Saturday, April 12, 2008

Hidup Sekali

Jika anda yang banyak duit dan waktu sedang berbaik hati ingin mentraktir saya, tidak usah bingung. Saya akan bantu anda dengan memberikan daftar yang bisa dipilih untuk melaksanakan niat mulia anda itu.

Saya ini banyak kesukaannya, dan memang orang hidup itu harus begitu. Saya sarankan anda juga sebaiknya seperti itu. Sebelum saya bicara panjang lebar, berikut ini apa-apa yang bisa anda lakukan untuk menyenangkan saya. Saya ini orangnya tidak mboten-mboten. Saya akan sangat happy bila dapat:


  • main catur, scrabble, gaple, bilyard,
  • minum float ice rootbeer di American Warteg (AW),
  • makan soto lamongan, soto kudus, mi ayam,
  • makan buah, apa saja kecuali buah kemang, bauk!,
  • nonton film terutama film barat, yang action, drama, thriller juga boleh, asal jangan horor, tidak begitu suka, apalagi horornya Indonesia, tidak minterin,
  • membaca buku, apa saja, terutama yang menginspirasi dan memotivasi,
  • ndengerin musik, semua musik.
Itu semua bisa anda wujudkan untuk saya dengan uang yang anda miliki. Ya, saya tahu, saya terlalu ge-er dan terlalu ngarep. Memang itu yang ada di benak anda kan? Lanjut. Bila anda tidak mau mengeluarkan uang, anda cukup mengajak saya ngobrol, bertukar pendapat. Biar bisa masuk, keluarkanlah sedikit uang untuk beli sepiring singkong goreng dan dua cangkir kopi. Kan kita duaan? Kalaupun tidak ada yang masuk di kepala atau hati, setidaknya singkong dan kopi yang masuk (ke perut). Dengan bincang-bincang yang kita lakukan siapa tahu kita bisa saling memperoleh sesuatu yang bermakna dan bermanfaat. Yang perlu kita sediakan paling waktu. Murah kan? Sebenarnya nggak juga. Kadang-kadang waktu yang oleh orang sibuk sering diperlakukan time is money bisa menjadi time values more than just money, bisa lebih mahal dari sekedar atau sebanyak apapun uang yang dimiliki. Tidak percaya? Coba saja anda beli waktu satu menit yang adalah satu-satunya waktu yang dimiliki sepasang kekasih yang akan berpisah selamanya. Berusahalah membeli satu-satunya waktu yang dimiliki seorang anak sebelum ditinggal mati orangtua yang dicintainya. Uang tidak ada nilainya ketika dibandingkan dengan kasih sayang. Uang tidak ada harganya saat ditukar dengan kehidupan. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. What can money buy?

Jika anda lihat daftar kesukaan saya tadi, please, jangan menganggap saya ini penganut hedonisme. Tolong anda pisahkan antara hedonisme dengan menikmati hidup. Hedonisme memang mempunyai pengertian yang nyerempet-nyerempet dengan menikmati kehidupan. Benang merahnya adalah adanya unsur kesenangan. Hedonisme merupakan paham yang dianut orang-orang yang mencari kesenangan semata. Jika kita tidak waspada dalam menikmati kehidupan ini, tidak tertutup kemungkinan akan terjerumus ke dalam kehidupan hedonis. Jadi pada dasarnya kita harus paham dulu dan bisa membatasi diri.

Hidup ini indah, jadi sudah selayaknya kita nikmati. Kita akan bisa menikmati apabila kita menyukai. Untuk menyukai, yang kita lakukan harus menyenangkan. Nonsense bila ada yang mengatakan bisa menikmati sesuatu yang dia tidak senangi. Apapun. Jika begitu, kenapa kita tidak isi saja dengan hal-hal yang menyenangkan tanpa melupakan dan meninggalkan kewajiban lainnya. Intinya, kita seimbangkan kehidupan ini. Adakalanya kita istighfar dan tawakkal ketika datang waktu ta’zhim di depan Allah. Seolah-olah kita ini akan mati esok hari. Saat waktunya kerja, lakukanlah sebagai ibadah. Bekerjalah dengan giat. Bukan hanya work hard tapi kalau bisa work smart, perumpamaan kita akan hidup selama-lamanya. Sebagai keseimbangan, lengkapi dengan kesenangan sehingga hidup ini akan menjadi colorful dan cheerful. Carilah sebuah atau lebih hobi. Jalankan hobi itu. Maka dijamin anda akan senang. Tidak pernah ada orang menjalankan hobinya dalam keadaan sedih, karena hobi adalah kesenangan.

Hidup ini hanya sekali. Hidup di dunia ini maksud saya. Mengapa kita tidak hirup saja kenikmatan di dalamnya. Sekali lagi, bukan saya mengajarkan anda menjadi hedonis dan juga bukan menyuruh anda bersenang-senang saja tanpa mempedulikan orang lain. Sekali tempo kita perlu bersikap altruistik, sikap yang mendahulukan kepentingan orang lain. Janganlah egois. Jadilah manusia yang berjiwa sosial tinggi. Milikilah kepekaan sosial. Sudilah berkorban untuk orang lain. Suatu saat jadilah sebatang lilin, menerangi sekeliling dengan bersedia mengorbankan diri sendiri. Tidak ada ruginya kok berkorban. Apalah gunanya hidup anda jika tidak mau berbagi. Anda hanya membutuhkan sedikit harta untuk bisa menghilangkan haus di tenggorokan dan lapar di perut anda. Berapapun harta yang anda punyai tidak akan dapat membasahi tenggorokan dan mengisi perut nafsu anda, karena nafsu tidak ada batasnya. Makanya para koruptor itu sebenarnya secara materi bukannya orang miskin, justru mereka jutawan dan milyarder. Hanya saja, karena perut nafsunya yang ingin dia bikin kenyang maka sampai kapan pun tidak akan pernah penuh. Satu-satunya yang dapat menghentikan keinginan dia hanyalah kematian. Penjara pun hanya bisa menghentikan untuk sementara waktu saja. Masalahnya berani tidak para hakim itu menjatuhkan hukuman mati kepada koruptor. Jangan-jangan malah dia sendiri yang harus mati karena ternyata dia juga korupsi.

Saya sering ngomporin orang untuk menjalankan hobinya. Bila tidak punya, saya suruh mereka untuk mencari kegiatan yang bisa dijadikan hobi. Apakah anda pikir yang saya lakukan itu salah? Tolong tunjukkan di mana salah saya bila anda menganggapnya begitu. Saya berbuat demikian bukan karena ada keuntungan finansial yang akan saya peroleh. Saya hanya mengajak agar mereka menikmati hidupnya, agar kehidupan mereka seimbang, agar tidak stres dan hatinya gembira karena gembira itu menyehatkan.

Memang sudah seharusnya kita melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Sebagai mahluk Allah yang tidak ada nilainya di hadapan Beliau, ya sudah seharusnya kita tsabat (komit) dalam menjalankan perintah dan menjauhi yang dilarang-Nya. Menjadi mahluk sosial berarti kita ini tidak boleh bersikap egois. Jangan sampai kita merasa serba lebih dari yang lain dan berlebihan dalam membanggakan diri sendiri yang ujung-ujungnya menjadi takabur. Sebagai mahluk sosial kita perlu bermu’amalah. Dengan berinteraksi sesama mahluk Allah kegembiraan juga akan muncul dari sana.

Hidup memang sekali, tetapi jangan sekali-sekalinya hidup malah bikin susah yang hidup.

Friday, April 11, 2008

Setan

Sadar atau tidak kita ini sebenarnya hidup dikelilingi oleh setan. Anda pasti sudah pernah dengar kata setan (atau malah merasa pernah melihat?).

Bagi orang beragama, setan bukan sesuatu yang asing lagi karena setan sering disebut dalam kitab suci. Dalam tulisan ini, saya akan mengajak anda melihat setan yang ada di masyarakat. Setan yang ingin saya perlihatkan itu bisa berujud secara fisik maupun yang hanya berupa isu atau mitos belaka. Yang jelas penamaan yang menggunakan kata setan itu karena ada unsur kesamaan makna. Jika kita lihat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, 2002, halaman 1055, setan dapat memiliki arti: 1) roh jahat (yang selalu menggoda manusia supaya berlaku jahat); 2) kata untuk menyatakan kemarahan; sumpah serapah; 3) orang yang sangat buruk perangainya (suka mengadu domba dsb).

Nama yang diembel-embeli kata setan ini ada yang hanya populer di masyarakat daerah tertentu saja ada juga yang sudah dikenal luas di Indonesia. Ada pula yang tidak begitu dikenal oleh masyarakat umum tetapi sangat mashur di kalangan komunitas tertentu. Kita lihat misalnya sebuah tanjakan yang menuju puncak Gunung Gede dari arah Kebun Raya Cibodas oleh para pendaki dikenal dengan sebutan tanjakan setan. Bisa jadi nama itu diberikan karena medannya yang luar biasa sulit. Meskipun tanjakan itu kemudian dipasangi bentangan kawat baja untuk membantu pendaki naik atau turun, tetap saja tidak mudah melewatinya. Apalagi bila pendaki membawa carrier yang berat. Jika seperti itu biasanya yang dilakukan adalah menaikkan atau menurunkan barangnya dahulu baru disusul orangnya. Itu pun bukan sebuah pekerjaan yang mudah.

Kampung setan atau pasar setan juga cukup populer di kalangan pendaki. Untuk gunung-gunung tertentu yang dianggap angker, istilah tersebut sering muncul. Gunung yang dianggap angker biasanya karena sering menelan korban atau ada mitos menyeramkan yang melingkupi gunung itu. Di Jawa Barat Gunung Salak dianggap angker sehingga tidak banyak pendaki yang mendatanginya. Dibandingkan Gunung Gede atau Gunung Pangrango yang setiap tahunnya dikunjungi ribuan pendaki dari Jabodetabek, Gunung Salak yang puncak tertingginya 2.211 Mdpl hanya dalam hitungan ratusan jumlah pendakinya per tahun. Dengan adanya sebuah makam yang dipercaya sebagai makam Mbah Gunung Salak di puncak gunung dan komplek makam Pangeran Santri di lereng yang menuju desa Girijaya, semakin lengkaplah keangkeran Gunung Salak. Ketika para pendaki berjalan di malam hari dan mendengar bunyi-bunyian maka dianggapnya suara itu berasal dari kampung setan atau pasar setan. Padahal bisa saja suara itu sebenarnya datang dari desa yang ada di lereng atau kaki gunung. Dengan adanya keyakinan seperti itu keindahan lereng dan puncaknya Gunung Salak akibatnya tidak banyak yang menikmati. Sungguh patut disayangkan.

Bila anda suka makan bakso, di wilayah Bogor kota atau di daerah Puncak terdapat penjaja bakso yang menamakan barang dagangannya bakso setan. Tambahan kata setan untuk bakso ini pasti karena ukurannya yang tidak wajar. Bentuknya yang bisa 20 sampai 30 kali lipat dari bakso biasa ini bisa tidak habis dimakan oleh satu orang. Untuk orang-orang tertentu bakso setan ini malah menakutkan. Bukan takut karena ada setannya tetapi gamang melihat ukurannya yang super besar.

Masih tentang makanan. Di daerah Peterongan, Semarang, ada pedagang kreatif yang menamai menu masakannya dengan nama yang membuat orang penasaran. Menu masakan itu adalah oseng-oseng setan. Anda bisa menebak mengapa diberi nama seperti itu? Tentu saja bila dilihat dari kacamata pemasaran, agar orang penasaran kemudian tertarik untuk mencobanya. Selain itu, penambahan embel-embel kata setan di belakang oseng-oseng bisa dipastikan karena terkait dengan hal yang tidak lumrah dari masakan itu. Bila dilihat dari bahan bakunya, oseng-oseng setan sebenarnya masakan biasa saja seperti oseng-oseng atau tumis yang kita kenal selama ini. Yang tidak biasa adalah jumlah cabe yang digunakan. Apabila satu porsi masakan oseng-oseng umumnya hanya menggunakan beberapa buah cabe, oseng-oseng setan yang bahan utamanya tetelan sapi diolah dengan satu kilo cabe. Dan tidak tanggung-tanggung, cabe yang dipilih adalah jenis rawit yang terkenal menyengat pedasnya. Bila anda memiliki perut yang sensitif barangkali perlu dipertimbangkan lagi jika akan mencoba oseng-oseng setan.

Di dunia hiburan seperti pasar malam sering ada bagian yang menampilkan hiburan yang seram-seram. Untuk mereka yang tertarik menguji nyali, hiburan ini cocok sekali. Bagian luar bangunan tempat pertunjukan biasanya berwarna gelap dan suram serta disinari lampu yang remang-remang. Di bagian dalam lebih menyeramkan lagi. Cahaya yang ada berasal dari lampu lima watt yang cenderung menggunakan warna hijau, biru, merah, atau jingga. Kemudian ada bentuk-bentuk seperti kerangka manusia yang bisa bergerak-gerak, kain putih melayang-layang, atau mahluk mengerikan yang tidak jelas bentuknya. Agar lebih mencekam ditambah dengan asap buatan yang berasal dari es kering, bau kemenyan, hembusan angin, dan suara lolongan anjing, tangisan, atau tertawa yang mendirikan bulu roma. Hiburan ini oleh pengelolanya diberi nama rumah setan. Sekarang nama rumah setan sudah populer di masyarakat terutama di kota-kota kecil atau kampung. Nama rumah setan kadang disebut juga rumah hantu atau istana hantu.

Selain rumah setan, masih di dalam pasar malam, sering juga disediakan hiburan yang mengundang maut. Karena bentuk bangunannya seperti tong atau drum dan di dalamnya ada pengendara motor yang mengelilingi bagian dalam tong seperti kesetanan maka pertunjukan itu dinamakan tong setan. Untuk bisa menyaksikan pengendara motor yang mempertunjukkan kebolehannya, para penonton ada di bagian atas mengelilingi tong raksasa itu. Di daerah Demak, Jawa Tengah, pertunjukan seperti rumah setan dan tong setan sering ditampilkan pada saat menjelang hari raya kurban atau oleh orang-orang setempat disebut dengan Grebeg Besar.

Kata setan juga sering digunakan untuk mengungkapkan kemarahan dan kejengkelan. Kadang-kadang ada orangtua yang karena begitu jengkelnya kepada anak kemudian mengucapkan umpatan ‘anak setan.’ Sebaliknya kata setan juga bisa menggambarkan keakraban ketika seseorang mengucapkan ‘setan lu’ kepada teman bermainnya. Dengan demikian kata setan dapat menunjukkan kemarahan atau keakraban tergantung kepada konteksnya.

Setan juga dipakai untuk menamai sebuah jenis angkutan umum. Di sekitar terminal bis Baranangsiang, Bogor, terdapat angkutan umum jenis L300 yang sering disebut angkutan setan. Sejak kapan dan dari mana asal-muasal nama itu tidak ada yang tahu. Konon julukan angkutan setan diberikan karena pengemudinya sering ngebut dan ugal-ugalan. Angkutan setan atau sering disingkat angset ini cukup populer bagi masyarakat yang hendak bepergian ke jurusan Sukabumi atau Cianjur. Kedua kota itu memang merupakan tujuan dari angset-angset yang selalu ngetem di seberang terminal Baranangsiang.

Begitu populernya kata setan yang ditambahkan untuk menamai sesuatu, sehingga di Jakarta muncul cerita tentang ojek setan.

Kisah ojek setan diawali ketika seorang ibu yang bekerja di sebuah kantor akan pulang. Rumah ibu itu ada di sebuah kampung yang terletak di belakang komplek pemakaman Tanah Kusir. Gang menuju kampungnya terletak persis di sebelah komplek makam. Saat itu sudah malam. Angkutan umum sudah jarang-jarang. Yang ada adalah para tukang ojek yang mangkal di dekat kantornya. Karena takut kemalaman, wanita itu terpaksa menggunakan ojek meskipun ongkosnya empat kali lipat. Bila naik kendaraan umum dia cukup membayar dua ribu lima ratus, maka dia harus mengeluarkan uang sepuluh ribu untuk ojek itu. Wanita itu berkata dalam hati, “Tidak apa-apalah harus membayar sepuluh ribu, yang penting bisa sampai dengan selamat.” Setelah harga disepakati, tukang ojek mengantarkannya pulang. Sampai di depan gang menuju rumah, wanita itu minta berhenti. Di mulut gang itu hanya terdapat lampu lima watt yang tentu saja menjadikan lingkungan sekitar remang-remang. Si tukang ojek mulai merinding. Dia tahu bahwa gang itu bersebelahan dengan kuburan. Sambil menunggu penumpangnya mengeluarkan uang dari dompetnya, tukang ojek memperhatikan dari atas sampai bawah wanita yang baru saja menjadi penumpangnya. Si wanita kemudian menyerahkan uang lima puluh ribuan karena kebetulan dia tidak memiliki uang pas. Tanpa memperhatikan lagi ongkos yang dia terima, tukang ojek itu langsung menarik gas motornya, ngebut. Melihat uangnya dibawa kabur, wanita itu kemudian teriak, “Ojek setaaaannnn…”

Thursday, April 10, 2008

Libido

Jujur saja, saya mpet (lima anem) melihat tingkah selebriti kampungan yang begitu arogan di tayangan infotainment salah satu media elektronik beberapa waktu yang lalu. Sebagai tindakan preventif agar tidak menyebabkan munculnya bisul campur jerawat yang ujung-ujungnya merugikan diri saya sendiri, saya buatlah tulisan ini.

Sebenarnya tidak ada gunanya bercape-cape menulis hanya untuk seorang penghibur kelas teri yang tidak berkualitas seperti dia. Namun saya melihatnya dari sudut pandang keuntungan saya sendiri yang bila tidak saya keluarkan uneg-uneg ini bisa jadi penyakit yang menggerogoti tuannya sendiri. Selain itu, saya pikir tulisan ini juga bisa menjadi sarana buat anda untuk melepaskan apa yang ada di dalam diri anda seperti yang sedang saya rasakan saat ini. Dengan begitu, bila anda setuju dan cocok dengan apa yang saya tulis di sini, anda tinggal bilang, aaaammiiinnn…. seperti kalau anda sedang jadi makmum dalam sholat berjamaah. Jika perlu, teriak saja sekeras-kerasnya.

Anda mungkin saat ini masih menebak-nebak, siapa yang saya maksudkan dengan selebriti itu. Bila seperti itu anda berarti seperti yang saya pernah istilahkan dalam blog saya beberapa waktu yang lalu, anda ini dalam kondisi narketing (kalau marketing kan pemasaran). Ow… ow… syapa diya? Saya sengaja tidak menyebutkan namanya di sini. Kan katanya tidak boleh menyebutkan merek? Bagi pecinta Harry Potter, dia itu seperti Voldemort yang tidak pantas disebut namanya (bukan Kau-Tahu-Siapa). Saya hanya akan memberi ciri-ciri yang bagaimanapun juga tidak menjamin anda otomatis akan bisa menebak dengan benar. Biar tenang membacanya, anda setuju sajalah dengan cara saya yang main tebak-tebakan ini.

Musik dangdut itu milik siapa saja. Artinya orang gedongan pun boleh saja mengklaim musik itu miliknya. Tidak melulu harus orang kere, bromocorah rendahan yang suka ngibing di lokalisasi, atau pelacur lima ribuan saja yang berhak atas musik dangdut. Bahkan musik yang konon berasal dari negeri sungai Gangga ini sudah diaku menjadi musiknya rakyat Indonesia. Sampai-sampai grup musik parodi dari Bandung perlu mencipta lagu yang diberi judul deklaratif meskipun dalam bahasa Inggris: Dangdut is the music of my country. Tidak mau kalah juga, televisi-televisi kita menciptakan program kontes-kontesan, kompetisi-kompetisian, dan idol-idolan yang berbau dangdut. Jadi tidak salah bila tiba-tiba dalam kampanye pilkada atau pemilu nanti, misalnya, muncul slogan yang kedengaran nasionalis dan bernuansa kerakyatan. Slogan itu misalnya seperti ini, Mari memasyarakatkan dangdut dan mendangdutkan masyarakat, atau Dangdut yes, korupsi no!, dan mungkin saja seperti ini, Dangdut? Ya iya lah, masa ya jreng.

Dalam praktek, dunia dangdut pun dapat menjadikan penyanyinya seperti penyanyi kampungan mujur yang membuat saya mpet ini menjadi tajir. Dan anda juga pasti tahu penyanyi dangdut dari desa di Jawa Timur yang sempat mau dikontrak Pertamina karena goyangannya akan digunakan untuk mengebor minyak di lepas pantai Kalimantan. Sekarang kita lihat, dia jadi milyarder. Dulu ratu ngebor ini juga sempat bikin heboh bangsa agamis ini. Apalagi fotonya pernah terpampang di sampul majalah Time. Namun pernyataannya di media tidak searogan penyanyi yang satu ini. Dan juga, penyanyi Jawa Timur ini juga tidak sedemonstratif dalam memamerkan sekwilda (sekitar wilayah dada) dan bupati (membuka paha tinggi-tinggi). Bisa lihat kan sekarang? Sama-sama penyanyi dangdut, sama-sama penyanyi kampung, tapi di antara yang vulgar itu penyanyi goyang ngebor ini lebih santun. Jadi, the best of the worst lah.

Yang lebih menyakitkan lagi bagi sebagian orang, pernyataan-pernyataannya yang sudah pasti ditonton jutaan mata di Indonesia itu memberi kesan pemerintah ini tidak ada apa-apanya. Dengan adanya barisan orang di belakangnya yang saya yakin para pengacara bayaran karena salah satunya adalah pengacara perempuan yang suka disewa selebriti, seolah-olah dia bisa dengan seenak udelnya mengeluarkan ucapan-ucapan yang suka-suka dia. Saya sakit hati. Teman-teman yang saya kenal juga sakit hati. Orang lainpun yang tidak saya kenal yang kebetulan nonton tayangan itu bisa jadi juga sakit hati. Meskipun sudah pasti dia akan mengucapkan, “Siapa sih lu? Emang gua pikirin?” bila diminta menanggapi barisan sakit hati yang tidak dia kenal ini. Namun bila orang-orang yang merasa didzolimi ini mendoakan dia, alangkah dahsyatnya akibat yang akan dia terima. Anda tahu? Betapa mustajabnya doa orang-orang yang teraniaya.

Media masa seperti televisi memang merupakan sarana efektif bagi seseorang untuk menjadi terkenal. Tetapi jangan salah, media juga menjadi alat ampuh untuk mendiskreditkan. Jika pedangdut yang janda dan bersuara agak serak ini tidak hati-hati, media di Indonesia yang jumlahnya ratusan ini bisa menjadi senjata yang akan memakan dia sendiri. Bila itu yang terjadi, tinggal penyesalan dan linangan air mata yang tidak akan ada gunanya. Sekarang dia bisa membeli orang juga media karena memiliki banyak uang. Suatu saat uangnya tidak akan ada gunanya dan tidak dapat membeli apa-apa. Sekarang dia masih bisa menggoyang-goyangkan bujurna dan membungkuk-bungkukkan badannya agar bajunya yang berleher ‘v’ turun semakin rendah sehingga belahan di dalamnya yang mau tumpah itu dapat dipamerkan, karena dia masih muda dan berisi. Libido, ya libido, yang dia miliki rupanya sedang meletup-letup tak terkendali. Akibatnya, sadar atau tidak, apalagi dia janda, dengan berbagai upaya dia mencoba melampiaskannya dengan begitu brutal sehingga yang terlihat di media adalah hiburan yang penuh eksploitasi seksual. Sampai-sampai teman seprofesinya yang sudah senior menyayangkan pelabelan yang diberikan publik kepada penyanyi dangdut tidak bedanya seperti pelacur gara-gara tingkah laku biduan yang dicekal oleh walikota Tangerang ini. Penyanyi dangdut muda lainnya bahkan menyatakan bahwa dia tidak pernah sekalipun dalam aksi panggungnya melakukan gerakan-gerakan seperti dilakukan oleh penyanyi arogan ini.

Inilah yang dinamakan kebebasan berekspresi dan kebebasan pers yang kebablasan. Seniman-seniman, seperti penyanyi dangdut norak yang saya ceritakan di atas, mengekspresikan rasa seninya tanpa mempedulikan norma dan sopan santun di masyarakat. Sementara itu media lebih memilih menyajikan program acara yang mendatangkan banyak iklan dan keuntungan dibandingkan menyelamatkan generasi muda bangsanya sendiri. Parameter seleksi program acara yang dijalankan hanya berdasarkan segi komersialnya saja. Tidak heran bila yang terjadi sekarang ini, media menjadi corongnya kemaksiatan dan kemungkaran yang pengaruhnya maha destruktif. Yang ada bukannya amar ma’ruf nahi munkar tapi amar munkar nahi ma’ruf.

Wednesday, April 09, 2008

Pejuang Kemanusiaan

Salah satu yang bukan hanya muskil tetapi juga mustahil bagi laki-laki untuk dilakukan adalah melahirkan. Satu-satunya lelaki yang bisa hamil dan melahirkan hanyalah orang yang bernama Junior dalam film dengan judul sama yang diperankan oleh Arnold Swarzchenegger. Dan saya anggap orang tolol jika anda tetap ngotot menganggap lelaki dalam film itu sebagai sebuah fenomena yang menarik.

Bagi kita, yang namanya pejuang bisa menjadi variatif. Untuk generasinya orang-orang tua yang nasionalis plus patriotis, pejuang adalah mereka yang ikut terlibat mempertahankan kedaulatan atau memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Itu berarti manusia-manusia sakti seperti Pangeran Diponegoro, Pattimura, Cut Nyak Dien, atau mungkin anda punya pejuang idola sendiri yang seangkatan dengan pahlawan-pahlawan bangsa tersebut.

Lain orangtua lain anaknya. Orangtua mungkin jadi cengok bin terlongong-longong saat mendengar anak remajanya menyebut tokoh pejuang yang dia kagumi adalah Kaka Slank. Alasannya? Karena dia menyuarakan kebebasan. Atau Iwan Fals, yang dianggap tokoh reformis sejati. Tidak masuk akal. Bagaimana mungkin tokoh yang hanya memegang gitar, tua dan butut lagi, ngamen lagi, bisa dimasukkan kelompok pejuang. Itulah barangkali protes yang disuarakan orang yang beda generasi. Bagaimanapun juga selalu akan muncul gap antara dua generasi yang berbeda. Dan perbedaan yang terjadi sudah pasti akan kontra produktif bila tidak disikapi dengan baik. Anda bisa lihat sendiri contoh gamblang dalam dunia politik. Muncul adanya dua kubu yang saling membela dan melindungi kepentingan masing-masing. Dari isu tentang usia, pendidikan, kepantasan, kompetensi, dan masih banyak lagi yang lain. Bagaimanapun, tidak bisa dipungkiri, sampai kapanpun yang namanya perbedaan pasti ada. Oleh karena itu sudah barang tentu perlu adanya diversity management dalam menangani perbedaan-perbedaan yang ada atau yang muncul.

Pencipta kehidupan ini bukan tanpa maksud membuat perbedaan. Yang namanya dikotomi itu bisa dibilang wajib hukumnya. Anda pasti tidak mau di muka bumi ini hanya ada perempuan atau laki-laki saja. Bumi ini akan gelap-gulita terus dan tidak ada kehidupan seandainya hanya ada malam. Sebaliknya dunia ini akan terbakar habis bila matahari bersinar 24 jam sehari atau siang tidak pernah diselingi malam. Dengan adanya perbedaan, itulah yang disebut dengan harmoni. Dan seharusnya menjadi harmoni. Artinya bila perbedaan itu menjadi bagian yang saling melengkapi, saling mendukung, dan saling menyempurnakan maka terciptalah sebuah harmonisasi. Makanya kenapa alat musik yang cara memainkannya seperti makan jagung itu disebut harmonika, karena besar kecilnya lubang yang berbeda-beda itu akan menghasilkan irama yang indah bila saling melengkapi. Mengapa suami istri yang bahagia disebut keluarga harmonis, karena mereka yang berbeda jenis kelamin, usia, kebiasaan, adat istiadat, suku, bangsa, dan lain-lain bisa merukunkan perbedaan yang mereka miliki itu.

Kembali tentang konsep pejuang. Saya hanya menyarankan kepada anda supaya tidak meledak dulu ketika teman anda mengatakan pejuang idolanya Cepot. Sudah pasti dia punya alasan yang sifatnya subyektif. Tinggal anda klarifikasi saja kenapa dia mendudukkan tokoh punakawannya wayang golek ini menjadi pejuangnya. Itu baru kata pejuang, yang bisa menjadi bermacam-macam pemaknaannya. Bagaimana bila ada embel-embel lagi yang lebih spesifik di belakang kata pejuang? Bisa menjadi tidak berbeda. Tetap akan muncul arti dan gambaran yang melebar... bar... bar... bar...

Saya ajukan satu istilah. Pejuang kemanusiaan. Siapa dia menurut anda? Relawan yang membantu korban bencanakah? Kakek-kakek dari lereng Gunung Merapi yang memiliki pabrik sirupkah (mbah Marijan)? Atau anda setuju jika saya katakan ibu rumah tangga biasa yang buta huruf dan tinggal di tengah belantara Papua sana adalah seorang pejuang kemanusiaan? Anda punya jawaban sendiri-sendiri tentunya.

Bila anda melihat di sekeliling anda, mungkin anda akan temukan seorang perempuan yang sedang hamil atau habis melahirkan, entah itu orang lain atau anggota keluarga anda sendiri. Anda tahu? Itulah pejuang kemanusiaan sejati. Dialah sejati-jatinya pejuang. Dari rahimnya kemudian akan lahir berbagai jenis pejuang. Jadi bisa dikatakan ibu anda itu pabriknya pejuang. Oleh karena itu hormatlah pada emakmu. Hormatilah perempuan, perempuan dilihat posisinya sebagai pejuang kemanusiaan. Bila ada perempuan yang suka memamerkan auratnya, yang bangga dengan goyangan-goyangan sensualnya yang dipamerkan untuk konsumsi publik, anda cukup mendoakannya agar segera terbuka mata hatinya. Mudah-mudahan dia sadar bahwa goyangan mautnya itu hanya berusia sesaat saja. Bila tiba waktunya (bila sampai) menjadi nenek-nenek maka dia pasti akan menangis-nangis minta ampun jika diharuskan melakukan goyang mautnya. Bisa-bisa, maut menjemput.

Barangkali anda yang merasa perempuan ingin tahu, saya yang laki-laki ini, kadang iri dengan anda yang diberi hak ekslusif oleh Allah untuk melahirkan. Terdengar absurd mungkin, tapi bisa jadi saya tidak sendirian bila kadang-kadang iri. Saya hormat sehormat-hormatnya dan salut sesalut-salutnya terhadap anda. Bila diadu siapa yang lebih berani, mungkin anda yang menang. Jika laki-laki disuruh merasakan kesakitan selama sembilan bulan sepuluh hari barangkali akan langsung ngacir. Apalagi diberi kesempatan untuk merasakan puncak kesakitan di ujung waktu yang sembilan bulan sepuluh hari itu alias pada saat melahirkan, seratus persen akan nyerah bulat-bulat. Boro-boro merasakan sakitnya melahirkan, melihat istrinya melahirkan saja langsung pingsan. Bukannya para asisten membantu bidan atau dokter menolong yang sedang melahirkan, eh, lha ini kok malah menolong suami yang sedang pingsan. Apa ya nggak malah ngrepotin?

Bukannya tidak menghargai perjuangan para pejuang kemanusiaan sejati seperti anda ini, tapi saya lebih salut dan angkat topi tinggi-tinggi bagi mereka yang berani dan mau melahirkan secara normal. Mungkin bisa dimaklumi bila anda terpaksa harus melahirkan secara caesar (bener nggak sih tulisannya seperti ini bu dokter?) karena alasan medis atau membahayakan jiwa si ibu atau anak atau kedua-duanya, tetapi jika semata-mata karena alasan kosmetis artinya anda takut serabi jenggot (maaf) anda berubah jadi tidak menarik atau hal-hal lain yang sepele-sepele, saya dengan geram akan mengatakan, ”Makan tuh serabi!” Maafkan saya bila begitu eksplosif. Tidak ada maksud atau dendam apa-apa kok, hanya sebuah ungkapan kecil emosi melihat orang-orang egois yang lebih mementingkan urusan ragawi dan duniawi dibandingkan fungsi terhormat dia sebagai media reproduksi mahluk Allah yang paling mulia.

Buat para pejuang kemanusiaan di manapun anda berada, salam hormat dan takjub saya atas kesabaran, ketabahan, kekuatan, dan keberanian yang telah anda tunjukkan selama sembilan bulan sepuluh hari, bisa lebih dapat kurang tapi anda tidak boleh menawar. Semoga manusia-manusia yang anda lahirkan bukan hanya berbakti buat orangtuanya, bangsa, negara, dan agamanya tetapi juga menjadi manusia yang bisa mengangkat derajat dirinya sendiri di mata manusia lain dan terutama di hadapan Sang Maha Pencipta.

Saya mewakili para suami di dunia, suami yang sealiran dengan saya tentunya, perlu menyampaikan kepada para istri, terutama yang khawatir dengan kondisi fisiknya pasca melahirkan, tidak usahlah khawatir dengan keadaan anda setelah anda melahirkan. Bukan cantik atau langsing yang membuat para suami bahagia, tetapi anak-anak cantik dan tampan milik kita bersama yang menjadi kebanggaan itulah. Jika anda tetap cantik dan menarik pasca melahirkan karena menomorduakan anak yang anda lahirkan, kami para suami tidak menganggap kecantikan dan kemenarikan anda itu suatu kebanggaan. Kami tidak bangga dengan anda. Anda hanya menjadi perempuan egois yang kebetulan cantik dan menarik. Itu saja.

Bila anda gemuk setelah melahirkan, saya akan bilang, ”Big is beautiful.” Jika anda tetap langsing, saya akan berkata, ”You are incridible.” Seandainya anda gemuk tidak langsing juga tidak, saya akan berucap, ”You’re unbelievable.” Kalau anda kadang-kadang gemuk kadang-kadang kurus, saya akan terbengong-bengong sambil bergumam, ”You’re unpredictable.”

Buat Eka, tulisan ini adalah kado untuk keluarga bahagiamu yang Selasa (8/4/08) kemarin telah kedatangan adiknya Zaya.

Tuesday, April 01, 2008

Gratis?

Sekarang saya kasih tebakan dulu. Hadiahnya piknik ke Bali. Kumpulnya di Denpasar dan semua biaya ditanggung… sendiri. Jika tidak setuju nggak usah diambil saja hadiahnya. Ini tebakannya: ikan apa yang paling enak? Anda boleh berpikir sebentar sebelum menjawab. Setelah menemukan jawaban atau malah menyerah, silakan baca kembali dan temukan jawabannya di sini.

Jawabannya adalah, dan anda tidak boleh protes, ikan teri, ikan ratu, dan ikan randu bagi orang jawa (tengah), ikan pamer buat orang sunda, untuk orang indonesia pada umumnya ikan casio (dibaca kasio).

Bingung? Atau barangkali anda sudah bisa menebak kenapa jawabannya seperti itu. Ya, ikan-ikan yang saya sebutkan itu memang ikan ajaib. Nama-nama mereka sebenarnya merupakan sebuah clipping atau penggalan kata dan akronim. Ikan teri aslinya diteri (dikirim orang lain). Ikan yang dikasih orang. Ikan ratu maksudnya ora tuku (tidak beli), artinya dikasih orang juga. Jika ikan itu tidak dikasih orang juga tidak beli atau kalau beli belinya nggak bener, namanya bukan ikan ratu tetapi ikan spanyol – separoh nyolong. Ikan randu maksudnya ora nduwiti atau tidak mengeluarkan uang untuk memperolehnya.

Orang sunda punya ikan pamer yang paling enak rasanya dari semua jenis ikan karena pamer asalnya dari pamere yang artinya dikasih orang. Ikan-ikan seperti ikan pamer itulah yang juga disebut ikan casio. Casio yang dibaca kasio merupakan kependekan dari dikasih orang.

Dari jawaban-jawaban itu sekarang kita tahu ada jenis ikan lain yang berbeda dari yang sudah umum kita ketahui seperti tongkol, bandeng, tuna dan lain-lain. Juga bisa saja jenis ikan baru itu sama dengan ikan yang sudah kita kenal baik saat ini. Ikan teri bisa berarti ikan tongkol, ikan pamer adalah ikan tongkol, ikan casio ya ikan tongkol itu. Anda tahu nggak? Semua jenis ikan yang tidak ilmiah tadi memiliki kesamaan. Persamaannya adalah sama-sama tidak memerlukan uang untuk mendapatkanya alias gratis.

Mungkinkah kita dapat memperoleh yang kita inginkan dengan gratis? Rasanya kok susah ya untuk bisa mendapatkan sesuatu tanpa biaya. Kayaknya keinginan itu merupakan hil yang mustahal. Coba saja anda perhatikan, kencing saja mbayar, apalagi makan di restauran. Yang aneh lagi saat kita ke tukang cukur, sudah dipotong rambutnya suruh mbayar lagi (lha iya lah, masak ya jreng). Tapi santai saja, ada kok yang tidak harus bayar dan anda bebas mengambil sepuas-puasnya, yaitu oksigen. Syaratnya asal anda sehat, jika sakit anda harus membayar biaya oksigen yang per tabungnya 80 ribu rupiah, baik digunakan semua maupun sebagian.

Kasih sayang orangtua juga barang gratis. Sematre-matrenya orangtua, pernah nggak anda dicharge orangtua anda atas kasih sayang yang telah mereka limpahkan? Jika ya, berarti orangtua anda merupakan manusia matre tulen. Dengan barang gratis ini maka bisa muncul gratis-gratis yang lain. Karena orangtua anda sayang sama anda kemudian muncul motor teri, komputer randu, sepatu casio, hp pamer, dan bermacam-macam ratu yang semuanya untuk anda. Gratis!

Orangtua sudah tentu beda dengan orang lain (bisa muda bisa tua). Jika orangtua dapat dengan entengnya memberikan, karena sudah menganggap sebagai kewajiban, segala sesuatu dengan gratis, yang bukan orangtua bisa jadi akan pikir-pikir dulu. Enak amat memperoleh sesuatu tanpa modal. Semua orang juga mau. Sudah pasti segala sesuatu akan diperhitungkan untung ruginya. Tidak ada yang namanya makan siang gratis. There's no such thing as a free lunch. Orang jawa punya jer basuki mowo bea, segala sesuatu ada biayanya.

Hitung-hitungan yang dilakukan itu matematis. Namun anda tidak harus menjadi ahli matematika untuk sekedar menghitung. Dan anda juga tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Buktinya, orang yang buta huruf saja jika berurusan dengan duit jadi jago. Apalagi anda yang bukan merupakan produk jaman kuda gigit besi. Sudah pasti anda mahir, trampil, dan hafal di luar kepala. Akan tetapi ada yang aneh dengan matematika di sini. Yang namanya matematika itu ilmu eksak, ilmu yang sudah pasti. Artinya sudah ada patokan dan rumusan yang baku. Anda tidak bisa menghitung sebuah penjumlahan 2 + 2 = 22 atau perkalian 3 x 4 = 7 misalnya. Jawaban itu sudah pasti dan tidak bisa ditawar. 2 + 2 ya empat dan 3 x 4 hasilnya pasti 12, kecuali matematikanya tukang cetak foto. Jika anda tanya ke dia berapa 3 x 4 jawabannya bisa 1000 atau 2000 per lembar, tergantung hitam putih atau berwarna pasfoto yang ingin dicetak.

Keanehan yang ingin saya tunjukkan adalah matematika yang terjadi dalam kehidupan manusia. Jika seorang bekerja dengan gaji sebulan, katakanlah, Rp.600.000 dan kebutuhan per harinya sekitar Rp.20.000, praktis di akhir bulan gaji itu akan habis dan tidak ada sisa untuk ditabung. Kemudian dia menikah dan mempunyai satu anak, sudah pasti gajinya tidak akan cukup buat bertiga. Dengan hidup sendiri saja pas-pasan, apalagi sekarang jumlahnya ada tiga jiwa. Mana mungkin cukup? Itu kalau dihitung dengan rumus matematikanya manusia. Kenyataannya, meskipun jumlah yang ditanggung naik tiga kali lipat sementara gajinya tetap, semua kebutuhan tetap bisa tercukupi. Kadang-kadang malah sempat bisa menyisihkan untuk tabungan. Ajaib. Itulah matematikanya Allah.

Bila matematikanya manusia pasti, milik Allah bisa fleksibel. X = Y miliknya manusia berarti bila X = 1 maka Y = 1, dan jika X menjadi 3 maka Y juga sama dengan 3. Tidak demikian dengan milik Sang Penguasa, karena X = Y artinya X adalah kebutuhan manusia sedangkan Y merupakan rejeki yang datangnya dari Allah. Jadi manusia akan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan rejeki yang diterimanya. Apabila kebutuhan anda meningkat maka akan ada pintu rejeki yang terbuka untuk anda yang kadang-kadang kita tidak duga. Jika anda miskin maka tidak perlu resah dan khawatir karena matematika Allah tidak sama dengan matematikanya manusia. Tidak usah meragukan rejeki yang dilimpahkan oleh-Nya sebab Dia memiliki banyak pintu yang menjadi saluran menuju umat manusia di dunia termasuk anda tentu saja. Yang perlu kita lakukan adalah terus mensyukuri rejeki yang telah kita terima dan menggunakannya untuk kebaikan.