Apapun aliran anda, entah yang ngikut lebaran Jum'at ato Sabtu, bahkan jika anda termasuk pengikut kelompok yang merayakan idul fitri hari Kamis seperti yang ada di Gowa, Gorontalo, maupun Padang sekalipun, saya ucapkan selamat hari raya idul fitri. Segala khilaf dan salah, mohon dimaafkan. Agak terlambat memang jika saya mengucapkannya sekarang, tetapi barangkali itu lebih baik daripada tidak. Seperti pepatah orang Jawa, "Better late than never."
Maklum saja. Itu semua karena saya jauh dari rumah, dari si kokom kesayangan. Inipun saya ketik di warnetnya STIE AMA Salatiga di sela waktu bersilaturahim dengan sanak sodara. Mumpung ada kesempatan. Walopun besuk (Sabtu, 20/10) saya dan bolo kurowo sudah balek ke Bogor, tapi nggak ada salahnya juga ngisi blog ini sekarang. Ya akhirnya berangkat deh berdua sama junior saya yang gede ke warnet, mencoba menyusun rangkaian kalimat sebagai ucapan silaturahim dalam rangka lebaran.
Lebaran ini, memang saya putuskan untuk mudik setelah dua lebaran kemarin tidak pulang. Bukan masalah enggan atau tidak peduli lagi dengan orang tua bila saya tidak mudik tiap tahun. Kalo nurutin lamanya perjalanan dan macet, memang malas untuk mudik. Tapi saat ini saya lebih merasa harus mudik karena sudah dua tahun lebih, kalo nggak salah, saya tidak ketemu dengan orang tua. Saya sudah kangen. Kangen semuanya, orang tua, teman, suasana kampung masa kecil, opornya emak, dll-dll.
Buat saya mudik itu bukan wajib hukumnya, tapi hanyalah sebuah pilihan. Sedangkan silaturahim dengan orang tua dan sanak sodara memang harus, tapi bukan berarti musti dilakukan di hari lebaran. Toh kalo untuk sungkem dengan orang tua tidak harus di hari raya, hari lainpun nggak ada bedanya. Ya toh? Tapi terserah anda ding. Jika anda ngotot harus di hari lebaran untuk sembah sujud ke orang tua, biar terasa afdol, dan untuk itulah anda ngeyel harus mudik di saat itu, ya... that's your choice. Saya nggak punya hak untuk ngatur anda.
Untuk sementara sampe ini dulu deh. Banyak pengalaman selama libur lebaran yang bisa diceritakan. Namun nantilah setelah tiba di Bogor lagi. Lagian, sekarang jadi mahal, harus ngeluarin duit, untuk sekedar ngonsep tulisan. Apalagi junior saya yang sudah SMP kelas 1 ini selalu ikut, ya sudah pasti tidak cukup hanya bermodal lima ribu perak. So, c u then. Titi dj, titi sandora, titi kadarsih, dan titi-titi yang laen.
Sekali lagi,
Sumunaring suryo enjang petak cinandra resik ing wardoyo, mangayu bagyo dinten riyadi 1 Syawal 1428 H, ngaturaken agunging samodro pangaksami lahir tuwin batos.
Friday, October 19, 2007
Monday, October 01, 2007
Jalan-jalan ke Sorga

Mau nggak diajak menikmati indah dan nyamannya sorga? I bet you, pasti bilang mau. Siapa sih yang tidak tertarik ke tempat yang dijanjikan oleh Sang Penguasa alam semesta ini bagi orang-orang muslih? Tapi, ada tapinya nih, syaratnya gampang-gampang susah. Gampang kalo sungguh-sungguh, susah jika setengah hati. Bukan masalah harus memiliki banyak duit. Kalo syaratnya uang, kasihan mereka yang kere. Nggak ada peluang buat mereka untuk menikmati sorga. Juga bukan pinter. Jika kepandaian menjadi syarat, gimana dengan yang bodoh bin tolol?
Syarat bisa jalan-jalan ke sorga gampang kok. Kalo kita mau masuk rumah orang, kan kita harus ijin dulu sama pemiliknya? Ya nggak? Jika tidak, ya berarti maling namanya. Nah andai kita ingin masuk sorga, berarti sama saja, kita harus atas seijin pemiliknya. Trus, gimana cara mendapatkan ijin? Ya ikuti saja segala perintahNya. Jalankan yang disuruh, hindari yang dilarangNya. Dah, itu saja. Bisa? Untuk menjawab bisa, gampang lah. Tapi bukan itu yang penting, justru yang wajib adalah action-nya, pelaksanaannya. Jangan seperti anggota NATO, no action talk only. Omong doang.
Anda mungkin tidak sependapat dengan saya. Bukan hanya sekedar menuruti perintah dong, tapi juga, bagaimana cara melakukannya. Ikhlas nggak, bener nggak dan lain-lain dan lain-lain. Barangkali itu yang ada di kepala anda. Boleh, boleh saja. Nggak ada yang melarang kok untuk berbeda. Justru dari keanekaragaman itu akan muncul harmoni. Anda akan ngeri sendiri kalo tubuh anda hidung semua. Jika diibaratkan bumi ini, akan jadi serem bila semua warna hitam semua. Apa-apa hitam. Yang sudah hitam jadi makin tidak kelihatan.
Lebaran yang mulai berjalan mendekat ini, banyak orang yang bersuka cita menyambutnya. Mereka akan jalan-jalan ke sorga. Sorga dunia. Sorga dalam bentuk rumah tinggal semasa kecil, sorga dalam wujud ngariung dengan keluarga yang lama tidak bersua, sorga yang berupa suasana desa asal yang tenang atau kota kelahiran yang hiruk-pikuk, dan bentuk-bentuk sorga lainnya. Atau barangkali sorga anda berupa soulmate yang lama tidak anda temui? Ibarat menuju sorga dalam arti yang sebenarnya, perjalanan yang dilakukan pun nanti isinya seneng melulu. penyebabnya karena mereka tahu, tujuan yang hendak dicapai merupakan sesuatu yang sekian lama dinanti-nanti untuk ditemui. Ketidaknyamanan yang terjadi selama dalam perjalanan tidak dirasakan. Segalanya serba menyenangkan. Semuanya jadi enak. Penyanyi Gombloh bilang, “Tahi kucing rasa coklat.” Doyan? HOEEKK!
Karena kebahagiaan yang dijanjikan dari jalan-jalan ke sorga dalam wujud mudik ini, orang mau mengorbankan segala yang dimiliki. Bahkan kalo perlu, apa yang bisa digadaikan, rela untuk dibawa ke kantor gadai agar bisa mendapatkan ongkos mudik. Bukan hanya uang yang akan dibawa pulang, tetek-bengek yang lain pun, yang kadang amat sangat merepotkan, mau-maunya dibawa juga. Jika kita lihat di layar tv, apa saja dibawa. Semua bekal yang ingin dibawa diupayakan ada. Pokoknya migrasi tahunan ini harus terwujud. Bila perlu, uang tabungan setahun dikorbankan.
Apakah ini salah? Buat orang lain mungkin ya, tapi bagi yang njalanin, mudik itu sebuah pilihan yang hukumnya bisa wajib. Meskipun dulu pernah ada anjuran dari pejabat pemerintah untuk tidak mudik dengan alasan-alasan yang terdengar logis, nyatanya bangsa kita ini tetap tidak mau ndengerin. Orang mau ketemu pinisepuh dan karuhun kok pake dihalangi dengan bernalar-nalar segala. Hasilnya, ya the show must go on. Apalagi jika dilihat makin gampangnya orang memperoleh kreditan motor sekarang, makin semangatlah mereka. Bahkan ada yang, terserah anda bilang curang atau pinter, ngambil kredit motor hanya untuk mudik. Jadi, hanya bayar uang muka. Setelah balik dari mudik, cicilan tidak dibayar sehingga motornya disita. Dan memang itu yang diharapkan. Lumayan kan, hanya dengan membayar dua ratus tiga ratus ribu sudah bisa mudik dengan keluarga plus make motor sampe sebulan. Jauh lebih murah bila dibandingkan tiket bis yang bisa sampe satu juta untuk empat orang sekali jalan. Kalo saya sendiri mah ogah. Itu cheating namanya.
Buat anda yang ada rencana mudik, barangkali perlu mempersiapkan dan mempertimbangkan segala sesuatu yang diperlukan. Keamanan, keselamatan, kesehatan, bekal, dan hal-hal penting lain yang pasti anda lebih tahu. Jangan sampe berangkatnya kita penuh keceriaan, pulangnya dilimpahi kedukaan. Begitu masuk rumah lagi, anda bingung karena uang sudah habis serta utang menumpuk. Jika itu yang terjadi, mungkin ada baiknya juga kita pertimbangkan lagi keputusan untuk mudik. Lebaran memang saat yang biasa digunakan untuk bersilaturahim. Rasanya nggak afdol kalo bermaaf-maafannya tidak di hari raya. Namun, jika aktifitas sosial itu bisa digantikan di waktu yang lain karena pertimbangan ongkos pulang yang lebih murah misalnya, mungkin pilihan itu lebih baik. Bagaimanapun juga, semua terserah anda. Kalo anda lebih memilih untuk memaksakan diri mudik meskipun anggaran tidak ada dengan pertimbangan cuma setahun sekali, ya monggo. Selamat mudik kalo begitu.
Ngomong-ngomong, jika acara pulang tahunan ini anda persiapkan dengan matang, anda sudah persiapan juga belum untuk jadwal pulang yang lain? Hlo, pulang ke mana lagi? Pulang ke kampung yang sesudah itu anda tidak akan pernah kembali lagi. Tempat yang namanya kampung akhirat. Kita begitu seriusnya mempersiapkan segala sesuatunya untuk mudik setiap lebaran. Namun, kadang-kadang kita nggak sadar kalo kita perlu juga mempersiapkan bekal untuk pulang ke kampung akhirat. Dan pulang yang satu ini sudah pasti akan kita semua jalani, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Kita nggak usah pusing-pusing harus menggadaikan barang untuk memperoleh uang buat ongkos. Uang tidak diperlukan dalam perjalanan yang satu ini. Yang pusing paling orang-orang yang kita tinggalkan. Buat kita yang nanti akan pergi, ada tiga hal yang perlu kita siapkan sebagai bekal nanti. Tiga hal itu adalah amal sodaqoh, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang akan selalu mendoakan kita. Dengan tiga bekal itu, insyaAllah jalan-jalan ke sorganya akan bener-bener kesampaian. Satu pertanyaan buat kita sekarang, yang mana dari ketiga itu yang sudah kita persiapkan?
Bagi yang sedang bersiap-siap untuk mudik, mulailah juga memikirkan persiapan untuk mudik ke kampung yang lain (akhirat). Oleh karena itu, serius lah menuntut ilmu bagi yang masih belajar dan kerja lah dengan tekun bagi yang sudah bekerja bak hidup ini untuk selamanya, dan beribadah lah seolah-olah kita akan mati besuk. Dengan demikian jalan-jalan kita ke sorga nanti, baik sorga berujud kampung halaman maupun kampung akhirat, bisa terasa menyenangkan.
Sebagai bekal untuk jalan-jalan ke sorga yang ada di kampung kelahiran anda, barangkali Stairway to Heaven-nya Led Zeppelin bisa menjadi teman yang menghibur sekaligus mengingatkan bahwa heaven itu ternyata punya jalan untuk mencapainya.
Syarat bisa jalan-jalan ke sorga gampang kok. Kalo kita mau masuk rumah orang, kan kita harus ijin dulu sama pemiliknya? Ya nggak? Jika tidak, ya berarti maling namanya. Nah andai kita ingin masuk sorga, berarti sama saja, kita harus atas seijin pemiliknya. Trus, gimana cara mendapatkan ijin? Ya ikuti saja segala perintahNya. Jalankan yang disuruh, hindari yang dilarangNya. Dah, itu saja. Bisa? Untuk menjawab bisa, gampang lah. Tapi bukan itu yang penting, justru yang wajib adalah action-nya, pelaksanaannya. Jangan seperti anggota NATO, no action talk only. Omong doang.
Anda mungkin tidak sependapat dengan saya. Bukan hanya sekedar menuruti perintah dong, tapi juga, bagaimana cara melakukannya. Ikhlas nggak, bener nggak dan lain-lain dan lain-lain. Barangkali itu yang ada di kepala anda. Boleh, boleh saja. Nggak ada yang melarang kok untuk berbeda. Justru dari keanekaragaman itu akan muncul harmoni. Anda akan ngeri sendiri kalo tubuh anda hidung semua. Jika diibaratkan bumi ini, akan jadi serem bila semua warna hitam semua. Apa-apa hitam. Yang sudah hitam jadi makin tidak kelihatan.
Lebaran yang mulai berjalan mendekat ini, banyak orang yang bersuka cita menyambutnya. Mereka akan jalan-jalan ke sorga. Sorga dunia. Sorga dalam bentuk rumah tinggal semasa kecil, sorga dalam wujud ngariung dengan keluarga yang lama tidak bersua, sorga yang berupa suasana desa asal yang tenang atau kota kelahiran yang hiruk-pikuk, dan bentuk-bentuk sorga lainnya. Atau barangkali sorga anda berupa soulmate yang lama tidak anda temui? Ibarat menuju sorga dalam arti yang sebenarnya, perjalanan yang dilakukan pun nanti isinya seneng melulu. penyebabnya karena mereka tahu, tujuan yang hendak dicapai merupakan sesuatu yang sekian lama dinanti-nanti untuk ditemui. Ketidaknyamanan yang terjadi selama dalam perjalanan tidak dirasakan. Segalanya serba menyenangkan. Semuanya jadi enak. Penyanyi Gombloh bilang, “Tahi kucing rasa coklat.” Doyan? HOEEKK!
Karena kebahagiaan yang dijanjikan dari jalan-jalan ke sorga dalam wujud mudik ini, orang mau mengorbankan segala yang dimiliki. Bahkan kalo perlu, apa yang bisa digadaikan, rela untuk dibawa ke kantor gadai agar bisa mendapatkan ongkos mudik. Bukan hanya uang yang akan dibawa pulang, tetek-bengek yang lain pun, yang kadang amat sangat merepotkan, mau-maunya dibawa juga. Jika kita lihat di layar tv, apa saja dibawa. Semua bekal yang ingin dibawa diupayakan ada. Pokoknya migrasi tahunan ini harus terwujud. Bila perlu, uang tabungan setahun dikorbankan.
Apakah ini salah? Buat orang lain mungkin ya, tapi bagi yang njalanin, mudik itu sebuah pilihan yang hukumnya bisa wajib. Meskipun dulu pernah ada anjuran dari pejabat pemerintah untuk tidak mudik dengan alasan-alasan yang terdengar logis, nyatanya bangsa kita ini tetap tidak mau ndengerin. Orang mau ketemu pinisepuh dan karuhun kok pake dihalangi dengan bernalar-nalar segala. Hasilnya, ya the show must go on. Apalagi jika dilihat makin gampangnya orang memperoleh kreditan motor sekarang, makin semangatlah mereka. Bahkan ada yang, terserah anda bilang curang atau pinter, ngambil kredit motor hanya untuk mudik. Jadi, hanya bayar uang muka. Setelah balik dari mudik, cicilan tidak dibayar sehingga motornya disita. Dan memang itu yang diharapkan. Lumayan kan, hanya dengan membayar dua ratus tiga ratus ribu sudah bisa mudik dengan keluarga plus make motor sampe sebulan. Jauh lebih murah bila dibandingkan tiket bis yang bisa sampe satu juta untuk empat orang sekali jalan. Kalo saya sendiri mah ogah. Itu cheating namanya.
Buat anda yang ada rencana mudik, barangkali perlu mempersiapkan dan mempertimbangkan segala sesuatu yang diperlukan. Keamanan, keselamatan, kesehatan, bekal, dan hal-hal penting lain yang pasti anda lebih tahu. Jangan sampe berangkatnya kita penuh keceriaan, pulangnya dilimpahi kedukaan. Begitu masuk rumah lagi, anda bingung karena uang sudah habis serta utang menumpuk. Jika itu yang terjadi, mungkin ada baiknya juga kita pertimbangkan lagi keputusan untuk mudik. Lebaran memang saat yang biasa digunakan untuk bersilaturahim. Rasanya nggak afdol kalo bermaaf-maafannya tidak di hari raya. Namun, jika aktifitas sosial itu bisa digantikan di waktu yang lain karena pertimbangan ongkos pulang yang lebih murah misalnya, mungkin pilihan itu lebih baik. Bagaimanapun juga, semua terserah anda. Kalo anda lebih memilih untuk memaksakan diri mudik meskipun anggaran tidak ada dengan pertimbangan cuma setahun sekali, ya monggo. Selamat mudik kalo begitu.
Ngomong-ngomong, jika acara pulang tahunan ini anda persiapkan dengan matang, anda sudah persiapan juga belum untuk jadwal pulang yang lain? Hlo, pulang ke mana lagi? Pulang ke kampung yang sesudah itu anda tidak akan pernah kembali lagi. Tempat yang namanya kampung akhirat. Kita begitu seriusnya mempersiapkan segala sesuatunya untuk mudik setiap lebaran. Namun, kadang-kadang kita nggak sadar kalo kita perlu juga mempersiapkan bekal untuk pulang ke kampung akhirat. Dan pulang yang satu ini sudah pasti akan kita semua jalani, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Kita nggak usah pusing-pusing harus menggadaikan barang untuk memperoleh uang buat ongkos. Uang tidak diperlukan dalam perjalanan yang satu ini. Yang pusing paling orang-orang yang kita tinggalkan. Buat kita yang nanti akan pergi, ada tiga hal yang perlu kita siapkan sebagai bekal nanti. Tiga hal itu adalah amal sodaqoh, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang akan selalu mendoakan kita. Dengan tiga bekal itu, insyaAllah jalan-jalan ke sorganya akan bener-bener kesampaian. Satu pertanyaan buat kita sekarang, yang mana dari ketiga itu yang sudah kita persiapkan?
Bagi yang sedang bersiap-siap untuk mudik, mulailah juga memikirkan persiapan untuk mudik ke kampung yang lain (akhirat). Oleh karena itu, serius lah menuntut ilmu bagi yang masih belajar dan kerja lah dengan tekun bagi yang sudah bekerja bak hidup ini untuk selamanya, dan beribadah lah seolah-olah kita akan mati besuk. Dengan demikian jalan-jalan kita ke sorga nanti, baik sorga berujud kampung halaman maupun kampung akhirat, bisa terasa menyenangkan.
Sebagai bekal untuk jalan-jalan ke sorga yang ada di kampung kelahiran anda, barangkali Stairway to Heaven-nya Led Zeppelin bisa menjadi teman yang menghibur sekaligus mengingatkan bahwa heaven itu ternyata punya jalan untuk mencapainya.
STAIRWAY TO HEAVEN
Led Zeppelin
There's a lady who's sure all that glitters is gold
And she's buying a stairway to heaven.
When she gets there she knows, if the stores are all closed
With a word she can get what she came for.
Ooh, ooh, and she's buying a stairway to heaven.
There's a sign on the wall but she wants to be sure
'Cause you know sometimes words have two meanings.
In a tree by the brook, there's a songbird who sings,
Sometimes all of our thoughts are misgiven.
Ooh, it makes me wonder,
Ooh, it makes me wonder.
There's a feeling I get when I look to the west,
And my spirit is crying for leaving.
In my thoughts I have seen rings of smoke through the trees,
And the voices of those who standing looking.
Ooh, it makes me wonder,
Ooh, it really makes me wonder.
And it's whispered that soon if we all call the tune
Then the piper will lead us to reason.
And a new day will dawn for those who stand long
And the forests will echo with laughter.
If there's a bustle in your hedgerow, don't be alarmed now,
It's just a spring clean for the May queen.
Yes, there are two paths you can go by, but in the long run
There's still time to change the road you're on.
And it makes me wonder.
Your head is humming and it won't go, in case you don't know,
The piper's calling you to join him,
Dear lady, can you hear the wind blow, and did you know
Your stairway lies on the whispering wind.
And as we wind on down the road
Our shadows taller than our soul.
There walks a lady we all know
Who shines white light and wants to show
How everything still turns to gold.
And if you listen very hard
The tune will come to you at last.
When all are one and one is all
To be a rock and not to roll.
And she's buying a stairway to heaven.
Sunday, September 30, 2007
STMJ
Doyan stmj? Itu tuh minuman yang terbuat dari susu telur madu dan jahe. Kalau suka, itu wajar, karena minuman yang bagus untuk kesehatan tersebut memang manis dan menyegarkan. Rasanya mirip dengan bansus, atau bandrek susu. Apalagi kalau diminum saat suhu udara dingin, terasa hangat di badan.
Akan tetapi, hati-hati dengan stmj yang satu ini. Barang yang satu ini bukan bangsanya minuman, tapi sebuah perilaku yang sering kita jumpai dalam kehidupan. Bisa jadi perilaku stmj ini dijalani oleh orang terdekat kita, bisa teman, tetangga, atau anggota keluarga kita. Atau mungkin malahan kita sendiri yang melakukannya.
Waktunya sholat, pergi ke masjid. Saat Ramadhan, puasa. Punya rejeki lebih, berinfaq. Pergi haji ketika mampu, serta menjalankan bentuk ibadah lainnya.
Namun demikian, selain menjalankan itu semua, juga melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan atau yang dilarang agama. Temennya pada mabuk minuman, ikut mabuk. Ada dangdutan, ikut nyawer. Di tv lagi rame bola, nggak ketinggalan ikut taruhan. Lihat pohon buah tetangga lagi berbuah, ikut menikmati tanpa ijin. Dan masih banyak perbuatan sejenis yang dilakoni.
Janganlah kita memiliki perilaku tersebut. Dua-duanya dijalani. Dua dunia yang bertolak belakang. Sayang kan kalau niat suci kita untuk beribadah jadi ternoda. Amal soleh yang kita jalani tidak ada nilainya. Ibarat orang mengambil air dengan saringan santan. Upaya sia-sia yang tidak menghasilkan apa-apa.
Bila anda berperilaku seperti hal tersebut, itulah yang dinamakan dengan stmj. Bukan susu telur madu jahe, tapi ‘sholat tetep, maksiat jalan terus’. Mau? Jangan dong.
Akan tetapi, hati-hati dengan stmj yang satu ini. Barang yang satu ini bukan bangsanya minuman, tapi sebuah perilaku yang sering kita jumpai dalam kehidupan. Bisa jadi perilaku stmj ini dijalani oleh orang terdekat kita, bisa teman, tetangga, atau anggota keluarga kita. Atau mungkin malahan kita sendiri yang melakukannya.
Waktunya sholat, pergi ke masjid. Saat Ramadhan, puasa. Punya rejeki lebih, berinfaq. Pergi haji ketika mampu, serta menjalankan bentuk ibadah lainnya.
Namun demikian, selain menjalankan itu semua, juga melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan atau yang dilarang agama. Temennya pada mabuk minuman, ikut mabuk. Ada dangdutan, ikut nyawer. Di tv lagi rame bola, nggak ketinggalan ikut taruhan. Lihat pohon buah tetangga lagi berbuah, ikut menikmati tanpa ijin. Dan masih banyak perbuatan sejenis yang dilakoni.
Janganlah kita memiliki perilaku tersebut. Dua-duanya dijalani. Dua dunia yang bertolak belakang. Sayang kan kalau niat suci kita untuk beribadah jadi ternoda. Amal soleh yang kita jalani tidak ada nilainya. Ibarat orang mengambil air dengan saringan santan. Upaya sia-sia yang tidak menghasilkan apa-apa.
Bila anda berperilaku seperti hal tersebut, itulah yang dinamakan dengan stmj. Bukan susu telur madu jahe, tapi ‘sholat tetep, maksiat jalan terus’. Mau? Jangan dong.
Wednesday, September 26, 2007
Biar Miskin Asal Sombong
Hebat bener prinsip yang jadi judul di atas. Kalo anda punya prinsip seperti itu juga, ati-ati, there’s something wrong inside (in you). Meskipun aneh, menggelikan, nggak masuk akal, mau-maunya, gebleg (pake ‘g’ bukan ‘k’ krena saking mantebnya), kira-kira sebutan apa lagi ya pas untuk prinsip itu menurut anda?, nyatanya ada juga orang yang berprinsip ajaib seperti itu. Nggak tau kenapa bisa terjadi. Barangkali karena otaknya sudah tidak berfungsi lagi, ato bahasa Arabnya mengalami disorder wal disfunction. Wawahua’lambisowab.Di bulan puasa ini, nggak ada salah dan ruginya ngomongin tentang sombong. Ini bukan ghibah lho. Tapi kalo anda menuduh saya seperti itu, ya... whatever you say lah. Cuman, cuman nih, jangan salahin saya kalo akibatnya anda nggak mau mbaca tulisan ini, terus jadi nggak ngerti (sok amat ya yang nulis ini) apa itu sombong and-so-on-and-so-on. Bahasa sopirnya, resiko ditanggung penumpang. Dalam hatinya, sopir bilang, “Emang enak jadi penumpang”.
Sombong ini merupakan salah satu penyakit hati yang amat merugikan. Banyak efek negatif yang dapat ditimbulkan olehnya. Dari yang sekedar dijauhin orang sampe dipukulin massa. Lha gimana tidak dijauhin kalo setiap tampil selalu menyombongkan segala yang dia miliki. Pun gimana masyarakat nggak sebel sampai ujung-ujungnya menjadi muntab (marah banget) dan akhirnya nggebukin si sombong kalo setiap ada hanya kecongkakan saja yang ditampilkan, baik omongan maupun tindakan. Kalo itu yang terjadi, ya bisa jadi banyak orang akan bersyukur. Nyukurin atas nasibnya. Sokor lu, sokor lu, rasain lu... be-gi-tu-lah bunyinya.
Emang, banyak hal yang dapat memicu munculnya penyakit hati ini. Dari segala yang kita miliki, kalo tidak waspada, bisa saja akan menjadikan kita orang yang sombong. Pengen contoh? Gampang. Banda misalnya. Eh, banda itu bahasa Indonesia bukan sih? Maksud saya dengan banda di sini ni kekayaan. Percaya nggak kalo kaya itu bisa bikin sombong? So pasti lah. Orang kaya monyet aja bisa sombong. Buktinya, ada sinetron yang tokohnya mirip monyet, dan dia bangga main sinetron (ya iya lah, bukan karena kaya monyet yang dibanggakan, tapi bangga karena menjadi pemain sinetron. Jaka sembung main palu, nggak nyambung deh lu). Tapi emang bener, percayalah sama saya. Kalo kekayaan yang kita miliki tidak kita gunakan dengan sebenar-benarnya, ya kesombonganlah yang akan muncul. Apalagi kalo anda terlanjur terlahir dari orang yang dari sononya sudah terlanjur kaya dan susah miskin, makin rentan menjadi sombong karena harta yang dimiliki itu. Anda jadi makin susah bisa merasakan susahnya jadi orang susah yang serba susah yang mau ngapa-ngapain susah. Bener-bener susah.
Kepandaian juga bisa menjadi contoh lain yang menjadi penyebab munculnya sifat sombong. Banyak, eh ada, orang pandai yang seperti minyak dengan air kalo berhadapan dengan orang awam. Alergi kalo harus berinteraksi dengan masyarakat yang di mata dia bukan levelnya karena kebodohannya. Akibat kesombongannya, sori-sori aja kalo harus berhubungan dengan orang-orang bodoh itu, gitu katanya. Bagi yang bukan orang pinter, apa nggak menyakitkan kelakuan kayak gitu? Makanya, kalo anda pinter, jadilah seperti padi. Ilmu padi itu ilmunya orang-orang cerdik pandai yang arif bijaksana. Makin berisi, makin menunduklah itu padi. Makin pinter, makin merendahlah diri orang pinter itu. Dia tidak mau menyombongkan dengan pengetahuan yang dimiliki meskipun, misalnya, hanya dia pemilik satu-satunya di dunia ini. Tuh, apa nggak hebat.
Keturunan (ningrat misalnya), anak, jabatan, negara asal, dan masih banyak lagi, silakan didaftar sendiri, adalah contoh-contoh lain yang bisa menjadi bensin bagi api kesombongan yang ada dalam hati ini. Jadi, be careful guys. Gara-gara sombong juga, iblis diusir dari surga. Merasa lebih baik karena diciptakan dari api dibandingkan Adam a.s. yang dari tanah, iblis menjadi sombong dan tidak sudi bersujud di hadapan nabi utusan Allah ini. Karena kesombongannya, iblis membangkang Sang Penciptanya. Dan, terusirlah dia dari surga dan segala kenikmatannya. Alangkah hinanya. Kalo anda Islam, ato pengen tau tentang nasib iblis itu, coba deh buka Al Qur’an surat ash-Shad ayat 75-78. Nggak usahlah terusir dari surga, diusir dari rumah saja bisa terasa seperti masuk neraka. Betul?
Mumpung masih Ramadhan. Mumpung masih masuk bulan diskon, dimana segala ibadah yang dilakukan akan berlipat-lipat pahalanya, segeralah buang jauh-jauh segala sifat sombol baik yang baru berupa kecambah maupun (apalagi) yang sudah berbentuk pohon kesombongan yang sudah berakar kuat dalam hati kita. Saat ini, puasa sudah masuk ke sepertiga yang kedua. Apa artinya? Berarti kita masuk periode magfirah atau pengampunan setelah melewati periode 10 hari pertama yang penuh rahmat. Mohonlah ampun kepada sang Khaliq atas segala unsur sombong yang ada dalam hati. Dengan demikian, hati ini jadi fitri lagi, jadi bersih kembali. Sehingga, 10 hari yang ketiga atau periode pembebasan dari neraka benar-benar bisa kita masuki dengan sukses.
So what? Ya kembalilah ke jalan yang benar. Jadilah orang yang rendah hati. Nggak ada gunanya bersifat dan bersikap sombong. Masih mending sombong kalo ada dan emang pantas untuk disombongkan meskipun nggak baik juga menyombongkan yang baik-baik. Namanya juga sombong, sekalipun yang disombongkan itu sesuatu yang baik, ya tetep nggak baik juga.
Boleh-boleh saja berbangga dengan segala yang kita miliki. Asal tidak berlebihan. Sebab, tipis sekali batas antara bangga dengan sombong. Kalo tidak hati-hati, porsi bangga itu bisa melewati garis dan masuk ke dalam sebuah kesombongan. Semakin tinggi ilmu dan iman seseorang, semakin halus dan tersembunyi rasa sombongnya. Lain halnya dengan orang awam yang sombong, lebih mudah terdeteksi karena kesombongan mereka biasa diucapkan secara lahir.
Begitu juga, bolehlah kita membanggakan harta yang kita miliki. Kita bangga punya kekayaan sehingga lebih banyak kesempatan (dalam harta) untuk beramal dibandingkan orang-orang kere yang ada di sekeliling kita. Cukup. Cukup sampai sebatas itu saja. Tapi kalo anda miskin seperti saya ini, ya harap tau dirilah. Jangan sampai kita dengar perkataan orang mengenai diri kita, “Hla ini? Sudah miskin, sombong lagi. T-e-r-l-a-l-u”. Dan, jangan pernah, berkeinginan pun jangan, punya prinsip ‘biar miskin asal sombong’. Kalo anda nekad, berarti anda, T-E-R-L-A-L-U.
Thursday, September 20, 2007
Pondok kok Halimun
Buat yang nunggu-nunggu cerita ini, sori, baru sekarang diterbitkan. Maklum, pengen memberi kesan terlihat sibuk (sok banget ya). Meskipun terjadinya Agustus kemarin, saya rasa masih hot juga. Apalagi untuk mereka yang suka jalan-jalan dan terutama yang terlibat langsung dalam kisah ini. Bener nggak? Kalo nggak awas, saya tunggu di perempatan!
Kenapa obyek tersebut dinamakan Pondok Halimun (PH)? Pondok kok halimun. Apa pondoknya terbuat dari halimun? Apa halimunnya suka mondok? Ato pondoknya mirip halimun? Mungkin ada pondok yang selalu diselimuti halimun? Barangkali pondoknya punya halaman penuh limun? Idih belibet banget ya? (nggak juga!) Tapi yang pasti, emang itulah yang membuat saya penasaran dan pengen nyambangin tempat itu. Dan akhirnya keinginan itu bisa terlaksana pada 4-5 Agustus 2007 kemarin.
Perjalanannya sendiri dimulai 3 Agustus. Sesuai rencana, yang pengen ikut kumpul di BEC. Kali ini sengaja berangkat sore karena mau nginep dulu di rumah Junot (Sukabumi). Jam 16.35 wib akhirnya kami berangkat. Peserta yang ikut saya, Danang, Junot, Viena serta dua temennya Ardi dan Ray.Setelah turun dari angkot 03 di depan Hero, kami menunggu Idan dulu sebelum cabut naik angkutan setan (meskipun kami bukan gerombolan setan). Angkutan setan ato sering disingkat angset ini adalah kendaraan umum jenis Colt L300 yang pengemudinya suka ngebut gila-gilaan mirip setan, seolah semua pedal yang ada di bawah kakinya pedal gas semua.
Emang setan suka ngebut ya? Tak tau lah. Begitu Idan yang tidak edan ini nyampe dari Jakarta, kami langsung naik angset ke Sukabumi. Saat itu jam 17.45 wib.Saya lebih banyak bengong dan ndengerin obrolan mereka di angkot sambil menikmati perjalanan malam. Keuntungan jalan malam selain tidak semacet kalo siang, juga tidak panas. Jam 19.50 angset saya melewati pasar Cisaat. Ternyata dari pertigaan pasar itu, dekat kantor polisi, arah menuju Situgunung. Oo... di situ toh tempatnya Situgunung. Kata penumpang lain yang ada di angset, dari pertigaan itu ke Situgunung angkotnya hanya Rp. 2000. Cukup murah. Saya sering (nggak banget) dengar nama Situgunung tapi nggak tau di mana tempatnya. Sekarang sudah tahu, dan, tunggu kedatanganku Situgunung. I’ll visit you someday cieee...
Nggak lama kemudian angset masuk kota Sukabumi. Cisaat emang pinggiran kotanya penggemar fanatik saya Desy Ratnasari ini (bo’ong ding). Kami turun di depan gedung perkantoran bertingkat (tauk lupa namanya). Dari situ masih harus berjalan lagi melewati mesjid agung kemudian alun-alun untuk menuju depan superkampret Yogya yang dekat apotik Kimia Farma. Saya lihat jam tangan saya menunjukkan pukul 20.10 wib sebelum naik angkot Selabintana ke rumah Junot. Rumah dia memang arah ke obyek wisata itu. Dan kebun teh Selabintana merupakan salah satu jalur masuk menuju Pondok Halimun. Hah? Pondok Halimun? (*megangin kedua pipi, mulut ngangap, mata melotot, muka mupeng*). Hanya memerlukan waktu limabelas menit dan ongkos Rp. 2000 untuk sampe ke rumah Junot. Jam 20.25 wib sudah nyampe ke rumah dia. Jarak Sukabumi sampai ke Selabintana sendiri 7 km, dari Selabintana ke PH 2 km.Kedatangan kami disambut keluarga besar Junot, teh manis panas, makanan kecil dan makan besar. Baik bener ya. Nggak ada cerita mandi, paling cuci muka doang. Sapa yang mo mandi malam-malam di daerah yang dingin. Situ mau? Rumah Junot ada di desa Selawi Tiga ato kadang disebut Kerawang. Saya nggak mau tau kenapa kok namanya bisa dua gitu (lagian sapa yang nanyain?). Setelah ngembat segala yang disuguhkan, sholat, dan ngobrol bentar, saya berangkat tidur. Badan harus fit untuk persiapan perjalanan panjang esok hari.
Paginya, kejutan menarik telah menanti. Sepiring kue tradisional dihidangkan untuk menemani hangatnya teh nasgithel. Tau nggak artinya nasgithel? Saya nggak nanya situ yang orang Eropa eh Jawa! Nasgithel itu artinya panas, manis dan kental. Sebenarnya sih teh yang disuguhkan tidak kental-kental amat. Sengaja, agar lebih mendramatisir, saya sebut aja nasgithel. Balik ke kue tradisional. Waktu saya tanya apa nama kue tersebut, ternyata eksotik bener (sebenarnya apa sih arti eksotik?) terdengar di telinga saya, d-o-d-o-n-g-k-a-l. Tampilannya juga seksi banget, putih mulus dengan semburat coklat tua (yang ternyata gula jawa) dimana-mana, ditambah dengan taburan kelapa parut yang sudah dikupas kulitnya. Hmmm... delisies maaannn. Rasanya sendiri mirip-mirip kue putu. Tapi, karena tampilannya yang menarik, kue ini poinnya setingkat lebih tinggi dan rasanya, mak nyuus.Perut kami semua full setelah ngembat habis dodongkal (yang di kepala saya kok kemudian muncul kata dongok dan dongkol) dan dilanjutkan dengan main course sarapan yang sebenar-benarnya. Nasi dan segala lauk pauknya. Acara dilanjutkan dengan merapikan segala perbekalan, bersiap-siap berangkat ke PH.
4 Agustus 2007, jam 8.35 wib, berangkat dari rumah Junot menuju Selabintana dengan angkot. Cuma perlu lima menit untuk sampe tujuan. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak bebatuan masuk ke kebun teh. Sebagaimana kebun teh yang lain, hamparan pepohonan teh menghijau yang ada di setiap ujung pandangan sungguh menyejukkan. Teriknya sinar matahari pagi tidak begitu terasa karenanya. Meskipun jalannya berkelok dan bercabang-cabang, saya nggak khawatir tersesat. Ada orang lokal yang menjadi guide saya. Ya si Junot itu. Untung ada dia. Kalo nggak, bisa jadi saya dan temen-temen yang lain akan muter-muter sampe celeng di kebun teh yang maha luas itu. Makasih Junot. Meskipun kayaknya kamu jarang mandi, tapi kamu baik hati.
Berkat pengalaman sang guide juga, perjalanan menyusuri kebun dapat diselesaikan dengan sukses. Kami sempat beberapa kali istirahat setelah jalan beberapa saat. Menikmati hijaunya pemandangan, menghirup segarnya udara pegunungan, dan mengambil gambar adalah kegiatan yang kami lakukan saat istirahat. Kapan lagi bisa memanjakan mata dengan warna hijau menyegarkan, menjejali paru-paru sepuas-puasnya dengan membuka hidung selebar-lebarnya saat menghirup oksigen yang jauh dari polusi knalpot, dan jadi selebriti dadakan meniru pose artis idola saat difoto. Di tengah kebun teh yang habis dipangkas, dan duduk di atas pohon teh yang rantingnya tajam-tajam sehingga membuat kami meringis menahan sakit. Puas dah.
Pukul 10.30 wib, berarti setelah kira-kira selama 1 jam 50 menit menyusuri kebun teh, akhirnya kami sampai di bibir hutan. Sebelum masuk ke dalamnya, kami sempatkan istirahat sambil merapikan bawaan. Perjalanan masuk hutan lebih menyenangkan lagi. Beda saat jalan di tengah kebun teh tadi, kali ini kepala kami dipayungi rimbunnya pepohonan yang menjulang. Adem rasanya. Apalagi jalannya berupa batu yang disusun rata dan rapi. Namun demikian, saya lebih senang kalo jalannya berupa tanah liat, pake becek dan bekas dikorek-korek babi hutan juga boleh.
Duapuluh lima menit kemudian sampailah di pertigaan yang ada pos penjagaan. Dari pertigaan itu kalo ke kiri menuju camping ground, yang belok kanan ke curug Cibeureum. Seperti biasa, mumpung ketemu tempat buat nge-break (istirahat), beban yang nempel terus di punggung kayak pacet segera saya turunkan. Punggung yang mulai bengkok segera saya luruskan lagi. Lumayan juga bawa-bawa carrier yang beratnya ada 15 kiloan. Setelah acara lapor dan bayar tiket masuk, kesempatan ini saya gunakan mengorek informasi dari petugas jaga. Rupanya, penyedia yang juga pengurus bumi perkemahan di PH lebih dari satu. Mereka yang ngapling-ngapling gunungnya rakyat Indonesia adalah:1. Taman Nasional Gn. Gede-Pangrango sendiri,
2. Cipelang yang milik Perum Perhutani,
3. Kabayan yang dikelola penduduk setempat,
4. Goal Para, juga dikelola orang lokal,
5. Elang Jawa, lokal juga,
6. Bumi Perkemahan Diparda (kalo nggak salah Dinas Pariwisata Daerah deh).
Sekarang tinggal pilih mau yang mana. Cuma jangan heran kalo bingung nentuin bates-batesnya. Kami sendiri sempat diusir. Katanya tempat yang tadinya mau kami pake buat ngecamp masuk wilayah mereka. Untungnya tenda belum sempat kami bongkar dan dirikan.
Ongkos yang harus dibayar di pos jaga ada biaya berkemah Rp. 3500 /malam/orang, Rp. 3000 untuk ke curug Cibeureum, dan Rp. 4500 untuk paket combo (camping semalem dan ke curug). Karena kami ingin camping dan lihat curug juga, maka paket combo itulah yang kami bayar. Setelah uang dibayarkan, baru saya mikir kenapa mesti milih combo ya. Emang ketahuan apa kalo misalnya hanya bayar untuk tiket curug saja tanpa bayar yang untuk berkemah? Untungnya bisikan setan itu tidak saya layani, sebab ternyata paginya setan eh petugasnya lewat dekat tempat kami berkemah.
Di pos itu kami bertemu juga dengan rombongan lain dari Jakarta. Nggak tau Jakarta mana. Dan kami foto bareng-bareng di depan pos buat kenangan. Lumayan, nambah kenalan. Sapa tahu nanti pas perlu nyari utangan, sudah ada calon yang bisa dijadiin korban. Setelah jepret sana jepret sini, cari pose yang pas, acara kemudian dilanjutkan dengan jalan ke curug Cibeureum. Agar tidak terlalu berat, semua barang kecuali kamera dan tas pinggang isi uang yang tidak seberapa dititipkan di pos. Berangkat ke curug tepat jam 10.55 wib.
Jalanan ke curug sama seperti tadi saat menuju ke pos, bebatuan disusun rapi, berkelok, dan naik turun. Cukuplah buat ngeluarin keringat. Masih mending beban berat sudah ditinggal di pos sehingga langkah kaki ini agak cepat tapi santai. Jam 11.25 wib curug sudah di depan mata. Curug itu terlihat menjulang. Ketinggiannya mencapai 15 meter. Tempat di sekitar jatuhnya air diselimuti uap air yang terbentuk dari air curug yang terhembus angin. Akibatnya, udara jadi terasa dingin. Pengunjung yang datang pada mandi, termasuk rombongan mahasiswa IPDN, seolah-olah tidak merasakan dinginnya air. Rupanya, kecuali saya dan Viena, yang lain juga tergoda untuk masuk ke air mencoba kesaktian dengan menyerahkan kepala dan punggungnya kejatuhan air terjun. Saya sendiri lebih memilih menikmati cilok (aci dicolok) isi daging ayam dan ikan, makanan mirip baso, yang hangat dan baunya sangat merangsang. Ada penjualnya di dekat situ yang sabar tapi pasti menunggu calon pembeli. Biarin aja yang lain berdingin-dingin dengan main air, saya berhangat-hangat dengan menyantap cilok yang baru diangkat dari panci.
Pulang dari curug, nggak lupa kami berfoto-fotoan sepanjang jalan. Harap maklum saja, sebagian (ato semua?) dari kami termasuk golongan narsis. Sebagai orang yang peduli lingkungan, kami juga coba memunguti sampah-sampah yang dibuang sembarangan dan dikumpulkan di tong sampah dekat pos penjagaan. Saat mengumpulkan sampah itu, saya nemu buah yang sudah kering sebesar buah rambutan dan bentuknya juga mirip. Bedanya adalah rambutnya keras dan tajam banget. Karena penasaran, saya bawa buah duri landak itu. Saat sampe di pos saya tanyakan ke petugas dan namanya ternyata buah saninten. Konon buah itu yang dikonsumsi sebagai pengganti beras oleh orang-orang Indonesia yang lari ke dalam hutan saat penjajahan Jepang. Katanya sih isinya mirip sagu. Sayangnya buah saninten yang saya bawa sudah kering dan tidak ada isinya.
Sampai di pos lagi jam 13.00 wib. Barang-barang yang tadinya dititipkan, kami ambil kembali. Selesai beres-beres dan setelah istirahat sebentar, juga tidak lupa mengucapkan terima kasih, kami jalan lagi menuju camping ground. Sekarang, jalur yang ke arah kiri yang diambil. Melalui pemilahan dan pemilihan tempat, dua puluh menit kemudian kami putuskan mendirikan tenda di pinggir sungai dekat camping ground III. Sebenarnya yang terjadi kenapa akhirnya kami memilih tempat itu adalah karena di tempat sebelumnya kami mendirikan tenda ketemu dengan teman lama. Pacet. Meskipun cuma dua ekor yang kelihatan, tapi itu sudah cukup untuk memutuskan pindah tempat. Saya nggak rela dan nggak ikhlas harus donor darah di tengah hutan. Bukan masalah takut terhadap pacet, tapi geli ato ada ungkapan yang pas dalam bahasa Sunda, geuleuh, itu lho. Udah kulitnya basah mengkilat, berlendir, bisa memanjang-memendek, ngisep darah lagi.Pembagian tugas dimulai. Sebagian nyari kayu bakar. Satu-satunya cewek, Viena, nyiapin makan. Sebagian yang lain, termasuk saya, masang tenda. Menjelang petang, semua sudah siap. Kayu bakar untuk api unggun nanti malam sudah tersedia. Mi instan pengganjal perut sudah siap. Dua tenda juga sudah berdiri semua. Tinggal apa lagi? Kami main kartu untuk membunuh waktu. Malam yang senyap kami habiskan dengan bersenang-senang. Badan yang jadi bau sangit karena ngangkangin api unggun nggak kami pedulikan. Kunang-kunang juga nggak peduli tampaknya. Mereka berterbangan di sekeliling tenda. Jika langit di atas kami dihiasi dengan taburan bintang, pekatnya malam di sekeliling tenda juga penuh dengan kerlap-kerlip bintang berujud kunang-kunang. Alunan musik dari gemericik air sungai di samping tenda menjadi latar indahnya malam bertabur bintang dan kunang-kunang.
5 Agustus 2007 pagi menjelang. Jam baru menunjukkan pukul 4.30 wib. Udara masih dingin. Saya keluar tenda dan berkeliling di sekitarnya untuk mengumpulkan kayu bakar. Bara sisa api unggun semalam masih ada. Untuk menjadikannya api, saya perlu kayu bakar lagi. Rupanya hangatnya api menarik orang-orang yang masih tidur pada bangun dan mendekat mengelilingi api unggun. Dengan mata yang sipit kurang tidur dan muka kucel, kami mengadakan upacara menghangatkan badan.
Sarapan pagi sudah tersaji. Biasa, menu wajib saat camping, mi instan. Kalo sekedar ngganjal perut, cukuplah dengan sepiring mi, sekerat roti, dan secangkir teh nasgithel. Hari ini kami mau pulang. Sudah puas semaleman ngeringkuk dalam sleeping bag yang hangat dan meskipun tanpa mimpi indah. Tenda dan segala macemnya diberesin. Semuanya masuk ke dalam tempatnya masing-masing. Backpack dan carrier sudah gendut lagi terisi barang-barang yang harus dibawa pulang. Kami, kayaknya sudah menjadi ritual, foto-fotoan dulu sebelum meninggalkan lokasi.
Jam 10.20 wib kami berangkat pulang. Kami tidak balik lagi ke jalan yang kemarin dilewati. Sekarang ke arah pintu gerbang PH. Dua puluh lima menit kemudian kami sudah sampai di pintu gerbang. Dari situ mesti jalan lagi sekitar dua/tiga menit untuk sampai ke lapangan parkir. Banyak anak-anak smp bergerombol menunggu mobil jemputan. Rupanya semalem mereka mengadakan persami (perkemahan Sabtu malam Minggu) dan sekarang waktunya pulang. Banyak angkot warna merah tapi mereka sudah dipesan oleh anak-anak smp itu. Daripada nunggu yang nggak pasti, kami putuskan untuk jalan. Kembali kami jalan di tengah kebun teh, namun sekarang jalannya sudah diaspal. Jalur itu emang untuk kendaraan yang mau ke PH. Kami istirahat di dekat pos jaga yang menyetop kendaraan yang mau masuk PH, setelah jalan selama satu jam.
Nggak lama kemudian ada mobil bak terbuka yang menurunkan orang-orang kampung yang akan main sepak bola. Entah dimana lapangannya. Junot melobi sopirnya dan, dia mau nganterin kami sampai ke pertigaan jalan yang dilewati angkot Selabintana-Sukabumi, yang dikenal dengan pertigaan Warnasari, Nyang Kokot (mungkin nama orang di dekat pertigaan itu), atau belokan Warnasari. Kami saweran seribuan untuk diberikan pak sopir sebagai bentuk terima kasih karena telah bersedia kami tumpangi (mobilnya maksudnya). Dari situ kemudian nyambung angkot jurusan Sukabumi. Junot turun dekat rumahnya dan kami bablas ke Sukabumi kota yang selanjutnya disambung dengan angset menuju Bogor. Tapi tunggu bentar, sebelum pulang ke Bogor, kami melampiaskan dendam dulu di restoran Padang dekat alun-alun dan sholat lohor di masjid agung.
Jam 13.00 wib kami naik angset, jam 15.10 wib tiba dengan selamat di terminal Baranangsiang. Bogoooorrrrrrrrrr.... wie hom.
Subscribe to:
Posts (Atom)