Ingin belajar bahasa Inggris? Gampang. Coba ucapkan kata-kata di bawah ini dengan cepat dan keras. Kalo perlu sambil merem matanya. Biar memberi kesan benar-benar menghayati. Kan hebat gitu.
“Wolf wolf roof roof woof woof roof wolf roof roof woof.”
Hasil tes: Good Dog!
Eit, jangan marah dulu. It’s just kidding, not insulting, apalagi menganggap anda disgusting. Kalo nggak ngerti, mending cicing, kayak kucing, lagi bunting. Bener, saya nggak punya maksud apa-apa. Sama sekali tidak punya pikiran menganggap situ ini kayak puppy, apalagi anjing biang. Dan jangan tuduh saya memperlakukan situ sebagai anjing. Tapi apa boleh buat kalo ente memang merasa seperti itu, ya, gimana ya, orang situ sendiri yang ngerasa seperti itu. Saya sih akur aja.
Kenapa saya bawa-bawa binatang najis ini? Saya hanya ingin menunjukkan kalo lidah anjing itu panjang. So what? Nggak. Nggak ada maksud apa-apa. Kira-kira panjangan mana lidah anda dengan lidah anjing? Lhah? Kalo ini mah so what lagi. Udahan ah. Ntar bisa diboikot saya. Orang baru ngonsep tulisan ini aja sudah ada yang ngancem. Oke, oke, sori deh. Tos dulu dong kalo gitu? (*nyodorin telapak tangan*)
Jadi pertanyaan yang ingin saya ajukan kira-kira gini. Kenapa anjing lidahnya panjang? Karena dia suka menjilat. Nyambung nggak? Kayaknya nggak ya? Tapi okelah, dipaksain aja. Karena anjing suka njilatin, maka tuannya banyak yang suka. Kegelian. Jadi gelisah gitu. Alias geli-geli basah. Apalagi anjingnya suka ngiler. Makin tambah basah deh.
Dalam dunia manusia, orang juga suka njilatin. Seperti saya contohnya. Saya suka banget njilatin es krim. Lebih-lebih kalo es krim hasil dikasih alias dapet gratis. Wuah, nikmat banget. Situ suka njilatin juga nggak? Pesen saya, jangan njilatin buburnya ayam ya (inget, pake ‘nya’ di belakang kata bubur), kasian orang tuamu. Punya anak kok hobinya aneh. Ihhhhhh geuleuh... Tapi, karena kebiasaan njilat itu alamiah dan naluriah, maka nggak usah malu lah kalo punya kebiasaan itu. Asalkan yang dijilat yang bener-bener aja. Trus, gimana kalo nggak bener?
Saya punya contoh untuk njilat yang nggak bener. Bukan tentang apa yang dijilat seperti yang disebutkan di atas, tapi tujuan dia menjilat. Kalo menjilat yang dilakukan untuk kepentingan pribadi, itu nggak bener. Saya kira, untuk kepentingan kelompok tertentu juga nggak bener. Njilat untuk carmuk juga salah. Pokoknya menjilat itu pekerjaan yang nggak bener, nggak sopan, kampungan. Dan juga, istilah menjilat itu memang memiliki konotasi negatif. Kalo orang menjilat orang lain, pasti ada sesuatu yang dia harapkan. Apalagi disertai dengan tampang mupeng. Pasti deh, bisa ditebak.
Emang, menjilat itu banyak ruginya. Pertama, kalo yang dijilat api, lidah jadi kebakar (ini mah kerjaannya orang gendeng). Kedua, njilat bisa bikin jadi bau, kalo yang dijilat tai kotok (ini kerjaannya si jorki). Ketiga, ini serius, njilat selain menciptakan banyak musuh juga bisa menunjukkan kalo si penjilat ini tidak memiliki kualitas, tidak loyal, dan tidak memiliki integritas. Bisa jadi, suatu saat akan kena batunya, seperti cerita di bawah ini. Coba simak dan camkan baik-baik ya.
Seorang guru tk akan pindah ke luar kota. Pihak sekolah kemudian mengadakan acara perpisahan. Masing-masing anak di kelas yang diajar bu guru ini (biasanya guru tk kan perempuan) membawakan kenang-kenangan. Satu persatu para murid maju ke depan untuk menyerahkan kado yang dibawanya untuk bu guru tercinta.
“Bu guru, Kimpul bawa kado buat bu guru,” katanya. Kimpul ini anaknya pedagang boneka.
Bu guru itu sambil mengucapkan terima kasih lalu menggoyang-goyang kado yang dia terima. Kemudian menebak barang yang ada di dalamnya. “Pasti isinya boneka?”
“Betul bu,” kata Kimpul.
Kemudian Tari, yang bapaknya juragan tas, menyerahkan kado.
“Terima kasih Tari. Bu guru tebak isinya ya?”
“Boleh bu,” jawab Tari.
Setelah mengocok-ngocok sebentar, bu guru kemudian menebak kalo isinya sebuah tas. Tari mengiyakan jawaban bu guru. Memang hebat bu guru kita ini.
Selanjutnya, Klepon, bocah gendut anak pedagang es krim membawa bungkusan yang lumayan besar. Dengan agak susah jalannya, dia datangi guru kesayangannya. Disodorkannya kotak kardus yang dia bawa. Bu guru menerima dengan sukacita dan mengucapkan terima kasih. Dirasakan oleh tangannya bagian bawah kardus basah. Seperti dilakukan sebelumnya, dia kemudian menebak apa isi kardus itu. Karena tau orang tua Klepon punya toko es krim maka dia berpikiran pasti isinya es krim. Bagian bawah kardus yang basah menguatkan perkiraannya. Jari tangannya yang basah kena bagian bawah kardus dia jilat. Tidak ada rasanya. Dia bingung. Tapi agar Klepon senang, dia sampaikan tebakannya.
“Pasti isinya es krim rasa stroberi?,” kata bu guru.
Klepon geleng kepala.
“Rasa nanas?” Bu guru belum nyerah.
Klepon geleng lagi. Bu guru ngangguk-angguk.
“Rasa melon ya?”
Klepon hanya senyum sambil menggelengkan kepala.
“Pisang? Kalo ini masih salah, bu guru nyerah deh.”
Kepala Klepon godek. “Isinya bukan es krim bu,” katanya.
“Lalu?”
“Anak anjing.”
Nah tuh. Makanya jangan celamitan ya.
Monday, September 10, 2007
Wednesday, September 05, 2007
Safety Player
Para pengecut bertebaran di sekitar kita. Pecundang juga sama. Tapi jangan-jangan? Jangan-jangan, salah satunya adalah kita. Saya, yang nulis ini, atau anda, yang baca itu eh ini. Hayo, hiya ato hiya. Ngaku ajalah. Atau barangkali kita nggak ngerasa kalo kita ini pengecut, nggak beranian. Nggak jantan. Nggak sportif. Nggak berani mengakui kemenangan lawan. Takut melihat kelebihan orang lain.
Bisa jadi kita ini juga seorang pecundang. Seorang loser. Selalu melihat risiko pada setiap peluang yang muncul. Jebakan aja yang dipikirkan, bukannya kesempatan. Sirik terhadap orang lain. Nah, jadi repot sendiri kan kalo begitu? Kapan majunya kalo terus-terusan begitu?
Sebuah istilah yang kedengarannya bagus tapi untuk kasus tertentu sebenarnya bungkusnya doang adalah safety player. Sedangkan isinya? Sampah! Siapa sampah-sampah tersebut? Ya para pengecut dan pecundang itulah. Jadi kadang-kadang untuk menghindari risiko yang bakal muncul, dia lebih memilih untuk menjadi safety player. Hanya yang enak-enak saja yang akan dicaploknya. Tapi kalo yang enak itu ada risikonya dan dia yang harus menghadapinya, ya entar dulu. Kalo bisa orang lain yang menanggung risikonya dan saya yang menikmati rewardnya, kenapa tidak? Itulah prinsip mereka. Selalu memilih untuk menjadi safety player. Aman dari kegagalan, aman dari bahaya. Biarlah orang lain yang berjuang. Si safety player ini cukup mengamati dari dekat, sukur-sukur bisa dari tempat jauh. Kalo perlu pake teropong. Jadi, nggak bakal kecipratan (emang maen aer?).
Tau burung (bukan titit!) kondor ato yang suka juga disebut burung bangke? Seperti itulah kadang seorang safety player. Dari ketinggian di angkasa dia mengamati kelompok harimau yang sedang menikmati hasil buruannya. Seekor bangke binatang yang gemuk. Si burung ini hanya melayang-layang di atasnya sambil lihat-lihat kesempatan. Sapa tau si raja hutan itu lengah, jadi ada peluang untuk ngupil eh ngutil. Kalopun tidak, pemangsa bangke ini akan menunggu dengan sabar sampe yang ditunggu selesai menikmati santap siangnya. Yang tertinggal, tulang-belulang dan sedikit daging yang menempel, sudah cukup buatnya. Lumayan kan. Daripada harus berburu sendiri. Bisa-bisa malah diuber-uber sama mangsa yang tadinya mau dia uber-uber. Apalagi kalo yang mau diuber itu seekor bison (kebo liar). Enggak deh, terima kasih. Nah, gitu tu kelakuannya si safety player kita.
Ato, pernah liat sepakbola? Saya nanya gitu nggak ada urusannya anda ini jantan ato betina (mas-mas, saya ini manusia bukan binatang, tolong yang sopan dikit ya, jangan dijantanbetinain ya *marah, tapi masih bisa ditahan*. Oh, iya iya *sambil membungkuk-bungkuk sampe bongkok udang* maap-maap). Mangsutnye aye nanya gitu hanya sekedar memberi perbandingan. Kalo anda hobinya nonton bola, ya seperti itu jugalah hobinya si safety player. Dia lebih suka jadi penonton dari pada pemain. Nanti kalo giliran mukulin wasit seperti nasib wasit kita Donald Luther Kolopita (kompetisi olah raga bela diri karate) di negeri jiran yang dikeroyok empat polisi diraja Malaysia (24/8), ato nendangin wasit bola seperti saat ada pertandingan bola di Palangka Raya tempo hari, baru si safety player jadi pemain. Pukul, tendang, pukul lagi, tendang lagi. Tarik maaaaaaaaang (halah, biasa ndangndut). Seorang safety player sejati alergi kalo harus jadi pemain.
Jadi, kalo ada sebuah kejadian, yah contohnya pertandingan bola tadilah, kan ada tiga pilihan yang bisa diambil. Masing-masing pilihan bisa mencerminkan siapa si pemilih itu. Seekor pengecut kah (eh, seorang ya?), seorang jagoan kah, ato seorang penderita ayan kah (yang terakhir ini ngeri banget ya)?
Pilihan pertama yang bisa diambil adalah menjadi seorang pemain. Kita jadi jagoannya. Kita terlibat langsung di dalamnya. Jadi kita bisa melakukan heading, hattrick, matrix, ato bahkan sebage jurix (udah deh mulai ngawur). Artinya kita yang menentukan. Sukses tidaknya kita yang berperan disitu, karena kita pelaku dari peristiwa yang sedang berlangsung itu. Apapun yang terjadi akan dihadapi. Berhasil, itu yang diharapkan. Gagal, emang itu risiko yang sudah siap ditanggung dan memang sudah selayaknya terjadi.
Pilihan kedua, jadi penonton. Ya inilah orang-orang dari golongan sesat. Jadi mayoritas orang Indonesia sesat dong, kan mereka banyak yang maniak bola? Bukan. Bukan itu. Itu kan perasaan anda saja. Para penonton inilah yang bisa ditamsilkan (kok kayaknya kuno banget ya pake kata ini) sebagai safety player. Mereka bersorak-ria ketika terjadi gol. Mereka bersenang-senang ketika usulan kenaikan gaji yang diajukan pasukan berani mati disetujui manajemen. Mereka akan bilang tidak dan geleng kepala kalo ditanya apakah ikut terlibat ketika usulan yang diajukan itu membuat marah sang pemilik yang kemudian melontarkan ancaman pemecatan kepada siapa saja yang terlibat. Semua telunjuknya, kalo perlu semua jari tangan dan kakinya, akan mengarah ke orang ato orang-orang yang memperjuangkan nasib yang termasuk nasib mereka para safety player. Mereka juga akan ngomel-ngomel, menyalahkan para pemberani ini kalo usulan yang diajukan gagal diperjuangkan. Intinya, mereka hanya mau menghisap madunya, bebas terkena sengatan lebahnya.
Pilihan ketiga adalah pilihannya orang-orang aneh. Dibilang ayan ya bisa jadi (kalo anda tega), dibilang gendeng mungkin ada benernya juga, dikatakan kelompok yang hidup dalam dunianya sendiri bak penderita schizophrenia ya mungkin nggak salah, terserahlah anda mau menyebut apa terhadap mereka. Gimana nggak aneh kalo sementara orang lain bermain dan yang lainya menonton, dianya sendiri malah cengok. Pikirannya ke mana-mana, yang pasti nggak kesitu. Dia nggak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Terus ngapain dia njogrog di tempat itu. Main tidak, nonton bukan. Lieur teuing. Tapi herannya, ada orang yang seperti ini. Untungnya, orang ini bukan ato tidak bisa dimasukkan ke komunitas safety player. Dia itu bukan somebody, ato something. Dia itu NOTHING. Karena nothing, mending nggak usah berlama-lama ya kita ngomonginnya? (lagian sapa yang nyuruh, wek!)
Sekarang, sekali lagi, ambil cermin. Liat tuh jidatnya. Ada nggak tulisan ‘safety player’. Kalo jelas ada, pake spidol gede merah lagi, mending segera bertobat deh. Sebelum azab datang. DUARRRRRR......
Bisa jadi kita ini juga seorang pecundang. Seorang loser. Selalu melihat risiko pada setiap peluang yang muncul. Jebakan aja yang dipikirkan, bukannya kesempatan. Sirik terhadap orang lain. Nah, jadi repot sendiri kan kalo begitu? Kapan majunya kalo terus-terusan begitu?
Sebuah istilah yang kedengarannya bagus tapi untuk kasus tertentu sebenarnya bungkusnya doang adalah safety player. Sedangkan isinya? Sampah! Siapa sampah-sampah tersebut? Ya para pengecut dan pecundang itulah. Jadi kadang-kadang untuk menghindari risiko yang bakal muncul, dia lebih memilih untuk menjadi safety player. Hanya yang enak-enak saja yang akan dicaploknya. Tapi kalo yang enak itu ada risikonya dan dia yang harus menghadapinya, ya entar dulu. Kalo bisa orang lain yang menanggung risikonya dan saya yang menikmati rewardnya, kenapa tidak? Itulah prinsip mereka. Selalu memilih untuk menjadi safety player. Aman dari kegagalan, aman dari bahaya. Biarlah orang lain yang berjuang. Si safety player ini cukup mengamati dari dekat, sukur-sukur bisa dari tempat jauh. Kalo perlu pake teropong. Jadi, nggak bakal kecipratan (emang maen aer?).
Tau burung (bukan titit!) kondor ato yang suka juga disebut burung bangke? Seperti itulah kadang seorang safety player. Dari ketinggian di angkasa dia mengamati kelompok harimau yang sedang menikmati hasil buruannya. Seekor bangke binatang yang gemuk. Si burung ini hanya melayang-layang di atasnya sambil lihat-lihat kesempatan. Sapa tau si raja hutan itu lengah, jadi ada peluang untuk ngupil eh ngutil. Kalopun tidak, pemangsa bangke ini akan menunggu dengan sabar sampe yang ditunggu selesai menikmati santap siangnya. Yang tertinggal, tulang-belulang dan sedikit daging yang menempel, sudah cukup buatnya. Lumayan kan. Daripada harus berburu sendiri. Bisa-bisa malah diuber-uber sama mangsa yang tadinya mau dia uber-uber. Apalagi kalo yang mau diuber itu seekor bison (kebo liar). Enggak deh, terima kasih. Nah, gitu tu kelakuannya si safety player kita.
Ato, pernah liat sepakbola? Saya nanya gitu nggak ada urusannya anda ini jantan ato betina (mas-mas, saya ini manusia bukan binatang, tolong yang sopan dikit ya, jangan dijantanbetinain ya *marah, tapi masih bisa ditahan*. Oh, iya iya *sambil membungkuk-bungkuk sampe bongkok udang* maap-maap). Mangsutnye aye nanya gitu hanya sekedar memberi perbandingan. Kalo anda hobinya nonton bola, ya seperti itu jugalah hobinya si safety player. Dia lebih suka jadi penonton dari pada pemain. Nanti kalo giliran mukulin wasit seperti nasib wasit kita Donald Luther Kolopita (kompetisi olah raga bela diri karate) di negeri jiran yang dikeroyok empat polisi diraja Malaysia (24/8), ato nendangin wasit bola seperti saat ada pertandingan bola di Palangka Raya tempo hari, baru si safety player jadi pemain. Pukul, tendang, pukul lagi, tendang lagi. Tarik maaaaaaaaang (halah, biasa ndangndut). Seorang safety player sejati alergi kalo harus jadi pemain.
Jadi, kalo ada sebuah kejadian, yah contohnya pertandingan bola tadilah, kan ada tiga pilihan yang bisa diambil. Masing-masing pilihan bisa mencerminkan siapa si pemilih itu. Seekor pengecut kah (eh, seorang ya?), seorang jagoan kah, ato seorang penderita ayan kah (yang terakhir ini ngeri banget ya)?
Pilihan pertama yang bisa diambil adalah menjadi seorang pemain. Kita jadi jagoannya. Kita terlibat langsung di dalamnya. Jadi kita bisa melakukan heading, hattrick, matrix, ato bahkan sebage jurix (udah deh mulai ngawur). Artinya kita yang menentukan. Sukses tidaknya kita yang berperan disitu, karena kita pelaku dari peristiwa yang sedang berlangsung itu. Apapun yang terjadi akan dihadapi. Berhasil, itu yang diharapkan. Gagal, emang itu risiko yang sudah siap ditanggung dan memang sudah selayaknya terjadi.
Pilihan kedua, jadi penonton. Ya inilah orang-orang dari golongan sesat. Jadi mayoritas orang Indonesia sesat dong, kan mereka banyak yang maniak bola? Bukan. Bukan itu. Itu kan perasaan anda saja. Para penonton inilah yang bisa ditamsilkan (kok kayaknya kuno banget ya pake kata ini) sebagai safety player. Mereka bersorak-ria ketika terjadi gol. Mereka bersenang-senang ketika usulan kenaikan gaji yang diajukan pasukan berani mati disetujui manajemen. Mereka akan bilang tidak dan geleng kepala kalo ditanya apakah ikut terlibat ketika usulan yang diajukan itu membuat marah sang pemilik yang kemudian melontarkan ancaman pemecatan kepada siapa saja yang terlibat. Semua telunjuknya, kalo perlu semua jari tangan dan kakinya, akan mengarah ke orang ato orang-orang yang memperjuangkan nasib yang termasuk nasib mereka para safety player. Mereka juga akan ngomel-ngomel, menyalahkan para pemberani ini kalo usulan yang diajukan gagal diperjuangkan. Intinya, mereka hanya mau menghisap madunya, bebas terkena sengatan lebahnya.
Pilihan ketiga adalah pilihannya orang-orang aneh. Dibilang ayan ya bisa jadi (kalo anda tega), dibilang gendeng mungkin ada benernya juga, dikatakan kelompok yang hidup dalam dunianya sendiri bak penderita schizophrenia ya mungkin nggak salah, terserahlah anda mau menyebut apa terhadap mereka. Gimana nggak aneh kalo sementara orang lain bermain dan yang lainya menonton, dianya sendiri malah cengok. Pikirannya ke mana-mana, yang pasti nggak kesitu. Dia nggak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Terus ngapain dia njogrog di tempat itu. Main tidak, nonton bukan. Lieur teuing. Tapi herannya, ada orang yang seperti ini. Untungnya, orang ini bukan ato tidak bisa dimasukkan ke komunitas safety player. Dia itu bukan somebody, ato something. Dia itu NOTHING. Karena nothing, mending nggak usah berlama-lama ya kita ngomonginnya? (lagian sapa yang nyuruh, wek!)
Sekarang, sekali lagi, ambil cermin. Liat tuh jidatnya. Ada nggak tulisan ‘safety player’. Kalo jelas ada, pake spidol gede merah lagi, mending segera bertobat deh. Sebelum azab datang. DUARRRRRR......
Tuesday, September 04, 2007
Over Qualified
Boleh saja koar-koar memamerkan kemampuan. Nggak ada yang nglarang kok. Juga kalo memang pengen show off. Cuman mungkin, buat yang waras dan penganut aliran ilmu padi, kelakuan itu terlihat norak. Atau malah dicap sebagai orang yang nggak tau diri. Kalo yang ekstrim apalagi dicampur sedikit unsur benci sama anda, malah ada yang menyebutnya orang gila. Emang enak?
Permulaan tulisan yang agak membingungkan? Atau bukan agak lagi malah? Terserahlah. Tapi emang di sekitar kita banyak, atau bisa juga sedikit, orang yang berkelakuan seperti itu. Maksud saya, ada orang-orang yang suka pamer. Apapun. Kemampuan, kekayaan, kecantikan, kejantanan (kok kayak ayam?), atau hal-hal yang negatif tapi membanggakan buat yang punya (kalo saya sih nggak bangga, tapi malu, eh kadang-kadang bangga juga ding kalo lagi kumat anunya). Yah, seperti kemalasan, kejorokan, kebauan (apa ini?), kemaluan (kalo ini bingung aku mesti gimana njelasinnya), dan remeh-temeh negatif lainnya. Anda punya yang jelek-jelek itu? Syukurlah kalo gitu. Berarti anda manusia normal (ngerti nggak?).
Intinya gini. Pada dasarnya semua orang bangga dengan kelebihan yang dia miliki. Bisa positif bisa negatif, terutama yang positif. Yang kurus bangga dengan kekurusannya. Biar terdengar menyenangkan dan membanggakan, maka disebut memiliki tubuh yang langsing (meskipun bisa jadi sebenarnya penyakitan). Yang molegh, MAKSUDNYA GENDUT (*kedua telapak tangan membentuk corong didepan mulut*), gembira dan sombong (boleh kan menyombongkan barang sendiri?) dengan suburnya badan yang dipunyai. Apapun yang dimiliki, emang sudah seharusnya dibanggakan. Nggak sehatlah yang namanya gampang mengeluh. Dikit dikit, ngeluh. Dikit dikit, ngeluh. Itu nggak ikhlas namanya. Tidak nrimo ing pandum. Nggak puas dengan apa yang sudah dimiliki. Belek segede gajah di pelupuk mata tak tampak, kutil di seberang lautan tampak jelas (kayaknya ada yang nggak beres deh dengan peribahasa ini). Kadang-kadang orang itu suka bikin susah sendiri ya? Sudah punya badan seger sehat, dikurus-kurusin. Katanya pengen slim. Eee… giliran sudah kerempeng, penyakitan lagi, bingung sendiri. Yang gendut, takut dibilang nggak seksi, trus diet. Padahal, kalo pengen tau, sebagian cowok justru menganggap seksi kalo cewek itu badannya bongsor. Bahkan ada yang suka selain gendut juga agak bau-bau gimana gitu. Eksotik katanya.
Trus gimana kalo orang itu diem aja, nggak suka show off (pamer), badan meringkuk kayak udang, ngences (ada anak sungai di pipinya), mulutnya mangap, dan matanya merem? Itu mah orang molor! Ngaco ya? Maksud saya gini, ini serius. Bener, swear. Kadang ada orang yang memiliki sesuatu, biasanya kemampuan, ketrampilan, keahlian, pengalaman, atau gabungan dari beberapa maupun semuanya, tetapi sesuatunya itu melebihi dari yang dibutuhkan. Nah kalo ini yang terjadi, itu namanya over qualified. Orangnya sendiri mungkin suka pamer, arogan, tengil, atau ramah, diem setenang kuburan, disiplin, rajin, suka menolong, dan tidak sombong.
Dalam posisi over qualified, jelas tidak menguntungkan. Si over qualified ini bisa-bisa stres di lingkungan yang ada di bawah standarnya. Apa yang dia miliki tidak terserap oleh sekitarnya. Bisa jadi karena memang kemampuan yang dipunyai lingkungannya tidak nyampe ke level yang dia miliki. Kasiaaaaaannnn deh lu. Cara yang bisa dilakukan adalah mengup-grade lingkungan yang ada ke standar dia. Atau kalau ingin tidak stres, ya jangan lama-lama di situ. Segera cabut dari kubangan itu (kebo kale). Beres.
Saya punya satu contoh tentang over qualified ini. Seorang teman setelah tidak kerja lagi segera membuat surat lamaran. 50 berkas surat lamaran dia sebar ke perusahaan-perusahaan. Tentu saja bukan perusahaan moyangnya. Tunggu punya tunggu, tidak ada satupun surat yang dia kirim mendapat jawaban. Rupanya, cv yang dia lampirkan memposisikan dirinya sebagai orang yang over qualified untuk posisi yang dilamarnya. Orang perusahaan bingung mau ditaruh dimana temen saya ini melihat pengalaman kerjanya yang pernah menjabat tiga kali sebagai direktur. Akhirnya, ya udah, dia bikin perusahaan sendiri.
Tapi ente jangan merasa over qualified dulu, meskipun memiliki posisi yang lebih tinggi dari yang lain. Kalo ngomong aja nggak berani, sekalinya ngomong belepotan, ngalor ngidul, dan nggak jelas mana kepala mana ekor (ini pasti penjual belut, setidaknya pemburu uler lah). Atau berani ngomong, tapi nggak mutu, nggak ada isinya, tong kosong berbunyi nyaring (berarti minyaknya habis, soalnya ini tong bekas tempat minyak). Kalo anda juragan tapi sikap mentalnya kaya jongos, ya namanya ‘miwon’, sami mawon, atau ‘sasa’ sama saja, atau orang jadul bilang setali tiga uang, ada tali ada uang ada ubi ada talas(yang ini jelas ngaco).
Ngaca dulu lah (termasuk yang bikin ini). Jangan buru-buru memproklamirkan dirinya over qualified. Tapi percayalah, over qualified itu tidak mengenakkan, kadang menyakitkan. Apalagi di tengah-tengah orang yang nggatheli dan njelehi (menjengkelkan, norak, dan menjijikkan).
Permulaan tulisan yang agak membingungkan? Atau bukan agak lagi malah? Terserahlah. Tapi emang di sekitar kita banyak, atau bisa juga sedikit, orang yang berkelakuan seperti itu. Maksud saya, ada orang-orang yang suka pamer. Apapun. Kemampuan, kekayaan, kecantikan, kejantanan (kok kayak ayam?), atau hal-hal yang negatif tapi membanggakan buat yang punya (kalo saya sih nggak bangga, tapi malu, eh kadang-kadang bangga juga ding kalo lagi kumat anunya). Yah, seperti kemalasan, kejorokan, kebauan (apa ini?), kemaluan (kalo ini bingung aku mesti gimana njelasinnya), dan remeh-temeh negatif lainnya. Anda punya yang jelek-jelek itu? Syukurlah kalo gitu. Berarti anda manusia normal (ngerti nggak?).
Intinya gini. Pada dasarnya semua orang bangga dengan kelebihan yang dia miliki. Bisa positif bisa negatif, terutama yang positif. Yang kurus bangga dengan kekurusannya. Biar terdengar menyenangkan dan membanggakan, maka disebut memiliki tubuh yang langsing (meskipun bisa jadi sebenarnya penyakitan). Yang molegh, MAKSUDNYA GENDUT (*kedua telapak tangan membentuk corong didepan mulut*), gembira dan sombong (boleh kan menyombongkan barang sendiri?) dengan suburnya badan yang dipunyai. Apapun yang dimiliki, emang sudah seharusnya dibanggakan. Nggak sehatlah yang namanya gampang mengeluh. Dikit dikit, ngeluh. Dikit dikit, ngeluh. Itu nggak ikhlas namanya. Tidak nrimo ing pandum. Nggak puas dengan apa yang sudah dimiliki. Belek segede gajah di pelupuk mata tak tampak, kutil di seberang lautan tampak jelas (kayaknya ada yang nggak beres deh dengan peribahasa ini). Kadang-kadang orang itu suka bikin susah sendiri ya? Sudah punya badan seger sehat, dikurus-kurusin. Katanya pengen slim. Eee… giliran sudah kerempeng, penyakitan lagi, bingung sendiri. Yang gendut, takut dibilang nggak seksi, trus diet. Padahal, kalo pengen tau, sebagian cowok justru menganggap seksi kalo cewek itu badannya bongsor. Bahkan ada yang suka selain gendut juga agak bau-bau gimana gitu. Eksotik katanya.
Trus gimana kalo orang itu diem aja, nggak suka show off (pamer), badan meringkuk kayak udang, ngences (ada anak sungai di pipinya), mulutnya mangap, dan matanya merem? Itu mah orang molor! Ngaco ya? Maksud saya gini, ini serius. Bener, swear. Kadang ada orang yang memiliki sesuatu, biasanya kemampuan, ketrampilan, keahlian, pengalaman, atau gabungan dari beberapa maupun semuanya, tetapi sesuatunya itu melebihi dari yang dibutuhkan. Nah kalo ini yang terjadi, itu namanya over qualified. Orangnya sendiri mungkin suka pamer, arogan, tengil, atau ramah, diem setenang kuburan, disiplin, rajin, suka menolong, dan tidak sombong.
Dalam posisi over qualified, jelas tidak menguntungkan. Si over qualified ini bisa-bisa stres di lingkungan yang ada di bawah standarnya. Apa yang dia miliki tidak terserap oleh sekitarnya. Bisa jadi karena memang kemampuan yang dipunyai lingkungannya tidak nyampe ke level yang dia miliki. Kasiaaaaaannnn deh lu. Cara yang bisa dilakukan adalah mengup-grade lingkungan yang ada ke standar dia. Atau kalau ingin tidak stres, ya jangan lama-lama di situ. Segera cabut dari kubangan itu (kebo kale). Beres.
Saya punya satu contoh tentang over qualified ini. Seorang teman setelah tidak kerja lagi segera membuat surat lamaran. 50 berkas surat lamaran dia sebar ke perusahaan-perusahaan. Tentu saja bukan perusahaan moyangnya. Tunggu punya tunggu, tidak ada satupun surat yang dia kirim mendapat jawaban. Rupanya, cv yang dia lampirkan memposisikan dirinya sebagai orang yang over qualified untuk posisi yang dilamarnya. Orang perusahaan bingung mau ditaruh dimana temen saya ini melihat pengalaman kerjanya yang pernah menjabat tiga kali sebagai direktur. Akhirnya, ya udah, dia bikin perusahaan sendiri.
Tapi ente jangan merasa over qualified dulu, meskipun memiliki posisi yang lebih tinggi dari yang lain. Kalo ngomong aja nggak berani, sekalinya ngomong belepotan, ngalor ngidul, dan nggak jelas mana kepala mana ekor (ini pasti penjual belut, setidaknya pemburu uler lah). Atau berani ngomong, tapi nggak mutu, nggak ada isinya, tong kosong berbunyi nyaring (berarti minyaknya habis, soalnya ini tong bekas tempat minyak). Kalo anda juragan tapi sikap mentalnya kaya jongos, ya namanya ‘miwon’, sami mawon, atau ‘sasa’ sama saja, atau orang jadul bilang setali tiga uang, ada tali ada uang ada ubi ada talas(yang ini jelas ngaco).
Ngaca dulu lah (termasuk yang bikin ini). Jangan buru-buru memproklamirkan dirinya over qualified. Tapi percayalah, over qualified itu tidak mengenakkan, kadang menyakitkan. Apalagi di tengah-tengah orang yang nggatheli dan njelehi (menjengkelkan, norak, dan menjijikkan).
Wednesday, August 29, 2007
1001 Malam
Apa karena tau saya suka buku, orang jadi pada senang ngasih buku ya? Atau karena kasian liat saya kaya kutu buku? Kucel maksudnya. Hanya Tuhan yang tau dan saya juga tau (kalau dikasih tau yang ngasih tau, yang punya buku maksudnya). Tapi emang bener, saya suka buku. Dan saya punya banyak buku. Lebih dari sepuluh. Hlah? Segitu kok banyak. Makanya saya seneng banget ketika siang tadi (28/8) ada yang ngasih buku. Surprise buat saya. Tega-teganya ngasih barang yang jadi demenan saya. T e r – l a – l u (*sambil ngelus-elus jenggot oma irama*). Ini seneng apa marah-marah sih?
Yang ngasih ini temen maen bilyar saya (padahal baru sekali maen, dan saya kalah mulu). Mahasiswa BEC angkatan 10. Sekarang baru mau praktek industri. Masih nyari-nyari perusahaan yang mau dipake buat magang. Mudah-mudahan cepat dapet tempat. Juga untuk anak angkatan 10 laennya yang sampe sekarang masih blon pada dapet. Sekaligus memenuhi keinginan mereka-mereka yang ngisi shoutbox di blog ini atau yang ketemu langsung dengan saya untuk permintaan doa saya.
Buku yang dikasih judulnya Kisah 1001 Malam Abunawas. Sebuah buku dagelan dari timur tengah dengan tokoh si Abunawas. Sebuah buku saku. Bukan masalah tebal tipis ato besar kecilnya, yang pasti buku itu akan nambah perbendaharaan kekonyolan saya. Apa biar saya jadi orang konyol ya? Jangan ah. Entar jadi nggak gampang dipercaya orang kalo suka becanda. Giliran serius, orang pada nggak percaya. Mereka ragu-ragu apakah saya ini lagi beneran pa lagi becanda. Repot dah jadinya.
Tapi kira-kira mau nggak kalo kita ini mulu idup dalam keseriusan? Gak ada canda-candanya sedikitpun? Saya jamin hidup anda akan sengsara. Apalagi kalo anda sudah sengsara dari sononya. Makin sengsara deh jadinya.
Ya emang sih, humor itu ada porsinya juga. Sersan gitu lah. Serius tapi sante. Bukan sersan polisi yang nembak temennya sendiri (ngelantur lagi deh). Asal candanya tidak berlebihan, sebatas variasi menghilangkan kejenuhan. Saya pikir ada baiknya dan nggak ada yang salah. Sebab hanya mereka yang di penjara Peledang sajalah yang salah. Ngaco.
Buat ente-ente (ngasih nasehat orang laen biar memberi kesan diri sendiri tidak terlibat) yang kelebihan becandanya, kurangilah. Tapi jangan dihilangkan. Karena hidup ini masih perlu ketawa. Selama ketawa belum dilarang dan dipajekin, bersuka-sukalah ketawa. Sebab di dunia ini banyak orang akan mengelilingi kita saat ketawa dan kita akan sendirian saat menangis. Kalo anda sudah terlanjur dicap orang yang tidak bisa serius, saya hanya bisa berucap, “Apa boleh buat tai kambing bulat-bulat tai kucing rasa coklat makan soto campur kawat. Hlah?”
Yadi Mulyadi, makasih banyak atas bukunya. Semoga dimudahkan segala urusan, banyak anak, banyak rejeki, enteng jodoh, dibimbing ke jalan yang benar, tidak kesasar, selamat sampai di tujuan, sekali merdeka tetap merdeka...bla...bla...bla... gubrag.
Yang ngasih ini temen maen bilyar saya (padahal baru sekali maen, dan saya kalah mulu). Mahasiswa BEC angkatan 10. Sekarang baru mau praktek industri. Masih nyari-nyari perusahaan yang mau dipake buat magang. Mudah-mudahan cepat dapet tempat. Juga untuk anak angkatan 10 laennya yang sampe sekarang masih blon pada dapet. Sekaligus memenuhi keinginan mereka-mereka yang ngisi shoutbox di blog ini atau yang ketemu langsung dengan saya untuk permintaan doa saya.
Buku yang dikasih judulnya Kisah 1001 Malam Abunawas. Sebuah buku dagelan dari timur tengah dengan tokoh si Abunawas. Sebuah buku saku. Bukan masalah tebal tipis ato besar kecilnya, yang pasti buku itu akan nambah perbendaharaan kekonyolan saya. Apa biar saya jadi orang konyol ya? Jangan ah. Entar jadi nggak gampang dipercaya orang kalo suka becanda. Giliran serius, orang pada nggak percaya. Mereka ragu-ragu apakah saya ini lagi beneran pa lagi becanda. Repot dah jadinya.Tapi kira-kira mau nggak kalo kita ini mulu idup dalam keseriusan? Gak ada canda-candanya sedikitpun? Saya jamin hidup anda akan sengsara. Apalagi kalo anda sudah sengsara dari sononya. Makin sengsara deh jadinya.
Ya emang sih, humor itu ada porsinya juga. Sersan gitu lah. Serius tapi sante. Bukan sersan polisi yang nembak temennya sendiri (ngelantur lagi deh). Asal candanya tidak berlebihan, sebatas variasi menghilangkan kejenuhan. Saya pikir ada baiknya dan nggak ada yang salah. Sebab hanya mereka yang di penjara Peledang sajalah yang salah. Ngaco.
Buat ente-ente (ngasih nasehat orang laen biar memberi kesan diri sendiri tidak terlibat) yang kelebihan becandanya, kurangilah. Tapi jangan dihilangkan. Karena hidup ini masih perlu ketawa. Selama ketawa belum dilarang dan dipajekin, bersuka-sukalah ketawa. Sebab di dunia ini banyak orang akan mengelilingi kita saat ketawa dan kita akan sendirian saat menangis. Kalo anda sudah terlanjur dicap orang yang tidak bisa serius, saya hanya bisa berucap, “Apa boleh buat tai kambing bulat-bulat tai kucing rasa coklat makan soto campur kawat. Hlah?”
Yadi Mulyadi, makasih banyak atas bukunya. Semoga dimudahkan segala urusan, banyak anak, banyak rejeki, enteng jodoh, dibimbing ke jalan yang benar, tidak kesasar, selamat sampai di tujuan, sekali merdeka tetap merdeka...bla...bla...bla... gubrag.
Tuesday, August 28, 2007
Pemimpin Besar Kemaluan
Masih. Kali ini saya masih ngomongin tentang kepemimpinan. Nggak tau kenapa kok itu lagi yang diurusin. Yah, masih pengen gitu ajalah. Entar kalo udah bosen ato dah nggak antusias ya akan saya tinggalin masalah kepemimpinan itu. Meskipun mungkin hanya untuk sementara. Dan akan balek lagi, bisa jadi, kalo pengen ngungkit-ungkit lagi masalah itu. Namanya juga plinplan (lah, plinplan kok bangga - *heran*).
Seperti yang saya tulis di Pemimpin Kodok, nggak gampang jadi seorang leader. Namun siapapun bisa jadi pemimpin dan akan. Akan jadi pemimpin maksudnya. Apapun bentuk dan jenisnya. Entah itu pemimpin yang bener maupun yang blo’on. Siapa yang akan dipimpin? Adakah orangnya yang mau dipimpin seorang blo’on? Saya jawab, ada. Yaitu dirinya sendiri. Hlo? Emang. Setidaknya, walaupun tidak ada orang lain yang dipimpinnya, dirinya sendirilah yang harus dipimpin. Jiwa raganya. Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk e-ndo-ne-sa rayaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. Lho, itu kan lagu?
Forget it. Don’t follow mix. Maksudnya, lupakan saja, gak usah ikut campur lah. Nah, terus gimana dong kalo dirinya sendiri yang jadi anak buahnya? Gampang. Tinggal kita yang jadi pemimpin ya jangan jadi pemimpin yang blo’on. Malu kan? Meskipun sama diri sendiri. Dan katanya. Ini katanya sih, boleh percaya tidak boleh bo’ong (gak konek ya?). Kalo sama dirinya sendiri aja bisa malu, apalagi dengan orang lain. Kalo kita sudah tau malu kepada dirinya sendiri, maka insyaAllah kita akan berusaha menjaga perilaku kita. Minimal bukan menjadi orang yang tidak tau malu. Kalo malu-maluin sih masih boleh, asal tidak banyak. Dan juga menjadi pemalu. Itu juga boleh, meskipun bisa kesasar. Apalagi di tempat baru. Seperti kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan, besar kemal*** susah berjalan. Kok jadi muter-muter gini ya. Lieur aku! (bukan air lieur lho!)
Dijamin deh, kalo bisa mimpin diri sendiri orang yang dipimpin akan percaya. Bila tidak, sapa yang mo percaya orang yang bingung sama dirinya sendiri. Mimpin dirinya sendiri aja kelabakan, apalagi orang laen. Gitu katanya. Dan... gimana cara untuk bisa mimpin diri sendiri sebelum dipercaya ngatur orang lain? Gampang. Tinggal ambil peluit, tiup, posisi badan tegap, mata tidak boleh meleng, apalagi juling, kaki kanan dulu yang maju. Sebuah saran yang bodoh dan tidak masuk akal!
Ini serius. Biar bisa mimpin diri sendiri, perlu komitmen terhadap diri sendiri tentunya. Kemudian disiplin. Tidak menunda-nunda. Percaya diri. Trus apa lagi ya.... udah lah itu aja. Bisa nggak mraktekin yang disebutin tersebut. Kalo udah komit mau brenti mrokok besok, ya besok benar-benar nggak mrokok. Besoknya lagi, baru boleh mrokok lagi (ya nggak lah!). Itu contoh komitmen. Trus, disiplin bangun pagi jam tiga misalnya. Itu mah kepagian masssss. Tentang menunda-nunda, coba kurangi deh. Sukur-sukur bisa diilangkan. Seperti Dapit Koperpit si tukang sulap gitu lo. Kalo bisa dikerjakan sekarang, kenapa mesti harus nunggu lebaran monyet dulu. Sampe lebaran monyet juga nggak bakalan monyet punya lebaran. Jangan seperti semboyannya birokrat (yang penganut lebaran monyet), kalo bisa dilama-lamain kenapa mesti dipercepat. Kampungan ya? Ente percaya nggak kalo bisa terbang, seperti burung? Kalo anda percaya diri, pasti jawab ‘so pasti lah coy’. Buktinya saya dulu suka terbang. Kemana-mana. Ya iyalah pake sayapnya pesawat, maksudnya naik pesawat. Masak terbang pake sayap kaya burung bondol. Yang bener aja.
Jadi intinya, kalo pengen jadi pemimpin yang sukses harus besar kemaluan (ih hobi amat nyebut-nyebut kemaluan). Jangan ngeres dulu. Gini lo maksudnya. Datang telat, malu. Ingkar cristy eh janji, malu. KKN, malu. Tidak disiplin, malu. Rendah diri, malu.
Ya, jadi gitu ya? Cepet-cepet diperbesar itunya.
Seperti yang saya tulis di Pemimpin Kodok, nggak gampang jadi seorang leader. Namun siapapun bisa jadi pemimpin dan akan. Akan jadi pemimpin maksudnya. Apapun bentuk dan jenisnya. Entah itu pemimpin yang bener maupun yang blo’on. Siapa yang akan dipimpin? Adakah orangnya yang mau dipimpin seorang blo’on? Saya jawab, ada. Yaitu dirinya sendiri. Hlo? Emang. Setidaknya, walaupun tidak ada orang lain yang dipimpinnya, dirinya sendirilah yang harus dipimpin. Jiwa raganya. Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk e-ndo-ne-sa rayaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. Lho, itu kan lagu?
Forget it. Don’t follow mix. Maksudnya, lupakan saja, gak usah ikut campur lah. Nah, terus gimana dong kalo dirinya sendiri yang jadi anak buahnya? Gampang. Tinggal kita yang jadi pemimpin ya jangan jadi pemimpin yang blo’on. Malu kan? Meskipun sama diri sendiri. Dan katanya. Ini katanya sih, boleh percaya tidak boleh bo’ong (gak konek ya?). Kalo sama dirinya sendiri aja bisa malu, apalagi dengan orang lain. Kalo kita sudah tau malu kepada dirinya sendiri, maka insyaAllah kita akan berusaha menjaga perilaku kita. Minimal bukan menjadi orang yang tidak tau malu. Kalo malu-maluin sih masih boleh, asal tidak banyak. Dan juga menjadi pemalu. Itu juga boleh, meskipun bisa kesasar. Apalagi di tempat baru. Seperti kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan, besar kemal*** susah berjalan. Kok jadi muter-muter gini ya. Lieur aku! (bukan air lieur lho!)
Dijamin deh, kalo bisa mimpin diri sendiri orang yang dipimpin akan percaya. Bila tidak, sapa yang mo percaya orang yang bingung sama dirinya sendiri. Mimpin dirinya sendiri aja kelabakan, apalagi orang laen. Gitu katanya. Dan... gimana cara untuk bisa mimpin diri sendiri sebelum dipercaya ngatur orang lain? Gampang. Tinggal ambil peluit, tiup, posisi badan tegap, mata tidak boleh meleng, apalagi juling, kaki kanan dulu yang maju. Sebuah saran yang bodoh dan tidak masuk akal!
Ini serius. Biar bisa mimpin diri sendiri, perlu komitmen terhadap diri sendiri tentunya. Kemudian disiplin. Tidak menunda-nunda. Percaya diri. Trus apa lagi ya.... udah lah itu aja. Bisa nggak mraktekin yang disebutin tersebut. Kalo udah komit mau brenti mrokok besok, ya besok benar-benar nggak mrokok. Besoknya lagi, baru boleh mrokok lagi (ya nggak lah!). Itu contoh komitmen. Trus, disiplin bangun pagi jam tiga misalnya. Itu mah kepagian masssss. Tentang menunda-nunda, coba kurangi deh. Sukur-sukur bisa diilangkan. Seperti Dapit Koperpit si tukang sulap gitu lo. Kalo bisa dikerjakan sekarang, kenapa mesti harus nunggu lebaran monyet dulu. Sampe lebaran monyet juga nggak bakalan monyet punya lebaran. Jangan seperti semboyannya birokrat (yang penganut lebaran monyet), kalo bisa dilama-lamain kenapa mesti dipercepat. Kampungan ya? Ente percaya nggak kalo bisa terbang, seperti burung? Kalo anda percaya diri, pasti jawab ‘so pasti lah coy’. Buktinya saya dulu suka terbang. Kemana-mana. Ya iyalah pake sayapnya pesawat, maksudnya naik pesawat. Masak terbang pake sayap kaya burung bondol. Yang bener aja.
Jadi intinya, kalo pengen jadi pemimpin yang sukses harus besar kemaluan (ih hobi amat nyebut-nyebut kemaluan). Jangan ngeres dulu. Gini lo maksudnya. Datang telat, malu. Ingkar cristy eh janji, malu. KKN, malu. Tidak disiplin, malu. Rendah diri, malu.
Ya, jadi gitu ya? Cepet-cepet diperbesar itunya.
Subscribe to:
Posts (Atom)