Thursday, July 27, 2006

Boyongan

Hari ini saya boyongan. Tahu boyongan? Kalau ada ayam membawa pindah anak-anaknya ke tempat lain, itu namanya boyongan. Kucing betina yang ngumpetin anak-anaknya di tempat tersembunyi agar tidak dimakan yang jantan, boyongan namanya. Bila ada keluarga ngangkutin barang-barangnya ke rumah yang lain, itu namanya boyongan. Anak kost yang mbawa tetek-bengeknya ke kamar temennya lalu tinggal disitu seterusnya, itu juga disebut boyongan. Hari ini saya mindahin buku dan lain-lainya ke meja di ruangan lain. Ngumpul dengan pak Dian dan pak Arifin. Three musketeers deh jadinya. Tiga jagoan gitu loh. Bener, soalnya jago semua, nggak ada babonnya. Babon itu artinya betina, digunakan untuk ayam, tapi kadang juga suka dipakai untuk manusia perempuan. Di Jawa sana, ayam jantan itu disebut jago, betinanya dipanggil babon.

Pak Dian ini belum lama telah lulus ujian skripsi. Tinggal nunggu wisudanya. Teman-temannya di kantor juga nunggu makan-makannya. Saya yakin pak Dian pasti akan tambah senang, setelah gembira karena telah lulus S1 nya, bila melihat teman-temannya pada sumringah karena kekenyangan makanan lezat. Bukan menuntut sih, tapi wajib. Itupun kalau yang bersangkutan merasa wajib juga. Bila enggak, ya berarti sunah. Kalau boleh kasih saran, bila pesan makanan saya punya rekomendasi untuk itu. Kabarnya di Ciomas Permai dekat danau ada ahli masak. Orang-orang menyebutnya mamah Izas. Siapa saja pasti yakin dengan keahliannya. Apalagi lulusan tata boga. Dan kalau cuman sekedar bikin buntil – apa? buntil? – keciiillllll……..

Selain boyongan, ada hal lain yang terjadi. Tangga yang menuju ruang 1 dan 2 makan korban lagi. Entah yang ke berapa. Yang ketimpa sial sekarang Fatimah. Mahasiswa angkatan 9. Gimana kejadiannya, tau-tau terdengar suara bergemuruh orang jatuh dari tangga. Berisik suaranya karena tangganya terbuat dari kayu. Orang-orang pada berlarian dan menemukan Fatimah sudah terkapar di kaki tangga dengan mengaduh-aduh sambil memegangi kepala. Rame-rame Fatimah digotong ke ruangan untuk ditidurkan. Kayaknya kakinya keseleo. Bisa jadi kepalanya juga benjol, cuman nggak keliatan karena pakai jilbab. Tangganya harus diapain ya. Masak cuman dua lantai mesti pakai lift.

Tuesday, July 25, 2006

Surat Cinta

Tujuan sebenarnya saya memberi tugas para mahasiswa membuat surat adalah untuk membuktikan sebuah hipotesa. Bahwa kepribadian akan bisa terlihat dari surat yang dibuat.

Trimester ini saya memang mengajar mata kuliah BK alias Bimbingan Karir. Materi yang diberikan diantaranya tentang jenis kepribadian. Istilah Hippocrates yang dikutip Florence Littauer dalam bukunya Personality Plus membagi kepribadian menjadi empat yang dia sebut dengan sanguinis, koleris, melankolis, dan phlegmatis. Masing-masing kepribadian mempunyai ciri. Seorang sanguinis suka bicara. Koleris tegas orangnya. Melankolis puitis. Phlegmatis orangnya tenang, tidak banyak bicara. Itu adalah salah satu dari banyak kekhasan yang dimiliki setiap kepribadian.

Dan…… hipotesa saya terbukti. Dari surat-surat yang masuk, yang paling banyak isinya adalah dari seorang sanguinis. Ada lima lembar kertas bergaris yang ukurannya hampir sebesar A4. Bahasa yang digunakan juga seperti kalau lagi ngomong, mengalir. Dari koleris, berisi kalimat-kalimat yang lugas, to the point. Kalaupun ada basa-basinya, terkesan kaku, garing. Melankolis menulis dengan kalimat yang hati-hati. Takut kalau yang membaca tersinggung. Sedangkan phlegmatis, satu lembar kertas kecilpun nggak penuh. Hanya separuh lebih. Isinya pun perihal ucapan terima kasih dan permintaan maaf. Sudah itu saja. Sebagaimana orangnya, tulisannya sedikit, tidak banyak omong. Memang sih, tidak semua seperti itu. Tetapi sebagian besar surat yang saya terima memperlihatkan kepribadian penulisnya.

Selain pembuktian hipotesa, ternyata, dari isi surat, banyak masukan yang saya terima. Ada juga yang malah curhat. Menyampaikan berbagai masalah. Beberapa minta supaya saya menjawab atau menanggapi. Jumlah surat yang masuk ada 47. Setiap yang mengirimkan surat sudah pasti akan merasa senang dan puas apabila dapat dijawab satu-satu. Tetapi, mengingat jumlahnya yang lumayan itu, saya lebih cocok kalau menjawabnya lewat blog ini. Mungkin tidak akan memuaskan. Saya minta maaf atas ketidakpuasan yang terjadi, tapi saya akan berusaha sebaik-baiknya. Saya juga mohon maaf karena tidak membalasnya lewat surat.

Balasan untuk surat-surat yang saya terima dapat dibaca di bawah ini. Mudah-mudahan saja bisa menjadi jawaban dari segala pertanyaan yang ada.

Buat teman-teman yang kebetulan juga menjadi mahasiswa saya, hidup memang sulit. Bagi mereka yang menganggapnya sulit. Akan menjadi mudah bila kita melihatnya sebagai anugerah. Meskipun faktanya susah, tapi kalau kita jalani dengan senang hati, menjadi tidak terasa kesusahan itu. Ingat apa yang dilakukan seorang winner. Dari setiap masalah, akan terlihat jawabannya. Selalu ada peluang dari setiap resiko yang ditemui. Jadilah seorang pemenang dalam kehidupan ini. Apapun kondisinya.

Setiap orang sudah pasti punya masalah. Anda akan bermasalah bila tidak punya masalah dalam hidup ini. Sebatang besi tidak akan pernah jadi samurai yang tajam apabila tidak dibakar dan ditempa dengan godam. Kalau perum pegadaian punya motto menyelesaikan masalah tanpa masalah, begitu juga seharusnya anda. Hadapi dan selesaikan problem yang ditemui. Karena akan terus membuntuti apabila tidak dituntaskan. Penyelesaian sanguinis bisa jadi beda dengan cara yang dilakukan oleh phlegmatis. Apapun kepribadian anda, yakinlah bahwa anda punya cara jitu sesuai kepribadian yang dimiliki.

Bila anda merasa ada sebagian orang yang pilih kasih, lihatlah sebagai sebuah peluang untuk lebih meningkatkan diri. Memang wajar kalau orang tertarik dengan mereka yang punya kelebihan. Mungkin kepintaran, kecantikan/ketampanan, ketrampilan, atau keunggulan yang lain. Selebriti banyak yang diidolakan. Namun demikian, untuk bisa menikmati hidup, kita toh tidak harus menjadi seorang selebriti. Kalau anda tahu pilih kasih membuat orang lain sakit hati, maka ada pelajaran yang bisa anda ambil. Sudah pasti anda tidak akan berbuat seperti itu karena tahu akan menyakiti orang lain. Justru mestinya anda berterima kasih kapada orang tersebut karena telah menjadi contoh yang tidak perlu anda ikuti.

Apapun kata teman-teman anda tentang persahabatan anda dengan orang yang kebetulan beda jenis kelamin, sikapilah dengan bijaksana. Memang beresiko memiliki sahabat yang beda kelaminnya. Jangankan beda, sama juga kadang dicurigai yang hombreng lah…. atau lesbi lah. Ih… amit-amit. Kalau teman-teman anda menganggap anda jadian dengan sahabat anda, kan yang tahu dengan pasti anda sendiri. Orang lain hanya berasumsi. Segala asumsi akan tetap seperti itu selama belum terbukti.

Lewat blog ini, saya ucapkan terima kasih karena anda telah mau menganggap saya sebagai teman. Meskipun saya jarang ngobrol dengan sebagian dari anda, percayalah, anda tetap sahabat saya. Pengen tahu ken…napa? (kaya iklan di TV) Karena, khan anda tahu sendiri, saya seorang phlegmatis. Kalau ketemu dengan orang phlegmatis juga, suka bingung mau ngomong apa untuk memulai percakapan. Sekali lagi yakinlah, hati saya tetap bicara kok, meskipun mulut tidak berucap. Dan berjanjilah untuk terus bersilaturahmi dengan saya, teman-teman anda sekarang, maupun yang akan anda temui nanti. Karena silaturahmi itu sehat, menambah panjang usia dan rejeki.

Saya cukupkan saja sampai disini dulu. Jadilah anda sebagaimana anda sendiri. Siapapun anda - sanguinis, koleris, melankolis, maupun phlegmatis – jadilah seorang winner. Sanguinis yang winner, koleris yang winner, melankolis yang winner, atau phlegmatis yang winner. Gunakan dan tingkatkan seluruh kekuatan dan kelebihan/keunggulan yang dimiliki. Kurangi dan bila perlu, hilangkan semua kelemahan.

Bravo angkatan 9.

Wednesday, July 19, 2006

Jalan-jalan Lagi

Dua hari saya menikmati jalan-jalan. Menelusuri tempat-tempat di wilayah Bogor yang baru buat saya. Kali ini jalan-jalannya karena tugas dari kantor. Saya harus melakukan survei terhadap rumah para calon mahasiswa baru BEC. Karena program yang dimiliki BEC untuk kaum dhuafa, mereka yang kuliah di BEC sama sekali tidak dipungut biaya, maka perlu benar-benar diseleksi. Benar-benar dilihat apakah calon mahasiswa itu memang dari keluarga tidak mampu. Untuk itulah survei dilakukan. Melihat secara langsung kondisi keluarga dan rumah calon mahasiswa.

Hari pertama survei, kemarin, 18 Juli 2006, saya meluncur ke wilayah Jasinga. Pertama kalinya saya ke tempat ini, dan kesampaian juga keinginan saya untuk sampai di Jasinga. Ada empat calon mahasiswa di wilayah Jasinga. Semua tempat yang saya kunjungi membuat saya terkesan. Karena medannya, ada wilayah yang harus saya jangkau menggunakan ojeg. Dan ini yang paling berkesan buat saya. Nama tempat tersebut adalah kampung Sipak II, desa Sipak, kecamatan Jasinga. Lokasinya ada di tepian sungai Cidurian. Untuk menuju kampung tersebut, ojeg saya harus menyeberangi jembatan panjang yang melintasi sungai tersebut. Tampaknya, bila dilihat dari konstruksinya, bangunan tersebut dibangun sudah cukup lama. Seperti jembatan peninggalan Belanda. Pondasi-pondasinya yang terbuat dari batu kali menyangga lempengan baja sebagai jalannya. Terlihat cukup kokoh membentang di atas sungai Cidurian yang lebar tetapi tidak begitu banyak airnya. Barangkali karena musim kemarau. Saat saya lewat ada beberapa penduduk setempat yang sedang mandi dan mencuci di tengah sungai. Baik laki-laki maupun perempuan. Saya bisa bayangkan alangkah dahsyatnya sungai tersebut apabila banjir. Tetapi kata keluarga calon mahasiswa yang saya kunjungi, sungai itu tidak pernah meluap sampai ke perkampungan di sekitarnya saat banjir. Mudah-mudahan saja tidak akan pernah terjadi.

Saat pulang dari kampung Sipak, saya lihat banyak kitiran dari bambu di atas pepohonan. Ada berbagai macam ukuran, besar dan kecil. Saat tanya ke tukang ojeg yang saya naiki apa nama setempat dari baling-baling bambu tersebut, dijawabnya kolecer. Dan penduduk membuat kolecer hanya sekedar untuk bunyi-bunyian saja. Dari benda tersebut memang terdengar bunyi saat tertiup angin meskipun tidak terlalu keras. Sebuah permainan yang selaras dengan alam.

Dari Jasinga, saya menuju ke kampung Wates, desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung. Tempatnya searah dengan jalan menuju ke pertambangan emas Pongkor. Setelah turun dari angkot Leuwiliang-Nanggung, disambung dengan ojeg untuk menuju desa tersebut. Sebenarnya ada angkutan umum yang menuju lokasi tersebut tetapi tidak banyak. Ngeri dan penat ketika naik ojeg. Ngeri karena jalannya yang berkelok-kelok dan menanjak, meskipun jalannya sudah di-hotmix (diaspal halus). Penat karena perjalanannya lama. Pantat rasanya panas duduk di atas sadel ojeg. Namun demikian saya terhibur dengan pemandangan yang khas Indonesia di sepanjang jalan menuju lokasi.

Tujuan terakhir adalah desa Benteng di kecamatan Ciampea. Dan seperti biasa bila mencari alamat, saya kesasar lumayan jauh. Harusnya saya turun dari angkot tapi malah terus mencari-cari. Karena yakin bahwa saya tahu tempatnya, makanya saya tidak tanya ke sopir angkot. Seingat saya, ada tulisan Astana di gapura menuju kampung Astana, tapi ternyata tidak. Akhirnya, harus jalan kaki ke arah saya datang tadi di bawah terik matahari siang. Bayangin saja, jalan kaki jam 2 siang. Kepala rasanya empot-empotan. Tapi, buat saya, asyik juga.

Hari ini, 19 Juli 2006, hari kedua saya jalan-jalan untuk survei. Target pertama adalah kampung Cimanggu, desa Gunung Malang, kecamatan Tenjolaya, kabupaten Bogor. Sama seperti ke kampung Wates, jalannya nanjak. Kali ini saya nggak naik ojeg, tapi naik angkutan umum. Namun demikian tetap ngeri juga, meski tidak disertai penat. Karena duduk berimpitan dengan penumpang lain di sebelah supir, walaupun tidak penat tetapi akibatnya kaki saya kesemutan. Saat turun, kaki kiri rasanya kebas, nggak terasa nginjak tanah. Hampir saja mau jatuh. Di bawah ini saya sertakan pemandangan di desa Gunung Malang. Foto-foto ini saya ambil dari atas angkot yang sedang jalan.



Turun dari Gunung Malang langsung menuju wilayah Cibeureum. Ada tiga calon mahasiswa di tempat tersebut. Sempat saya keluar masuk pasar Dramaga untuk mencari alamat yang dituju. Sesuai petunjuk yang diberikan, saya harus turun di pasar untuk mencapai rumah para calon mahasiswa itu.

Buat saya, menyenangkan sekali kesasar-sasar saat melakukan survei. Aneh? Barangkali benar menurut anda. Bagi saya, kesasar bisa menjadi pengalaman yang menarik. Saya jadi tahu tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah saya datangi. Termasuk ketika saya melakukan survei tahun lalu di Carang Pulang. Sebuah nama yang menimbulkan pertanyaan dalam benak saya. Kenapa tempat tersebut dinamakan seperti itu mungkin karena penghuninya jarang pulang. Itu sih dugaan saya saja. Kebetulan gambar-gambar yang dulu pernah saya ambil ketika muter-muter di Carang Pulang masih ada. Meskipun kesasar, dan akhirnya ketemu juga alamat yang saya cari, saya menikmati pemandangannya. Sekali lagi, silahkan menikmati keindahan alam khas Carang Pulang (kabupaten Bogor).

Sunday, July 16, 2006

Bulan Ulang Tahun

Namanya Afrizal Labib Adinur. Biasa dipanggil Izal (dibaca Isal). Lahir 16 Juli 1995. Hari ini ulang tahunnya ke-11. Untuk merayakan hari kelahirannya, dia minta makan di Hoka Hoka Bento.

Adiknya, Reyhan Satria Adinur. Beda lagi mintanya saat ulang tahun. Reyhan ulang tahunnya 11 Juli kemarin. Dia lahir tahun 2000. Karena tahun kelahirannya, saya suka menyebut dia ‘manusia millennium’ saat cerita dengan orang lain. Untuk ulang tahunnya, dia lebih suka dibelikan kue ulang tahun.

Meskipun berasal dari pabrik yang sama, lahir di bulan yang sama, karakter keduanya jauh sekali bedanya. Kakaknya pendiam, tidak gampang bergaul. Padahal kecilnya mudah berteman dengan siapa saja. Dengan tukang bakso yang baru ketemu sekali saja sudah langsung dipeluk. Sedangkan adiknya, anaknya bawel. Bahkan kadang-kadang suka saya usir keluar kamar karena capek ndengerin ocehannya. Dia gampang bergaul dengan siapa saja. Kalau ketemu dengan orang lain, dewasa maupun anak-anak, dia suka mendekat dan pegang-pegang. Tujuannya tidak lain adalah untuk kenalan. Saat besar nanti, segede kakaknya sekarang, mudah-mudahan saja tidak berubah seperti dia. Tetap berkarakter seperti saat ini.

Wednesday, July 12, 2006

Obrolan Pos Ronda

Ada penumpang bis yang bibirnya sumbing akan turun. Halte tempat dia turun jaraknya sekitar satu kilometer sebelum pabrik semir sepatu merek Kiwi. Kepada kondektur yang berdiri agak jauh dari tempatnya, dia berteriak, “kiwi, kiwi, kiwi”. Mendengar teriakan itu, si kondektur bales menjawab, “kiwi masih depanan sana mas”. Penumpang tersebut mengulangi lagi, “kiwi mas, kiwi!!”, sambil agak melotot matanya. Karena merasa tidak dimengerti, kondektur bis berteriak mulai marah. “Kiwi belum nyampe! Masih sekilo lagi!” Si penumpang tersinggung karena kondektur tidak mengerti-mengerti juga apa yang dia maksud. Sambil menyatukan mulut atasnya yang sumbing menggunakan tangan, penumpang itu berteriak sekencang-kencangnya. “KIRI, GOBLOK!!”

Masih geli juga bila ingat cerita tersebut, yang saya dengar saat ronda malam minggu kemarin. Bukan punya maksud apa-apa saya menuliskan joke tersebut disini. Bila anda, maaf, punya bibir sumbing, saya mohon maaf. Cerita seperti itu hanya sekedar lelucon di pos ronda. Tetapi bisa saja pengalaman yang nggak enak itu terjadi. Kadang-kadang kita harus berbesar hati mendengarkan orang ngomongin kekurangan kita. Percayalah, orang yang sudah bisa mentertawakan dirinya sendiri, berarti termasuk dalam kelompok orang yang arif bijaksana.

Namanya juga lagi ronda, maka obrolan bisa sampe kemana-mana. Juga, karena bapak-bapak yang lagi ronda sudah punya anak istri semua, maka sampai juga ngomongin masalah seks.

Ada tiga jenis orang yang punya perilaku seks yang berbeda-beda. Pertama, orang yang tidak suka seks. Kedua, orang yang suka seks. Ketiga, ini adalah jenis yang - saya nggak tahu apakah anda termasuk kelompok yang ini - luar biasa. Mereka adalah orang-orang yang punya prinsip, bermental baja, dan berstamina kuda. Karena, orang jenis ketiga ini punya semboyan, suka tidak suka pokoknya ngeseks.

Ketiga kelompok pelaku seks di atas sama dengan jenis orang yang punya anggapan tentang seks yang dikaitkan dengan malam Jum’at. Orang pertama menganggap malam Jum’at adalah sunnah. Artinya disunnahkan untuk melakukan hubungan seks dengan istrinya. Jenis kedua, beranggapan bahwa malam Jum’at adalah sunnah, malam yang lain wajib. Orang jenis kedua ini doyan juga ya. Sedangkan jenis ketiga berprinsip, malam Jum’at sunnah, malam lainnya wajib, siang harinya hobi. Walah!