Jika anda nyari arti kata di atas dalam KBBI (kamus besar bahasa indonesia) sekalipun, sampe lebaran monyet juga nggak bakal ketemu. Apalagi dalam kamus mimpi alias primbon. Selamat bermimpi aja kalo gitu. Orang memang kata itu bukan berasal dari situ. Trus dimana dong kita mesti nyari? Saran saya, cari aja di kamus berjalan. Lho, apa tu kamus berjalan? Ya mereka yang menciptakan ato golongan yang suka nggunain kata itu. Trus, sapa dong mereka itu? Hih, nanya mulu! Mereka itu ya yang sekarang suka disebut dengan abg. Mo nanya lagi apa tuh abg? Kebangetan deh kalo gitu.
Sama seperti kata jayus, kata lain yang bisa jadi kembarannya, adiknya, ato kakaknya karena lahirnya bareng, duluan, ato belakangan, adalah kata garing, mupeng, tajir, jutek, dugem, abcdefg dan lain-lain. Bisa jadi ada banyak lagi yang lain (egp?). Mau nggak mau, kalo pengen tau artinya dari kata-kata aneh itu, ya mesti rajin-rajin tanya. Bisa juga dengan kelayapan, kalo nggak ke kuburan, ke tempat-tempat yang banyak abgnya. Kalo malu, karena merasa sudah bukan generasinya misalnya, baca sebanyak-banyaknya. Buku, koran, majalah, buletin, jurnal, manual, resep, bungkus kacang, primbon. Hlah? Buntutnya kok primbon juga? Ya nggak papa lah. Gimana agar bisa banyak baca tapi ngirit? Rutin ke toko buku coy. Paling-paling entar ditangkap karena dikira maling. Becanda. Jangan diambil ati. Tapi jangan diambil beneran ya, entar bener-bener dicap maling (kalimat kok muter-muter gini, huh, menyebalkan). Tapi emang bener. Maksudnya, emang harus mau rajin-rajin dateng ke toko buku untuk lihat perkembangan. Perkembangan apapun. Termasuk perkembangan bahasa. Sebab, dengan begitu, kita tidak ketinggalan kereta. Juga bis, angkot, ojeg dan lain-lain (dasar mental makelar).
Saya sempat dibikin bingung juga ketika ngobrol kemudian melontarkan sebuah joke, tiba-tiba saya dibilang jayus. Perasaaan, saya ini laki-laki, jadi, aneh kalo saya dianggap mirip Renny Jayusman. Kalo si jayus yang renny ini sih memang kelaki-lakian alias macho. Dia rocker, yang setiap show mirip Tesi, pendagel srimulat yang seluruh jari tangannya ada cincin batu akik. Di leher dan tangannya bergelantungan kalung dan gelang yang beraneka macam layaknya pedagang asesoris. Kalo dia disamakan dengan saya, bolehlah. Tapi kalo saya yang dipadankan dengan dia yang artis, sori aja. Itu bukan level saya. Tolong dicatat itu dik Pendi.
Jika jayus itu jenis minuman, emang itu favorit saya. Saya demen banget jayus buah-buahan. Buah apa saja. Apokat, mangga, nanas, apapun. Termasuk tomat. Orange jayus juga minuman favorit saya. Stop, stop, stop. Kayaknya ada yang salah deh. Kalo itu yang dimaksud, bukan jayus, tapi jus (dodol!). Asalnya dari nama orang sunda, ice juice, yang dibacanya sama dengan tulisannya. Titik. Eh, ngomong-ngomong, emang dodol bisa dibikin jus? (capek aku mas)
Usut punya usut, jayus ternyata artinya tidak terlalu jauh dengan garing. Garing? Bukan garing yang artinya crispy ( renyah) lho, yang kayak krupuk tea. Setelah dengan sukses nanya orang yang ngatain saya jayus, baru tau kalo jayus itu artinya nglucu tapi nggak lucu. Ya, crispy eh garing gitulah. Untungnya saya sempat dan mau nanya, jadi tidak melakukan jayus lagi. Ngomong-ngomong, mau nunggu? Saya pengen minum jayus dulu. Kebetulan ada segelas jayus apokat segar. Bentar ya.
Trus, kira-kira kenapa ya bisa muncul kata-kata aneh seperti itu? Saya rasa sih salah satunya untuk menunjukkan eksistensinya. Ini lho saya. Gitu kira-kira. Yah, kayak kucinglah. Maksudnya? Pernah liat kucing kan? Dia itu kan suka pipis sembarangan. Ketemu pohon pipis, ketemu tiang listrik pipis, ketemu mobil yang lagi parkir, pipis. Ketemu muka orangpun akan dipipisin. Makanya ati-ati. Juga, pipisnya khas banget. Salah satu kaki belakangnya diangkat kalo jantan, pantatnya ditunggingin kalo betina (heran bisa sampe segitu detilnya ya?). Apa yang dilakukan para kucing juga sama dengan para kreator kata-kata aneh itu yaitu bekas tempat pipisnya itu untuk menunjukkan kalo dia pernah ada di situ. Jadi gampang aja kalo pengen tau pernah ada kucing lewat ato kagak. Tinggal diendus-endus pohon, tiang listrik (telpon juga boleh), dan tempat-tempat yang terlihat mencurigakan. Siap? Kerjakan!
Jika dikaji lebih lanjut, ada berbagai cara untuk membuat kata-kata yang bisa dikategorikan slang itu, ato yang suka dibilang bahasa gaul. Ada yang bentuknya singkatan seperti abcdefg (aduh bo cape deh eike fusing gila), abg (anak baru gede), egp (emang gue pikirin), omg pda (oh my god plizz dong ah). Ada yang berupa akronim seperti mupeng (muka pengen), dugem (dunia gemerlap), tajir (harta membajir), jorki (jorok sekali). ada yang kombinasi akronim dengan singkatan seperti titi dj (ati-ati di jalan). Ada yang berbentuk clip ato potongan kayak au ah lap (tau ah gelap), seleb (selebriti/artis), dan yang berbentuk kata atau frase utuh seperti garing (joke yang nggak lucu), jayus (joke/kelakuan yang nggak lucu), cape deh, gitu loooh, digrepe-grepe (dipegang-pegang) dan lain-lain (sisanya cari sendiri ah! ngrepotin aja! lhah? sapa suruh? weeekkk).
Kapan dibikinnya dan oleh siapa, nggak jelas. Yang pasti istilah itu muncul begitu saja dari salah satu di antara mereka. Kemudian digunakan oleh temen-temennya dan selanjutnya menyebar kemana aja, kayak kurap. Kata itu menjadi semakin populer setelah digunakan oleh seleb yang tampil di tv dan juga ditulis dalam media cetak seperti koran, majalah, dan tabloid. Seleb di tv ditonton dan media cetaknya dibaca banyak abg. Mereka kemudian nggunain sendiri serta nularin ke temen-temennya. Begitu seterusnya. Jadi akhirnya sulit untuk menemukan siapa yang bikin dan kapan dibuatnya.
Namanya juga bahasa. Umurnya sama dengan umat manusia yang menggunakan bahasa itu. Dia akan terus berkembang selama manusianya masih ada. Apalagi seperti sekarang ini, dengan adanya teknologi seperti internet, makin memperparah penyebarluasan kata-kata baru yang terus bermunculan. Pokoknya dahsyat deh. Jadi kesimpulannya, jangan paksa saya untuk ngubeg-ubeg nyari siapa biangnya pembuat keonaran eh kata-kata yang aneh-aneh itu yach. Enjoy aja. Nikmati yang ada. Sambil maksi* boleh, nobra eh nobar* juga boleh. Asal jangan kelamaan. Nanti McD*. Santi utomo* dan, EGPTL*.
*
maksi: makan siang
nobar: nonton bareng
McD: makin cuapee deh
santi utomo: sampe nanti see you tomorrow
EGPTL: emang gua pikirin gitu loh
Friday, September 14, 2007
Wednesday, September 12, 2007
Wrong Man Right Place
Orang yang bersalah ditempatkan di sebelah kanan. Itulah kira-kira makna ngawur dari judul di atas. Kata yang benar dan biasanya dipakai sih the right man on the right place. Istilah ini digunakan untuk mengacu kepada kebijakan bagian personalia atau mereka yang mengatur sumber daya manusia yang ada dalam sebuah perusahaan atau kantor. Orang-orang yang memiliki kemampuan tertentu akan dipekerjakan atau ditempatkan di posisi yang memang sesuai dengan dia.
Pernah nggak ketemu dengan, misalnya, seorang pegawai customer service (cuser) yang jutek, jayus, garing, ngomongnya nylekit, dan memuakkan? Kalo iya, itulah contoh the wrong man on the right place. Nggak peduli bila misalnya si customer service itu seorang perempuan. Karena kata man disini maksudnya bukan mengacu kepada jenis kelamin laki-laki, meskipun man itu untuk pria, tapi lebih berarti untuk seseorang. Bisa laki bisa perempuan. Jadi, si cuser itu merupakan orang yang salah untuk posisi tersebut. Bisa jadi hal itu terjadi karena kesalahan yang berasal dari bagian yang mengatur penempatan orang-orang dari perusahaan tersebut. Namanya juga pekerja, bisa saja si cuser ini mandah saja menerima tugas yang diberikan. Karena emang pada dasarnya orangnya nggak enaken, ya begitulah hasil akhirnya. Jutek, garing, tidak bersahabat, nylekit dan lain-lain.
Barangkali bukan sekali dua kita ketemu dengan orang-orang yang wrong ini. Orang yang berkemampuan minimal melakukan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan maksimal. Manusia yang berkarakter minus diposisikan di tempat yang memerlukan perilaku plus. Akibatnya, sering kita jumpai masalah. Masalah yang muncul karena ketidakcocokan manusia dan pekerjaannya ini.
Yang merepotkan sekaligus menjengkelkan, kalo akibat salah naroh orang ini kita yang kena getahnya. Karena kebijakan yang salah bagi orang lain, menyengsarakan orang lainnya lagi. Pusing dah. Masih mending kalo kitanya bisa urun rembug untuk masalah tersebut. Kalo nggak, ya terpaksa kita nikmati penderitaan itu bila masih tetep bercokol di situ. Mau? (kayak iklan operator selular aja)
Anda sendiri merasa nggak, jadi orang yang right di tempat yang right? Cirinya gampang kalo kita ini merasa cocok di tempat yang sesuai. Diantaranya yang bisa disebutkan, apa yang dikerjakan oke-oke aja, lingkungan kerja kondusif, tidak gampang sembelit (apa ini? stres kali?) – hiya, tidak gampang stres.
Bener kalo apa yang dikerjakan itu pasti fine-fine aja. Gimana nggak? Orang emang kita punya kualitas, punya kemampuan dan ketrampilan untuk melaksanakan tanggung jawab itu. Jadi, ya nggak masalah. Apapun yang dikerjakan, hasilnya pasti ekselen, sip, perfekto.
Lingkungan kerja kondusif bisa saja terbentuk bukan semata-mata karena the right man on the right place. Tetapi, bila orang-orang yang ada dalam lingkungan sama memiliki kapabilitas yang tidak diragukan lagi, memiliki karakter berkualitas unggul, saling tolong-menolong, bantu-membantu, bau-membau sambil mengangkat ketek masing-masing (nggak ding), saling mengormati, dijamin, pasti lingkungan akan jadi kondusif. Nah, dengan adanya orang-orang yang right, bukan hanya right di segi kemampuan tapi juga attitude, sudah pasti lingkungan kondusif akan terbentuk.
Lalu apa urusannya sembelit dengan right man right place? Coba anda bayangkan deh. Di tempat dimana anda bekerja, ada orang yang poorly qualified. Ngerjain ini nggak bisa, melakukan itu memble, nyelesein yang ono nggak mampu. Apa nggak pusing sendiri. Apalagi bila kita ini jadi temen seruangannya misalnya, yang tiap hari pasti dimintain tolong. So pasti akan jadi stres. Kalo udah begitu, tinggal tunggu aja efeknya. Eh, jangan nuduh dulu ya kalo kita ini tidak mau dimintain tolong. Bukannya begitu. Jika tiap hari harus ngerjain pekerjaan orang mulu (lha iyalah, masak monyet), lama-lama kan neg juga. Ya kan? Apa akibatnya kalo stres terus-terusan? Lama-lama ya sembelit juga jadinya. Makanya kalo anda sembelit, jangan-jangan bukan masalah tidak sering mengkonsumsi makanan berserat seperti kabel misalnya tetapi bisa jadi karena dijejelin makanan bersetres (maksudnya sering stres). Jadi, waspadalah, waspadalah, waspadalah.
Nah, sekarang, udah jelas kan hubungan antara sembelit dengan stres? Mereka selama ini baik-baik saja kok. Setiap ketemu saling bertegur sapa. Suka saling kirim makanan kalo lagi masak enak. Sering nonton bareng saat tanggal gajian datang. Akan berusaha membesarkan hati, bila yang satu lagi kena musibah. Dan lain-lain. Waduh, sebenarnya ini ngomongin apaan sih? Just kidding, don’t think of it seriously.
Di sisi konsumen, juga akan sangat menyenangkan bila ketemu orang yang sesuai dengan pekerjaannya. Bagi kita, sungguh membantu dan melegakan ketika saat butuh informasi kita dihadapi oleh seorang cuser yang bukan sekedar ramah tapi juga kompeten. Dia sigap dalam menolong. Mudah dimengerti penjelasan-penjelasannya. Cantik dan wangi lagi. Beruntunglah kalo kita ketemu orang-orang seperti itu.
Kalo anda sedang ada di Bogor dan perlu informasi dimana bisa mendapatkan uang, anda dapat datang ke Taman Topi dekat stasiun. Di situ ada the right man on the right place. Di taman yang sebagian besar bangunannya berbentuk topi, itulah sebabnya dinamakan Taman Topi, berdiri dengan gagahnya sebuah patuh pahlawan nasional asli orang Bogor yang bernama Kapten Muslihat. Dia itulah the right man. Tanyalah dia kemana harus pergi untuk mendapatkan uang. Dengan gagahnya dan penuh kepastian, tangan Kapten Muslihat menunjuk ke sebuah bangunan. Gedung itu adalah Bank Jabar. Disitulah uang bisa diperoleh. Jadi, Kapten Muslihat ini bisa disebut the right man on the right place karena posisi dia berdiri sudah right (benar) sehingga tangannya right (benar) menunjuk persis ke bank milik pemerintah daerah. Setuju? Betul? Ato ngaco?
Pernah nggak ketemu dengan, misalnya, seorang pegawai customer service (cuser) yang jutek, jayus, garing, ngomongnya nylekit, dan memuakkan? Kalo iya, itulah contoh the wrong man on the right place. Nggak peduli bila misalnya si customer service itu seorang perempuan. Karena kata man disini maksudnya bukan mengacu kepada jenis kelamin laki-laki, meskipun man itu untuk pria, tapi lebih berarti untuk seseorang. Bisa laki bisa perempuan. Jadi, si cuser itu merupakan orang yang salah untuk posisi tersebut. Bisa jadi hal itu terjadi karena kesalahan yang berasal dari bagian yang mengatur penempatan orang-orang dari perusahaan tersebut. Namanya juga pekerja, bisa saja si cuser ini mandah saja menerima tugas yang diberikan. Karena emang pada dasarnya orangnya nggak enaken, ya begitulah hasil akhirnya. Jutek, garing, tidak bersahabat, nylekit dan lain-lain.
Barangkali bukan sekali dua kita ketemu dengan orang-orang yang wrong ini. Orang yang berkemampuan minimal melakukan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan maksimal. Manusia yang berkarakter minus diposisikan di tempat yang memerlukan perilaku plus. Akibatnya, sering kita jumpai masalah. Masalah yang muncul karena ketidakcocokan manusia dan pekerjaannya ini.
Yang merepotkan sekaligus menjengkelkan, kalo akibat salah naroh orang ini kita yang kena getahnya. Karena kebijakan yang salah bagi orang lain, menyengsarakan orang lainnya lagi. Pusing dah. Masih mending kalo kitanya bisa urun rembug untuk masalah tersebut. Kalo nggak, ya terpaksa kita nikmati penderitaan itu bila masih tetep bercokol di situ. Mau? (kayak iklan operator selular aja)
Anda sendiri merasa nggak, jadi orang yang right di tempat yang right? Cirinya gampang kalo kita ini merasa cocok di tempat yang sesuai. Diantaranya yang bisa disebutkan, apa yang dikerjakan oke-oke aja, lingkungan kerja kondusif, tidak gampang sembelit (apa ini? stres kali?) – hiya, tidak gampang stres.
Bener kalo apa yang dikerjakan itu pasti fine-fine aja. Gimana nggak? Orang emang kita punya kualitas, punya kemampuan dan ketrampilan untuk melaksanakan tanggung jawab itu. Jadi, ya nggak masalah. Apapun yang dikerjakan, hasilnya pasti ekselen, sip, perfekto.
Lingkungan kerja kondusif bisa saja terbentuk bukan semata-mata karena the right man on the right place. Tetapi, bila orang-orang yang ada dalam lingkungan sama memiliki kapabilitas yang tidak diragukan lagi, memiliki karakter berkualitas unggul, saling tolong-menolong, bantu-membantu, bau-membau sambil mengangkat ketek masing-masing (nggak ding), saling mengormati, dijamin, pasti lingkungan akan jadi kondusif. Nah, dengan adanya orang-orang yang right, bukan hanya right di segi kemampuan tapi juga attitude, sudah pasti lingkungan kondusif akan terbentuk.
Lalu apa urusannya sembelit dengan right man right place? Coba anda bayangkan deh. Di tempat dimana anda bekerja, ada orang yang poorly qualified. Ngerjain ini nggak bisa, melakukan itu memble, nyelesein yang ono nggak mampu. Apa nggak pusing sendiri. Apalagi bila kita ini jadi temen seruangannya misalnya, yang tiap hari pasti dimintain tolong. So pasti akan jadi stres. Kalo udah begitu, tinggal tunggu aja efeknya. Eh, jangan nuduh dulu ya kalo kita ini tidak mau dimintain tolong. Bukannya begitu. Jika tiap hari harus ngerjain pekerjaan orang mulu (lha iyalah, masak monyet), lama-lama kan neg juga. Ya kan? Apa akibatnya kalo stres terus-terusan? Lama-lama ya sembelit juga jadinya. Makanya kalo anda sembelit, jangan-jangan bukan masalah tidak sering mengkonsumsi makanan berserat seperti kabel misalnya tetapi bisa jadi karena dijejelin makanan bersetres (maksudnya sering stres). Jadi, waspadalah, waspadalah, waspadalah.
Nah, sekarang, udah jelas kan hubungan antara sembelit dengan stres? Mereka selama ini baik-baik saja kok. Setiap ketemu saling bertegur sapa. Suka saling kirim makanan kalo lagi masak enak. Sering nonton bareng saat tanggal gajian datang. Akan berusaha membesarkan hati, bila yang satu lagi kena musibah. Dan lain-lain. Waduh, sebenarnya ini ngomongin apaan sih? Just kidding, don’t think of it seriously.
Di sisi konsumen, juga akan sangat menyenangkan bila ketemu orang yang sesuai dengan pekerjaannya. Bagi kita, sungguh membantu dan melegakan ketika saat butuh informasi kita dihadapi oleh seorang cuser yang bukan sekedar ramah tapi juga kompeten. Dia sigap dalam menolong. Mudah dimengerti penjelasan-penjelasannya. Cantik dan wangi lagi. Beruntunglah kalo kita ketemu orang-orang seperti itu.
Kalo anda sedang ada di Bogor dan perlu informasi dimana bisa mendapatkan uang, anda dapat datang ke Taman Topi dekat stasiun. Di situ ada the right man on the right place. Di taman yang sebagian besar bangunannya berbentuk topi, itulah sebabnya dinamakan Taman Topi, berdiri dengan gagahnya sebuah patuh pahlawan nasional asli orang Bogor yang bernama Kapten Muslihat. Dia itulah the right man. Tanyalah dia kemana harus pergi untuk mendapatkan uang. Dengan gagahnya dan penuh kepastian, tangan Kapten Muslihat menunjuk ke sebuah bangunan. Gedung itu adalah Bank Jabar. Disitulah uang bisa diperoleh. Jadi, Kapten Muslihat ini bisa disebut the right man on the right place karena posisi dia berdiri sudah right (benar) sehingga tangannya right (benar) menunjuk persis ke bank milik pemerintah daerah. Setuju? Betul? Ato ngaco?
Monday, September 10, 2007
Si Lidah Panjang
Ingin belajar bahasa Inggris? Gampang. Coba ucapkan kata-kata di bawah ini dengan cepat dan keras. Kalo perlu sambil merem matanya. Biar memberi kesan benar-benar menghayati. Kan hebat gitu.
“Wolf wolf roof roof woof woof roof wolf roof roof woof.”
Hasil tes: Good Dog!
Eit, jangan marah dulu. It’s just kidding, not insulting, apalagi menganggap anda disgusting. Kalo nggak ngerti, mending cicing, kayak kucing, lagi bunting. Bener, saya nggak punya maksud apa-apa. Sama sekali tidak punya pikiran menganggap situ ini kayak puppy, apalagi anjing biang. Dan jangan tuduh saya memperlakukan situ sebagai anjing. Tapi apa boleh buat kalo ente memang merasa seperti itu, ya, gimana ya, orang situ sendiri yang ngerasa seperti itu. Saya sih akur aja.
Kenapa saya bawa-bawa binatang najis ini? Saya hanya ingin menunjukkan kalo lidah anjing itu panjang. So what? Nggak. Nggak ada maksud apa-apa. Kira-kira panjangan mana lidah anda dengan lidah anjing? Lhah? Kalo ini mah so what lagi. Udahan ah. Ntar bisa diboikot saya. Orang baru ngonsep tulisan ini aja sudah ada yang ngancem. Oke, oke, sori deh. Tos dulu dong kalo gitu? (*nyodorin telapak tangan*)
Jadi pertanyaan yang ingin saya ajukan kira-kira gini. Kenapa anjing lidahnya panjang? Karena dia suka menjilat. Nyambung nggak? Kayaknya nggak ya? Tapi okelah, dipaksain aja. Karena anjing suka njilatin, maka tuannya banyak yang suka. Kegelian. Jadi gelisah gitu. Alias geli-geli basah. Apalagi anjingnya suka ngiler. Makin tambah basah deh.
Dalam dunia manusia, orang juga suka njilatin. Seperti saya contohnya. Saya suka banget njilatin es krim. Lebih-lebih kalo es krim hasil dikasih alias dapet gratis. Wuah, nikmat banget. Situ suka njilatin juga nggak? Pesen saya, jangan njilatin buburnya ayam ya (inget, pake ‘nya’ di belakang kata bubur), kasian orang tuamu. Punya anak kok hobinya aneh. Ihhhhhh geuleuh... Tapi, karena kebiasaan njilat itu alamiah dan naluriah, maka nggak usah malu lah kalo punya kebiasaan itu. Asalkan yang dijilat yang bener-bener aja. Trus, gimana kalo nggak bener?
Saya punya contoh untuk njilat yang nggak bener. Bukan tentang apa yang dijilat seperti yang disebutkan di atas, tapi tujuan dia menjilat. Kalo menjilat yang dilakukan untuk kepentingan pribadi, itu nggak bener. Saya kira, untuk kepentingan kelompok tertentu juga nggak bener. Njilat untuk carmuk juga salah. Pokoknya menjilat itu pekerjaan yang nggak bener, nggak sopan, kampungan. Dan juga, istilah menjilat itu memang memiliki konotasi negatif. Kalo orang menjilat orang lain, pasti ada sesuatu yang dia harapkan. Apalagi disertai dengan tampang mupeng. Pasti deh, bisa ditebak.
Emang, menjilat itu banyak ruginya. Pertama, kalo yang dijilat api, lidah jadi kebakar (ini mah kerjaannya orang gendeng). Kedua, njilat bisa bikin jadi bau, kalo yang dijilat tai kotok (ini kerjaannya si jorki). Ketiga, ini serius, njilat selain menciptakan banyak musuh juga bisa menunjukkan kalo si penjilat ini tidak memiliki kualitas, tidak loyal, dan tidak memiliki integritas. Bisa jadi, suatu saat akan kena batunya, seperti cerita di bawah ini. Coba simak dan camkan baik-baik ya.
Seorang guru tk akan pindah ke luar kota. Pihak sekolah kemudian mengadakan acara perpisahan. Masing-masing anak di kelas yang diajar bu guru ini (biasanya guru tk kan perempuan) membawakan kenang-kenangan. Satu persatu para murid maju ke depan untuk menyerahkan kado yang dibawanya untuk bu guru tercinta.
“Bu guru, Kimpul bawa kado buat bu guru,” katanya. Kimpul ini anaknya pedagang boneka.
Bu guru itu sambil mengucapkan terima kasih lalu menggoyang-goyang kado yang dia terima. Kemudian menebak barang yang ada di dalamnya. “Pasti isinya boneka?”
“Betul bu,” kata Kimpul.
Kemudian Tari, yang bapaknya juragan tas, menyerahkan kado.
“Terima kasih Tari. Bu guru tebak isinya ya?”
“Boleh bu,” jawab Tari.
Setelah mengocok-ngocok sebentar, bu guru kemudian menebak kalo isinya sebuah tas. Tari mengiyakan jawaban bu guru. Memang hebat bu guru kita ini.
Selanjutnya, Klepon, bocah gendut anak pedagang es krim membawa bungkusan yang lumayan besar. Dengan agak susah jalannya, dia datangi guru kesayangannya. Disodorkannya kotak kardus yang dia bawa. Bu guru menerima dengan sukacita dan mengucapkan terima kasih. Dirasakan oleh tangannya bagian bawah kardus basah. Seperti dilakukan sebelumnya, dia kemudian menebak apa isi kardus itu. Karena tau orang tua Klepon punya toko es krim maka dia berpikiran pasti isinya es krim. Bagian bawah kardus yang basah menguatkan perkiraannya. Jari tangannya yang basah kena bagian bawah kardus dia jilat. Tidak ada rasanya. Dia bingung. Tapi agar Klepon senang, dia sampaikan tebakannya.
“Pasti isinya es krim rasa stroberi?,” kata bu guru.
Klepon geleng kepala.
“Rasa nanas?” Bu guru belum nyerah.
Klepon geleng lagi. Bu guru ngangguk-angguk.
“Rasa melon ya?”
Klepon hanya senyum sambil menggelengkan kepala.
“Pisang? Kalo ini masih salah, bu guru nyerah deh.”
Kepala Klepon godek. “Isinya bukan es krim bu,” katanya.
“Lalu?”
“Anak anjing.”
Nah tuh. Makanya jangan celamitan ya.
“Wolf wolf roof roof woof woof roof wolf roof roof woof.”
Hasil tes: Good Dog!
Eit, jangan marah dulu. It’s just kidding, not insulting, apalagi menganggap anda disgusting. Kalo nggak ngerti, mending cicing, kayak kucing, lagi bunting. Bener, saya nggak punya maksud apa-apa. Sama sekali tidak punya pikiran menganggap situ ini kayak puppy, apalagi anjing biang. Dan jangan tuduh saya memperlakukan situ sebagai anjing. Tapi apa boleh buat kalo ente memang merasa seperti itu, ya, gimana ya, orang situ sendiri yang ngerasa seperti itu. Saya sih akur aja.
Kenapa saya bawa-bawa binatang najis ini? Saya hanya ingin menunjukkan kalo lidah anjing itu panjang. So what? Nggak. Nggak ada maksud apa-apa. Kira-kira panjangan mana lidah anda dengan lidah anjing? Lhah? Kalo ini mah so what lagi. Udahan ah. Ntar bisa diboikot saya. Orang baru ngonsep tulisan ini aja sudah ada yang ngancem. Oke, oke, sori deh. Tos dulu dong kalo gitu? (*nyodorin telapak tangan*)
Jadi pertanyaan yang ingin saya ajukan kira-kira gini. Kenapa anjing lidahnya panjang? Karena dia suka menjilat. Nyambung nggak? Kayaknya nggak ya? Tapi okelah, dipaksain aja. Karena anjing suka njilatin, maka tuannya banyak yang suka. Kegelian. Jadi gelisah gitu. Alias geli-geli basah. Apalagi anjingnya suka ngiler. Makin tambah basah deh.
Dalam dunia manusia, orang juga suka njilatin. Seperti saya contohnya. Saya suka banget njilatin es krim. Lebih-lebih kalo es krim hasil dikasih alias dapet gratis. Wuah, nikmat banget. Situ suka njilatin juga nggak? Pesen saya, jangan njilatin buburnya ayam ya (inget, pake ‘nya’ di belakang kata bubur), kasian orang tuamu. Punya anak kok hobinya aneh. Ihhhhhh geuleuh... Tapi, karena kebiasaan njilat itu alamiah dan naluriah, maka nggak usah malu lah kalo punya kebiasaan itu. Asalkan yang dijilat yang bener-bener aja. Trus, gimana kalo nggak bener?
Saya punya contoh untuk njilat yang nggak bener. Bukan tentang apa yang dijilat seperti yang disebutkan di atas, tapi tujuan dia menjilat. Kalo menjilat yang dilakukan untuk kepentingan pribadi, itu nggak bener. Saya kira, untuk kepentingan kelompok tertentu juga nggak bener. Njilat untuk carmuk juga salah. Pokoknya menjilat itu pekerjaan yang nggak bener, nggak sopan, kampungan. Dan juga, istilah menjilat itu memang memiliki konotasi negatif. Kalo orang menjilat orang lain, pasti ada sesuatu yang dia harapkan. Apalagi disertai dengan tampang mupeng. Pasti deh, bisa ditebak.
Emang, menjilat itu banyak ruginya. Pertama, kalo yang dijilat api, lidah jadi kebakar (ini mah kerjaannya orang gendeng). Kedua, njilat bisa bikin jadi bau, kalo yang dijilat tai kotok (ini kerjaannya si jorki). Ketiga, ini serius, njilat selain menciptakan banyak musuh juga bisa menunjukkan kalo si penjilat ini tidak memiliki kualitas, tidak loyal, dan tidak memiliki integritas. Bisa jadi, suatu saat akan kena batunya, seperti cerita di bawah ini. Coba simak dan camkan baik-baik ya.
Seorang guru tk akan pindah ke luar kota. Pihak sekolah kemudian mengadakan acara perpisahan. Masing-masing anak di kelas yang diajar bu guru ini (biasanya guru tk kan perempuan) membawakan kenang-kenangan. Satu persatu para murid maju ke depan untuk menyerahkan kado yang dibawanya untuk bu guru tercinta.
“Bu guru, Kimpul bawa kado buat bu guru,” katanya. Kimpul ini anaknya pedagang boneka.
Bu guru itu sambil mengucapkan terima kasih lalu menggoyang-goyang kado yang dia terima. Kemudian menebak barang yang ada di dalamnya. “Pasti isinya boneka?”
“Betul bu,” kata Kimpul.
Kemudian Tari, yang bapaknya juragan tas, menyerahkan kado.
“Terima kasih Tari. Bu guru tebak isinya ya?”
“Boleh bu,” jawab Tari.
Setelah mengocok-ngocok sebentar, bu guru kemudian menebak kalo isinya sebuah tas. Tari mengiyakan jawaban bu guru. Memang hebat bu guru kita ini.
Selanjutnya, Klepon, bocah gendut anak pedagang es krim membawa bungkusan yang lumayan besar. Dengan agak susah jalannya, dia datangi guru kesayangannya. Disodorkannya kotak kardus yang dia bawa. Bu guru menerima dengan sukacita dan mengucapkan terima kasih. Dirasakan oleh tangannya bagian bawah kardus basah. Seperti dilakukan sebelumnya, dia kemudian menebak apa isi kardus itu. Karena tau orang tua Klepon punya toko es krim maka dia berpikiran pasti isinya es krim. Bagian bawah kardus yang basah menguatkan perkiraannya. Jari tangannya yang basah kena bagian bawah kardus dia jilat. Tidak ada rasanya. Dia bingung. Tapi agar Klepon senang, dia sampaikan tebakannya.
“Pasti isinya es krim rasa stroberi?,” kata bu guru.
Klepon geleng kepala.
“Rasa nanas?” Bu guru belum nyerah.
Klepon geleng lagi. Bu guru ngangguk-angguk.
“Rasa melon ya?”
Klepon hanya senyum sambil menggelengkan kepala.
“Pisang? Kalo ini masih salah, bu guru nyerah deh.”
Kepala Klepon godek. “Isinya bukan es krim bu,” katanya.
“Lalu?”
“Anak anjing.”
Nah tuh. Makanya jangan celamitan ya.
Wednesday, September 05, 2007
Safety Player
Para pengecut bertebaran di sekitar kita. Pecundang juga sama. Tapi jangan-jangan? Jangan-jangan, salah satunya adalah kita. Saya, yang nulis ini, atau anda, yang baca itu eh ini. Hayo, hiya ato hiya. Ngaku ajalah. Atau barangkali kita nggak ngerasa kalo kita ini pengecut, nggak beranian. Nggak jantan. Nggak sportif. Nggak berani mengakui kemenangan lawan. Takut melihat kelebihan orang lain.
Bisa jadi kita ini juga seorang pecundang. Seorang loser. Selalu melihat risiko pada setiap peluang yang muncul. Jebakan aja yang dipikirkan, bukannya kesempatan. Sirik terhadap orang lain. Nah, jadi repot sendiri kan kalo begitu? Kapan majunya kalo terus-terusan begitu?
Sebuah istilah yang kedengarannya bagus tapi untuk kasus tertentu sebenarnya bungkusnya doang adalah safety player. Sedangkan isinya? Sampah! Siapa sampah-sampah tersebut? Ya para pengecut dan pecundang itulah. Jadi kadang-kadang untuk menghindari risiko yang bakal muncul, dia lebih memilih untuk menjadi safety player. Hanya yang enak-enak saja yang akan dicaploknya. Tapi kalo yang enak itu ada risikonya dan dia yang harus menghadapinya, ya entar dulu. Kalo bisa orang lain yang menanggung risikonya dan saya yang menikmati rewardnya, kenapa tidak? Itulah prinsip mereka. Selalu memilih untuk menjadi safety player. Aman dari kegagalan, aman dari bahaya. Biarlah orang lain yang berjuang. Si safety player ini cukup mengamati dari dekat, sukur-sukur bisa dari tempat jauh. Kalo perlu pake teropong. Jadi, nggak bakal kecipratan (emang maen aer?).
Tau burung (bukan titit!) kondor ato yang suka juga disebut burung bangke? Seperti itulah kadang seorang safety player. Dari ketinggian di angkasa dia mengamati kelompok harimau yang sedang menikmati hasil buruannya. Seekor bangke binatang yang gemuk. Si burung ini hanya melayang-layang di atasnya sambil lihat-lihat kesempatan. Sapa tau si raja hutan itu lengah, jadi ada peluang untuk ngupil eh ngutil. Kalopun tidak, pemangsa bangke ini akan menunggu dengan sabar sampe yang ditunggu selesai menikmati santap siangnya. Yang tertinggal, tulang-belulang dan sedikit daging yang menempel, sudah cukup buatnya. Lumayan kan. Daripada harus berburu sendiri. Bisa-bisa malah diuber-uber sama mangsa yang tadinya mau dia uber-uber. Apalagi kalo yang mau diuber itu seekor bison (kebo liar). Enggak deh, terima kasih. Nah, gitu tu kelakuannya si safety player kita.
Ato, pernah liat sepakbola? Saya nanya gitu nggak ada urusannya anda ini jantan ato betina (mas-mas, saya ini manusia bukan binatang, tolong yang sopan dikit ya, jangan dijantanbetinain ya *marah, tapi masih bisa ditahan*. Oh, iya iya *sambil membungkuk-bungkuk sampe bongkok udang* maap-maap). Mangsutnye aye nanya gitu hanya sekedar memberi perbandingan. Kalo anda hobinya nonton bola, ya seperti itu jugalah hobinya si safety player. Dia lebih suka jadi penonton dari pada pemain. Nanti kalo giliran mukulin wasit seperti nasib wasit kita Donald Luther Kolopita (kompetisi olah raga bela diri karate) di negeri jiran yang dikeroyok empat polisi diraja Malaysia (24/8), ato nendangin wasit bola seperti saat ada pertandingan bola di Palangka Raya tempo hari, baru si safety player jadi pemain. Pukul, tendang, pukul lagi, tendang lagi. Tarik maaaaaaaaang (halah, biasa ndangndut). Seorang safety player sejati alergi kalo harus jadi pemain.
Jadi, kalo ada sebuah kejadian, yah contohnya pertandingan bola tadilah, kan ada tiga pilihan yang bisa diambil. Masing-masing pilihan bisa mencerminkan siapa si pemilih itu. Seekor pengecut kah (eh, seorang ya?), seorang jagoan kah, ato seorang penderita ayan kah (yang terakhir ini ngeri banget ya)?
Pilihan pertama yang bisa diambil adalah menjadi seorang pemain. Kita jadi jagoannya. Kita terlibat langsung di dalamnya. Jadi kita bisa melakukan heading, hattrick, matrix, ato bahkan sebage jurix (udah deh mulai ngawur). Artinya kita yang menentukan. Sukses tidaknya kita yang berperan disitu, karena kita pelaku dari peristiwa yang sedang berlangsung itu. Apapun yang terjadi akan dihadapi. Berhasil, itu yang diharapkan. Gagal, emang itu risiko yang sudah siap ditanggung dan memang sudah selayaknya terjadi.
Pilihan kedua, jadi penonton. Ya inilah orang-orang dari golongan sesat. Jadi mayoritas orang Indonesia sesat dong, kan mereka banyak yang maniak bola? Bukan. Bukan itu. Itu kan perasaan anda saja. Para penonton inilah yang bisa ditamsilkan (kok kayaknya kuno banget ya pake kata ini) sebagai safety player. Mereka bersorak-ria ketika terjadi gol. Mereka bersenang-senang ketika usulan kenaikan gaji yang diajukan pasukan berani mati disetujui manajemen. Mereka akan bilang tidak dan geleng kepala kalo ditanya apakah ikut terlibat ketika usulan yang diajukan itu membuat marah sang pemilik yang kemudian melontarkan ancaman pemecatan kepada siapa saja yang terlibat. Semua telunjuknya, kalo perlu semua jari tangan dan kakinya, akan mengarah ke orang ato orang-orang yang memperjuangkan nasib yang termasuk nasib mereka para safety player. Mereka juga akan ngomel-ngomel, menyalahkan para pemberani ini kalo usulan yang diajukan gagal diperjuangkan. Intinya, mereka hanya mau menghisap madunya, bebas terkena sengatan lebahnya.
Pilihan ketiga adalah pilihannya orang-orang aneh. Dibilang ayan ya bisa jadi (kalo anda tega), dibilang gendeng mungkin ada benernya juga, dikatakan kelompok yang hidup dalam dunianya sendiri bak penderita schizophrenia ya mungkin nggak salah, terserahlah anda mau menyebut apa terhadap mereka. Gimana nggak aneh kalo sementara orang lain bermain dan yang lainya menonton, dianya sendiri malah cengok. Pikirannya ke mana-mana, yang pasti nggak kesitu. Dia nggak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Terus ngapain dia njogrog di tempat itu. Main tidak, nonton bukan. Lieur teuing. Tapi herannya, ada orang yang seperti ini. Untungnya, orang ini bukan ato tidak bisa dimasukkan ke komunitas safety player. Dia itu bukan somebody, ato something. Dia itu NOTHING. Karena nothing, mending nggak usah berlama-lama ya kita ngomonginnya? (lagian sapa yang nyuruh, wek!)
Sekarang, sekali lagi, ambil cermin. Liat tuh jidatnya. Ada nggak tulisan ‘safety player’. Kalo jelas ada, pake spidol gede merah lagi, mending segera bertobat deh. Sebelum azab datang. DUARRRRRR......
Bisa jadi kita ini juga seorang pecundang. Seorang loser. Selalu melihat risiko pada setiap peluang yang muncul. Jebakan aja yang dipikirkan, bukannya kesempatan. Sirik terhadap orang lain. Nah, jadi repot sendiri kan kalo begitu? Kapan majunya kalo terus-terusan begitu?
Sebuah istilah yang kedengarannya bagus tapi untuk kasus tertentu sebenarnya bungkusnya doang adalah safety player. Sedangkan isinya? Sampah! Siapa sampah-sampah tersebut? Ya para pengecut dan pecundang itulah. Jadi kadang-kadang untuk menghindari risiko yang bakal muncul, dia lebih memilih untuk menjadi safety player. Hanya yang enak-enak saja yang akan dicaploknya. Tapi kalo yang enak itu ada risikonya dan dia yang harus menghadapinya, ya entar dulu. Kalo bisa orang lain yang menanggung risikonya dan saya yang menikmati rewardnya, kenapa tidak? Itulah prinsip mereka. Selalu memilih untuk menjadi safety player. Aman dari kegagalan, aman dari bahaya. Biarlah orang lain yang berjuang. Si safety player ini cukup mengamati dari dekat, sukur-sukur bisa dari tempat jauh. Kalo perlu pake teropong. Jadi, nggak bakal kecipratan (emang maen aer?).
Tau burung (bukan titit!) kondor ato yang suka juga disebut burung bangke? Seperti itulah kadang seorang safety player. Dari ketinggian di angkasa dia mengamati kelompok harimau yang sedang menikmati hasil buruannya. Seekor bangke binatang yang gemuk. Si burung ini hanya melayang-layang di atasnya sambil lihat-lihat kesempatan. Sapa tau si raja hutan itu lengah, jadi ada peluang untuk ngupil eh ngutil. Kalopun tidak, pemangsa bangke ini akan menunggu dengan sabar sampe yang ditunggu selesai menikmati santap siangnya. Yang tertinggal, tulang-belulang dan sedikit daging yang menempel, sudah cukup buatnya. Lumayan kan. Daripada harus berburu sendiri. Bisa-bisa malah diuber-uber sama mangsa yang tadinya mau dia uber-uber. Apalagi kalo yang mau diuber itu seekor bison (kebo liar). Enggak deh, terima kasih. Nah, gitu tu kelakuannya si safety player kita.
Ato, pernah liat sepakbola? Saya nanya gitu nggak ada urusannya anda ini jantan ato betina (mas-mas, saya ini manusia bukan binatang, tolong yang sopan dikit ya, jangan dijantanbetinain ya *marah, tapi masih bisa ditahan*. Oh, iya iya *sambil membungkuk-bungkuk sampe bongkok udang* maap-maap). Mangsutnye aye nanya gitu hanya sekedar memberi perbandingan. Kalo anda hobinya nonton bola, ya seperti itu jugalah hobinya si safety player. Dia lebih suka jadi penonton dari pada pemain. Nanti kalo giliran mukulin wasit seperti nasib wasit kita Donald Luther Kolopita (kompetisi olah raga bela diri karate) di negeri jiran yang dikeroyok empat polisi diraja Malaysia (24/8), ato nendangin wasit bola seperti saat ada pertandingan bola di Palangka Raya tempo hari, baru si safety player jadi pemain. Pukul, tendang, pukul lagi, tendang lagi. Tarik maaaaaaaaang (halah, biasa ndangndut). Seorang safety player sejati alergi kalo harus jadi pemain.
Jadi, kalo ada sebuah kejadian, yah contohnya pertandingan bola tadilah, kan ada tiga pilihan yang bisa diambil. Masing-masing pilihan bisa mencerminkan siapa si pemilih itu. Seekor pengecut kah (eh, seorang ya?), seorang jagoan kah, ato seorang penderita ayan kah (yang terakhir ini ngeri banget ya)?
Pilihan pertama yang bisa diambil adalah menjadi seorang pemain. Kita jadi jagoannya. Kita terlibat langsung di dalamnya. Jadi kita bisa melakukan heading, hattrick, matrix, ato bahkan sebage jurix (udah deh mulai ngawur). Artinya kita yang menentukan. Sukses tidaknya kita yang berperan disitu, karena kita pelaku dari peristiwa yang sedang berlangsung itu. Apapun yang terjadi akan dihadapi. Berhasil, itu yang diharapkan. Gagal, emang itu risiko yang sudah siap ditanggung dan memang sudah selayaknya terjadi.
Pilihan kedua, jadi penonton. Ya inilah orang-orang dari golongan sesat. Jadi mayoritas orang Indonesia sesat dong, kan mereka banyak yang maniak bola? Bukan. Bukan itu. Itu kan perasaan anda saja. Para penonton inilah yang bisa ditamsilkan (kok kayaknya kuno banget ya pake kata ini) sebagai safety player. Mereka bersorak-ria ketika terjadi gol. Mereka bersenang-senang ketika usulan kenaikan gaji yang diajukan pasukan berani mati disetujui manajemen. Mereka akan bilang tidak dan geleng kepala kalo ditanya apakah ikut terlibat ketika usulan yang diajukan itu membuat marah sang pemilik yang kemudian melontarkan ancaman pemecatan kepada siapa saja yang terlibat. Semua telunjuknya, kalo perlu semua jari tangan dan kakinya, akan mengarah ke orang ato orang-orang yang memperjuangkan nasib yang termasuk nasib mereka para safety player. Mereka juga akan ngomel-ngomel, menyalahkan para pemberani ini kalo usulan yang diajukan gagal diperjuangkan. Intinya, mereka hanya mau menghisap madunya, bebas terkena sengatan lebahnya.
Pilihan ketiga adalah pilihannya orang-orang aneh. Dibilang ayan ya bisa jadi (kalo anda tega), dibilang gendeng mungkin ada benernya juga, dikatakan kelompok yang hidup dalam dunianya sendiri bak penderita schizophrenia ya mungkin nggak salah, terserahlah anda mau menyebut apa terhadap mereka. Gimana nggak aneh kalo sementara orang lain bermain dan yang lainya menonton, dianya sendiri malah cengok. Pikirannya ke mana-mana, yang pasti nggak kesitu. Dia nggak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Terus ngapain dia njogrog di tempat itu. Main tidak, nonton bukan. Lieur teuing. Tapi herannya, ada orang yang seperti ini. Untungnya, orang ini bukan ato tidak bisa dimasukkan ke komunitas safety player. Dia itu bukan somebody, ato something. Dia itu NOTHING. Karena nothing, mending nggak usah berlama-lama ya kita ngomonginnya? (lagian sapa yang nyuruh, wek!)
Sekarang, sekali lagi, ambil cermin. Liat tuh jidatnya. Ada nggak tulisan ‘safety player’. Kalo jelas ada, pake spidol gede merah lagi, mending segera bertobat deh. Sebelum azab datang. DUARRRRRR......
Tuesday, September 04, 2007
Over Qualified
Boleh saja koar-koar memamerkan kemampuan. Nggak ada yang nglarang kok. Juga kalo memang pengen show off. Cuman mungkin, buat yang waras dan penganut aliran ilmu padi, kelakuan itu terlihat norak. Atau malah dicap sebagai orang yang nggak tau diri. Kalo yang ekstrim apalagi dicampur sedikit unsur benci sama anda, malah ada yang menyebutnya orang gila. Emang enak?
Permulaan tulisan yang agak membingungkan? Atau bukan agak lagi malah? Terserahlah. Tapi emang di sekitar kita banyak, atau bisa juga sedikit, orang yang berkelakuan seperti itu. Maksud saya, ada orang-orang yang suka pamer. Apapun. Kemampuan, kekayaan, kecantikan, kejantanan (kok kayak ayam?), atau hal-hal yang negatif tapi membanggakan buat yang punya (kalo saya sih nggak bangga, tapi malu, eh kadang-kadang bangga juga ding kalo lagi kumat anunya). Yah, seperti kemalasan, kejorokan, kebauan (apa ini?), kemaluan (kalo ini bingung aku mesti gimana njelasinnya), dan remeh-temeh negatif lainnya. Anda punya yang jelek-jelek itu? Syukurlah kalo gitu. Berarti anda manusia normal (ngerti nggak?).
Intinya gini. Pada dasarnya semua orang bangga dengan kelebihan yang dia miliki. Bisa positif bisa negatif, terutama yang positif. Yang kurus bangga dengan kekurusannya. Biar terdengar menyenangkan dan membanggakan, maka disebut memiliki tubuh yang langsing (meskipun bisa jadi sebenarnya penyakitan). Yang molegh, MAKSUDNYA GENDUT (*kedua telapak tangan membentuk corong didepan mulut*), gembira dan sombong (boleh kan menyombongkan barang sendiri?) dengan suburnya badan yang dipunyai. Apapun yang dimiliki, emang sudah seharusnya dibanggakan. Nggak sehatlah yang namanya gampang mengeluh. Dikit dikit, ngeluh. Dikit dikit, ngeluh. Itu nggak ikhlas namanya. Tidak nrimo ing pandum. Nggak puas dengan apa yang sudah dimiliki. Belek segede gajah di pelupuk mata tak tampak, kutil di seberang lautan tampak jelas (kayaknya ada yang nggak beres deh dengan peribahasa ini). Kadang-kadang orang itu suka bikin susah sendiri ya? Sudah punya badan seger sehat, dikurus-kurusin. Katanya pengen slim. Eee… giliran sudah kerempeng, penyakitan lagi, bingung sendiri. Yang gendut, takut dibilang nggak seksi, trus diet. Padahal, kalo pengen tau, sebagian cowok justru menganggap seksi kalo cewek itu badannya bongsor. Bahkan ada yang suka selain gendut juga agak bau-bau gimana gitu. Eksotik katanya.
Trus gimana kalo orang itu diem aja, nggak suka show off (pamer), badan meringkuk kayak udang, ngences (ada anak sungai di pipinya), mulutnya mangap, dan matanya merem? Itu mah orang molor! Ngaco ya? Maksud saya gini, ini serius. Bener, swear. Kadang ada orang yang memiliki sesuatu, biasanya kemampuan, ketrampilan, keahlian, pengalaman, atau gabungan dari beberapa maupun semuanya, tetapi sesuatunya itu melebihi dari yang dibutuhkan. Nah kalo ini yang terjadi, itu namanya over qualified. Orangnya sendiri mungkin suka pamer, arogan, tengil, atau ramah, diem setenang kuburan, disiplin, rajin, suka menolong, dan tidak sombong.
Dalam posisi over qualified, jelas tidak menguntungkan. Si over qualified ini bisa-bisa stres di lingkungan yang ada di bawah standarnya. Apa yang dia miliki tidak terserap oleh sekitarnya. Bisa jadi karena memang kemampuan yang dipunyai lingkungannya tidak nyampe ke level yang dia miliki. Kasiaaaaaannnn deh lu. Cara yang bisa dilakukan adalah mengup-grade lingkungan yang ada ke standar dia. Atau kalau ingin tidak stres, ya jangan lama-lama di situ. Segera cabut dari kubangan itu (kebo kale). Beres.
Saya punya satu contoh tentang over qualified ini. Seorang teman setelah tidak kerja lagi segera membuat surat lamaran. 50 berkas surat lamaran dia sebar ke perusahaan-perusahaan. Tentu saja bukan perusahaan moyangnya. Tunggu punya tunggu, tidak ada satupun surat yang dia kirim mendapat jawaban. Rupanya, cv yang dia lampirkan memposisikan dirinya sebagai orang yang over qualified untuk posisi yang dilamarnya. Orang perusahaan bingung mau ditaruh dimana temen saya ini melihat pengalaman kerjanya yang pernah menjabat tiga kali sebagai direktur. Akhirnya, ya udah, dia bikin perusahaan sendiri.
Tapi ente jangan merasa over qualified dulu, meskipun memiliki posisi yang lebih tinggi dari yang lain. Kalo ngomong aja nggak berani, sekalinya ngomong belepotan, ngalor ngidul, dan nggak jelas mana kepala mana ekor (ini pasti penjual belut, setidaknya pemburu uler lah). Atau berani ngomong, tapi nggak mutu, nggak ada isinya, tong kosong berbunyi nyaring (berarti minyaknya habis, soalnya ini tong bekas tempat minyak). Kalo anda juragan tapi sikap mentalnya kaya jongos, ya namanya ‘miwon’, sami mawon, atau ‘sasa’ sama saja, atau orang jadul bilang setali tiga uang, ada tali ada uang ada ubi ada talas(yang ini jelas ngaco).
Ngaca dulu lah (termasuk yang bikin ini). Jangan buru-buru memproklamirkan dirinya over qualified. Tapi percayalah, over qualified itu tidak mengenakkan, kadang menyakitkan. Apalagi di tengah-tengah orang yang nggatheli dan njelehi (menjengkelkan, norak, dan menjijikkan).
Permulaan tulisan yang agak membingungkan? Atau bukan agak lagi malah? Terserahlah. Tapi emang di sekitar kita banyak, atau bisa juga sedikit, orang yang berkelakuan seperti itu. Maksud saya, ada orang-orang yang suka pamer. Apapun. Kemampuan, kekayaan, kecantikan, kejantanan (kok kayak ayam?), atau hal-hal yang negatif tapi membanggakan buat yang punya (kalo saya sih nggak bangga, tapi malu, eh kadang-kadang bangga juga ding kalo lagi kumat anunya). Yah, seperti kemalasan, kejorokan, kebauan (apa ini?), kemaluan (kalo ini bingung aku mesti gimana njelasinnya), dan remeh-temeh negatif lainnya. Anda punya yang jelek-jelek itu? Syukurlah kalo gitu. Berarti anda manusia normal (ngerti nggak?).
Intinya gini. Pada dasarnya semua orang bangga dengan kelebihan yang dia miliki. Bisa positif bisa negatif, terutama yang positif. Yang kurus bangga dengan kekurusannya. Biar terdengar menyenangkan dan membanggakan, maka disebut memiliki tubuh yang langsing (meskipun bisa jadi sebenarnya penyakitan). Yang molegh, MAKSUDNYA GENDUT (*kedua telapak tangan membentuk corong didepan mulut*), gembira dan sombong (boleh kan menyombongkan barang sendiri?) dengan suburnya badan yang dipunyai. Apapun yang dimiliki, emang sudah seharusnya dibanggakan. Nggak sehatlah yang namanya gampang mengeluh. Dikit dikit, ngeluh. Dikit dikit, ngeluh. Itu nggak ikhlas namanya. Tidak nrimo ing pandum. Nggak puas dengan apa yang sudah dimiliki. Belek segede gajah di pelupuk mata tak tampak, kutil di seberang lautan tampak jelas (kayaknya ada yang nggak beres deh dengan peribahasa ini). Kadang-kadang orang itu suka bikin susah sendiri ya? Sudah punya badan seger sehat, dikurus-kurusin. Katanya pengen slim. Eee… giliran sudah kerempeng, penyakitan lagi, bingung sendiri. Yang gendut, takut dibilang nggak seksi, trus diet. Padahal, kalo pengen tau, sebagian cowok justru menganggap seksi kalo cewek itu badannya bongsor. Bahkan ada yang suka selain gendut juga agak bau-bau gimana gitu. Eksotik katanya.
Trus gimana kalo orang itu diem aja, nggak suka show off (pamer), badan meringkuk kayak udang, ngences (ada anak sungai di pipinya), mulutnya mangap, dan matanya merem? Itu mah orang molor! Ngaco ya? Maksud saya gini, ini serius. Bener, swear. Kadang ada orang yang memiliki sesuatu, biasanya kemampuan, ketrampilan, keahlian, pengalaman, atau gabungan dari beberapa maupun semuanya, tetapi sesuatunya itu melebihi dari yang dibutuhkan. Nah kalo ini yang terjadi, itu namanya over qualified. Orangnya sendiri mungkin suka pamer, arogan, tengil, atau ramah, diem setenang kuburan, disiplin, rajin, suka menolong, dan tidak sombong.
Dalam posisi over qualified, jelas tidak menguntungkan. Si over qualified ini bisa-bisa stres di lingkungan yang ada di bawah standarnya. Apa yang dia miliki tidak terserap oleh sekitarnya. Bisa jadi karena memang kemampuan yang dipunyai lingkungannya tidak nyampe ke level yang dia miliki. Kasiaaaaaannnn deh lu. Cara yang bisa dilakukan adalah mengup-grade lingkungan yang ada ke standar dia. Atau kalau ingin tidak stres, ya jangan lama-lama di situ. Segera cabut dari kubangan itu (kebo kale). Beres.
Saya punya satu contoh tentang over qualified ini. Seorang teman setelah tidak kerja lagi segera membuat surat lamaran. 50 berkas surat lamaran dia sebar ke perusahaan-perusahaan. Tentu saja bukan perusahaan moyangnya. Tunggu punya tunggu, tidak ada satupun surat yang dia kirim mendapat jawaban. Rupanya, cv yang dia lampirkan memposisikan dirinya sebagai orang yang over qualified untuk posisi yang dilamarnya. Orang perusahaan bingung mau ditaruh dimana temen saya ini melihat pengalaman kerjanya yang pernah menjabat tiga kali sebagai direktur. Akhirnya, ya udah, dia bikin perusahaan sendiri.
Tapi ente jangan merasa over qualified dulu, meskipun memiliki posisi yang lebih tinggi dari yang lain. Kalo ngomong aja nggak berani, sekalinya ngomong belepotan, ngalor ngidul, dan nggak jelas mana kepala mana ekor (ini pasti penjual belut, setidaknya pemburu uler lah). Atau berani ngomong, tapi nggak mutu, nggak ada isinya, tong kosong berbunyi nyaring (berarti minyaknya habis, soalnya ini tong bekas tempat minyak). Kalo anda juragan tapi sikap mentalnya kaya jongos, ya namanya ‘miwon’, sami mawon, atau ‘sasa’ sama saja, atau orang jadul bilang setali tiga uang, ada tali ada uang ada ubi ada talas(yang ini jelas ngaco).
Ngaca dulu lah (termasuk yang bikin ini). Jangan buru-buru memproklamirkan dirinya over qualified. Tapi percayalah, over qualified itu tidak mengenakkan, kadang menyakitkan. Apalagi di tengah-tengah orang yang nggatheli dan njelehi (menjengkelkan, norak, dan menjijikkan).
Subscribe to:
Posts (Atom)