Sunday, March 30, 2008

Kebo Kumpul Kebo

Saya sengaja menggunakan kata kebo, bukan kerbau. Bagi saya kosakata kebo lebih mengena dan mak nyus. Saya merasa kebo lebih mewakili jiwa saya sebagai orang kampung dan ndeso dibandingkan kerbau. Kerbau itu berbau kota. Heran ya kok bisa begitu? Nggak usah diambil hati lah, dan tidak perlu dipikir dalam-dalam (lagian siapa yang mikirin?). kadang apa yang terjadi di bumi ini tidak bisa atau memang tidak perlu dipikirkan. Seperti kenapa ada orang suka makan tomat, yang lain nyium saja sebel apalagi suruh makan. Bahkan dengan iming-iming akan dikasih upah saja tetap ogah. Nah seperti itulah yang orang bule suka bilang, there's no accounting for taste. Selera tidak bisa diperdebatkan.

Bila saya menjuduli tulisan ini dengan unsur kebo, jangan stil yakin dulu kalau saya akan membicarakan binatang memamah biak ini. Kebo ini saya jadikan pilihan karena pada dasarnya ada kesamaan dengan manusia. Saya pikir kadang-kadang memang seperti itu. Jika anda merasa mirip kebo ya silakan. Bukan saya yang bilang begitu. Terus dibandingkan binatang, manusia kadang-kadang justru malah lebih binatang daripada binatang itu sendiri, harimau misalnya. Walaupun dia disebut binatang buas, anda pernah menemukan harimau membunuh anaknya sendiri, dengan alasan apapun? Jika beberapa waktu yang lalu ada ibu di Bekasi membunuh dua anak kandungnya atau pernah juga sebelum kejadian itu ada seorang ibu di Malang yang meracuni ketiga anaknya selain dirinya sendiri, masih berhakkah kita menyandang gelar manusia? Memang sudah pasti ibu-ibu pembunuh itu punya alasan, tetapi rasanya tidak bisa diterima akal sehat atas kelakuannya itu.

Kebo memang berbeda dengan manusia (ya iya lah, masak ya dong), tetapi naluri hewani yang dia miliki untuk menentukan koloninya tidak ubahnya seperti manusia. Anda tidak pernah kan menjumpai kebo kumpul dengan harimau? Mereka pasti ubyang-ubyungnya dengan kebo juga. Manusia juga seperti itu. Kita akan mencari teman bermain yang memiliki unsur kesamaan dengan kita. Tukang copet ngumpulnya juga dengan pencopet (anda copet?), remaja masjid bergaulnya dengan orang masjid (kalau yang ini kayaknya saya deh), orang o-on jalan bareng dengan orang bego (anda tersinggung?), si pinter ngegang dengan orang pinter juga (heran, kok bisa tahu ya kalau saya punya gang ini), dan banyak lagi. Dengan demikian komunikasi yang terjadi bisa berjalan dengan lancar dan baik.

Memang sebagai manusia yang dilengkapi dengan akal, kita bisa lebih fleksibel. Bila kebo tidak mungkin kumpul dengan harimau, seorang ustad mungkin saja berteman dengan garong bila dipikir perlu. Dengan memiliki bukan hanya otak (brain) tetapi juga akal pikiran (mind), kita bisa menimbang-nimbang dulu. Anehnya, meskipun sudah dilengkapi satu set otak dan akal pikiran, tetap saja manusia tidak bisa menggunakan otaknya untuk berpikir. Pernah dengar all people have brain but only few use their mind? Cocok kan? Seperti itulah kita ini kadang-kadang.

Kita kembali lagi bicara tentang kesamaan manusia dan binatang dalam mencari teman. Saya juga seperti itu dan saya yakin anda juga. Sudah jamak bila kita akan memilih-milih siapa yang harus dijadikan teman. Dan memang kita kadang harus menyesuaikan diri karena terpaksa, karena tidak ada pilihan lain. Contoh gampang saja misalnya dalam skala kecil, kita harus menyesuaikan diri berteman dengan orang lain dalam ruang kelas atau teman sekantor. Atau dalam ukuran yang lebih besar, anda harus hidup dalam masyarakat yang pasti lebih kompleks dan heterogen dibandingkan sekedar kelas atau kantor. Dan itulah kehebatan manusia dibandingkan kebo yang tidak mungkin bisa melakukan adaptasi berteman dengan harimau. Analogi yang ngawur dan tidak relevan ya (menurut anda)? Memang seperti itulah saya, kadang-kadang suka ngawur.

Kesamaan antar manusia yang menjadi landasan pertemanan kadang tidak ada sangkut-pautnya dengan umur. Yang saya maksudkan adalah, memang bila dilihat dari usia bisa jadi seperti orangtua dengan anak. Namun, karena ada benang merah yang menyatukan maka pertemanan itu bisa terjalin. Barangkali anda pernah nonton film Home Alone 2. di situ digambarkan persahabat yang njomplang dari segi usia antara Kevin (Macaulay Culkin) yang menjadi tokoh sentral dengan perempuan gelandangan tua yang suka memberi makan ratusan burung merpati liar. Kevin yang masih anak-anak bertemankan orang tua, dan mereka sama-sama senang (anda tahu kira-kira benang merahnya?). Itu ada dalam film memang, tapi terjadi juga di dunia nyata. Bisa jadi di lingkungan anda ada namun selama ini anda tidak memperhatikan.

Saya juga mirip Kevin. Sama seperti di Home Alone 2, saya juga berteman dengan orang-orang yang beda usia. Jika Kevin sebagai yang lebih muda, saya yang tuanya. Bagi saya, it’s okay. Selama kita saling menghargai dan menghormati, kenapa umur mesti dipermasalahkan. Ketika sahabat-sahabat muda saya ini bertandang dan bermalam di rumah saya Jum’at (7/3) yang lalu, saya senang banget. Sayangnya mereka hanya sebentar. Datangnya sudah malam, sekitar 19.30 wib, pagi-pagi jam 05.30 sudah ijin pulang. Alasannya adalah menghindari polisi. Kenapa? Mereka bersepuluh, sepeda motornya cuma empat. Bisa anda hitung sendiri berapa motor yang harus dinaiki tiga orang. Parahnya lagi, hanya beberapa yang pakai helm. Tipikal anak muda, suka cari penyakit. Mereka adalah Fajar, Encu, Dedi, Reza, Bedul (Hudri), Kiki, Yadi, Junot (Ryan), Dede, dan Edi. Sembilan dari mereka tanggal 19 April nanti akan diwisuda, hanya Bedul yang sudah lulus duluan. Dia alumni angkatan satu tingkat di atas yang sembilan orang lainnya.

Selain mereka, hari ini (Minggu, 30/3/08) sahabat-sahabat muda saya yang lain juga pada main ke rumah. Rombongan yang ini lebih senior dari mereka yang sepuluh orang. Dua di antaranya sudah married. Dari yang dua itu yang satu sekarang malah sedang hamil tua anak keduanya. Kelompok senior ini beberapa hari sebelumnya memang sepakat ingin main sekaligus makan siang di rumah saya. Jika datang semua, jumlah sebenarnya lebih dari yang terlihat di foto. Karena sebagian ada halangan, mereka tidak bisa hadir. Bila anda bandingkan tampang dan pose saat berfoto, mereka kelihatannya sih tidak beda jauh dengan foto juniornya di atas. Kalau saya bilang orang-orang ini lebih senior, saya tidak mengada-ada, hanya di foto saja mereka tidak kelihatan bedanya. Bila dilihat gelagatnya, kelompok ini merupakan calon potensial untuk menjadi gang tukang main. Terbukti, saat makan siang mereka kembali memastikan rencana untuk main ke Sukabumi 19 April nanti. Padahal, minggu kemarin, mereka habis main di Ciomas. Hebring euy!

Bila anda memilih-milih teman, berarti anda seperti kebo. Jangan tersinggung dulu. Maksudnya, seperti kebo yang mencari kebo lain. Jadi, kalau anda ketemu kebo di jalan dan kemudian anda ajak berteman, itu namanya kumpul kebo.

Saturday, March 29, 2008

Orang-orang Konyol

Konyol punya arti macam-macam: (1) tidak sopan; kurang ajar; (2) agak gila; kurang akal; (3) tidak berguna; sia-sia. Anda bisa lihat di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) jika masih penasaran. Dengan melihat makna di kamus yang memang bentuknya besar itu kita bisa amati di sekitar kita para manusia yang tergolong orang-orang konyol. Siapa saja mereka?

Sebenarnya tulisan ini sudah lama ingin saya buat. Saya suka sebel melihat orang-orang ini (sebagian) yang hampir setiap hari saya temui. Maksud saya menulisnya di sini adalah biar anda, para pembaca setia maupun tidak setia blog saya, bisa belajar bahwa menjadi orang konyol itu tidak ada bagus-bagusnya. Anda boleh setuju atau tidak dengan tulisan saya ini. Jika anda ingin kasih komentar, konstruktif atau destruktif, juga bisa. Tinggal meng-klick link yang ada di bagian bawah setelah tulisan ini.

Bagi saya, calo atau makelar angkot yang ada di pengkolan itu orang konyol. Tidak ada gunanya mereka bagi para calon penumpang. Modal suara yang rata-rata beroktaf tinggi hanya membuat suasana tambah bising. Tanpa diteriaki pun calon penumpang sudah tahu angkot dengan jurusan mana yang harus dipilih. Mereka itu kan tidak buta huruf. Mereka bisa baca jurusan yang tertera jelas di bagian atas kaca depan atau kadang-kadang juga ada di kaca belakang. Kan rasanya nggak mungkin di jaman seperti sekarang ini masih ada yang buta huruf. Bila ada calon penumpang yang buta huruf sekaligus baru pertama kalinya di tempat itu, nah baru ada gunanya teriakan-teriakan calo itu. Tapi, asal calon penumpang itu tidak gagu atau bisu, kan dia sebenarnya bisa tanya langsung ke sopir. Selain itu, meskipun ada calo, sopir kadang-kadang juga ikut teriak-teriak menawarkan jasa atau memanggil-manggil calon penumpang. Jika begitu, apa manfaatnya calo benalu yang suka teriak-teriak ini?

Kemudian kelompok orang konyol kedua adalah sopir. Saya setuju dengan anda. Tidak semua sopir. Sopir angkot atau sopir mobil pribadi akan termasuk orang konyol bila dia tidak mempedulikan nyawanya sendiri saat mengemudikan kendaraan, apalagi menyangkut nyawa penumpang lain. Termasuk mereka yang terampil atau, celakanya, merasa memiliki ketrampilan mengemudi. Jago membawa mobil (termasuk motor) bukan berarti terus berhak untuk ugal-ugalan di jalan. Berdoalah mudah-mudahan tidak bertemu dengan sopir konyol.

Jika di persimpangan jalan anda temukan seorang atau beberapa orang mengatur lalu lintas layaknya seorang polisi padahal mereka bukan polisi, itu juga masuk orang-orang konyol. Mereka dulu suka disebut polisi cepek (rasanya sekarang juga masih meskipun yang diberikan sudah bukan cepek lagi) karena suka diberi uang seratus rupiah untuk jasanya. Jasa? Jasa apa yang diberikan polisi cepek? Yang terjadi justru menjadi penyebab kemacetan. Lebih parah lagi jika polisi gadungan ini ketemu dengan sopir yang egois, memberi uang lebih agar polisi cepek itu mencarikan jalan sehingga dia bisa lewat. Tidak peduli apabila kelakuan polisi cepek yang menghentikan kendaraan-kendaraan lain untuk membukakan jalan baginya menimbulkan kemacetan.

Polisi cepek yang ditemukan di mana-mana sering dianggap sebagai dampak dari kinerja aparat kepolisian yang memble oleh sebagian orang. Anda setuju? Terlepas dari setuju atau tidak setuju, sekarang ini kenyataannya polisi cepek keleleran di setiap persimpangan dan pengkolan. Salah siapa ini? Akhirnya yang terjadi kan saling membenarkan argumen masing-masing. Di pihak polisi cepek, mereka merasa berjasa telah membantu mengatur lalu lintas, yang tentu saja tidak gratis. Polisi-polisi cepek ini bisa hilang, seandainya, kelompok orang-orang konyol berikut ini tidak muncul.

Ya, orang-orang konyol berikutnya adalah pemimpin yang tidak amanah. Galibnya seorang pemimpin, salah satu pekerjaannya adalah seperti yang dilakukan manajer. Pekerjaan yang dikenal dengan fungsi manajemen yaitu planning, organizing, actuating, dan controlling. Ada juga konsep fungsi manajemen yang agak berbeda yang diperkenalkan oleh para management guru. Namun POAC tersebut saya pikir sudah cukup mewakili. Dalam prakteknya, orang konyol yang menjadi pemimpin ini tidak menjalankan fungsinya untuk kepentingan dan tujuan bersama. Lebih sering otoritas sebagai pimpinan yang dimilikinya digunakan untuk kepentingan pribadi dan memperkaya diri dan keluarga sendiri. Bila para pemimpin gombal ini ada dalam sebuah institusi baik pemerintah maupun swasta maka kemudian akan muncul orang-orang konyol di bawah ini.

Pejabat yang korup merupakan orang konyol terakhir pilihan saya. Dia bisa muncul salah satunya karena dipimpin oleh orang yang tidak amanah. Bila pemimpinnya sendiri saja menjadi koruptor, maka tidak heran bila anak buahnya juga melakukan korupsi. Makanya korupsi yang ada di negara kita ini bukan hanya sistematis tapi sudah cenderung sistemis. Jika sistematis hanya terkait dengan langkah atau cara yang ditempuh dalam melakukan tindak korupsi, sistemis memang melembagakan dan melegalkan tindakan korupsi. Anda bisa lihat misalnya tender-tender yang dilakukan di instansi pemerintah yang penuh dengan korupsi yang sistemis. Birokrasi merekayasa bagaimana nilai proyek bisa bernilai sesuai yang diinginkan. Sudah itu sajalah. Saya tidak mau berpanjang-panjang tentang korupsi sistemis ini, nanti dikira menebar fitnah. Saya bisa mencontohkan seperti itu karena memang dulu saya pernah dipaksa dilibatkan dalam tender yang sebenarnya tender-tenderan. Bila dilihat saat itu tender yang digelar tidak ada yang salah. Semua terlihat fine-fine saja. Padahal sebenarnya sebuah paket korupsi yang ditenderkan.

Dari daftar orang konyol yang saya sebutkan, mau nambahin lagi? Silakan. Ngomong-ngomong, jangan-jangan, anda termasuk salah satu dari orang-orang konyol itu. Jangan ah. Lebih enak kok jadi orang baik, dan banyak ruginya jadi public enemy seperti orang-orang konyol di atas. Memang sih baik jadi orang penting, pejabat misalnya, tapi kan lebih penting jadi orang baik. Kan enak dengernya jika orang-orang mengatakan kita ini so sweet, daripada mendengar orang bilang so sweaty karena kita membuat mereka kalap dengan kelakuan miring kita.

Bagaimanapun juga, saya sarankan kepada anda supaya berterimakasih kepada orang-orang konyol itu. Hlah, kok gitu? Lha sudah juelas sekali begitu kok kalau mereka itu orang-orang yang baik hati mau menjadi contoh jelek. Dengan begitu kan kita jadi sadar dan tidak menjadi orang-orang konyol seperti mereka.

Friday, March 28, 2008

Marmot, Cecenet, & Marasi

Setelah membaca tulisan ini atau melihat judulnya, mungkin anda akan berkomentar sekaligus bertanya, “Penting nggak siiihhh…?” Atau ingatan anda malah melompat mundur beberapa tahun ke belakang. Anda jadi ingat masa kecil. Terkenang persahabatan manis anda. Terbayang saat-saat berburu buah-buah mewah di lereng dan kebun-kebun orang. Buah mewah di mata anak-anak tentu saja, seperti ceri (kersen) misalnya.

Judul di atas memang nama-nama tanaman yang buahnya bisa dimakan. Saat kecil kita suka kelayapan mencari buah yang rasanya manis itu. Persis seperti pepatah ada gula ada semut, karena buah itu manis banyak anak-anak yang memburunya. Tidak peduli badan jadi gatal-gatal karena menyusup-nyusup belukar, atau baju belepotan tanah. Yang dirasakan hanya senang dan kegairahan.

Terutama di pedesaan atau kampung yang masih banyak lahan terbuka dan kebun-kebun, buah-buahan perdu itu sering ditemukan. Bagi sebagian anda, buah-buahan itu mungkin sudah anda kenal dengan baik. Begitu membaca namanya, langsung tergambar di benak anda bentuk dan warnanya. Bahkan hidung andapun seolah-olah bisa mencium baunya yang tidak asing lagi. Sebagian anda yang lain mesti mencocok-cocokkan dulu dengan database memori buah masa kecil anda.

Biar lebih jelas lagi terutama bagi anda yang masih samar-samar atau buat anda yang tidak begitu kenal buah-buah tersebut di atas, saya akan coba gambarkan satu persatu. Tapi harap maklum jika ada bagian yang tidak begitu jelas penggambarannya, sebab terus terang saja ada salah satu dari ketiga buah itu yang belum pernah saya cicipi maupun lihat bentuk aslinya.

Marmot. Namanya mirip-mirip keluarga kelinci yang telinganya pendek yang suka dipelihara orang. Binatang ini ada yang menyebut mermut, marmut, atau marmot. Untuk marmot yang buah, saya baru tahu kalau namanya marmot beberapa hari yang lalu saat ngobrol di pos ronda dengan petugas keamanan di dekat rumah saya. Saya sendiri pernah memakannya. Jadi, ketika penjaga di pos ronda itu menggambarkan buah marmot saya langsung tahu buah apa yang dimaksudkan. Tanaman marmot merupakan jenis tanaman merambat. Dia suka tumbuh di antara semak-semak. Buahnya seperti lampion, atau buah kurung. Kurungannya mirip jaring. Bila mentah, warna buah dan kurungannya hijau. Menjadi kuning muda warna jaringnya dan kuning tua buahnya bila sudah matang/tua. Buah yang sudah matang terasa manis. Buah plus jaringnya mengeluarkan bau yang khas, terutama saat masih muda. Bagi saya baunya harum dan merangsang. Bagaimana dengan anda? Sayangnya saya tidak bisa membandingkan dengan bau yang lain biar anda lebih gampang membayangkannya.

Cecenet. Itu kata orang sunda. Orang jawa (tengah) menyebutnya ciplukan atau ceplukan. Anda boleh pilih yang mana. Mau bikin nama sendiri juga silakan. Paling-paling tidak ada yang ngerti. Cecenet ini dulu pernah menjadi sahabat saya. Belum lama. Beberapa tahun yang lalu saat saya sudah setua ini. Penyebabnya adalah paru-paru saya. Bisa nebak, bagaimana paru-paru bisa membuat pemiliknya akrab dengan cecenet? Saya hitung sampai tiga. Tiga! Salah! Eh, emang njawab apa sih? Gini, saya terpaksa jadi akrab dengan ‘beliau’ karena saya pernah kena pneumonia. Keren ya? Kalau bisa jangan sampai deh kena penyakit itu. Meskipun namanya bagus, mana ada penyakit yang enak. Pneumonia itu kan bahasa medis. Bahasa kampungnya adalah paru-paru basah. Bu dokter, benar? Dan tahukah anda, cecenet bisa digunakan melawan penyakit ini.

Jika saya menulis banyak-banyak tentang buah buruan masa kecil dan yang ternyata juga bisa digunakan sebagai penyembuh ini ya harap maklum saja. Kami pernah menjadi tim yang solid selama enam bulan.

Cecenet itu seperti marmot. Dia juga bunga kurung, tapi bentuk kurungannya beda. Jika marmot kurungannya bolong-bolong seperti jaring, cecenet rapat. Bila sudah tua, kurungan yang menjadi pelindung buah cecenet berwarna kuning pucat. Begitu juga warna buahnya. Buah dan kurungan cecenet yang muda berwarna hijau dan pahit rasanya. Beda banget dengan rasa buah yang sudah tua, manis. Kok bisa begitu ya? Itulah yang disebut Allahu Akbar.

Cecenet ini tanaman yang gampangan. Gampangan? Kesannya kaya apa aja gitu ya. Maksud saya, dia itu gampang tumbuh di mana saja, di antara semak-semak bisa, di kuin (tumpukan bekas bongkaran bangunan) pun jadi. Karena mudah tumbuh di mana saja itulah, saya dulu tidak begitu kesulitan mencarinya untuk kemudian direbus dijadikan obat. Cuma pahitnya itu, mantab.

Marasi. Nah, kalau buah yang ini, terus terang saja, tahu pun baru beberapa hari yang lalu. Itu juga hasil dari ngobrol-ngobrol dengan penjaga malam di kampung saya, kemudian saya lanjutkan dengan mengkorek-korek di internet. Kata dia, setelah makan buah marasi, minum air putih jadi manis. Jeruk nipis yang asam pun bisa menjadi manis. Menarik juga. Buah marasi bisa mengubah rasa menjadi manis karena mengandung protein yang disebut curculin. Protein ini bisa tahan di mulut sampai setengah jam sebelum akhirnya rasa manisnya menghilang.

Marasi yang aslinya dari Afrika Barat suka disebut juga dengan parasi, terasi-terasian, atau lemba. Di Papua dikenal dengan nama cua mok. Orang Prabumulih (Palembang) malah lebih ekstrim, mereka menyebutnya buah tahi (sebenarnya sih lengkapnya lentahi). Tanaman yang memiliki nama Latin, Curculigo latifolia, ini termasuk keluarga Hypoxidaceae. Ia herba yang sering dijumpai di pinggiran hutan di seluruh wilayah Indonesia hingga sebagian besar Asia Tenggara. Sosoknya tegak, dengan tinggi kurang dari 1 m. Daun tumbuh langsung dari batang dalam tanah atau rizoma. Bentuknya memanjang dan bertekstur seperti lipatan-lipatan kecil.Sekilas ia tampak seperti anakan salak atau anggrek tanah. Seperti halnya daun,bunga marasi juga muncul dari rizoma, sehingga terlihat seakan-akan tumbuh daritanah. Bunga berwarna kuning cerah, kecil, dengan 6 kelopak. Buahnya berwarna bening keputihan berukuran kira-kira 1 cm dan berbiji banyak kecil-kecil hitam seperti dragon fruit. Tanaman merumpun setinggi 80 cm itu tumbuh liar, terutama di area yang ternaungi pepohonan besar. Marasi cocok di lingkungan yang lembab dan cenderung gelap.

Marasi merupakan pesaing buah ajaib lain yang suka dikenal dengan nama miracle fruit (Synsepalum dulcificum) yang kandungan proteinnya bernama miraculin. Jika curculin di marasi terasa manis (satu-satunya protein yang berasa manis), miraculin di miracle fruit tidak. Anda pernah ketemu atau makan buah ajaib ini?

Wednesday, March 26, 2008

Inspiring Suckling

Berapa musuh anda waktu kecil? Berapa banyak teman masa kanak-kanak anda? Teman atau musuh, saya yakin mereka, sekarang, adalah bagian dari kenangan indah masa kecil anda. Dari masa-masa innocent itu banyak hal yang bisa menginspirasi kita dalam menjalani kehidupan sebagai orang dewasa.

Saat masa kanak-kanak saat yang membahagiakan. Tidak ada namanya sedih seperti sedihnya orang dewasa. Kalaupun nangis, itu hanya sesaat. Tidak berlarut-larut. Setelah itu ketawa-ketiwi lagi dan lupa dengan tangisnya tadi. Saya percaya bila ada kesempatan untuk bisa kembali lagi menikmati masa kecil, mayoritas orang tidak akan menolak kesempatan itu. Bahkan seandainya masa kanak-kanak kita berasal dari keluarga miskin sekalipun. Semiskin-miskinnya sebuah keluarga, yang namanya anak-anak tetap bisa tertawa-tawa gembira.

Bila kita ngeh, kehidupan anak-anak itu merupakan contoh bagus yang patut kita tiru. Banyak pelajaran positif yang diberikan oleh anak-anak. Sadar atau tidak, saat kita kecil sebenarnya kita juga melakukan hal itu. Sayangnya setelah dewasa, kebanyakan dari kita tidak lagi melakukannya. Jika perilaku anak-anak itu bisa memberi warna hidup ini mengapa tidak kita praktekkan? Tentu saja disesuaikan dengan dunianya orang dewasa.

Hal-hal positif dari anak-anak yang bisa kita contoh itu ada banyak. Coba kita perhatikan dan renungkan. Mudah-mudahan mata hati kita jadi terbuka dan menyadari betapa banyak serta berharganya ilmu yang ada di depan mata kita yang berasal dari anak-anak. Kita seharusnya berterima kasih kepada anak-anak maupun masa kanak-kanak kita. Di antara kebaikan anak-anak itu, saya bisa sebutkan di bawah ini.
  1. Spontan
    Anak-anak itu tidak terlalu banyak menimbang-nimbang untuk berbuat. Jika akan melakukan sesuatu, dilaksanakanlah apa yang dia ingin kerjakan itu. Bahkan, yang sebenarnya berbahaya, dia tidak peduli, tetap dilakukan. Bagi kita, kenapa spontanitas itu tidak kita jalankan dalam hal menolong orang misalnya, tanpa harus banyak pertimbangan.
  2. Kreatif
    Coba anda beri sebuah bola kepada seorang anak. Apakah anda yakin bola itu akan ditendang? Mungkin anda akan kaget ketika bola itu dijadikan atau diperlakukan macam-macam selain hanya sekedar ditendang. Kreatif, bila anda ingin tahu, merupakan perangkat yang penting dimiliki jika ingin tetap survive dan menjadi lebih baik.
  3. Tidak mudah menyerah
    Dalam kehidupan anak-anak, tidak ada istilah menyerah. Anda pernah menemukan anak yang sedang belajar berjalan, jatuh, kemudian tidak mau berjalan lagi? Never. Mereka tidak menyerah. Selalu berdiri lagi dan belajar lagi. Sebagai orang dewasa, sering ketika kegagalan muncul terus memutuskan berhenti, bahkan saat kegagalan itu adalah kegagalan yang pertama.
  4. Berani/mau mencoba
    Orang dewasa kadang-kadang tidak berani mencoba sesuatu. Gara-garanya sepele, kata orang tidak enak lah, jauh lah, sulit lah, dan lah-lah yang lain. Buat seorang anak, apapun kata orang peduli amat, dia akan tetap mencoba. Keberanian atau kemauan untuk mencoba ini memang terkait erat dengan sifat yang kelima di bawah ini, curious.
  5. Curious
    Keinginan belajar atau rasa ingin tahu yang besar itulah yang dimaksud dengan curious. Karena keingintahuannya yang tinggi kadang-kadang anak tidak peduli yang dilakukan itu bahaya atau tidak baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Saya pernah kesetrum karena menggendong balita. Kok bisa? Penyebabnya adalah telunjuknya dia masukkan ke dalam lubang stopkontak. Akibatnya, ya kesetrumlah kami berdua. Kesetrum kok rombongan ya.
  6. Gembira
    Anak-anak itu banyak tertawa, dan itulah sebabnya tidak ada anak yang stres. Kita tertawa karena gembira. Jika saat sedih namanya bukan tertawa neng, tetapi menangis. Semua orang sudah tahu itu. Banyaklah tertawa, bergembiralah, seperti anak-anak, maka anda akan jauh dari stres. Bahkan saat ini di banyak negara, termasuk Indonesia, bermunculan klub tertawa. Tujuannya tentu saja untuk membuat hidup ini lebih sehat. Tapi ingat, jangat tertawa-tertawa sendiri bila sedang berjalan.
  7. Mudah memaafkan
    Anak-anak adalah mahluk pemaaf. Jika mereka disakiti, dalam waktu sebentar dia sudah lupa atau melupakannya. Tidak ada rasa dendam di hatinya karena pada dasarnya anak-anak itu bukan pendendam. Anak-anak akan main lagi dengan mereka yang membuatnya menangis dan dia melupakan tindakan yang telah membuatnya menangis itu. Tidak pernah ada cerita seorang anak memiliki dendam kesumat yang dibawanya sampai bertahun-tahun. Di antara orang dewasa, tidak sedikit yang membawa dendamnya terhadap orang lain sampai tahunan, bahkan sampai mati. Orang dewasa tidak gampang menghilangkan dendam dalam hatinya. Meskipun secara lahir sudah memaafkan, sudah salaman, sudah tersenyum (palsu), batinnya tidak mudah begitu saja melupakannya. Makanya ada istilah ‘dendamnya sampai ke liang kubur.’ Nah, jika anak-anak dapat dengan mudah memaafkan, bisakah anda meniru mereka?
Barangkali anda masih bisa menambahkan lagi sifat positif anak lainnya yang seharusnya menjadi pelajaran bagi orang dewasa. Karena jelas-jelas banyak nilai positifnya, asalkan tentu saja proporsional, tidak berlebihan, mengapa tidak kita terapkan dalam kehidupan kita? Tidak ada ruginya kok. Percayalah.

Tuesday, March 25, 2008

Saya Korban Penodongan

Sebelumnya saya tidak punya firasat apa-apa. Kalau mimpi buruk sih memang iya. Namun saya anggap itu hal biasa. Mimpi buruk itu sering saya alami bila tidurnya kelamaan atau sudah bangun kemudian tidur lagi. Hari itu memang saya mimpi yang tidak menyenangkan. Saya pikir itu bukan sebuah firasat buruk. Tapi sebaiknya saya mulai saja kisah ini, sehari sebelum kejadian.

Hari itu Minggu (23/3). Sesuai janji hari itu saya punya rencana bersama teman-teman kerja main ke rumah teman sekantor juga yang habis melahirkan. Kami akan kumpul dulu di Panaragan Kidul sebelum ke rumah yang akan didatangi di daerah Ciomas. Saat itu memang ada pemilihan kepala desa di desa saya jadi sebelum berangkat saya sempatkan dulu ke tempat pencoblosan meskipun kemudian saya batalkan setelah melihat antriannya yang menyemut. Saya terpaksa tidak menggunakan hak saya dalam pilkada tingkat desa ini karena sudah terikat janji. Saya akan terlambat memenuhi janji bila harus bergabung dengan semut-semut yang antri.

Meninggalkan lokasi pilkada, saya naik angkot menuju Bogor (Panaragan Kidul). Saya berangkat bersama istri dan anak terkecil saya. Tidak ada kejadian apa-apa di angkot atau di jalan yang perlu diceritakan di sini. Kami selamat sampai di Terminal Bubulak. Dari terminal transit itu disambung dengan angkot 03 jurusan Baranangsiang. Di dalam angkot belum penuh, masih ada beberapa tempat yang belum terisi. Penumpang yang sudah ada di dalam melakukan aktifitas masing-masing sambil menunggu angkot penuh. Saya lihat enam pemuda sedang ngobrol. Mereka duduk saling berhadapan tiga tiga di tempat duduk dekat kaca belakang.

Angkot berangkat setelah semua tempat duduk terisi. Keluar dari Terminal Bubulak tidak lama kemudian angkot masuk jalan SBJ. Enam pemuda yang duduk berhadap-hadapan tadi saling melirik. Isyarat apa yang dikomunikasikan saya tidak tahu. Barangkali sebuah kode yang hanya diketahui di antara mereka sendiri. Dari keenam pemuda itu, ada satu yang tampangnya menarik perhatian saya. Mukanya lebar. Mulutnya lebar seperti milik Rossa pelantun Ayat-ayat Cinta. Rambutnya lurus berponi, terlihat menggelikan bagi seorang laki-laki. Kulitnya agak kelam. Dia duduk di pojok dekat jendela belakang.

Tiba-tiba temannya yang duduk di depan si poni menyodorkan tangan ke arah dia. Di tangannya ada bungkus plastik yang saya lihat tadi tergeletak di pinggiran dekat kaca belakang. Si poni menggelengkan kepalanya. Dia menolak biskuit rasa abon yang ditawarkan temannya.

Bila melihat tampang-tampangnya, mereka seumuran mahasiswa. Tapi pasti mereka tidak sedang berangkat kuliah karena hari itu hari Minggu. Terus apa yang sedang mereka rencanakan dan hendak ke mana, saya tidak tahu. Saat saya turun di depan swalayan Naga, mereka masih ada di dalam. Mereka tidak ada urusan dengan saya.

Sebenarnya saat di angkot tadi saya terima sms. Pesan itu mengabarkan bahwa teman yang akan didatangi sedang ada di rumah sakit. Dia menunggu bayinya yang diopname. Karena sebelumnya sudah sepakat ketemuan di Panaragan Kidul dulu, maka saya tetap turun di depan swalayan Naga kemudian menyeberang jalan menuju tempat pertemuan itu. Di tempat yang sudah disepakati, BEC, telah ada beberapa teman yang menunggu. Setelah semua datang, kami berangkat menuju rumah sakit. Rupanya teman yang akan ditengok itu akan pulang sementara bayinya yang sakit masih diopname. Kami semua akhirnya balik lagi ke rumahnya yang di Ciomas Permai dengan mencarter angkot. Saya sendiri membonceng teman yang bawa motor.

Setelah ngobrol beberapa lama dan juga disambung main ke rumah teman yang lain yang juga satu komplek, kami pulang. Waktu itu sudah jam dua lebih. Di dua rumah tadi hanya makan kue dan biskuit. Buat perut kampung seperti kepunyaan saya, kalau belum makan nasi belum makan namanya. Perut juga akan protes dan teriak lapar. Maklumlah, karena dari kecil dibiasakan seperti itu. Oleh karenanya sebelum pulang mampir dulu ke warung. Tadinya saya ingin makan soto lamongan. Namun, karena semua ingin ke mi ayam, terpaksa saya ngikut. Lumayanlah, makan nasinya diganti mi, sama-sama karbohidrat. Dari lima orang yang makan mi itu, cowoknya dua saya dan anak bontot saya, yang tiga perempuan istri saya dan dua teman gawe saya. Dua teman ngantor saya ini masih jomblo dan ngekost. Saya tahu rasanya jadi anak kost karena saya pernah ngekost enam tahun di Semarang, setahun di Jakarta, dua tahun di Bogor. Karena itulah, semua yang dimakan dua jomblo kost ini saya bayari. Saya bukan bermaksud pamer. Hanya menunjukkan kepada anda bahwa saya ini orang yang baik hati dan tidak sombong. Ehm.

Tadinya saat main di Ciomas, kami banyakan. Kemudian sebagian ijin memisahkan diri untuk pulang duluan atau karena ada keperluan lain. Jadi saat makan mi itu, tinggal kami berlima saja. Dari warung mi itu, saya sekeluarga belanja dulu di PJM dan toko mainan di dekat tempat itu. Setelah itu baru kami pulang dan sampai di depan komplek tempat tinggal kami sekitar jam 16.30. Pilkada yang diselenggarakan di dekat tempat saya turun angkot sudah selesai tetapi masih ramai orang-orang yang menunggu hasil penghitungan suara. Saya hanya melihat sekilas sebelum naik ojek.

Esok harinya, Senin (24/3), saya harus berangkat kerja. Badan terasa segar setelah tidur cukup. Mimpi buruk tadi malam tidak terlalu mengganggu kenyenyakan tidur saya. Seperti hari-hari kerja lainnya, saya naik ojek dari dekat rumah kemudian disambung angkot menuju Terminal Bubulak. Semua lancar sampai di terminal. Untuk sampai di kantor, masih satu lagi angkot yang harus saya naiki dari terminal itu. Saya lebih sering menggunakan angkot 03, meskipun sebenarnya 02 juga bisa.

Angkot 03 saya tidak lama menunggu penumpangnya karena hari itu Senin dan banyak komuter yang berangkat kerja. Dalam waktu singkat, angkot penuh. Mayoritas penumpangnya laki-laki. Saya sempat perhatikan wajah mereka satu-persatu. Itu yang suka saya lakukan bila naik angkot. Saya ingin tahu siapa saja sih teman seperjalanan saya. Kayaknya mereka tidak saling kenal tapi bisa saja sebenarnya mereka saling mengenal. Who knows? Sering operandi komplotan copet yang beroperasi di angkot modusnya seperti itu. Mereka bergerombol, mengerumuni calon korbannya. Kadang-kadang disertai kepura-puraan seperti mau muntah atau menjatuhkan barang (uang receh misalnya) sehingga membuat calon korban sibuk. Saya hanya bisa berdoa mudah-mudahan angkot saya ini tidak dipenuhi gerombolan pencopet. Dan alhamdulillah saya turun dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.

Dari turun angkot menuju kantor saya, cukup jalan kaki. Paling memerlukan waktu lima menit. Pagi itu cerah. Gunung Salak yang selalu saya amati setiap kali saya jalan menuju kantor puncaknya diselimuti sedikit awan. Namun masih tetap anggun dan cantik. Rasanya hari itu akan berjalan dengan lancar dan baik. Ternyata saya keliru. Begitu masuk kantor ada dua perempuan yang mengeroyok saya. Mereka menodong saya. Mereka perempuan muda, satunya lagi ibu-ibu yang lagi hamil besar, mungkin tidak lama lagi melahirkan. Saya tidak bisa apa-apa. Mau teriak minta tolong, malu, meskipun ada orang lain di sekitar itu. Saya pasrah, cari aman, daripada nanti diapa-apain. Saya hanya bisa bilang, anda nggak usah serius-serius amat lah membacanya. Mereka teman kantor saya juga kok. Mereka nodong saya untuk minta ditraktir. Mereka dengar saya kemarin mentraktir mi ayam dua teman kerja yang lain. Kebetulan dua penodong ini kemarin waktu ikut main di Ciomas pamitan pulang duluan.