Wednesday, November 07, 2007

Bad Things, Good People

Kadang-kadang saya merasa sebagai salah satu tokoh yang ada dalam buku Why Bad Things Happen to Good People yang kalau nggak salah karangan Brent L. Top. Mengapa justru hal-hal buruk terjadi pada mereka yang termasuk orang baik-baik? Orang-orang baik ini dalam hidupnya tidak pernah macam-macam, pantang neko-neko, dan sadar untuk tidak melakukan yang mboten-mboten. Namun nyatanya, justru orang jahatlah yang jarang tertimpa kesialan, musibah, kecelakaan, dan kayaknya nasib sial justru lebih sering menghampiri mereka yang hidupnya lurus-lurus saja. Anda sendiri kadang merasa nggak, seperti apa yang saya rasakan? Sial yang seolah-olah selalu membuntuti kita kemanapun kita pergi.

Barangkali perasaan ini berkesan menghakimi yang Maha Kuasa, memberi justifikasi bahwa kitalah yang benar, tidak seharusnya kesialan itu menimpa kita. Memang kadang-kadang manusia lupa jika itulah salah satu bentuk uji ketangkasan yang diberikan oleh Sang Pencipta. Ketangkasan mengarungi hidup bak jalur roller coaster. Seperti saya ini, kadang muncul pertanyaan di hati, kenapa orang-orang baik yang saya kenal begitu cepat menghilang. Berlalu dari kehidupan saya karena pindah ke tempat lain atau pindah ke akhirat alias meninggal.

Di sekitar rumah saya, ada berbagai macam orang. Mereka ada yang baik ada yang buruk perilakunya, di mata saya tentu saja. Buat saya mereka itu saya anggap sebagai bagian dari dunia saya. Apa yang mereka lakukan, memang seperti itulah yang seharusnya mereka kerjakan. Orang baik akan berbuat kebaikan, orang jahat bertindak jahat. Namun, saat orang-orang yang tidak baik itu berperilaku jahat terhadap saya, kadang saya bertanya dalam hati “Kenapa saya yang harus mengalaminya?” Begitu juga ketika orang-orang baik pindah rumah, mengapa kok orang-orang ini yang pergi dari lingkungan saya, kok bukan mereka yang jahat. Kok justru orang-orang jahat ini malah betah tinggal di sekeliling saya.

Tidak gampang memang menghadapi keadaan saat hal itu terjadi. Namun bila dipikir-pikir, hidup ini kan berputar. Bahasa klisenya ibarat roda. Roda apa aja deh, mau pedati boleh, mobil juga nggak masalah. Artinya, klise lagi (tapi emang benar), kadang di atas kadang di bawah, kadang enak kadang sengsara. Ada masanya kita ketimpa kesialan, ada saatnya juga kita mendapatkan keberuntungan. Nah, orang-orang yang tough dalam menghadapi dan akhirnya berhasil melewati masa sulit inilah yang nantinya akan menjadi orang-orang yang tangguh. Mungkin kita perlu ingat bahwa obat yang pahit itu ada manfaat yang menyertainya. Kemalangan yang menimpa kita akan memberikan hikmah yang bisa kita petik manfaatnya. Itu kalau kita berpikir positif. Bagaimana kalau yang ada hanya pikiran negatif? Tentu saja yang akan muncul adalah sumpah serapah, umpatan, mencari kambing hitam, atau bukan nggak mungkin akan ada piring terbang di dalam rumah. Hiya, piring terbang. Bukan piring terbangnya alien atau yang di amrik sono disebut dengan UFO, tapi piring beneran yang terbang kemana-mana dilempar orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya ketika tertimpa musibah. Makanya, hati-hati dengan piring terbang yang satu ini. Kena jidat? Sudah pasti bocor lah.

Ada pelajaran menarik yang bisa kita peroleh saat menghadapi musibah, sial, bencana, dipermalukan, atau apapun lah istilahnya. Bahwa, musibah apapun yang kita hadapi saat ini cobalah untuk membayangkannya kita akan melihatnya di masa datang, sepuluh atau dua puluh tahun kemudian misalnya. Barangkali musibah yang menimpa kita yang pada saat kejadian kayaknya luar biasa, membuat kita merasa seolah-olah dunia mau kiamat, merasa sepertinya kitalah manusia tersial di dunia, dapat menjadi hal yang sederhana dan sepele di masa datang. Don’t Sweat the Small Stuff, itu kata Richard Carlson dalam bukunya yang berjudul sama. Bisa jadi kita akan geli sendiri, bila melihat reaksi yang kita berikan terhadap peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Ih norak ih, konyol banget, kok sampai segitunya saya pada saat itu, mungkin itu yang terlontar dari mulut anda. Dulu yang kayaknya mengerikan, ternyata sekarang bila dirasa-rasa lagi kayaknya biasa saja. Dulu, bagi laki-laki, disunat itu sangat mengerikan, ternyata sekarang nggak ada apa-apanya.

Pernah saat masih duduk di bangku smp dulu, ada kejadian yang mengerikan buat saya, saat itu tentu saja. Dan sekarang, bila mengingat hal itu lagi, kok jadi tersenyum sendiri. Geli dengan kondisi saya pada saat itu yang merasa bahwa awak ini jadi orang yang paling sengsara dan merana di muka bumi ini. Rasanya, kemalangan yang dialami orang lain tidak sedahsyat musibah yang menimpa saya. Kesengsaraan mereka belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan saya.

Peristiwa yang terjadi sih sebenarnya sederhana saja. Saya bisa bilang sederhana sekarang, tapi saya merasakan kejadian itu jadi complicated, ruwet, pada waktu itu. Saat pelajaran olah raga, saya beserta teman-teman disuruh membentuk barisan. Kami menjalankan perintah itu, sementara guru olahraga meninggalkan kami sebentar untuk sebuah keperluan. Ketika kami dalam posisi berbaris, lewatlah seorang guru, kalau nggak salah pak Yono namanya, agak jauh di depan kami. Karena teman-teman berisik dan saya lihat ada guru yang lewat, saya menyuruh teman-teman untuk diam dengan bilang “ssttt... ssttt... ssttt.” Rupanya guru tersebut mendengar dan jadi salah terima. Kemudian beliau meminta siapa yang bilang ‘ssttt’ tadi untuk datang ke kantor menghadapnya. Bila tidak ada yang mengaku, pak Yono mengancam tidak akan mau mengajar kelas kami lagi. Selesai pelajaran olahraga, dengan ketakukan saya masuk ruang guru menghadap pak Yono. Diomelin habis-habisan lah saya. Dengan bilang ‘ssttt’ pak Yono merasa dianggap seperti anjing yang sedang lewat. Aduh bapak, saya benar-benar minta maaf. Swear! Saya sama sekali tidak punya niat, terpikirkan pun tidak, untuk menyamakan bapak dengan anjing. Kalau bapak punya anjing piaraan, itu sih bukan urusan saya. Karena saya dianggap menganjingkan beliau, pak Yono menghukum saya dengan meminta tanda tangan dari tiga orang guru lainnya dengan sebelumnya mengisahkan kronologis kenapa saya perlu tanda tangan beliau-beliau ini. PET! Dunia jadi gelap saat itu. Matilah saya. Kiamat lokal terjadi dalam dunia kehidupan saya. Rasanya saya satu-satunya orang yang menderita di dunia ini. Was-was, degdegan, gemetar, keringat dingin, linglung, cengok, perut mules, semua campur aduk jadi satu. Rasanya pengen mati saja daripada harus menjalani hukuman yang memalukan sekaligus mengerikan ini. Apalagi setelah tahu salah satu guru yang harus saya mintai tanda tangan itu terkenal ganas (saking mengerikannya di mata saya). Saya merasa orangtua saya sendiri pun tidak sanggup menolong anaknya yang malang ini.

Bagaimana akhirnya? Sekarang saya bisa jawab dengan gagah, hukuman itu secara sukses saya jalankan dengan gemilang (bahasanya agak nggak beres ya?). Kalau tidak suskes, pasti saya tidak bisa cerita sekarang. Tiga tanda tangan keramat itu akhirnya berhasil saya peroleh dengan cucuran darah dan keringat di sepanjang jalan dan berhasil saya serahkan dengan tetap masih deg-degan, karena takut diberi bonus hukuman tambahan, kepada pak Yono. Peristiwa horor itu menghantui kehidupan saya selama satu minggu sesuai dengan batas waktu yang diberikan beliau untuk berburu tanda tangan penuh darah itu. Dahsyat banget ngepeknya terhadap kehidupan saya, kalau makan nggak bisa tidur, bila tidur nggak bisa dan nggak ingin makan.

Kengerian yang ditimbulkan oleh kejadian itu masih menguat walaupun peristiwanya sudah lewat. Seiring berjalannya waktu, kengerian itu lambat laun menghilang, sekarang berubah menjadi sebuah senyuman bila mengingatnya kembali, namun peristiwanya sendiri masih terpatri dalam-dalam dalam dalamnya hati secara mendalam dan dalam kedalaman memori yang paling dalam. Wuih! Bahasanya rek, kul habis.

Sengaja tulisan ini saya buat sebagai rasa simpati terhadap orang-orang yang terkena musibah dan mereka yang merasa dirinya paling sial karena musibah itu. Tabahlah, badai pasti berlalu. Merapi, Kelud dan konco-konconya yang laharnya dapat membunuh manusia akan meninggalkan tanah yang subur setelah letusan. Kesialan yang menimpa pasti ada hikmahnya. Menjadi orang yang sabar, tabah, dan tahan banting adalah contoh produk manusia yang dihasilkan dari kesialan.

Siapa contoh orang-orang yang tertimpa kesialan itu? Ya seperti saya inilah. Seluruh data saya yang tersimpan dalam hardisk musnah (sampai tulisan ini saya buat saya masih menganggapnya seperti itu) karena hardisk tersebut tidak terdeteksi atau tidak bisa dikenali. Saya sudah coba minta tolong jagoan komputer yang juga teman sekerja, pak Dian, ke reparasi komputer, ke jagoan komputer yang juga dosen IPB dan tetangga saya, pak Solah, mereka angkat tangan. Terpaksa saya beli hardisk baru dengan sengsara (karena harus ngutang sana-sini). Sebenarnya yang membuat saya sengsara adalah data-data saya itu. Masihkah bisa diselamatkan seluruh data berharga saya itu?

Begitu hardisk sudah diganti baru, e lha kok muncul kesialan baru. Ketika saya ngeset password di BIOS, rupanya ada tombol yang saya nggak sadar telah kepencet, sehingga begitu komputer dimatiin dan saya nyalain lagi password yang saya masukkan ditolak. Hasilnya, dengan sukses, komputer tidak bisa dibuka. Sampai sekarang! Rasanya komputer itu ingin saya tendang, saya kruwes-kruwes, saya banting, sampai hancur berantakan. Kalau komputernya hancur, malah jadi nggak punya komputer dong? Terus gimana coba?

Kalau saya diijinkan menyombongkan diri sebagai orang yang baik, maka saya akan tanya why bad things happen to good people (like me)?

Friday, October 19, 2007

Anda Muslim? Met Lebaran Kalo Gitu

Apapun aliran anda, entah yang ngikut lebaran Jum'at ato Sabtu, bahkan jika anda termasuk pengikut kelompok yang merayakan idul fitri hari Kamis seperti yang ada di Gowa, Gorontalo, maupun Padang sekalipun, saya ucapkan selamat hari raya idul fitri. Segala khilaf dan salah, mohon dimaafkan. Agak terlambat memang jika saya mengucapkannya sekarang, tetapi barangkali itu lebih baik daripada tidak. Seperti pepatah orang Jawa, "Better late than never."

Maklum saja. Itu semua karena saya jauh dari rumah, dari si kokom kesayangan. Inipun saya ketik di warnetnya STIE AMA Salatiga di sela waktu bersilaturahim dengan sanak sodara. Mumpung ada kesempatan. Walopun besuk (Sabtu, 20/10) saya dan bolo kurowo sudah balek ke Bogor, tapi nggak ada salahnya juga ngisi blog ini sekarang. Ya akhirnya berangkat deh berdua sama junior saya yang gede ke warnet, mencoba menyusun rangkaian kalimat sebagai ucapan silaturahim dalam rangka lebaran.

Lebaran ini, memang saya putuskan untuk mudik setelah dua lebaran kemarin tidak pulang. Bukan masalah enggan atau tidak peduli lagi dengan orang tua bila saya tidak mudik tiap tahun. Kalo nurutin lamanya perjalanan dan macet, memang malas untuk mudik. Tapi saat ini saya lebih merasa harus mudik karena sudah dua tahun lebih, kalo nggak salah, saya tidak ketemu dengan orang tua. Saya sudah kangen. Kangen semuanya, orang tua, teman, suasana kampung masa kecil, opornya emak, dll-dll.

Buat saya mudik itu bukan wajib hukumnya, tapi hanyalah sebuah pilihan. Sedangkan silaturahim dengan orang tua dan sanak sodara memang harus, tapi bukan berarti musti dilakukan di hari lebaran. Toh kalo untuk sungkem dengan orang tua tidak harus di hari raya, hari lainpun nggak ada bedanya. Ya toh? Tapi terserah anda ding. Jika anda ngotot harus di hari lebaran untuk sembah sujud ke orang tua, biar terasa afdol, dan untuk itulah anda ngeyel harus mudik di saat itu, ya... that's your choice. Saya nggak punya hak untuk ngatur anda.

Untuk sementara sampe ini dulu deh. Banyak pengalaman selama libur lebaran yang bisa diceritakan. Namun nantilah setelah tiba di Bogor lagi. Lagian, sekarang jadi mahal, harus ngeluarin duit, untuk sekedar ngonsep tulisan. Apalagi junior saya yang sudah SMP kelas 1 ini selalu ikut, ya sudah pasti tidak cukup hanya bermodal lima ribu perak. So, c u then. Titi dj, titi sandora, titi kadarsih, dan titi-titi yang laen.

Sekali lagi,
Sumunaring suryo enjang petak cinandra resik ing wardoyo, mangayu bagyo dinten riyadi 1 Syawal 1428 H, ngaturaken agunging samodro pangaksami lahir tuwin batos.

Monday, October 01, 2007

Jalan-jalan ke Sorga


Mau nggak diajak menikmati indah dan nyamannya sorga? I bet you, pasti bilang mau. Siapa sih yang tidak tertarik ke tempat yang dijanjikan oleh Sang Penguasa alam semesta ini bagi orang-orang muslih? Tapi, ada tapinya nih, syaratnya gampang-gampang susah. Gampang kalo sungguh-sungguh, susah jika setengah hati. Bukan masalah harus memiliki banyak duit. Kalo syaratnya uang, kasihan mereka yang kere. Nggak ada peluang buat mereka untuk menikmati sorga. Juga bukan pinter. Jika kepandaian menjadi syarat, gimana dengan yang bodoh bin tolol?

Syarat bisa jalan-jalan ke sorga gampang kok. Kalo kita mau masuk rumah orang, kan kita harus ijin dulu sama pemiliknya? Ya nggak? Jika tidak, ya berarti maling namanya. Nah andai kita ingin masuk sorga, berarti sama saja, kita harus atas seijin pemiliknya. Trus, gimana cara mendapatkan ijin? Ya ikuti saja segala perintahNya. Jalankan yang disuruh, hindari yang dilarangNya. Dah, itu saja. Bisa? Untuk menjawab bisa, gampang lah. Tapi bukan itu yang penting, justru yang wajib adalah action-nya, pelaksanaannya. Jangan seperti anggota NATO, no action talk only. Omong doang.

Anda mungkin tidak sependapat dengan saya. Bukan hanya sekedar menuruti perintah dong, tapi juga, bagaimana cara melakukannya. Ikhlas nggak, bener nggak dan lain-lain dan lain-lain. Barangkali itu yang ada di kepala anda. Boleh, boleh saja. Nggak ada yang melarang kok untuk berbeda. Justru dari keanekaragaman itu akan muncul harmoni. Anda akan ngeri sendiri kalo tubuh anda hidung semua. Jika diibaratkan bumi ini, akan jadi serem bila semua warna hitam semua. Apa-apa hitam. Yang sudah hitam jadi makin tidak kelihatan.

Lebaran yang mulai berjalan mendekat ini, banyak orang yang bersuka cita menyambutnya. Mereka akan jalan-jalan ke sorga. Sorga dunia. Sorga dalam bentuk rumah tinggal semasa kecil, sorga dalam wujud ngariung dengan keluarga yang lama tidak bersua, sorga yang berupa suasana desa asal yang tenang atau kota kelahiran yang hiruk-pikuk, dan bentuk-bentuk sorga lainnya. Atau barangkali sorga anda berupa soulmate yang lama tidak anda temui? Ibarat menuju sorga dalam arti yang sebenarnya, perjalanan yang dilakukan pun nanti isinya seneng melulu. penyebabnya karena mereka tahu, tujuan yang hendak dicapai merupakan sesuatu yang sekian lama dinanti-nanti untuk ditemui. Ketidaknyamanan yang terjadi selama dalam perjalanan tidak dirasakan. Segalanya serba menyenangkan. Semuanya jadi enak. Penyanyi Gombloh bilang, “Tahi kucing rasa coklat.” Doyan? HOEEKK!

Karena kebahagiaan yang dijanjikan dari jalan-jalan ke sorga dalam wujud mudik ini, orang mau mengorbankan segala yang dimiliki. Bahkan kalo perlu, apa yang bisa digadaikan, rela untuk dibawa ke kantor gadai agar bisa mendapatkan ongkos mudik. Bukan hanya uang yang akan dibawa pulang, tetek-bengek yang lain pun, yang kadang amat sangat merepotkan, mau-maunya dibawa juga. Jika kita lihat di layar tv, apa saja dibawa. Semua bekal yang ingin dibawa diupayakan ada. Pokoknya migrasi tahunan ini harus terwujud. Bila perlu, uang tabungan setahun dikorbankan.

Apakah ini salah? Buat orang lain mungkin ya, tapi bagi yang njalanin, mudik itu sebuah pilihan yang hukumnya bisa wajib. Meskipun dulu pernah ada anjuran dari pejabat pemerintah untuk tidak mudik dengan alasan-alasan yang terdengar logis, nyatanya bangsa kita ini tetap tidak mau ndengerin. Orang mau ketemu pinisepuh dan karuhun kok pake dihalangi dengan bernalar-nalar segala. Hasilnya, ya the show must go on. Apalagi jika dilihat makin gampangnya orang memperoleh kreditan motor sekarang, makin semangatlah mereka. Bahkan ada yang, terserah anda bilang curang atau pinter, ngambil kredit motor hanya untuk mudik. Jadi, hanya bayar uang muka. Setelah balik dari mudik, cicilan tidak dibayar sehingga motornya disita. Dan memang itu yang diharapkan. Lumayan kan, hanya dengan membayar dua ratus tiga ratus ribu sudah bisa mudik dengan keluarga plus make motor sampe sebulan. Jauh lebih murah bila dibandingkan tiket bis yang bisa sampe satu juta untuk empat orang sekali jalan. Kalo saya sendiri mah ogah. Itu cheating namanya.

Buat anda yang ada rencana mudik, barangkali perlu mempersiapkan dan mempertimbangkan segala sesuatu yang diperlukan. Keamanan, keselamatan, kesehatan, bekal, dan hal-hal penting lain yang pasti anda lebih tahu. Jangan sampe berangkatnya kita penuh keceriaan, pulangnya dilimpahi kedukaan. Begitu masuk rumah lagi, anda bingung karena uang sudah habis serta utang menumpuk. Jika itu yang terjadi, mungkin ada baiknya juga kita pertimbangkan lagi keputusan untuk mudik. Lebaran memang saat yang biasa digunakan untuk bersilaturahim. Rasanya nggak afdol kalo bermaaf-maafannya tidak di hari raya. Namun, jika aktifitas sosial itu bisa digantikan di waktu yang lain karena pertimbangan ongkos pulang yang lebih murah misalnya, mungkin pilihan itu lebih baik. Bagaimanapun juga, semua terserah anda. Kalo anda lebih memilih untuk memaksakan diri mudik meskipun anggaran tidak ada dengan pertimbangan cuma setahun sekali, ya monggo. Selamat mudik kalo begitu.

Ngomong-ngomong, jika acara pulang tahunan ini anda persiapkan dengan matang, anda sudah persiapan juga belum untuk jadwal pulang yang lain? Hlo, pulang ke mana lagi? Pulang ke kampung yang sesudah itu anda tidak akan pernah kembali lagi. Tempat yang namanya kampung akhirat. Kita begitu seriusnya mempersiapkan segala sesuatunya untuk mudik setiap lebaran. Namun, kadang-kadang kita nggak sadar kalo kita perlu juga mempersiapkan bekal untuk pulang ke kampung akhirat. Dan pulang yang satu ini sudah pasti akan kita semua jalani, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Kita nggak usah pusing-pusing harus menggadaikan barang untuk memperoleh uang buat ongkos. Uang tidak diperlukan dalam perjalanan yang satu ini. Yang pusing paling orang-orang yang kita tinggalkan. Buat kita yang nanti akan pergi, ada tiga hal yang perlu kita siapkan sebagai bekal nanti. Tiga hal itu adalah amal sodaqoh, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang akan selalu mendoakan kita. Dengan tiga bekal itu, insyaAllah jalan-jalan ke sorganya akan bener-bener kesampaian. Satu pertanyaan buat kita sekarang, yang mana dari ketiga itu yang sudah kita persiapkan?

Bagi yang sedang bersiap-siap untuk mudik, mulailah juga memikirkan persiapan untuk mudik ke kampung yang lain (akhirat). Oleh karena itu, serius lah menuntut ilmu bagi yang masih belajar dan kerja lah dengan tekun bagi yang sudah bekerja bak hidup ini untuk selamanya, dan beribadah lah seolah-olah kita akan mati besuk. Dengan demikian jalan-jalan kita ke sorga nanti, baik sorga berujud kampung halaman maupun kampung akhirat, bisa terasa menyenangkan.

Sebagai bekal untuk jalan-jalan ke sorga yang ada di kampung kelahiran anda, barangkali Stairway to Heaven-nya Led Zeppelin bisa menjadi teman yang menghibur sekaligus mengingatkan bahwa heaven itu ternyata punya jalan untuk mencapainya.


STAIRWAY TO HEAVEN
Led Zeppelin

There's a lady who's sure all that glitters is gold
And she's buying a stairway to heaven.
When she gets there she knows, if the stores are all closed
With a word she can get what she came for.
Ooh, ooh, and she's buying a stairway to heaven.

There's a sign on the wall but she wants to be sure
'Cause you know sometimes words have two meanings.
In a tree by the brook, there's a songbird who sings,
Sometimes all of our thoughts are misgiven.
Ooh, it makes me wonder,
Ooh, it makes me wonder.

There's a feeling I get when I look to the west,
And my spirit is crying for leaving.
In my thoughts I have seen rings of smoke through the trees,
And the voices of those who standing looking.
Ooh, it makes me wonder,
Ooh, it really makes me wonder.

And it's whispered that soon if we all call the tune
Then the piper will lead us to reason.
And a new day will dawn for those who stand long
And the forests will echo with laughter.

If there's a bustle in your hedgerow, don't be alarmed now,
It's just a spring clean for the May queen.
Yes, there are two paths you can go by, but in the long run
There's still time to change the road you're on.
And it makes me wonder.

Your head is humming and it won't go, in case you don't know,
The piper's calling you to join him,
Dear lady, can you hear the wind blow, and did you know
Your stairway lies on the whispering wind.

And as we wind on down the road
Our shadows taller than our soul.
There walks a lady we all know
Who shines white light and wants to show
How everything still turns to gold.
And if you listen very hard
The tune will come to you at last.
When all are one and one is all
To be a rock and not to roll.

And she's buying a stairway to heaven.

Sunday, September 30, 2007

STMJ

Doyan stmj? Itu tuh minuman yang terbuat dari susu telur madu dan jahe. Kalau suka, itu wajar, karena minuman yang bagus untuk kesehatan tersebut memang manis dan menyegarkan. Rasanya mirip dengan bansus, atau bandrek susu. Apalagi kalau diminum saat suhu udara dingin, terasa hangat di badan.

Akan tetapi, hati-hati dengan stmj yang satu ini. Barang yang satu ini bukan bangsanya minuman, tapi sebuah perilaku yang sering kita jumpai dalam kehidupan. Bisa jadi perilaku stmj ini dijalani oleh orang terdekat kita, bisa teman, tetangga, atau anggota keluarga kita. Atau mungkin malahan kita sendiri yang melakukannya.
Waktunya sholat, pergi ke masjid. Saat Ramadhan, puasa. Punya rejeki lebih, berinfaq. Pergi haji ketika mampu, serta menjalankan bentuk ibadah lainnya.

Namun demikian, selain menjalankan itu semua, juga melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan atau yang dilarang agama. Temennya pada mabuk minuman, ikut mabuk. Ada dangdutan, ikut nyawer. Di tv lagi rame bola, nggak ketinggalan ikut taruhan. Lihat pohon buah tetangga lagi berbuah, ikut menikmati tanpa ijin. Dan masih banyak perbuatan sejenis yang dilakoni.

Janganlah kita memiliki perilaku tersebut. Dua-duanya dijalani. Dua dunia yang bertolak belakang. Sayang kan kalau niat suci kita untuk beribadah jadi ternoda. Amal soleh yang kita jalani tidak ada nilainya. Ibarat orang mengambil air dengan saringan santan. Upaya sia-sia yang tidak menghasilkan apa-apa.

Bila anda berperilaku seperti hal tersebut, itulah yang dinamakan dengan stmj. Bukan susu telur madu jahe, tapi ‘sholat tetep, maksiat jalan terus’. Mau? Jangan dong.

Wednesday, September 26, 2007

Biar Miskin Asal Sombong

Hebat bener prinsip yang jadi judul di atas. Kalo anda punya prinsip seperti itu juga, ati-ati, there’s something wrong inside (in you). Meskipun aneh, menggelikan, nggak masuk akal, mau-maunya, gebleg (pake ‘g’ bukan ‘k’ krena saking mantebnya), kira-kira sebutan apa lagi ya pas untuk prinsip itu menurut anda?, nyatanya ada juga orang yang berprinsip ajaib seperti itu. Nggak tau kenapa bisa terjadi. Barangkali karena otaknya sudah tidak berfungsi lagi, ato bahasa Arabnya mengalami disorder wal disfunction. Wawahua’lambisowab.

Di bulan puasa ini, nggak ada salah dan ruginya ngomongin tentang sombong. Ini bukan ghibah lho. Tapi kalo anda menuduh saya seperti itu, ya... whatever you say lah. Cuman, cuman nih, jangan salahin saya kalo akibatnya anda nggak mau mbaca tulisan ini, terus jadi nggak ngerti (sok amat ya yang nulis ini) apa itu sombong and-so-on-and-so-on. Bahasa sopirnya, resiko ditanggung penumpang. Dalam hatinya, sopir bilang, “Emang enak jadi penumpang”.

Sombong ini merupakan salah satu penyakit hati yang amat merugikan. Banyak efek negatif yang dapat ditimbulkan olehnya. Dari yang sekedar dijauhin orang sampe dipukulin massa. Lha gimana tidak dijauhin kalo setiap tampil selalu menyombongkan segala yang dia miliki. Pun gimana masyarakat nggak sebel sampai ujung-ujungnya menjadi muntab (marah banget) dan akhirnya nggebukin si sombong kalo setiap ada hanya kecongkakan saja yang ditampilkan, baik omongan maupun tindakan. Kalo itu yang terjadi, ya bisa jadi banyak orang akan bersyukur. Nyukurin atas nasibnya. Sokor lu, sokor lu, rasain lu... be-gi-tu-lah bunyinya.

Emang, banyak hal yang dapat memicu munculnya penyakit hati ini. Dari segala yang kita miliki, kalo tidak waspada, bisa saja akan menjadikan kita orang yang sombong. Pengen contoh? Gampang. Banda misalnya. Eh, banda itu bahasa Indonesia bukan sih? Maksud saya dengan banda di sini ni kekayaan. Percaya nggak kalo kaya itu bisa bikin sombong? So pasti lah. Orang kaya monyet aja bisa sombong. Buktinya, ada sinetron yang tokohnya mirip monyet, dan dia bangga main sinetron (ya iya lah, bukan karena kaya monyet yang dibanggakan, tapi bangga karena menjadi pemain sinetron. Jaka sembung main palu, nggak nyambung deh lu). Tapi emang bener, percayalah sama saya. Kalo kekayaan yang kita miliki tidak kita gunakan dengan sebenar-benarnya, ya kesombonganlah yang akan muncul. Apalagi kalo anda terlanjur terlahir dari orang yang dari sononya sudah terlanjur kaya dan susah miskin, makin rentan menjadi sombong karena harta yang dimiliki itu. Anda jadi makin susah bisa merasakan susahnya jadi orang susah yang serba susah yang mau ngapa-ngapain susah. Bener-bener susah.

Kepandaian juga bisa menjadi contoh lain yang menjadi penyebab munculnya sifat sombong. Banyak, eh ada, orang pandai yang seperti minyak dengan air kalo berhadapan dengan orang awam. Alergi kalo harus berinteraksi dengan masyarakat yang di mata dia bukan levelnya karena kebodohannya. Akibat kesombongannya, sori-sori aja kalo harus berhubungan dengan orang-orang bodoh itu, gitu katanya. Bagi yang bukan orang pinter, apa nggak menyakitkan kelakuan kayak gitu? Makanya, kalo anda pinter, jadilah seperti padi. Ilmu padi itu ilmunya orang-orang cerdik pandai yang arif bijaksana. Makin berisi, makin menunduklah itu padi. Makin pinter, makin merendahlah diri orang pinter itu. Dia tidak mau menyombongkan dengan pengetahuan yang dimiliki meskipun, misalnya, hanya dia pemilik satu-satunya di dunia ini. Tuh, apa nggak hebat.

Keturunan (ningrat misalnya), anak, jabatan, negara asal, dan masih banyak lagi, silakan didaftar sendiri, adalah contoh-contoh lain yang bisa menjadi bensin bagi api kesombongan yang ada dalam hati ini. Jadi, be careful guys. Gara-gara sombong juga, iblis diusir dari surga. Merasa lebih baik karena diciptakan dari api dibandingkan Adam a.s. yang dari tanah, iblis menjadi sombong dan tidak sudi bersujud di hadapan nabi utusan Allah ini. Karena kesombongannya, iblis membangkang Sang Penciptanya. Dan, terusirlah dia dari surga dan segala kenikmatannya. Alangkah hinanya. Kalo anda Islam, ato pengen tau tentang nasib iblis itu, coba deh buka Al Qur’an surat ash-Shad ayat 75-78. Nggak usahlah terusir dari surga, diusir dari rumah saja bisa terasa seperti masuk neraka. Betul?

Mumpung masih Ramadhan. Mumpung masih masuk bulan diskon, dimana segala ibadah yang dilakukan akan berlipat-lipat pahalanya, segeralah buang jauh-jauh segala sifat sombol baik yang baru berupa kecambah maupun (apalagi) yang sudah berbentuk pohon kesombongan yang sudah berakar kuat dalam hati kita. Saat ini, puasa sudah masuk ke sepertiga yang kedua. Apa artinya? Berarti kita masuk periode magfirah atau pengampunan setelah melewati periode 10 hari pertama yang penuh rahmat. Mohonlah ampun kepada sang Khaliq atas segala unsur sombong yang ada dalam hati. Dengan demikian, hati ini jadi fitri lagi, jadi bersih kembali. Sehingga, 10 hari yang ketiga atau periode pembebasan dari neraka benar-benar bisa kita masuki dengan sukses.

So what? Ya kembalilah ke jalan yang benar. Jadilah orang yang rendah hati. Nggak ada gunanya bersifat dan bersikap sombong. Masih mending sombong kalo ada dan emang pantas untuk disombongkan meskipun nggak baik juga menyombongkan yang baik-baik. Namanya juga sombong, sekalipun yang disombongkan itu sesuatu yang baik, ya tetep nggak baik juga.

Boleh-boleh saja berbangga dengan segala yang kita miliki. Asal tidak berlebihan. Sebab, tipis sekali batas antara bangga dengan sombong. Kalo tidak hati-hati, porsi bangga itu bisa melewati garis dan masuk ke dalam sebuah kesombongan. Semakin tinggi ilmu dan iman seseorang, semakin halus dan tersembunyi rasa sombongnya. Lain halnya dengan orang awam yang sombong, lebih mudah terdeteksi karena kesombongan mereka biasa diucapkan secara lahir.

Begitu juga, bolehlah kita membanggakan harta yang kita miliki. Kita bangga punya kekayaan sehingga lebih banyak kesempatan (dalam harta) untuk beramal dibandingkan orang-orang kere yang ada di sekeliling kita. Cukup. Cukup sampai sebatas itu saja. Tapi kalo anda miskin seperti saya ini, ya harap tau dirilah. Jangan sampai kita dengar perkataan orang mengenai diri kita, “Hla ini? Sudah miskin, sombong lagi. T-e-r-l-a-l-u”. Dan, jangan pernah, berkeinginan pun jangan, punya prinsip ‘biar miskin asal sombong’. Kalo anda nekad, berarti anda, T-E-R-L-A-L-U.