Sunday, September 30, 2007

STMJ

Doyan stmj? Itu tuh minuman yang terbuat dari susu telur madu dan jahe. Kalau suka, itu wajar, karena minuman yang bagus untuk kesehatan tersebut memang manis dan menyegarkan. Rasanya mirip dengan bansus, atau bandrek susu. Apalagi kalau diminum saat suhu udara dingin, terasa hangat di badan.

Akan tetapi, hati-hati dengan stmj yang satu ini. Barang yang satu ini bukan bangsanya minuman, tapi sebuah perilaku yang sering kita jumpai dalam kehidupan. Bisa jadi perilaku stmj ini dijalani oleh orang terdekat kita, bisa teman, tetangga, atau anggota keluarga kita. Atau mungkin malahan kita sendiri yang melakukannya.
Waktunya sholat, pergi ke masjid. Saat Ramadhan, puasa. Punya rejeki lebih, berinfaq. Pergi haji ketika mampu, serta menjalankan bentuk ibadah lainnya.

Namun demikian, selain menjalankan itu semua, juga melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan atau yang dilarang agama. Temennya pada mabuk minuman, ikut mabuk. Ada dangdutan, ikut nyawer. Di tv lagi rame bola, nggak ketinggalan ikut taruhan. Lihat pohon buah tetangga lagi berbuah, ikut menikmati tanpa ijin. Dan masih banyak perbuatan sejenis yang dilakoni.

Janganlah kita memiliki perilaku tersebut. Dua-duanya dijalani. Dua dunia yang bertolak belakang. Sayang kan kalau niat suci kita untuk beribadah jadi ternoda. Amal soleh yang kita jalani tidak ada nilainya. Ibarat orang mengambil air dengan saringan santan. Upaya sia-sia yang tidak menghasilkan apa-apa.

Bila anda berperilaku seperti hal tersebut, itulah yang dinamakan dengan stmj. Bukan susu telur madu jahe, tapi ‘sholat tetep, maksiat jalan terus’. Mau? Jangan dong.

Wednesday, September 26, 2007

Biar Miskin Asal Sombong

Hebat bener prinsip yang jadi judul di atas. Kalo anda punya prinsip seperti itu juga, ati-ati, there’s something wrong inside (in you). Meskipun aneh, menggelikan, nggak masuk akal, mau-maunya, gebleg (pake ‘g’ bukan ‘k’ krena saking mantebnya), kira-kira sebutan apa lagi ya pas untuk prinsip itu menurut anda?, nyatanya ada juga orang yang berprinsip ajaib seperti itu. Nggak tau kenapa bisa terjadi. Barangkali karena otaknya sudah tidak berfungsi lagi, ato bahasa Arabnya mengalami disorder wal disfunction. Wawahua’lambisowab.

Di bulan puasa ini, nggak ada salah dan ruginya ngomongin tentang sombong. Ini bukan ghibah lho. Tapi kalo anda menuduh saya seperti itu, ya... whatever you say lah. Cuman, cuman nih, jangan salahin saya kalo akibatnya anda nggak mau mbaca tulisan ini, terus jadi nggak ngerti (sok amat ya yang nulis ini) apa itu sombong and-so-on-and-so-on. Bahasa sopirnya, resiko ditanggung penumpang. Dalam hatinya, sopir bilang, “Emang enak jadi penumpang”.

Sombong ini merupakan salah satu penyakit hati yang amat merugikan. Banyak efek negatif yang dapat ditimbulkan olehnya. Dari yang sekedar dijauhin orang sampe dipukulin massa. Lha gimana tidak dijauhin kalo setiap tampil selalu menyombongkan segala yang dia miliki. Pun gimana masyarakat nggak sebel sampai ujung-ujungnya menjadi muntab (marah banget) dan akhirnya nggebukin si sombong kalo setiap ada hanya kecongkakan saja yang ditampilkan, baik omongan maupun tindakan. Kalo itu yang terjadi, ya bisa jadi banyak orang akan bersyukur. Nyukurin atas nasibnya. Sokor lu, sokor lu, rasain lu... be-gi-tu-lah bunyinya.

Emang, banyak hal yang dapat memicu munculnya penyakit hati ini. Dari segala yang kita miliki, kalo tidak waspada, bisa saja akan menjadikan kita orang yang sombong. Pengen contoh? Gampang. Banda misalnya. Eh, banda itu bahasa Indonesia bukan sih? Maksud saya dengan banda di sini ni kekayaan. Percaya nggak kalo kaya itu bisa bikin sombong? So pasti lah. Orang kaya monyet aja bisa sombong. Buktinya, ada sinetron yang tokohnya mirip monyet, dan dia bangga main sinetron (ya iya lah, bukan karena kaya monyet yang dibanggakan, tapi bangga karena menjadi pemain sinetron. Jaka sembung main palu, nggak nyambung deh lu). Tapi emang bener, percayalah sama saya. Kalo kekayaan yang kita miliki tidak kita gunakan dengan sebenar-benarnya, ya kesombonganlah yang akan muncul. Apalagi kalo anda terlanjur terlahir dari orang yang dari sononya sudah terlanjur kaya dan susah miskin, makin rentan menjadi sombong karena harta yang dimiliki itu. Anda jadi makin susah bisa merasakan susahnya jadi orang susah yang serba susah yang mau ngapa-ngapain susah. Bener-bener susah.

Kepandaian juga bisa menjadi contoh lain yang menjadi penyebab munculnya sifat sombong. Banyak, eh ada, orang pandai yang seperti minyak dengan air kalo berhadapan dengan orang awam. Alergi kalo harus berinteraksi dengan masyarakat yang di mata dia bukan levelnya karena kebodohannya. Akibat kesombongannya, sori-sori aja kalo harus berhubungan dengan orang-orang bodoh itu, gitu katanya. Bagi yang bukan orang pinter, apa nggak menyakitkan kelakuan kayak gitu? Makanya, kalo anda pinter, jadilah seperti padi. Ilmu padi itu ilmunya orang-orang cerdik pandai yang arif bijaksana. Makin berisi, makin menunduklah itu padi. Makin pinter, makin merendahlah diri orang pinter itu. Dia tidak mau menyombongkan dengan pengetahuan yang dimiliki meskipun, misalnya, hanya dia pemilik satu-satunya di dunia ini. Tuh, apa nggak hebat.

Keturunan (ningrat misalnya), anak, jabatan, negara asal, dan masih banyak lagi, silakan didaftar sendiri, adalah contoh-contoh lain yang bisa menjadi bensin bagi api kesombongan yang ada dalam hati ini. Jadi, be careful guys. Gara-gara sombong juga, iblis diusir dari surga. Merasa lebih baik karena diciptakan dari api dibandingkan Adam a.s. yang dari tanah, iblis menjadi sombong dan tidak sudi bersujud di hadapan nabi utusan Allah ini. Karena kesombongannya, iblis membangkang Sang Penciptanya. Dan, terusirlah dia dari surga dan segala kenikmatannya. Alangkah hinanya. Kalo anda Islam, ato pengen tau tentang nasib iblis itu, coba deh buka Al Qur’an surat ash-Shad ayat 75-78. Nggak usahlah terusir dari surga, diusir dari rumah saja bisa terasa seperti masuk neraka. Betul?

Mumpung masih Ramadhan. Mumpung masih masuk bulan diskon, dimana segala ibadah yang dilakukan akan berlipat-lipat pahalanya, segeralah buang jauh-jauh segala sifat sombol baik yang baru berupa kecambah maupun (apalagi) yang sudah berbentuk pohon kesombongan yang sudah berakar kuat dalam hati kita. Saat ini, puasa sudah masuk ke sepertiga yang kedua. Apa artinya? Berarti kita masuk periode magfirah atau pengampunan setelah melewati periode 10 hari pertama yang penuh rahmat. Mohonlah ampun kepada sang Khaliq atas segala unsur sombong yang ada dalam hati. Dengan demikian, hati ini jadi fitri lagi, jadi bersih kembali. Sehingga, 10 hari yang ketiga atau periode pembebasan dari neraka benar-benar bisa kita masuki dengan sukses.

So what? Ya kembalilah ke jalan yang benar. Jadilah orang yang rendah hati. Nggak ada gunanya bersifat dan bersikap sombong. Masih mending sombong kalo ada dan emang pantas untuk disombongkan meskipun nggak baik juga menyombongkan yang baik-baik. Namanya juga sombong, sekalipun yang disombongkan itu sesuatu yang baik, ya tetep nggak baik juga.

Boleh-boleh saja berbangga dengan segala yang kita miliki. Asal tidak berlebihan. Sebab, tipis sekali batas antara bangga dengan sombong. Kalo tidak hati-hati, porsi bangga itu bisa melewati garis dan masuk ke dalam sebuah kesombongan. Semakin tinggi ilmu dan iman seseorang, semakin halus dan tersembunyi rasa sombongnya. Lain halnya dengan orang awam yang sombong, lebih mudah terdeteksi karena kesombongan mereka biasa diucapkan secara lahir.

Begitu juga, bolehlah kita membanggakan harta yang kita miliki. Kita bangga punya kekayaan sehingga lebih banyak kesempatan (dalam harta) untuk beramal dibandingkan orang-orang kere yang ada di sekeliling kita. Cukup. Cukup sampai sebatas itu saja. Tapi kalo anda miskin seperti saya ini, ya harap tau dirilah. Jangan sampai kita dengar perkataan orang mengenai diri kita, “Hla ini? Sudah miskin, sombong lagi. T-e-r-l-a-l-u”. Dan, jangan pernah, berkeinginan pun jangan, punya prinsip ‘biar miskin asal sombong’. Kalo anda nekad, berarti anda, T-E-R-L-A-L-U.

Thursday, September 20, 2007

Pondok kok Halimun

Buat yang nunggu-nunggu cerita ini, sori, baru sekarang diterbitkan. Maklum, pengen memberi kesan terlihat sibuk (sok banget ya). Meskipun terjadinya Agustus kemarin, saya rasa masih hot juga. Apalagi untuk mereka yang suka jalan-jalan dan terutama yang terlibat langsung dalam kisah ini. Bener nggak? Kalo nggak awas, saya tunggu di perempatan!

Kenapa obyek tersebut dinamakan Pondok Halimun (PH)? Pondok kok halimun. Apa pondoknya terbuat dari halimun? Apa halimunnya suka mondok? Ato pondoknya mirip halimun? Mungkin ada pondok yang selalu diselimuti halimun? Barangkali pondoknya punya halaman penuh limun? Idih belibet banget ya? (nggak juga!) Tapi yang pasti, emang itulah yang membuat saya penasaran dan pengen nyambangin tempat itu. Dan akhirnya keinginan itu bisa terlaksana pada 4-5 Agustus 2007 kemarin.

Perjalanannya sendiri dimulai 3 Agustus. Sesuai rencana, yang pengen ikut kumpul di BEC. Kali ini sengaja berangkat sore karena mau nginep dulu di rumah Junot (Sukabumi). Jam 16.35 wib akhirnya kami berangkat. Peserta yang ikut saya, Danang, Junot, Viena serta dua temennya Ardi dan Ray.

Setelah turun dari angkot 03 di depan Hero, kami menunggu Idan dulu sebelum cabut naik angkutan setan (meskipun kami bukan gerombolan setan). Angkutan setan ato sering disingkat angset ini adalah kendaraan umum jenis Colt L300 yang pengemudinya suka ngebut gila-gilaan mirip setan, seolah semua pedal yang ada di bawah kakinya pedal gas semua. Emang setan suka ngebut ya? Tak tau lah. Begitu Idan yang tidak edan ini nyampe dari Jakarta, kami langsung naik angset ke Sukabumi. Saat itu jam 17.45 wib.

Saya lebih banyak bengong dan ndengerin obrolan mereka di angkot sambil menikmati perjalanan malam. Keuntungan jalan malam selain tidak semacet kalo siang, juga tidak panas. Jam 19.50 angset saya melewati pasar Cisaat. Ternyata dari pertigaan pasar itu, dekat kantor polisi, arah menuju Situgunung. Oo... di situ toh tempatnya Situgunung. Kata penumpang lain yang ada di angset, dari pertigaan itu ke Situgunung angkotnya hanya Rp. 2000. Cukup murah. Saya sering (nggak banget) dengar nama Situgunung tapi nggak tau di mana tempatnya. Sekarang sudah tahu, dan, tunggu kedatanganku Situgunung. I’ll visit you someday cieee...

Nggak lama kemudian angset masuk kota Sukabumi. Cisaat emang pinggiran kotanya penggemar fanatik saya Desy Ratnasari ini (bo’ong ding). Kami turun di depan gedung perkantoran bertingkat (tauk lupa namanya). Dari situ masih harus berjalan lagi melewati mesjid agung kemudian alun-alun untuk menuju depan superkampret Yogya yang dekat apotik Kimia Farma. Saya lihat jam tangan saya menunjukkan pukul 20.10 wib sebelum naik angkot Selabintana ke rumah Junot. Rumah dia memang arah ke obyek wisata itu. Dan kebun teh Selabintana merupakan salah satu jalur masuk menuju Pondok Halimun. Hah? Pondok Halimun? (*megangin kedua pipi, mulut ngangap, mata melotot, muka mupeng*). Hanya memerlukan waktu limabelas menit dan ongkos Rp. 2000 untuk sampe ke rumah Junot. Jam 20.25 wib sudah nyampe ke rumah dia. Jarak Sukabumi sampai ke Selabintana sendiri 7 km, dari Selabintana ke PH 2 km.

Kedatangan kami disambut keluarga besar Junot, teh manis panas, makanan kecil dan makan besar. Baik bener ya. Nggak ada cerita mandi, paling cuci muka doang. Sapa yang mo mandi malam-malam di daerah yang dingin. Situ mau? Rumah Junot ada di desa Selawi Tiga ato kadang disebut Kerawang. Saya nggak mau tau kenapa kok namanya bisa dua gitu (lagian sapa yang nanyain?). Setelah ngembat segala yang disuguhkan, sholat, dan ngobrol bentar, saya berangkat tidur. Badan harus fit untuk persiapan perjalanan panjang esok hari.

Paginya, kejutan menarik telah menanti. Sepiring kue tradisional dihidangkan untuk menemani hangatnya teh nasgithel. Tau nggak artinya nasgithel? Saya nggak nanya situ yang orang Eropa eh Jawa! Nasgithel itu artinya panas, manis dan kental. Sebenarnya sih teh yang disuguhkan tidak kental-kental amat. Sengaja, agar lebih mendramatisir, saya sebut aja nasgithel. Balik ke kue tradisional. Waktu saya tanya apa nama kue tersebut, ternyata eksotik bener (sebenarnya apa sih arti eksotik?) terdengar di telinga saya, d-o-d-o-n-g-k-a-l. Tampilannya juga seksi banget, putih mulus dengan semburat coklat tua (yang ternyata gula jawa) dimana-mana, ditambah dengan taburan kelapa parut yang sudah dikupas kulitnya. Hmmm... delisies maaannn. Rasanya sendiri mirip-mirip kue putu. Tapi, karena tampilannya yang menarik, kue ini poinnya setingkat lebih tinggi dan rasanya, mak nyuus.

Perut kami semua full setelah ngembat habis dodongkal (yang di kepala saya kok kemudian muncul kata dongok dan dongkol) dan dilanjutkan dengan main course sarapan yang sebenar-benarnya. Nasi dan segala lauk pauknya. Acara dilanjutkan dengan merapikan segala perbekalan, bersiap-siap berangkat ke PH.

4 Agustus 2007, jam 8.35 wib, berangkat dari rumah Junot menuju Selabintana dengan angkot. Cuma perlu lima menit untuk sampe tujuan. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak bebatuan masuk ke kebun teh. Sebagaimana kebun teh yang lain, hamparan pepohonan teh menghijau yang ada di setiap ujung pandangan sungguh menyejukkan. Teriknya sinar matahari pagi tidak begitu terasa karenanya. Meskipun jalannya berkelok dan bercabang-cabang, saya nggak khawatir tersesat. Ada orang lokal yang menjadi guide saya. Ya si Junot itu. Untung ada dia. Kalo nggak, bisa jadi saya dan temen-temen yang lain akan muter-muter sampe celeng di kebun teh yang maha luas itu. Makasih Junot. Meskipun kayaknya kamu jarang mandi, tapi kamu baik hati.

Berkat pengalaman sang guide juga, perjalanan menyusuri kebun dapat diselesaikan dengan sukses. Kami sempat beberapa kali istirahat setelah jalan beberapa saat. Menikmati hijaunya pemandangan, menghirup segarnya udara pegunungan, dan mengambil gambar adalah kegiatan yang kami lakukan saat istirahat. Kapan lagi bisa memanjakan mata dengan warna hijau menyegarkan, menjejali paru-paru sepuas-puasnya dengan membuka hidung selebar-lebarnya saat menghirup oksigen yang jauh dari polusi knalpot, dan jadi selebriti dadakan meniru pose artis idola saat difoto. Di tengah kebun teh yang habis dipangkas, dan duduk di atas pohon teh yang rantingnya tajam-tajam sehingga membuat kami meringis menahan sakit. Puas dah.

Pukul 10.30 wib, berarti setelah kira-kira selama 1 jam 50 menit menyusuri kebun teh, akhirnya kami sampai di bibir hutan. Sebelum masuk ke dalamnya, kami sempatkan istirahat sambil merapikan bawaan. Perjalanan masuk hutan lebih menyenangkan lagi. Beda saat jalan di tengah kebun teh tadi, kali ini kepala kami dipayungi rimbunnya pepohonan yang menjulang. Adem rasanya. Apalagi jalannya berupa batu yang disusun rata dan rapi. Namun demikian, saya lebih senang kalo jalannya berupa tanah liat, pake becek dan bekas dikorek-korek babi hutan juga boleh.

Duapuluh lima menit kemudian sampailah di pertigaan yang ada pos penjagaan. Dari pertigaan itu kalo ke kiri menuju camping ground, yang belok kanan ke curug Cibeureum. Seperti biasa, mumpung ketemu tempat buat nge-break (istirahat), beban yang nempel terus di punggung kayak pacet segera saya turunkan. Punggung yang mulai bengkok segera saya luruskan lagi. Lumayan juga bawa-bawa carrier yang beratnya ada 15 kiloan. Setelah acara lapor dan bayar tiket masuk, kesempatan ini saya gunakan mengorek informasi dari petugas jaga. Rupanya, penyedia yang juga pengurus bumi perkemahan di PH lebih dari satu. Mereka yang ngapling-ngapling gunungnya rakyat Indonesia adalah:

1. Taman Nasional Gn. Gede-Pangrango sendiri,
2. Cipelang yang milik Perum Perhutani,
3. Kabayan yang dikelola penduduk setempat,
4. Goal Para, juga dikelola orang lokal,
5. Elang Jawa, lokal juga,
6. Bumi Perkemahan Diparda (kalo nggak salah Dinas Pariwisata Daerah deh).

Sekarang tinggal pilih mau yang mana. Cuma jangan heran kalo bingung nentuin bates-batesnya. Kami sendiri sempat diusir. Katanya tempat yang tadinya mau kami pake buat ngecamp masuk wilayah mereka. Untungnya tenda belum sempat kami bongkar dan dirikan.

Ongkos yang harus dibayar di pos jaga ada biaya berkemah Rp. 3500 /malam/orang, Rp. 3000 untuk ke curug Cibeureum, dan Rp. 4500 untuk paket combo (camping semalem dan ke curug). Karena kami ingin camping dan lihat curug juga, maka paket combo itulah yang kami bayar. Setelah uang dibayarkan, baru saya mikir kenapa mesti milih combo ya. Emang ketahuan apa kalo misalnya hanya bayar untuk tiket curug saja tanpa bayar yang untuk berkemah? Untungnya bisikan setan itu tidak saya layani, sebab ternyata paginya setan eh petugasnya lewat dekat tempat kami berkemah.

Di pos itu kami bertemu juga dengan rombongan lain dari Jakarta. Nggak tau Jakarta mana. Dan kami foto bareng-bareng di depan pos buat kenangan. Lumayan, nambah kenalan. Sapa tahu nanti pas perlu nyari utangan, sudah ada calon yang bisa dijadiin korban. Setelah jepret sana jepret sini, cari pose yang pas, acara kemudian dilanjutkan dengan jalan ke curug Cibeureum. Agar tidak terlalu berat, semua barang kecuali kamera dan tas pinggang isi uang yang tidak seberapa dititipkan di pos. Berangkat ke curug tepat jam 10.55 wib.

Jalanan ke curug sama seperti tadi saat menuju ke pos, bebatuan disusun rapi, berkelok, dan naik turun. Cukuplah buat ngeluarin keringat. Masih mending beban berat sudah ditinggal di pos sehingga langkah kaki ini agak cepat tapi santai. Jam 11.25 wib curug sudah di depan mata. Curug itu terlihat menjulang. Ketinggiannya mencapai 15 meter. Tempat di sekitar jatuhnya air diselimuti uap air yang terbentuk dari air curug yang terhembus angin. Akibatnya, udara jadi terasa dingin. Pengunjung yang datang pada mandi, termasuk rombongan mahasiswa IPDN, seolah-olah tidak merasakan dinginnya air. Rupanya, kecuali saya dan Viena, yang lain juga tergoda untuk masuk ke air mencoba kesaktian dengan menyerahkan kepala dan punggungnya kejatuhan air terjun. Saya sendiri lebih memilih menikmati cilok (aci dicolok) isi daging ayam dan ikan, makanan mirip baso, yang hangat dan baunya sangat merangsang. Ada penjualnya di dekat situ yang sabar tapi pasti menunggu calon pembeli. Biarin aja yang lain berdingin-dingin dengan main air, saya berhangat-hangat dengan menyantap cilok yang baru diangkat dari panci.

Pulang dari curug, nggak lupa kami berfoto-fotoan sepanjang jalan. Harap maklum saja, sebagian (ato semua?) dari kami termasuk golongan narsis. Sebagai orang yang peduli lingkungan, kami juga coba memunguti sampah-sampah yang dibuang sembarangan dan dikumpulkan di tong sampah dekat pos penjagaan. Saat mengumpulkan sampah itu, saya nemu buah yang sudah kering sebesar buah rambutan dan bentuknya juga mirip. Bedanya adalah rambutnya keras dan tajam banget. Karena penasaran, saya bawa buah duri landak itu. Saat sampe di pos saya tanyakan ke petugas dan namanya ternyata buah saninten. Konon buah itu yang dikonsumsi sebagai pengganti beras oleh orang-orang Indonesia yang lari ke dalam hutan saat penjajahan Jepang. Katanya sih isinya mirip sagu. Sayangnya buah saninten yang saya bawa sudah kering dan tidak ada isinya.

Sampai di pos lagi jam 13.00 wib. Barang-barang yang tadinya dititipkan, kami ambil kembali. Selesai beres-beres dan setelah istirahat sebentar, juga tidak lupa mengucapkan terima kasih, kami jalan lagi menuju camping ground. Sekarang, jalur yang ke arah kiri yang diambil. Melalui pemilahan dan pemilihan tempat, dua puluh menit kemudian kami putuskan mendirikan tenda di pinggir sungai dekat camping ground III. Sebenarnya yang terjadi kenapa akhirnya kami memilih tempat itu adalah karena di tempat sebelumnya kami mendirikan tenda ketemu dengan teman lama. Pacet. Meskipun cuma dua ekor yang kelihatan, tapi itu sudah cukup untuk memutuskan pindah tempat. Saya nggak rela dan nggak ikhlas harus donor darah di tengah hutan. Bukan masalah takut terhadap pacet, tapi geli ato ada ungkapan yang pas dalam bahasa Sunda, geuleuh, itu lho. Udah kulitnya basah mengkilat, berlendir, bisa memanjang-memendek, ngisep darah lagi.

Pembagian tugas dimulai. Sebagian nyari kayu bakar. Satu-satunya cewek, Viena, nyiapin makan. Sebagian yang lain, termasuk saya, masang tenda. Menjelang petang, semua sudah siap. Kayu bakar untuk api unggun nanti malam sudah tersedia. Mi instan pengganjal perut sudah siap. Dua tenda juga sudah berdiri semua. Tinggal apa lagi? Kami main kartu untuk membunuh waktu. Malam yang senyap kami habiskan dengan bersenang-senang. Badan yang jadi bau sangit karena ngangkangin api unggun nggak kami pedulikan. Kunang-kunang juga nggak peduli tampaknya. Mereka berterbangan di sekeliling tenda. Jika langit di atas kami dihiasi dengan taburan bintang, pekatnya malam di sekeliling tenda juga penuh dengan kerlap-kerlip bintang berujud kunang-kunang. Alunan musik dari gemericik air sungai di samping tenda menjadi latar indahnya malam bertabur bintang dan kunang-kunang.

5 Agustus 2007 pagi menjelang. Jam baru menunjukkan pukul 4.30 wib. Udara masih dingin. Saya keluar tenda dan berkeliling di sekitarnya untuk mengumpulkan kayu bakar. Bara sisa api unggun semalam masih ada. Untuk menjadikannya api, saya perlu kayu bakar lagi. Rupanya hangatnya api menarik orang-orang yang masih tidur pada bangun dan mendekat mengelilingi api unggun. Dengan mata yang sipit kurang tidur dan muka kucel, kami mengadakan upacara menghangatkan badan.

Sarapan pagi sudah tersaji. Biasa, menu wajib saat camping, mi instan. Kalo sekedar ngganjal perut, cukuplah dengan sepiring mi, sekerat roti, dan secangkir teh nasgithel. Hari ini kami mau pulang. Sudah puas semaleman ngeringkuk dalam sleeping bag yang hangat dan meskipun tanpa mimpi indah. Tenda dan segala macemnya diberesin. Semuanya masuk ke dalam tempatnya masing-masing. Backpack dan carrier sudah gendut lagi terisi barang-barang yang harus dibawa pulang. Kami, kayaknya sudah menjadi ritual, foto-fotoan dulu sebelum meninggalkan lokasi.

Jam 10.20 wib kami berangkat pulang. Kami tidak balik lagi ke jalan yang kemarin dilewati. Sekarang ke arah pintu gerbang PH. Dua puluh lima menit kemudian kami sudah sampai di pintu gerbang. Dari situ mesti jalan lagi sekitar dua/tiga menit untuk sampai ke lapangan parkir. Banyak anak-anak smp bergerombol menunggu mobil jemputan. Rupanya semalem mereka mengadakan persami (perkemahan Sabtu malam Minggu) dan sekarang waktunya pulang. Banyak angkot warna merah tapi mereka sudah dipesan oleh anak-anak smp itu. Daripada nunggu yang nggak pasti, kami putuskan untuk jalan. Kembali kami jalan di tengah kebun teh, namun sekarang jalannya sudah diaspal. Jalur itu emang untuk kendaraan yang mau ke PH. Kami istirahat di dekat pos jaga yang menyetop kendaraan yang mau masuk PH, setelah jalan selama satu jam.

Nggak lama kemudian ada mobil bak terbuka yang menurunkan orang-orang kampung yang akan main sepak bola. Entah dimana lapangannya. Junot melobi sopirnya dan, dia mau nganterin kami sampai ke pertigaan jalan yang dilewati angkot Selabintana-Sukabumi, yang dikenal dengan pertigaan Warnasari, Nyang Kokot (mungkin nama orang di dekat pertigaan itu), atau belokan Warnasari. Kami saweran seribuan untuk diberikan pak sopir sebagai bentuk terima kasih karena telah bersedia kami tumpangi (mobilnya maksudnya). Dari situ kemudian nyambung angkot jurusan Sukabumi. Junot turun dekat rumahnya dan kami bablas ke Sukabumi kota yang selanjutnya disambung dengan angset menuju Bogor. Tapi tunggu bentar, sebelum pulang ke Bogor, kami melampiaskan dendam dulu di restoran Padang dekat alun-alun dan sholat lohor di masjid agung.

Jam 13.00 wib kami naik angset, jam 15.10 wib tiba dengan selamat di terminal Baranangsiang. Bogoooorrrrrrrrrr.... wie hom.

Saturday, September 15, 2007

Camping Nyasar

Pernah mengalami camping nyasar nggak? Saya pernah. Dan itu terjadi belum lama. Kenapa saya katakan camping nyasar, karena tidak sesuai dengan tujuan awal sebelumnya.

Awalnya saya mau mengajak camping anak-anak dan maknya di Curug Cilember. Mumpung mereka pada libur sekolah. Saya bahkan melakukan survei untuk memastikan pada saat nanti acara bisa berjalan dengan baik. Tapi yang terjadi benar-benar di luar perhitungan. Dikatakan seneng ya seneng, dibilang menjengkelkan ya bisa saja kalau mau dibuat jengkel. Namun buat saya, apapun yang terjadi, itu merupakan pengalaman yang tidak terlupakan.

Sebelum berangkat camping benerannya, yang dilakukan tanggal 7 Juli, saya sama Danang berangkat camping survei ke Curug Cilember pada 30 Juni. Sesuai janji saya datang ke BEC untuk njemput Danang. Dasar orang nggak jelas, e lha kok dianya malah main ke lapangan Sempur ketika saya datang. Saya telepon Danang. Dengan santainya dia menjawab, “Kirain siang pak.” Sontoloyo! Nggak, saya nggak marah. Cuma heran saja, kok ada ya orang pelupa seperti itu. (Saya sendiri termasuk pelupa nggak ya? Kayaknya hiya deh.)

Akhirnya Danang datang. Ternyata dia main sama Teguh. Katanya habis nyobain panjat tebing. Panjat tebing kok dicobain. Emang biskuit? Setelah dia selesai melakukan persiapan kilat (karena hanya memasukkan baju ganti ke dalam backpacknya) kami berangkat naik angkot 02 jurusan Sukasari. Kebetulan pak Biyo yang rumahnya Cisarua mau pulang jadi sekalian bareng naik angkot yang sama. Tapi ternyata dia turun di BIP mau nemuin anaknya dulu. Sementara saya dan Danang baru turun di depan kantor pos dekat kampus Triguna. Dari situ nyambung angkot jurusan Cisarua.

Sempat bingung juga mau turun mana, gapura oranye yang ada tulisannya Desa Cilember atau pertigaan dekat sate Kadir. Untungnya ada bapak-bapak yang ngasih tahu supaya turun di dekat sate Kadir saja karena disitu lebih dekat. Tinggal nyambung ojek Rp 5000 untuk ke Curug Cilember. Angkotnya sendiri dari Sukasari Rp 4000 dan perlu waktu 50 menit untuk sampai di pertigaan sate Kadir.

Kalau bukan karena belum pernah, saya lebih memilih jalan kaki daripada naik ojek. Sayang sekali panorama yang indah sepanjang jalan menuju curug saya lewatkan begitu saja. Makanya saya ngomong sama Danang saat pulangnya nanti supaya jalan kaki. Saya ingin menikmati hijaunya sawah dan pepohonan lainnya. Selain badan jadi sehat, kan ngirit juga. Lumayan kan.

Naik ojek ternyata mengerikan juga. Tanjakan yang begitu curam benar-benar menguji nyali. Bagi mereka para tukang ojek tentu menganggapnya biasa saja, tapi bagi saya, bikin deg-degan. Telat dikit saja ganti kopling, nggelondor deh. Buktinya saat jalan pulang esok harinya, ada motor yang merosot turun. Untungnya sempat ditahan.

Sepuluh menit kemudian sampai di loket pembayaran. Di situ tertulis tarif yang harus dibayar: lokal Rp 5000, turis Rp 20.000, camping Rp 9500, hiking Rp 10.000. Kadang saya heran, kenapa turis asing harus membayar lebih mahal. Kenapa bukannya justru dimurahin saja biar lebih banyak yang datang, atau setidaknya dibikin sama sajalah. Nggak ngerti saya kebijakan pengelola obyek pariwisata di sini.

Saya dan Danang masuk ke lokasi wisata Curug Cilember. Ternyata di dalam ada doom yang dijadikan taman kupu-kupu dengan tiket masuk, lagi-lagi dibedakan, lokal Rp 4000 turis Rp 6000. Di lokasi berkemah dekat curug 7 ada permainan flying fox yang harus bayar Rp 10.000 untuk mencobanya. Saya beranikan diri mencoba esok harinya saat mau pulang. Deg-degan juga, terutama ketika sudah mau sampai. Meluncurnya jadi makin kenceng.

Di obyek wisata ini sih katanya ada tujuh curug. Tapi sayang tidak ada tulisan atau tanda yang menunjukkan air terjun yang dikunjungi itu curug yang ke berapa. Cuma ada satu tanda di dekat curug yang pertama kali saya temui dengan tulisan curug 7. Itupun sebagian orang ada yang menyebutnya curug 1 bukan 7. Mana yang benar coba?

Di dekat curug 7 memang ada tempat untuk mendirikan tenda, tapi anehnya sebagian sudah diisi dengan tenda-tenda yang disewakan. Saya sempat tanyakan biaya sewanya. Ukuran 4x6m Rp 200.000 (sehari)/Rp 100.000 (1/2 hari), 3x4m Rp 150.000/Rp 50.000, 2x3m Rp 80.000/Rp 35.000. Barangkali akan membantu bagi pengunjung yang ingin berkemah tapi nggak bawa tenda. Buat saya, jadi menyebalkan.

Saya naik terus melihat semua air terjun yang ada. saya nggak tahu curug yang saya datangi itu curug apa atau yang keberapa. Bingung bingung deh. Akhirnya diputuskan mendirikan tenda di dekat sungai yang berasal dari curug yang paling akhir ditemui. Di lokasi tersebut cuma ada dua kapling untuk mendirikan tenda. Yang menarik dari tempat tersebut adalah adanya pohon-pohon pinus. Saya paling senang camping di rerimbunan hutan pinus. Namun, ternyata saya dan Danang masuk perangkap. Lho, kok?

Daun-daun kering pohon pinus yang sudah busuk berwarna coklat kehitaman. Bentuknya panjang seperti daun cemara. Warna dan bentuknya itulah yang ternyata menyamarkan keberadaan gerombolan pacet yang warna dan bentuknya mirip. Oh my god, ternyata saya ada dalam kerajaan pacet. Saya dan Danang harus waspada. Mata mesti jelalatan untuk mengamati keberadaan pacet jahanam. Meskipun sudah waspada dan mata mau copot, kami tetap saja menjadi korban kebiadaban gerombolan pacet. Saya dan Danang memiliki skor yang sama. Total pacet yang nempel termasuk di leher saya ada 10 ekor. Danang juga sama, ada 10 pacet. Dia juga ketempelan di lehernya.

Sayang saya nggak doyan pacet, kalo iya, saya makan tuh pacet-pacet. Yang membuat saya gondok adalah pacet yang nggigit di sela jari kaki saya. Itu memang yang saya khawatirkan. Ee.. lha kok digigit beneran. Dendam banget deh. Padahal saya sudah super waspada dalam beberapa menit mengamati jari-jari kaki. Emang sudah nasib kali. Untung tidak dapat diraih, sial tidak dapat ditolak. Datang tidak diundang, pulang tidak diantar. Emang jalangkung?

Setelah semalaman merenungi nasib dikerubutin pacet, paginya beres-beres tenda dan segala peralatan. Hari itu, Minggu 1 Juli 2007, siap pulang. Jalan yang saya ambil jalan yang kemarin siang saya liat. Setapak, menurun, terlihat gampang. Awalnya sih emang iya, gampang. Lama-kelamaan, ternyata menurun dan becek sekali. Semalem emang agak gerimis, dan pasti beberapa hari belakangan hujan terus. Dari rimbunnya pepohonan di sepanjang jalan, ketahuan kalo jalur itu jarang dilalui. Dan, ini yang jadi horor, saya harus sering memelototkan mata mengawasi serangan pacet. Mereka ada di balik dedaunan siap menyerbu. Kaos lengan panjang yang saya pakai tidak bisa menjamin keamanan. Nyatanya lengan saya kena pacet juga. Meski pakai sepatu dan kaos kaki serta celana panjang, tetep aja ada pacet naik ke kaki. Buru-buru aja pacet sialan itu saya buang dan segera celana bagian bawah saya masukkan ke kaos kaki, persis kayak tentara kompeni.

Akhirnya, dengan selamat kami keluar dari kerajaan pacet dan sampai di pintu gerbang jam 10.38 wib. Sesuai rencana kemarin, saya dan Danang jalan kaki menuju jalan raya Cisarua. Saya mau menikmati indahnya pemandangan di kiri kanan jalan. Saat sampe di persawahan yang menghijau, saya sempatkan berfoto-foto. Nggak terasa pertigaan sate Kadir sudah di depan mata. Jam 11.20 saya sampai di tempat itu, nama desanya ternyata Jogjogan. Sebelum naik angkot ke arah Bogor, saya dan Danang ngamuk dulu di restoran Padang yang ada di pinggir jalan dekat pertigaan itu.

Seminggu kemudian (7/7/o7), saya datangi lagi kerajaan pacet itu. Kali ini bersama keluarga saya. Mantan pacar dan dua jagoan ganteng saya. Saya sudah janjian dengan bu Endang dan konco-konconya ketemu di lokasi perkemahan yang ada di dekat curug 7. Saat turun angkot di pertigaan sate Kadir, saya nyambung ojeg menuju lokasi wisata curug Cilember. Mengulangi minggu kemarin, saya sport jantung lagi bersama tukang ojeg mendaki tanjakan gila. Begitu sampe di pintu gerbang Cilember ternyata bu Endang sudah nunggu. Segera dia mengajak saya untuk pindak lokasi. Empat tenda yang sudah dia dirikan diminta untuk dibongkar sama orang yang mengaku telah membooking tempat itu. Nggak tahu gimana urusannya, bu Endang bilang kalo petugas loket telah memberikan ijin dan mengatakan kalo tempat tersebut bisa dipakai. Karena nggak ingin rame, tempat tersebut dikembalikan dan sebagian uang tiket diminta lagi.

Setelah pembongkaran empat tenda beres, kami berangkat. Dengan menggunakan empat mobil rombongan menuju desa Citeko. Ternyata yang dituju adalah sebuah vila dua lantai milik adik temennya bu Endang. Vila tersebut memiliki lapangan rumput luas yang bisa digunakan untuk camping. Lima tenda didirikan. Kami semua camping dengan fasilitas kolam renang, tiga kamar mandi (yang dua mewah), tv kabel Indovision, makanan mewah yang melimpah-limpah, dua satpam, seorang juru masak. Sebuah kemewahan yang saya dan istri tidak bisa nikmati. Bukan itu yang kami cari. Melainkan liarnya alam, gelapnya langit yang dihiasi bintang-bintang, hijaunya hutan, dan segarnya air sungai.

Sebelum pulang esoknya, kami sempatkan mampir dulu ke Cilember untuk main flying fox. Gara-gara nyemutnya orang-orang yang ingin berkemah karena memang lagi libur sekolah, saya jadi nyasar camping di depan sebuah vila mewah. Pufff...

Friday, September 14, 2007

Makan Memakan

Marhaban ya Ramadhan. Nggak terasa ya, kita sudah masuk bulan puasa lagi. Rasanya baru kemarin kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1427 H, kok tiba-tiba sekarang sudah datang lagi Ramadhan 1428 H. Bagi yang menjalankan ibadah puasa, selamat deh. Mudah-mudahan tidak mendapat haus dan laparnya doang, tapi juga berkah yang ada di dalam bulan suci ini. Amin.

Bagaimanapun juga urusan puasa ada kaitannya dengan urusan makan. Sebelum tanggal 13 September kemarin, yang namanya makan dihalalkan. Mau pagi, siang, sore, nggak masalah. Begitu masuk bulan Ramadhan, jangan coba-coba. Haram hukumnya kalo nekad makan, meskipun tadinya dihalalkan (udah tauk). Jangan pernah berpikiran nggak akan ada yang tau kalo kita tidak puasa. Emang orang bisa aja percaya begitu kita bilang puasa. Siapa yang nggak percaya kalo misalnya kita ngomongnya sambil terlihat lemes tidak bergairah. Namun, Allah maha tahu. Sejago-jagonya kita bohong, pasti ketahuan. Allah kok dilawan. Wo... o... kamu ketahuaaannn...

Ibadah puasa itu kan ibadah yang spesial, karena hanya yang njalanin dan Allah yang tahu. Orang lain hanya bisa mengandalkan kejujuran yang mengatakan puasa. Ramadhan juga menjadi bulan yang istimewa. Kalo diibaratkan dagang, bulan ini adalah bulan diskon. Gimana tidak, kalo ibadah yang dijalani di bulan ini akan mendapat pahala berlipat-lipat bila dibandingkan di bulan-bulan biasa. Namun perlu diingat, jangan sampe ibadah yang dijalankan terus diitung-itung kaya ngerjain soal matematika. Maksudnya, tau kalo banyak diskon, lalu ibadahnya hanya di bulan Ramadhan. Tidak bisa seperti itu. Meskipun anda jago matematika, ibadah itu bukan matematika. Jadi, hentikan aja niat untuk pamer matematikanya. Yang penting sekarang kita jalani ibadah yang sifatnya personal ini dengan sebaik-baiknya. Mumpung masih diberi kesempatan.

Dalam urusan makan di bulan puasa ini, saya juga ingin ngomongin tentang kegiatan makan yang tidak baik dan dianjurkan untuk dihindari. Baik di bulan biasa, apalagi di bulan puasa. Kegiatan tersebut yaitu makan memakan yang dilakukan terhadap teman sendiri. Artinya, kita mengkhianati, menikam punggung teman sendiri. Baik teman dalam bergaul, belajar, maupun bekerja. Jangan. Kalo main catur sih nggak papa. Malah diharuskan makan kalo pengen menang. Asal tidak dimakan beneran. Kecuali kalo memang anda ada turunan rayap. Ya silahkan dimakan, bila perlu sepapan-papannya.

Meskipun (bukan makan papan catur) tidak baik, tapi pada kenyataannya, ada aja orang-orang yang melakukan perbuatan tercela itu. Mereka tidak peduli dengan orang lain. Yang paling penting buat dia adalah perutnya sendiri. Nggak ada rasa kepedulian terhadap orang lain. Bodo amat orang lain menderita. Walaupun orang lain itu ternyata sodara, temen, tetangga sendiri. Amit-amit deh. Mudah-mudahan kita nggak keseret melakukan tindakan itu. Nggak akan ada cukupnya kalo yang kita turutin itu nafsu. Seberapapun banyaknya, tetap nggak akan puas. There is no ‘ enough’ for greedy people. Jangan sampe kita gelap mata. Banyak-banyaklah kita nyebut. Bukan nyebutnya tukang tape saat mau mati. Kalo nyebutnya ala tukang tape, yang keluar nanti ya, “tapeeeeeeeeee....”

Bila anda ketemu temen yang hobi makan temen, coba dikasih inget tuh. Sadarkan. Bukakan matanya. Tunjukkan kalo yang dilakukan itu nggak bener. Kalo pengen makan, mending makan lalap. Meskipun kayak kambing, tapi sehat, terhindar dari sembelit, murah lagi. Daripada makan temen, meskipun tidak bikin sembelit, tapi menyakitkan. Bikin sakit bagi siapa saja. Terutama yang jadi korban dan keluarganya. Tanyakan ke dia, kira-kira gimana rasanya kalo dianya sendiri yang jadi korban. Nggak gampang emang, namun nggak ada salahnya dicoba. Kalopun percobaan yang dilakukan itu gagal, setidak-tidaknya kita pernah mencoba. Dan bila perlu, setelah gagal mencoba yang pertama, kita coba terus. Masih ada percobaan yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya yang menunggu untuk dilakukan. Berani mencoba?

Itu bisa menjadi ladang amal. Kesempatan yang belum tentu bisa ditemui setiap orang. Dalam menggarap ladang yang di depan mata itu pun juga tidak perlu biaya mahal. Bisa jadi malah gratis dan justru kita yang dapat banyak uang. Gimana bisa? Siapa tahu orangnya jadi sadar kemudian kasih kita uang sekarung, kan kita jadi kebanjiran duit. Siapa yang nggak mau, coba? Kalopun misalnya malah harus mengeluarkan banyak duit karena yang dikasih tahu tidak terima kemudian nggebukin kita sehingga kita masuk rumah sakit, ya anggap aja itu juga ladang amal yang masih memerlukan tenaga ekstra untuk menggarapnya. Jadi intinya, apapun hasilnya jadi kaya ato masuk rumah sakit, dia tetap sebuah ladang amal yang menjanjikan. Tinggal kita tagih kan? Mudah-mudahan aja nggak ingkar janji. Jaka Sembung main kucing. Nggak nyambung cing.

Terserah anda sekarang. Mumpung sekarang bulan Ramadhan. Sekali lagi, ini bulan diskon. Beramal lah sebanyak-banyaknya. Asal jangan uang colongan yang dipake buat amal. Jangan karena ingin mensucikan uang hasil korupsi, kemudian uang itu dipake buat pergi haji dan menyantuni yatim piatu. Dengan harapan agar bersih lagi. Itu ibarat nyuci baju pake aer comberan. Bukan jadi bersih tapi malah mangkak dan bau busuk. Nggak lucu kan, haji kok bau comberan.

Dan pesan saya buat yang baca tulisan ini dan juga suka makan memakan teman sendiri, beralihlah menjadi vegetarian. Dengan menjadi vegetarian maka daging temen sendiri akan pait rasanya. Sekaligus akan ijo matanya kalo liat ijo-ijoan alias daun-daunan. Seandainya daun pintu dan jendela yang kebetulan dicat ijo juga menarik, ya silakan dimakan sekalian. Kalo begitu anda berarti bisa bersatu dengan pemain catur yang saya sebutkan di atas. Sebab sama-sama punya darah rayap. Keuntungan lain jadi vegetarian adalah, ada ratusan jenis lalapan yang bisa dipilih. Semua menyehatkan, murah, dan aman. Sehat karena banyak mengandung serat. Kalo pengen yang kandungan seratnya dahsyat, makan aja kabel dan tali jemuran (ini saran yang menyesatkan tentu saja, tapi bila tetep diturutin ya terserah, resiko ditanggung sendiri). Murah karena kita bisa ambil dedaunan yang ngrambat di pager orang (itu kan nyolong namanya?). Aman karena tidak mengandung kolesterol, sehingga anti gemuk bagi siapa saja yang memakannya. Perkecualian kalo memang anda sudah gendut dari sononya. Jangan ngomel-ngomel dan nyalahin orang lain kalo kemudian anda berharap jadi langsing tapi nggak bisa-bisa. Terima aja jadi orang gendut. Tiga bulan lagi kan idul adha, pasti kepake. Maksudnya mbantuin megangin sapi yang mau dipotong.