Thursday, June 29, 2006

Training & Workshop

Selesai sudah workshop yang diadakan oleh Unpak bekerja sama dengan Yayasan Cinta Baca selama tiga hari, 26 s/d 28 Juni 2006. Acara dilaksanakan di Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan Bogor dengan penyaji dari Amerika, Shelley St. George dan Shirley A. Lawson. Acaranya sendiri diberi judul A Teachers’ Training and Workshop on TESOL (Teaching of English to Speakers of Other Languages).

Saya dikirim untuk ikut pelatihan tersebut atas biaya Triguna, karena saya pengajar part time di perguruan tinggi tersebut. Tetapi saya juga berangkat berbekal Surat Perjalanan Dinas Luar dari BEC, tempat saya ngantor dari Senin s/d Jum’at, bersama-sama dengan bu Mirsya dan bu Linda. Jadi saya membawa nama dua institusi.

Di hari ketiga workshop, saya mengajukan diri menjadi volunteer untuk membaca short paragraph yang saya buat yang merupakan PR sehari sebelumnya. Saya rasa tidak perlu bercerita banyak tentang PR itu. Cukup saya tulis lagi disini dan silahkan baca sendiri.


Fruit Lover

I was not abnormal. But, most people didn’t believe every time I told what I had done some years ago. Surely, I was not a vegetarian at that time. But, they always protested that a meat-eater shouldn’t do that. I insisted what I did was reasonable if they knew the cause. But, they remained disagreeable. Whatever people said or thought, I did that because of revenge. I hated these sticky white tiny animals ate my fruits. I revenged them on sucking and consuming my juicy guava. Don’t ever think that I am greedy or nasty. I can do the same to you. I can be a man-eater as well. Just kidding.

June 28th, 2006

Saturday, June 24, 2006

Makan Enak

Semua orang doyan makan. Kecuali pengidap anorexia. Siapapun senang makan enak, apalagi gratis. Tidak terkecuali yang membuat tulisan ini. Juga yang sedang membaca blog ini?

Saya menikmati sekali ketika bu Mirsya, teman sekantor membuat kue dan disuguhkan untuk kami semua. Karena hari itu dia ulang tahun, sengaja dia membuat kue itu. Saya lupa nama kuenya, meskipun sudah dikasih tahu saat saya tanyakan. Dan saya nggak peduli bila tidak mengenal namanya. Yang pasti, buat saya, rasanya betul-betul enak. Makanan itu terbuat dari mi instan yang dicampur dengan sosis sapi dan bakso. Saus tomat yang dimasak dengan bawang putih dan bawang bombai digunakan sebagai teman untuk memakannya. Kalau melihat tampilan dan rasanya, terutama saus pelengkapnya, makanan itu seperti Chinese food. Karena menikmati kelezatannya dan kekenyangan, saya bawa pulang dua potong sisa kue yang masih ada di piring dan nampaknya teman-teman yang lain sudah tidak mau lagi.

Kalau soal makanan enak, panggil saja saya. Bukan, bukan untuk membuatnya, tapi untuk bersama-sama menikmatinya.

Selamat Jalan Bu Yulius

Manusia hidup di dunia hanya sekedar mampir. Ada yang menyebutnya sekedar mampir untuk minum sebelum melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju tempat keabadian, yaitu alam akhirat. Namun, meskipun tahu seperti itu, masih kaget juga ketika teman, tetangga, atau saudara dekat kita meninggal. Lebih-lebih bila kita merasa usianya masih terlalu muda.

Saya mengalami hal seperti itu, saat istri tetangga belakang rumah meninggal empat hari yang lalu, Rabu 21 Juni 2006. Walaupun dia memang sudah lama sakit-sakitan dan beberapa kali (saya tahunya dua kali) dirawat di rumah sakit paru Cisarua, tetapi ketika malam-malam mendapat berita bahwa dia meninggal, tersentak juga saya. Begitu cepatnya Allah memanggilnya. Saya sadar bahwa dengan penyakit paru-parunya yang kronis, dengan tubuhnya yang akhirnya hanya tinggal tulang terbalut kulit, tidak aneh bila kematian bisa menjemputnya kapan saja. Bahkan dia sendiri merasakan hal tersebut. Sampai-sampai dia bilang bahwa tubuhnya ini hanya tinggal nyawa saja untuk menggambarkan keadaan tubuhnya yang begitu kurus.

Yang membuat saya begitu tersentuh adalah saat datang ke rumah duka. Melihat suaminya duduk bersandar di dinding dekat pintu sambil bengong dengan tatapan kosong di matanya. Air mata mengalir di pipinya tanpa terdengar suara tangisan. Tampak terlihat sedih dan begitu kehilangan. Barangkali dia bingung, bagaimana mengasuh keempat anaknya nanti tanpa istri yang mendampingi. Anaknya yang paling kecil sepantaran dengan Reyhan, anak saya yang kedua. Sedangkan anak pertamanya baru duduk di pesantren yang setara dengan SMP. Di sekelilingnya duduk para tetangganya. Pak Dhani, pak Sabar, pak Iwan. Mereka hanya bisa menghibur dan menenangkan. Bahkan kadang-kadang hanya diam tanpa kata.

Almarhumah ini bagaikan datang ke rumahnya hanya untuk mengantar kematian. Sebelumnya, semenjak pulang dari rumah sakit dia tinggal di rumah orang tuanya di daerah Gunung Bundar. Saat anaknya yang paling besar libur sekolah dan pulang, dia juga ingin pulang ke rumahnya sendiri di Darmaga Pratama. Nyatanya hanya sehari dia bisa menikmati tinggal di rumah sendiri. Hari kedua, Allah telah memanggil dia untuk tinggal di rumahNya. Dan rasanya begitu cepat sang Khalik mencabut nyawanya. Ketika malaikat pencabut nyawa mendatanginya jam 10 malam, dua jam sebelumnya dia masih mengajari anaknya mengaji. Pak Yulius, suaminya, bilang sambil menunjuk lantai dimana sebelumnya istrinya pernah duduk, “Padahal tadi, jam delapan, dia masih mengajari anak saya mengaji. Bilang bahwa nanti biar pintar mengaji.”


Para tetangga, termasuk saya, hanya bisa berdoa untuk keluarganya, terutama suaminya, semoga tetap tabah menghadapi cobaan hidup ini. Selamat jalan bu Yulius.

Friday, June 16, 2006

Roti Gambang

Tau roti gambang? Saya punya kenangan sendiri dengan makanan tersebut. Setiap kali ketemu dengan roti yang bentuknya kotak panjang coklat diatasnya ditaburi dengan wijen, pikiran saya kembali di tahun 1992. Empat belas tahun lalu saat saya indekost di Kalipasir, Cikini, Jakarta. Di tempat itulah pertama kalinya saya berkenalan kue yang lezat itu. Lezat menurut selera saya.

Bagi saya roti gambang itu bentuknya menarik. Juga warna dan rasanya. Saya bukan ahli roti atau pembuat roti, tapi saya bisa merasakan sepertinya salah satu bahan yang dipakai untuk membuatnya adalah kayu manis. Terasa sekali aroma dan rasanya. Dan alasan lain yang membuat saya tertarik adalah, karena saya anak kost waktu itu, penampilannya yang padat mengenyangkan. Bagi anak kost, mengenyangkan adalah standar pertama dalam mengambil keputusan. Anda tahu sendiri, khususnya kalau anda pernah indekost, betapa rakusnya anak kost-kostan. Apalagi kalau anak kost itu berasal dari keluarga kelas menengah kebawah seperti saya, yang perlu berhitung setiap kali mau membeli sesuatu. Termasuk membeli makanan. Bahkan makanan yang dibeli itu memang kebutuhan yang tidak bisa dinomorduakan. Bagaimana tidak, kalau tidak dibeli, resikonya akan kelaparan dan, sudah pasti, tidak akan bisa tidur, apalagi belajar. Namun tetap saja harus hitung-hitungan.

Katanya, saya bilang seperti ini karena belum yakin kebenarannya, bahwa roti gambang itu khasnya orang Betawi. Bisa jadi hal itu benar. Sebab saya pertama kali ketemu juga di Jakarta, asalnya orang-orang Betawi. Untuk kegunaannya sendiri saya nggak tahu, apakah hanya sekedar santapan biasa atau digunakan dalam acara-acara tertentu. Sebagaimana roti buaya yang juga asli dari Betawi yang digunakan dalam acara lamaran atau perkawinan.

Rupanya roti gambang sudah tersebar bukan hanya di Jakarta. Saya sering melihat di beberapa tempat di Bogor yang menjualnya, baik toko roti maupun tukang roti dengan gerobaknya yang dijajakan keliling. Kalau di Bogor ada, pasti di tempat lain sekitar Jakarta seperti Tangerang atau Bekasi juga ada. Dan saya akan senang sekali kalau roti kenangan itu dapat dibeli dimana-mana, juga di kota tempat saya mudik, Demak. Eh, tapi, di Demak ada nggak ya? Kok saya nggak kepikiran untuk mencarinya saat ada di kota wali tersebut.

Emosi Lelaki


Kalau anda perempuan dan ingin membuat laki-laki mau mengeluarkan emosinya, barangkali saran ini bisa dicoba. Mungkin tidak berlaku untuk semua pria. Tapi, yah, nggak ada ruginya kalau mau dipraktekkan.

  1. Bicaralah bersebelahan, bukan berhadap-hadapan. Berbicara sambil berhadapan membuat laki-laki merasa dikonfrontasi.
  2. Lakukan kegiatan fisik bersama-sama. Saat berjalan atau bersepeda bisa menurunkan sikap defensif laki-laki.
  3. Perhatikan kapan emosi laki-laki berubah. 95 persen laki-laki akan berkaca-kaca saat menyaksikan film sedih, terutama yang berkisah tentang olah raga. Bagi laki-laki, olah raga merupakan ikatan dasar antara anak laki-laki dan bapaknya. Sebuah bentuk hubungan yang paling primitif dan penting dalam kehidupannya. Jangan menginterupsi saat menonton film, atau menganalisa masa kecilnya.
  4. Jangan memaksa dia untuk menceritakan hari buruknya. Tetapi, biarkan dia tahu bahwa anda peduli dengan suasana hatinya. Dan juga, beri kesempatan bila dia ingin bercerita.
  5. Bagi istri, berbicara mungkin wujud foreplay yang disukai, tapi seorang suami melihat sex sebagai bentuk sebuah komunikasi. Laki-laki lebih banyak mengekspresikan emosinya secara fisik, termasuk sex yang bagi dia merupakan wujud rasa sayang.
  6. Beritahukan bentuk dukungan emosi yang anda butuhkan. Berdasarkan riset seorang psikolog dari the University of Toledo, Lisa Neff, para suami dapat sesensitif dan sesuportif istrinya tetapi sering waktunya yang tidak pas. Para istri perlu menyampaikan apa yang mereka inginkan dan kapan.
  7. Katakan betapa berartinya dia. Laki-laki akan terdiam saat anda mengatakan betapa beruntungnya ada dia di kehidupan anda dan merasa menyesal bila tidak cukup sering memberitahukan hal tersebut.