang disandangkan untuk orang-orang dengan perlakuan tertentu. Saya tidak akan membahas dari sudut pandang bahasa dan selain juga karena malas membuka kamus. Saya hanya akan menyampaikan dari apa yang saya lihat dan rasakan. Orang tengil bisa secara universal artinya semua orang melihat dia memang benar-benar tengil. Namun, ada juga tengil yang lebih bersifat subyektif, hanya orang tertentu yang menganggapnya demikian sementara orang lain melihat orang itu biasa saja.

Pernahkah anda merasakan seperti itu? Merasakan bahwa orang lain bersikap dan berperilaku tengil? Jika berhadapan dengan orang tengil yang perlu dilakukan adalah sabar dan tetap bersikap baik. Terus terang saya sendiri tidak tahu mengapa ada orang-orang tengil. Barangkali salah satu penyebabnya adalah karena memiliki jabatan. Dengan jabatan itu dia kemudian berlagak. Akibatnya apa yang terlihat di mata orang lain adalah ketengilan.

Barangkali anda pengen tahu alasan saya membuat tulisan ini. Pemicunya adalah adanya orang yang saya rasakan, meskipun kadang-kadang, kok, orang ini tengil banget ya. Sebel banget jadinya. Jangan tanya siapa dia! Yang pasti dia bukan kebo. Daripada saya umpat-umpat dia lalu dia jadi tersinggung dan sakit hati, kan mendingan saya tulis saja. Dia tidak sakit hati dan saya jadi berkurang sebelnya. Jika dia kemudian baca tulisan ini terus merasa bahwa dia yang ditulis lalu jadi sakit hati, ya salah sendiri. Kenapa begitu GR-nya.

Orang-orang yang memiliki jabatan dan kekuasaan tetapi tidak amanah sering dan sangat mungkin menjadi orang tengil. Seolah-olah jabatan dan kekuasaan yang dipegangnya akan selamanya. Bisa jadi karena di otaknya berpikiran seperti itu, dia menjadi tengil. Tengil yang wujudnya berupa sikap otoriter, semena-mena, menganggap properti kantor adalah milik pribadi, dan bentuk-bentuk lain yang tidak mengenakkan orang lain.

Bicara tentang orang yang menganggap jabatan dan kekuasaan yang dimilikinya akan abadi, saya kok jadi ingat dakwah yang pernah disampaikan dai terkenal yang kemudian menjadi tidak populer karena melakukan poligami. Bila memiliki jabatan atau kekuasaan, seharusnya seperti tukang parkir. Dia memiliki banyak mobil, baik mobil biasa atau mewah. Tetapi ketika mobil-mobil itu diambil, dia tidak marah atau bahkan ngamuk karena dia tahu itu bukan miliknya. Dia ikhlas menyerahkan mobil-mobil itu. Bila anda memiliki jabatan dan kekuasaan di dalamnya, seharusnya anda seperti tukang parkir dengan mobil-mobilnya. Apa yang sedang di tangan anda itu hanyalah titipan. Jangan berpikiran akan memilikinya selamanya. Jika anda tidak mau seperti tukang parkir, bersiap-siaplah menjadi orang yang dihinakan. Dan, bisa jadi penyakit kejiwaan yang bernama post power syndrome akan menghampiri anda.

Pertanyaan mendasar: Tengil itu anda difinisikan apa?

Thursday, July 02, 2009

Mari Telanjang

Jangan berpikir yang enggak-enggak! Saya tidak bertanggung jawab bila anda berprasangka yang macam-macam. Jika anda kemudian ‘ngeles’ (orang pinter bilang: melakukan pembelaan) dengan mengatakan karena judul yang saya buat, itu juga salah anda sendiri membaca judul seperti itu lalu jadi ngeres. Bisa dikatakan, pada dasarnya otak anda memang ngeres. Judul yang saya buat ini hanya sekedar menstimulus (saya tidak menggunakan kata ‘merangsang’ agar ngeres anda tidak makin parah) otak esek-esek anda itu. Mau protes?

Sekarang ini kan sudah masuk bulan Juli, wal khususon sebentar lagi tanggal 8. Anda tahu kan, tanggal itu negeri kita ini akan melaksanakan hajatan nasional. Ada pemilihan presiden yang akan diselenggarakan baik di dalam negeri maupun di KBRI-KBRI yang ada di manca negara sono. Terus apa urusannya dengan telanjang dan ajakan untuk buka-buka baju? Hlo, kenapa anda protes? Kan suka-suka saya kasih judul seperti itu. Bila anda penasaran dan segera ingin tahu mengapa judulnya seronok seperti itu, sabar, sabar, sabar, semua akan saya jelaskan. Saya memang akan ngobrol dengan anda tentang pemilihan presiden yang disambut dalam bentuk yang bermacam-macam oleh warga negara ini.

Kita bicara dulu tentang bentuk sambutan. Seperti apa sih sambutan yang diberikan oleh sodara-sodara sebangsa setanah air kita ini. Yang saya lihat dengar dan rasakan, ada yang antusias. Bentuk antusiasnya juga macam-macam. Misalnya, mereka ikut kampanye kesana-kemari meskipun nggak jelas apa nanti yang akan dia nikmati bila idolanya itu terpilih. Ada yang antusias dengan cara kampanye sani-sini, padahal dia bukan juru kampanye, hanya sekedar simpati dengan calon tersebut. Ada pula yang mengeksploitasi orang lain dengan menggunakan jabatan dan kekuasaannya, tidak beda dengan penjilat dan tukang cari muka. Ada yang membagi-bagi atribut, macam-macam atribut, padahal pernah ketemu saja tidak dengan calon itu. Dia hanya tahu dari cerita orang, dari media, dan dari menebak-nebak sesuai imajinasi. Bisa dibayangkan kan bagaimana jika bisa ketemu sendiri dengan tokoh idolanya? Suruh njilat pantatnya barangkali juga akan dengan senang hati dia lakukan.

Itu contoh mereka yang begitu antusias. Bentuk lain adalah tidak peduli. Anda mau protes dengan orang-orang seperti ini? Bila anda orang yang memiliki antusiasme seperti yang saya sebutkan di atas, barangkali iya. Maksudnya anda akan protes habis-habisan dengan sikap orang-orang yang tidak peduli ini. Lebih-lebih bila anda jago debat plus punya kekuasaan, dahsyat deh pasti usaha anda menaklukkan mereka yang tidak mau peduli dengan hajatan nasional yang sebentar lagi akan berlangsung. Apalagi anda tahu orang-orang itu tidak memilih calon anda. Kebakaran jenggot deh anda ini. Baik jenggot atas maupun bawah. Oops! Memang ada jenggot bawah? Bukan jenggot kali ye namanya. Mereka yang tidak peduli, tidak heran bila kemudian menjadi golongan suci alias golongan putih. Mau protes lagi dengan sebutan ini? Salah satu penyebab kenapa mereka golput adalah karena mereka suka telanjang. Apalagi ini?

Saya akan jelaskan yang saya maksud dengan golput dan hobi telanjangnya setelah yang satu ini. Sekarang saya sebutkan satu bentuk lagi selain antusias dan tidak peduli, yaitu bingung. Tidak sedikit orang-orang yang bingung dengan pemilihan presiden saat ini. Mereka tidak mengerti. Dan inilah yang digunakan oleh para calon dan tim suksesnya untuk membentuk opini yang terbaik tentang mereka. Karena semua mengkampanyekan hal-hal yang baik, mereka akhirnya bukannya makin ngerti tetapi malah bingung. Mereka bingung dengan pesan yang disampaikan. Mereka bingung dengan ambisi masing-masing calon presiden. Dan, mereka bingung siapa sebenarnya calon-calon presiden yang ingin memimpin itu. Bagi mereka, semua calon itu jelas tapi gelap, atau malah jelas-jelas gelap. Di mata mereka, para calon itu tidak mau buka-bukaan, atau katakanlah, tidak mau telanjang. Sebagai akibatnya, kebingungan dari orang-orang itu akhirnya membuat sebagian dari mereka memilih untuk menjadi golput. Karena para calon itu malu untuk telanjang sedangkan para golput justru senang dengan yang buka-bukaan, maka golput-golput ini kemudian mengabaikan pemilihan yang bakal terjadi nanti.

Jika saya mengatakan mereka golput karena bingung, sebenarnya buka semata-mata bingung seperti bingungnya orang linglung. Kebingungan mereka lebih karena tidak bisa memahami calon-calon yang lagi maju. Sudah jamak memang bila orang yang ingin mendapatkan sesuatu kemudian menonjol-nonjolkan hal-hal yang baik-baik. Tapi coba, dan seandainya, yang diperlihatkan hal-hal yang memalukan, barangkali orang malah akan menjadi simpatik (atau justru menjadi jijik?). Sehingga ketika kita harus memilih, kita akan memberikan pilihan kepada calon yang paling sedikit memiliki kesalahan, keburukan, atau kejahatan. Namun rasanya aneh dan nggak mungkin ya hal itu terjadi?

Alangkah indahnya bila calon pemimpin, presiden misalnya, berani telanjang di depan para pemilih. Mereka berani mengakui kebobrokannya, mereka tidak sungkan-sungkan mengatakan bahwa dulu pernah korupsi sekian milyar, beberapa waktu yang lalu pernah nggodain istri temannya, belum lama berselang telah ngemplang utang dari bank, and so on and so on. Apa komentar anda? Nggak masuk akal? Mungkin ya mungkin tidak. Ada benarnya, atau barangkali tidak mungkin bakal terjadi. Namun bagi saya, saya akan sangat respek dan bersimpatik saat ada orang yang mencalonkan dirinya menduduki sebuah kursi kekuasaan kemudian secara terbuka dan jujur memaparkan kejelekan atau bahkan kejahatan yang pernah dia lakukan. Dengan demikian, siapa yang terpilih bukan dia yang paling pinter berbohong dan bermanis-manis muka atau istilah populernya jual pesona, tetapi adalah karena dia yang memiliki paling sedikit atau pendek catatan hitamnya.

Sayangnya negeri kita ini cukup unik. Bahkan bangsanya sendiri kadang tidak bisa memahami. Korupsi, misalnya, yang digembar-gemborkan merusak sendi-sendi perekonomian rakyat tetap dilakukan. KPU yang dibentuk memberi kesan semu kepada rakyat bahwa pemerintah memang serius menangani korupsi. Saya tidak mengecilkan peran KPU, tetapi hasil kerja komisi ini masih jauh dari yang diharapkan. Apalagi ketuanya malah tersangkut kasus. Makin ruwet deh jadinya.

Terus mau gimana kita? Kita berdoa saja mudah-mudahan para calon presiden ini mau telanjang. Bila mereka tidak bersedia melakukan (apa perlu kita yang menelanjangi?), ya mudah-mudahan calon presiden periode berikutnya mau melakukan. Jika ternyata juga tidak mau, kita tetap berdoa mudah-mudahan suatu saat siapapun yang mencalonkan dirinya menjadi presiden, bahkan bukan hanya presiden tetapi apapun, mereka berani mempertontonkan aibnya untuk bisa dipilih. Tuh, kan keren bila itu yang terjadi. Makanya jangan ngeres dulu bila saya mengajak anda telanjang. Eh, anda membaca tulisan ini celananya sudah dipakai belum?

Friday, June 19, 2009

Saat Ini Waktu Dulu

Anda yang belum tahu, hari ini saya ulang tahun. Terima kasih, terima kasih, terima kasih, atas ucapannya. Bukannya saya tidak menghargai perhatian anda, tapi bagi saya hari ini tidak ada bedanya dengan hari-hari yang lain. Yang agak berbeda, saat ini merupakan tanggal dan bulan yang sama dengan tanggal dan bulan ketika saya dilahirkan dulu. Berapa usia saya sekarang? Itu juga tidak penting buat saya. Jika anda ngeyel pengen tahu, itu aneh. Saya yang punya umur saja tidak peduli, kok anda mau-maunya ngotot seperti itu.

Anda sendiri menganggap penting nggak dengan ulang tahun anda? Bila anda sangat bangga dengan ulang tahun kelahiran anda sehingga sampai bersedia mengeluarkan uang banyak untuk mengadakan pesta, saya maklum. Jika anda sama seperti saya, menganggap biasa-biasa saja, saya juga tidak otomatis memuji anda. Sikap apapun yang anda ambil, semua terserah anda. Bukannya saya pelit bila tidak merayakan hari ulang tahun. Tanpa hari ulang tahunpun buat saya tidak ada masalah bila harus mengeluarkan uang banyak untuk mentraktir anda semua. Saya ini kan orangnya suka mentraktir orang. Cuma yang saya khawatirkan, anda siap nggak saya traktir?

Bicara tentang hari ulang tahun, kadang-kadang saya suka nggak enak dengan teman. Mereka, teman saya, adalah orang-orang baik. Begitu perhatiannya mereka bila ada salah satu yang berulang tahun. Tidak lupa, ucapan selamat disertai jabat tangan atau sun pipi kiri kanan bagi sesama perempuan selalu dilakukan. Saya sendiri bukannya tidak senang bila mendapat ucapan semacam itu. Yang membuat saya tidak enak, kok rasanya antusiasme saya tidak seheboh mereka. Padahal kan saya yang merayakan? Entahlah. Mudah-mudahan sikap saya ini tidak menyakiti hati orang lain. Barangkali lewat tulisan ini anda bisa memahami saya, sekaligus dengan tulisan ini saya minta maaf bila respon saya tidak sesemangat anda.

Oke deh, saya tidak berpanjang kata. Pertama, mungkin anda akan menjadi bosan, kedua, karena kepala saya sedang pusing. Dan penyebab kedua itulah yang paling utama menyebabkan saya menghentikan tulisan ini. Terus terang penyebab pertama sebenarnya hanya basa-basi saja. Anda mau bosan kek, mau seneng, buat saya nggak ngaruh. Bila saya ingin menulis banyak-banyak, ya saya akan menulis banyak. Peduli amat apa kata orang. Lebay lah, wordy lah, berlebih-lebihan, apapun, akan saya anggap angin lalu.

Jadi, sekali lagi, terima kasih atas atensinya. Untuk yang kedua kalinya, saya mohon maaf bila saya tidak terlihat seantusias yang anda harapkan. Pusing di kepala ini lah yang menjadi biang keroknya. Gara-gara tidur gak teratur semalam, akibatnya hari ini kepala empot-empotan. Oh ya, nggak usah repot-repot memberi kado saya. Bila anda tetap bermaksud memberi kado, silakan, saya akan terima dengan senang hati. Jangan! Jangan memberi Blackberry. Saya nggak butuh gadget itu. Cukup strawberry saja. Sip kan?

Monday, June 15, 2009

Pelacur

Dalam KBBI Daring (kamus bahasa Indonesia online), lacur artinya (1) malang; celaka; sial; (2) buruk laku. Melacur merupakan kata kerja yang bermakna berbuat lacur; menjual diri (sebagai tunasusila atau pelacur). Untuk pelacur, kata itu memiliki arti perempuan yang melacur atau wanita tunasusila atau sundal. Perlu saya ingatkan, kita tidak sedang belajar bahasa Indonesia, atau arti kata dalam bahasa yang kita cintai ini. Saya hanya ingin mengingatkan, jangan-jangan anda ini pelacur. Nah, lo?

Sori bila membuat anda kaget. Tapi ini fakta. Menjelang pemilihan presiden ini, ada orang-orang yang dengan sadar atau tidak sadar, rela atau tidak rela, suka atau tidak suka, telah melacurkan dirinya. Sebelum saya bicara banyak-banyak, saya sampaikan kepada anda yang tidak terima atau tersinggung dengan tulisan ini, silakan komentar sebanyak-banyaknya, komplain habis-habisan, omelin sesuka-suka anda juga boleh, mau merobek-robek tulisan ini silakan (jika bisa). Apapun reaksi anda, saya akan lanjutkan tulisan ini.

Bila pelacur dalam KBBI Daring mengarah ke perempuan, dalam tulisan ini saya memaknai kata itu bukan hanya untuk kaum hawa tetapi juga para lelaki. Siapapun dia, bila yang dilakukan adalah menjual diri maka dia pantas menyandang gelar pelacur. Jadi bagi anda yang perempuan, jangan berkecil hati bila dalam kamus pelacur hanya untuk kaum anda. Pada kenyataannya, yang melacur bukan hanya perempuan, laki-lakipun tidak sedikit yang melakukan. Dalam hal ini, saya tidak hanya membatasi kegiatan pelacuran pada menjual diri yang terkait dengan aktifitas seksual, tetapi juga kegiatan yang lain. Dan itu sangat mungkin. Dan itu yang justru akan saya persoalkan.

Di awal saya katakan banyak pelacur bermunculan menjelang 8 Juli ini. Memang begitu kan? Banyak orang mau dibayar untuk meramaikan kampanye calon presiden yang dia sendiri sebenarnya tidak paham siapa yang dielu-elukan itu. Yang mereka kenal hanya nama dan tampang. Bagi mereka, yang penting kan dapat uang. Anehnya, kadang-kadang mereka ini tidak dibayar dengan uang secara langsung. Karena ikatan kerja, misalnya, mereka bersedia melacurkan diri. Agak kasar ya istilah yang saya gunakan?

Saya sendiri sekarang MASIH bekerja di tempat yang kebetulan ada kaitan dengan salah satu dari orang yang mencalonkan diri menjadi presiden 8 Juli nanti. Namun demikian bukan berarti saya kemudian berpihak kepada dia. Dalam urusan politik, pekerjaan saya tidak ada sangkut pautnya. Oleh karena itu, tidak mungkin saya akan mencampurbaurkan pekerjaan saya dengan urusan politik. Urusan politik yang saya kulik-kulik ini adalah urusan ideologi yang berorientasi ketatanegaraan, sedang pekerjaan adalah ibadah, jihad bagi saya, yang berkaitan dengan masalah kelangsungan hidup yang sifatnya personal. Bagi saya, apa yang saya terima dari tempat saya bekerja bukan otomatis menjadikan saya harus memilih atau mensukseskan dia ke kursi ambisinya. Apa yang saya peroleh di tempat kerja adalah sebagai kompensasi dari keahlian, kemampuan, dan ketrampilan yang saya berikan. Sudah itu saja. Tidak ada ideologi (dalam berpolitik) yang kemudian akan saya pertukarkan karena saya bekerja di tempat yang terkait dengan dia. No way!

Terus, siapa dong yang saya pilih? Ah, nggak usah tanya-tanya lah masalah itu. Siapa yang saya pilih, atau barangkali, apakah saya memilih, itu urusan saya. Jika sebagai warga negara yang baik, kita harus memilih, itu harus. Namun bagaimana menurut anda bila ada orang yang memilih untuk tidak memilih alias golput, apakah dia juga dapat digolongkan menjadi warga negara yang baik? Kan dia telah menggunakan haknya untuk memilih? Meskipun banyak kecaman diberikan kepada golongan putih ini, tetapi faktanya semakin ke sini semakin banyak saja mereka yang memilih untuk tidak memilih. Kenapa ini bisa terjadi?

Barangkali kita perlu melihat kembali penyebab munculnya golongan suci ini (kan putih artinya suci?). Jangan semata-mata menyalahkan mereka karena keputusannya. Lebih bijaksana jika kita tengok lebih dalam lagi di balik keputusan yang diambil itu. Anda tentu tidak mau disalahkan karena memilih tidak makan makanan yang sangat tidak enak di lidah anda, meskipun sebagian orang mengatakan lezat. Bila sebagian dari kita memilih menjadi golput, ini kan artinya karena pilihan yang ada tidak qualified di mata mereka, atau setidaknya tidak sreg di hati mereka. Perihal qualified tidaknya calon yang maju itu bisa berpanjang lebar bila kita perdebatkan. Jadi, tidak usah sajalah kita memperdebatkannya. Silakan anda simpan dan pertahankan argumen tentang parameter kualifikasi seseorang yang menurut anda benar. Okay?

Begitu juga dengan parameter pelacur. Jika dalam kamus sudah jelas apa yang dimaksud dengan pelacur, tetapi kemudian anda memperdebatkannya, itu urusan anda. Apalagi jika anda dikenal sebagai tukang debat, lebih-lebih jago debat kusir, pasti anda pintar berkelit. Namanya juga jagoan. Mungkin anda tidak terima dikatakan sebagai pelacur politik. Barangkali anda amat sangat berang dikatakan melacurkan diri dalam ranah politik. Apapun yang anda lakukan dalam periode pemilihan presiden ini, bila anda mau menggadaikan atau mempertukarkan kebebasan berpolitik anda dengan atau karena apapun: uang, pekerjaan, jabatan dan lain-lain, maka saya akan katakan anda telah melacurkan diri anda. Saya tidak mempermasalahkan apakah anda melakukannya dengan sadar atau tidak, suka atau tidak, rela atau dipaksa. Untuk saya, saya tidak akan suka juga tidak rela bila harus berbuat seperti apa yang anda perbuat.

Memang, tidak ada manusia yang sempurna. Namun bila ketidaksempurnaan manusia berada dalam posisi yang harus kita pilih, sungguh berat rasanya. Kita jadi serba salah. Mau memilih, tidak ada yang sreg. Tidak memilih, harus ada yang dipilih. Akhirnya ini seperti buah simalakama, mau memakan atau tidak memakan, semua ada resikonya. Bila mengacu kepada tindakan dan resiko yang akan terjadi, yang terbaik adalah memilih salah satu dari pilihan-pilihan yang sangat tidak mengenakkan. Dengan demikian, setidaknya kita tidak merasa bersalah dan memiliki peran dalam menentukan siapa yang harus menjadi pemimpin meskipun sebenarnya dia bukan orang yang kita inginkan. Hanya karena keadaan sajalah yang menyebabkan kita harus memilih dia.

Itu semua terserah anda. Jika anda memutuskan menjadi golput, siapa yang melarang? Itu hak anda kok. Nggak usah takut, tidak usah malu. Tidak memilih adalah juga sebuah pilihan. Suka atau tidak suka, golongan suci ini pasti akan muncul. Sekali lagi, bila kemudian golput semakin banyak, coba kita lihat kembali sistem dan mekanisme pemilihan yang ada dan atau calon-calon yang sekarang lagi maju. Sangat mungkin di situ letak masalah yang sebenarnya.

Yang ingin saya sarankan, jika anda harus memilih, jadilah golput jangan pelacur. Dari sudut manapun, golput lebih mulia bila dibandingkan pelacur. Atau anda mau jadi golput yang sekaligus melacur? Amit-amit jabang bayik! Sungguh celaka hidup anda.

Friday, June 12, 2009

Say No 2 Presiden Ayam Bawang

Bagaimana rasanya bila kita punya seorang presiden dengan rasa ayam bawang? Pasti lama-lama kita akan neg lalu muntah. Itulah yang nanti akan dirasakan rakyat negara ini bila presiden ayam bawang akhirnya kembali lagi berkuasa.

Tadinya saya tidak peduli dengan potongan lagu kampanye yang diperlihatkan di penggalan akhirnya saja di sebuah televisi. Begitu juga ketika sekilas saya dengar di radio. Saya hanya sempat menebak-nebak, kok mirip jingle iklan sebuah produk mi instan ya? Saat secara tidak sengaja saya disuguhi versi komplit lagu kampanye itu di televisi (saya jarang nonton tv... keren kan?) saya jadi terbengong-bengong. Kok hanya segitu kualitas orang yang berani mencalonkan dirinya memimpin negara yang penduduknya pinter-pinter ini.

Memang benar bukan dia langsung yang terlibat dalam program kampanye itu, tapi semua itu tentu atas persetujuan ybs. Tim sukses yang dibentuk sudah pasti akan menyusun program untuk dapat memenangkan pemilihan presiden yang akan berlangsung 8 Juli nanti. Namun sayangnya, dengan terang-terangan menjiplak jingle dari produk mi instan seperti itu jelas menunjukkan kualitas dari tim sukses yang suka atau tidak suka juga memperlihatkan kualitas dari calon presidennya.

Saya paham dengan strategi yang diambil. Tidak dipungkiri jingle tersebut sudah sangat dikenal oleh telinga rakyat Indonesia. Dengan menjiplak jingle yang sudah sangat populer itu, tidak diperlukan lagi pengenalan yang akan membutuhkan waktu lama. Dan itulah yang dibidik oleh tim sukses ayam bawang. Celakanya, ada aspek lain yang –saya tidak yakin kalo mereka tidak memperhitungkan sebelumnya- justru sangat merugikan. Oke, masyarakat langsung kenal dengan lagu itu begitu mendengar. Ketika asosiasi yang awalnya diarahkan ke mi instan kemudian dibelokkan ke figur calon presiden, saya yakin mereka memperkirakan pendengar/penontonnya kemudian akan berpindah dari mi ke manusia yang difigurkan. Tepat. Itu pasti terjadi. Namun mereka lupa, efek dari kampanye mereka tidak sesederhana itu. Rasa muak ternyata juga muncul begitu mendengar jingle kampanye yang mentah-mentah mengambil dari jingle iklan. Saya sendiri rasanya seperti makan bermangkok-mangkok mi instan sehingga merasa begitu muaknya dengan langkah tidak kreatif yang diambil oleh tim sukses presiden ayam bawang.

Dengan gaya kampanye seperti itu, kok saya jadi mikir, apa jadinya negara ini bila dipimpin oleh presiden yang plagiator dan tidak kreatif. Lebih baik tidak usah dipikir dan dibayang-bayangkan. Ambil tindakan kongkrit, jangan pilih dia. Lagian selama ini tidak ada kemajuan yang langsung menyentuh, setidaknya itu yang saya rasakan. Barangkali anda merasakan hal yang sama. Terus, apa untungnya bagi kita kalau memilih dia lagi?

Mungkin bagi anda alasan saya ini terlalu sederhana untuk tidak memilih kembali calon presiden yang berasa ayam bawang. Namun bagi saya, hal sederhana seperti itulah yang justru akan menunjukkan kualitas seseorang. Contoh lain lagi yang terkait dengan kualitas, kapan gelar doktor dia peroleh? Jawabannya sangat sederhana, ketika dia menjabat presiden. Memang, tidak ada yang salah ketika gelar akademis itu diambil ketika sedang memegang kekuasaan tertinggi. Cuma, saya mau tanya dan anda boleh bohong ketika menjawab, “Anda yakin gelar doktornya itu menunjukkan kualitas dia?” Anda menganggap saya berburuk sangka? Apa boleh buat, kebenaran ungkapan power tends to corrupt kadang menyebabkan seseorang dituduh berburuk sangka.

Jadi, jika anda memilih presiden dengan rasa ayam bawang, bersiap-siaplah untuk muntah.