Sebenarnya dunia ajar mengajar bukan barang baru buat saya. Tahun 1992 s/d 2001, ketika saya kerja di perusahaan yang memasarkan produk telekomunikasi dari Perancis, Alcatel, kegiatan menularkan ilmu sudah saya jalani. Karena menduduki posisi yang tugasnya mengelola dealer di seluruh Indonesia yang menjadi distributor produk Perancis tersebut, memperkenalkan produk baru dan fasilitasnya juga menjadi bagian dari pekerjaan saya saat itu. Meskipun tidak berstatus sebagai guru atau dosen, pekerjaan seperti yang mereka lakukan juga saya kerjakan.
1 September 2001, saya resign dari Alcatel. Uang pesangon yang saya terima, saya belikan satu set komputer untuk mendukung kegiatan baru yang mulai saya rintis, mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak sekolah dasar. Sejak saat itu, mulailah saya menggeluti kegiatan sebagai pengajar.
Menjadi pengajar bukan profesi yang gampang, tapi juga bukan pekerjaan yang sulit untuk dilakukan. Setelah praktek langsung dan membaca berbagai referensi pengajaran, ada benang merah yang bisa saya tarik. (Kenapa selalu benang merah ya? Padahal seluruh warna itu indah. Yang nggak indah itu kalau buta warna.) Banyak pengetahuan, trik, teknik, tip, atau apapun istilahnya, tentang cara mengajar yang bisa dicoba. Tetapi bagi saya, yang terpenting adalah bukan segala sistem dan tetek-bengeknya, melainkan pelakunya sendiri. Pengajarnya. Sebagus apapun kurikulum yang disusun, pengajar sampah tetap sampah. Secanggih apapun komputer yang dijadikan sarana penunjang, guru yang tidak qualified akan tetap kelihatan.
Antara mahasiswa dan dosen, antara murid dan guru, adalah sama. Mereka semua manusia, yang memiliki akal, emosi, dan hati nurani. Bila ada pengajar yang menyakiti hati anak didiknya, jangan berharap akal siswanya mau menerima apa yang dia berikan. Kalau emosi negatif siswanya yang dimunculkan, seorang pengajar hanya akan menerima penolakan. Bila dunia pendidikan dianalogikan dengan dunia pertanian (kebetulan saya suka tanam-menanam dan pecinta tumbuhan): siswa merupakan benih atau bibitnya; pengajar adalah petaninya; sarana prasarana seperti laboratorium, kurikulum dll. sebagai cangkul, sabit, dan traktornya; sekolah dan ruang kelas menjadi lahan pertumbuhan. Lalu siapa pupuknya? Kasih sayang, semangat, dan motivasi. Itulah yang harus terus diberikan.
Segala hal tersebut memang saling terkait. Bibit yang baik akan tumbuh prima bila ditangani dengan benar oleh petani yang ahli. Tetapi manusia berbeda dengan tanaman. Tumbuhan akan mati merana bila tidak diapa-apain, sedang manusia akan berupaya mencari jalan untuk tetap hidup. Murid yang bodoh bukan berarti wajib dijadikan bahan ledekan di dalam kelas. Sebaliknya, siswa yang pintar tidak harus selalu mendapat pujian di depan kelas. Dua-duanya bisa menjadi bumerang bila terus dilakukan. Si bodoh akan ’down’ dan tidak percaya diri, sementara si pintar menjadi besar kepala dan arogan. Semua memang harus dikerjakan sesuai porsinya. Kalau porsi makan anda setengah piring, akan sakit perut bila makan sepiring. Bila biasa dua piring, makan sepiring hanya akan membuat sakit perut juga, alias lapar. Sengaja saya berikan kesamaan dengan makanan, karena kalau urusan makan, anda pasti lebih gampang mengerti. Ya nggak? Ngaku sajalah.
Pendidikan itu bukan hanya penting, tapi sungguh amat sangat penting. Sampai-sampai, karena begitu pentingnya, Nabi Muhammad memerintahkan supaya belajar semenjak lahir sampai sebelum masuk liang kubur. Kalau organisasi milik PBB, UNESCO -United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization- menerapkan program ‘long life education’ yang bisa jadi diilhami oleh sunah rosul tersebut, hal itu menunjukkan betapa berharganya pendidikan. Jepang adalah contoh negara yang mengetahui betapa pentingnya pendidikan. Ketika Hiroshima dan Nagasaki diluluhlantakkan oleh bom tahun 1945, yang bisa dilakukan Jepang adalah menyerah kepada tentara sekutu. Setelah itu, hal pertama yang dilakukan bukanlah mengembalikan Hiroshima dan Nagasaki seperti semula. Ini yang menarik, Jepang mengumpulkan seluruh pengajar yang masih selamat. Mereka dipersiapkan untuk mendidik generasi muda Jepang menjadi manusia kelas dunia. Pendidikan mendapat prioritas yang pertama. Hasilnya, Jepang yang kecil dan miskin sumber daya alam, sekarang ini menjadi negara kaya di tingkat dunia. Kualitas manusianya diakui di seluruh dunia. Bila abg-abg kita dengan bangganya menenteng hp versi terbaru, maka abg-abg Jepang sudah mampu membuat dan mendesain hp. Padahal, tahun 1945 negara mereka bukan apa-apa. Hanya dalam jangka waktu 61 tahun, bila dihitung sampai tahun ini, Jepang telah mengalami fase metamorfosis layaknya kupu-kupu yang dari seekor ulat menjijikkan berubah menjadi kupu-kupu indah yang memikat siapa saja. Keajaiban sebuah negara kecil yang sebenua dengan negara besar Indonesia.
Kalau banyak mahasiswa yang memilih saya sebagai pengajar terfavorit, bukannya saya tidak senang. Bukan itu tujuan saya. Obsesi yang saya miliki begitu masuk ke dunia pendidikan adalah sederhana. Menjadi orang yang selalu dinanti-nantikan kehadirannya di ruang kuliah. Simple, tapi memerlukan upaya yang tidak main-main.
Saya selalu berusaha setiap kali ada di ruang kuliah bukan sebagai sosok yang mesti dihindari, apalagi ditakuti, tapi sebagai teman yang siap membantu. Di luar pun saya berbuat sama. Memberikan saran bila dibutuhkan, menjadi pendengar yang baik bila diperlukan. Sudah seharusnya, seorang guru atau dosen bukan hanya sebagai seorang pengajar, yang hanya mentransfer ilmu yang dimiliki ke anak didiknya, tetapi juga sebagai seorang pendidik, yang selain memberi ilmu juga mengajarkan akhlak atau budi pekerti. Pendidik bukan hanya dekat dengan anak didiknya secara fisik, tetapi juga hatinya. Tidak mudah memang, tetapi memang itulah yang harus diperankan.
Di Jawa (Tengah), karena guru dianggap selalu benar dengan segala yang diucapkan dan dilakukannya, kata guru mempunyai akronim ’digugu lan ditiru’ (dipercaya dan diikuti/ditirukan). Luar biasa. Kalau anda seorang guru (apapun) atau dosen (apapun), sudah seharusnya berperilaku layaknya seorang yang bisa dipercaya dan dijadikan teladan. Bila ada guru atau dosen yang memberi contoh tidak baik dalam berperilaku atau, pilih kasih, misalnya, dia masuk ke golongan apa yang disebut dengan ’under achievement’, orang yang tidak bisa berperan sebagaimana seharusnya dia berperan.
Terlalu panjang ya tulisan saya? Berarti anda biasa makan setengah piring!
Saturday, February 03, 2007
BS
Karena menemani, saya harus ikut. Bila menuruti kata hati, pengennya tinggal di rumah. Waktu membayangkan berpanas-panasan naik angkotnya, maunya tiduran di kamar sambil mendengarkan Il Divo. Saat merasakan capenya antri, bangku yang ada di teras rumah yang terbayang di kepala. Sebentar, sebentar. Ini apa sih maksudnya? Kok nggak jelas gitu. Kalau anak-anak BEC suka bilang, ”Eddy Sud Rahmat Kartolo. Maksud loh?”
Hari Minggu. Hari Minggu kemarin (28/1). Saya menemani Reyhan dan maknya main ke BS (Botani Square). Katanya mereka pengen ke Giant. Saya sendiri beberapa hari sebelumnya pernah ke BS, tapi Giant-nya sendiri belum pernah. Setelah minggu sebelumnya nggak jadi, maka hari Minggu kemarin dengan kondisi apapun akhirnya dijadikan. Sampai segitunya ya. Walaupun Izal kemudian nggak ikut karena marah-marah, seperti biasa, hanya karena urusan sepele, disuruh naruh celana di tempat jemuran. Hanya bertiga yang kemudian berangkat ke BS.
BS ini merupakan mal terbaru untuk saat ini. Entah bertahan berapa lama lagi sebelum muncul mal yang lain di Bogor. Setiap kali muncul tempat ngeceng baru, seperti gula bagi semut-semut di sekitarnya. Berbondong-bondong untuk sekedar cuci mata dan cuci muka bagi yang tampangnya kusut. Launchingnya sendiri mungkin sudah sebulanan yang lalu. Biasa, karena kesibukan dan juga sebenarnya tidak begitu tergerak hati untuk datang ke mal tersebut, saya baru datang setelah sekian minggu dibuka. Itupun lebih karena Gramedia buka outlet baru di mal tersebut dan memberikan diskon sampe 30% yang terbatas waktunya. Karena nguber diskon yang jarang diberikan segede itu oleh Gramedia lah yang menggiring saya untuk menginjakkan kaki ke BS. Here I come BS.
Gedung BS ada di dekat tugu kujang yang menjadi landmark-nya Bogor, juga dekat terminal bis Baranangsiang. Proses pembangunannya yang sempat kontroversial justru menjadikan publikasi gratis bagi BS sendiri. Demo yang dulu dilakukan mahasiswa IPB dan komponen masyarakat lainnya untuk menentang pendirian mal tersebut karena didirikan di lahannya dunia pendidikan tidak mempengaruhi keputusan rektornya. Alasan mengkomersialkan kampus juga tidak dianggap suatu hal yang perlu didengar. Sang rektor tetap keukeuh memberikan lahannya untuk investor. Sekali lagi, uang lebih keras bicaranya daripada ribuan warga Bogor yang melakukan demo. Kalau anda baca bukunya Henry Ford ’The International Jew’, seperti pendirian mal itulah yang merupakan contoh konsep Zionis meninabobokan musuhnya ke dalam kubangan hedonisme. Kaun Yahudi, meskipun minoritas, merupakan penguasa mayoritas terhadap uang yang beredar di seluruh dunia. Dengan menggunakan kekuatan uangnyalah dia bisa mengatur jalannya kehidupan seperti yang diinginkan, bahkan untuk kehidupan sebuah negara. Contoh gampang saja tentang Amerika Serikat. Siapa yang ada di balik segala keputusan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih?
Saya ternyata sudah ada di dalam BS. Rupanya Zionis dan kelakuannya tadi merupakan lamunan yang lewat di benak saya. Tujuan utamanya adalah jalan-jalan. Jadi, ketika masuk ke Giant yang dibeli tidak seberapa. Sebelum ke tempat tersebut saya bertiga menikmati makan siang dulu di A&W. Ada dan hanya satu yang merupakan favorit saya di restoran fastfood tersebut, root beer float. Minuman tersebut mempunyai kenangan ketika saya tinggal pertama kalinya di Jakarta tahun 1992. Sudah bisa dipastikan minuman itu yang selalu saya beli bila mampir di A&W di manapun berada.
Selesai keliling di Giant dan mengambil barang-barang yang perlu dibeli, kami ke kasir. Alamak, antrinya. Saya sarankan, kalau tidak perlu-perlu amat atau kecuali anda hobi antri, jangan belanja di Giant pada hari Minggu (bisa jadi hari libur juga) apalagi pas tanggal muda atau orang habis gajian. Sengsara. Saya lihat ada 40 counter kasir, tapi tidak semuanya dibuka. Untungnya tadi sebelum belanja sempat makan siang dulu. Meskipun kaki leklok mengantri, perut nggak keroncongan.
Hari Minggu. Hari Minggu kemarin (28/1). Saya menemani Reyhan dan maknya main ke BS (Botani Square). Katanya mereka pengen ke Giant. Saya sendiri beberapa hari sebelumnya pernah ke BS, tapi Giant-nya sendiri belum pernah. Setelah minggu sebelumnya nggak jadi, maka hari Minggu kemarin dengan kondisi apapun akhirnya dijadikan. Sampai segitunya ya. Walaupun Izal kemudian nggak ikut karena marah-marah, seperti biasa, hanya karena urusan sepele, disuruh naruh celana di tempat jemuran. Hanya bertiga yang kemudian berangkat ke BS.
BS ini merupakan mal terbaru untuk saat ini. Entah bertahan berapa lama lagi sebelum muncul mal yang lain di Bogor. Setiap kali muncul tempat ngeceng baru, seperti gula bagi semut-semut di sekitarnya. Berbondong-bondong untuk sekedar cuci mata dan cuci muka bagi yang tampangnya kusut. Launchingnya sendiri mungkin sudah sebulanan yang lalu. Biasa, karena kesibukan dan juga sebenarnya tidak begitu tergerak hati untuk datang ke mal tersebut, saya baru datang setelah sekian minggu dibuka. Itupun lebih karena Gramedia buka outlet baru di mal tersebut dan memberikan diskon sampe 30% yang terbatas waktunya. Karena nguber diskon yang jarang diberikan segede itu oleh Gramedia lah yang menggiring saya untuk menginjakkan kaki ke BS. Here I come BS.Gedung BS ada di dekat tugu kujang yang menjadi landmark-nya Bogor, juga dekat terminal bis Baranangsiang. Proses pembangunannya yang sempat kontroversial justru menjadikan publikasi gratis bagi BS sendiri. Demo yang dulu dilakukan mahasiswa IPB dan komponen masyarakat lainnya untuk menentang pendirian mal tersebut karena didirikan di lahannya dunia pendidikan tidak mempengaruhi keputusan rektornya. Alasan mengkomersialkan kampus juga tidak dianggap suatu hal yang perlu didengar. Sang rektor tetap keukeuh memberikan lahannya untuk investor. Sekali lagi, uang lebih keras bicaranya daripada ribuan warga Bogor yang melakukan demo. Kalau anda baca bukunya Henry Ford ’The International Jew’, seperti pendirian mal itulah yang merupakan contoh konsep Zionis meninabobokan musuhnya ke dalam kubangan hedonisme. Kaun Yahudi, meskipun minoritas, merupakan penguasa mayoritas terhadap uang yang beredar di seluruh dunia. Dengan menggunakan kekuatan uangnyalah dia bisa mengatur jalannya kehidupan seperti yang diinginkan, bahkan untuk kehidupan sebuah negara. Contoh gampang saja tentang Amerika Serikat. Siapa yang ada di balik segala keputusan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih?
Saya ternyata sudah ada di dalam BS. Rupanya Zionis dan kelakuannya tadi merupakan lamunan yang lewat di benak saya. Tujuan utamanya adalah jalan-jalan. Jadi, ketika masuk ke Giant yang dibeli tidak seberapa. Sebelum ke tempat tersebut saya bertiga menikmati makan siang dulu di A&W. Ada dan hanya satu yang merupakan favorit saya di restoran fastfood tersebut, root beer float. Minuman tersebut mempunyai kenangan ketika saya tinggal pertama kalinya di Jakarta tahun 1992. Sudah bisa dipastikan minuman itu yang selalu saya beli bila mampir di A&W di manapun berada.
Selesai keliling di Giant dan mengambil barang-barang yang perlu dibeli, kami ke kasir. Alamak, antrinya. Saya sarankan, kalau tidak perlu-perlu amat atau kecuali anda hobi antri, jangan belanja di Giant pada hari Minggu (bisa jadi hari libur juga) apalagi pas tanggal muda atau orang habis gajian. Sengsara. Saya lihat ada 40 counter kasir, tapi tidak semuanya dibuka. Untungnya tadi sebelum belanja sempat makan siang dulu. Meskipun kaki leklok mengantri, perut nggak keroncongan.
Sunday, January 28, 2007
Burung Siapa yang Flu?
Dengan kembali mewabahnya flu burung dan penyakit demam berdarah menjadikan rakyat yang sudah sengsara ini menjadi makin ketakutan. Yang bisa dilakukan hanyalah berharap mudah-mudahan dirinya maupun orang-orang yang dia sayangi tidak terjangkiti. Itu baru yang dirasakan oleh mereka yang rakyat biasa, yang tidak punya piaraan unggas atau jadi peternak dan pengusaha. Lebih-lebih mereka yang kehidupannya tergantung pada binatang yang sekarang lagi ngetop karena dengan sukses membuat manusia ‘keder’ tersebut. Bisa kita bayangkan kebingungan mereka. Ibarat buah simalakama, diterusin bisa menjadi mesin pembunuh, tidak diterusin orang itu mata pencaharian mereka. Terus gimana jalan terbaiknya? Barangkali yang bisa dikerjakan rakyat jelata negara ini, termasuk saya, hanyalah berdoa.
Entah ini peringatan atau azab dunia yang ditimpakan kepada manusia Indonesia yang sudah lupa. Lupa, ada yang lebih berkuasa dari mereka yang memiliki kekuasaan; ada yang maha kaya dari yang super kaya; ada yang lebih dari sekedar jenius juara olimpiade fisika. Mereka lupa bahwa kehidupan ini ada pemiliknya. Hidup di dunia adalah menjadi tukang parkir. Apa yang dimiliki semua adalah titipan. Apabila pemiliknya datang meminta maka harus diserahkan. Nggak ada gunanya menyombongkan barang titipan. Konyol malahan. Bisa jadi tertawaan. Mau? Makanya jangan sok dengan apa yang dipunyai. Apapun. Kedudukan, kekayaan, kecantikan wal ketampanan, atau lebih-lebih jumlah pasangan yang lebih dari satu. Jangan deh! Percumtakbergun (percuma dan nggak ada gunanya).
Obrolan tentang burung yang punya flu pun tak luput dari bahasan saat saya dan para tetangga melakukan gotong royong membuat pos ronda baru. Meskipun, untuk menghibur diri, kami plesetkan musibah tersebut menjadi sebuah joke. Bahwa, pemusnahan unggas piaraan rumah tangga merupakan langkah pemerintah dalam memberantas kemiskinan. Artinya, orang-orang miskin yang hidupnya sudah susah terus diberantas. Juga, sekaligus meningkatkan kesejahteraan, yaitu, mereka yang sejahtera makin ditingkatkan. Kalau haji Rhoma Irama bilang dalam sebuah lagunya: ‘yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin’. Wo.. uwoooo.... (kalau ini mah lagu sendunya Betharia Sonata)
Tulisan yang singkat ini sudah pasti tidak akan mengatasi kemalangan yang sedang dialami rakyat Indonesia. Apalagi menyembuhkan penyakit akibat flu burung maupun nyamuk aides. Nggak mungkin la yau... Tapi setidaknya, saya berharap, siapapun yang membaca, supaya berhati-hati dan waspada dengan penyakit tersebut. Selain itu, janganlah mengikuti apa yang dilakukan oleh mereka yang diberi amanah tapi malah mengkhianati, wakil rakyat yang menyakiti hati rakyat, penguasa yang korup, pemilik jabatan yang memanfaatkan jabatannya, dan para penghamba hedonisme. Jadi orang penting itu baik, tapi lebih penting jadi orang baik. Ya nggak?
Entah ini peringatan atau azab dunia yang ditimpakan kepada manusia Indonesia yang sudah lupa. Lupa, ada yang lebih berkuasa dari mereka yang memiliki kekuasaan; ada yang maha kaya dari yang super kaya; ada yang lebih dari sekedar jenius juara olimpiade fisika. Mereka lupa bahwa kehidupan ini ada pemiliknya. Hidup di dunia adalah menjadi tukang parkir. Apa yang dimiliki semua adalah titipan. Apabila pemiliknya datang meminta maka harus diserahkan. Nggak ada gunanya menyombongkan barang titipan. Konyol malahan. Bisa jadi tertawaan. Mau? Makanya jangan sok dengan apa yang dipunyai. Apapun. Kedudukan, kekayaan, kecantikan wal ketampanan, atau lebih-lebih jumlah pasangan yang lebih dari satu. Jangan deh! Percumtakbergun (percuma dan nggak ada gunanya).
Obrolan tentang burung yang punya flu pun tak luput dari bahasan saat saya dan para tetangga melakukan gotong royong membuat pos ronda baru. Meskipun, untuk menghibur diri, kami plesetkan musibah tersebut menjadi sebuah joke. Bahwa, pemusnahan unggas piaraan rumah tangga merupakan langkah pemerintah dalam memberantas kemiskinan. Artinya, orang-orang miskin yang hidupnya sudah susah terus diberantas. Juga, sekaligus meningkatkan kesejahteraan, yaitu, mereka yang sejahtera makin ditingkatkan. Kalau haji Rhoma Irama bilang dalam sebuah lagunya: ‘yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin’. Wo.. uwoooo.... (kalau ini mah lagu sendunya Betharia Sonata)Tulisan yang singkat ini sudah pasti tidak akan mengatasi kemalangan yang sedang dialami rakyat Indonesia. Apalagi menyembuhkan penyakit akibat flu burung maupun nyamuk aides. Nggak mungkin la yau... Tapi setidaknya, saya berharap, siapapun yang membaca, supaya berhati-hati dan waspada dengan penyakit tersebut. Selain itu, janganlah mengikuti apa yang dilakukan oleh mereka yang diberi amanah tapi malah mengkhianati, wakil rakyat yang menyakiti hati rakyat, penguasa yang korup, pemilik jabatan yang memanfaatkan jabatannya, dan para penghamba hedonisme. Jadi orang penting itu baik, tapi lebih penting jadi orang baik. Ya nggak?
Wednesday, January 10, 2007
Kebun Melati
Pengennya sih punya kebun yang tidak cemolong. Kalau anda orang Jawa, pasti tahu arti cemolong. Bila ada sesuatu yang menarik untuk dicuri atau bisa menimbulkan keinginan seseorang untuk mengambilnya, itu yang dinamakan dengan cemolong.
Hidup bertetangga itu memerlukan kesabaran. Baik dengan tetangga yang tinggal sekampung maupun desa sebelah. Saya yang tinggal di perumahan yang diapit oleh desa Cibadak dan Bojongrangkas mau nggak mau juga harus berhadapan dengan segala jenis perilaku orang-orang yang tinggal di kedua desa tersebut. Termasuk juga mereka yang suka maling, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kalau menuruti nafsu sih inginnya marah. Siapa yang nggak emosi, misalnya, ketika buah Sunkist yang bergelantungan menyenangkan untuk dipandang dan tentunya untuk dimakan nanti setelah masak tiba-tiba hilang satu persatu. Atau, saat pohon jeruk kip yang segar untuk dibuat minuman (limun) berbuah lebat saya dapati habis semua bekas dirontoki maling saat pulang dari kantor. Kemungkinan besar pencurinya adalah anak-anak, karena jeruk kip asam banget rasanya kalau dimakan langsung meskipun matang di pohon. Makanya ketika developer memberikan ijin saya untuk memanfaatkan lahan di lereng dekat rumah, saya jadi berpikir. Sebaiknya tumbuhan apa yang mesti saya tanam.
Saya jadi ingat Tya, anak BEC angkatan 8 yang pernah cerita kakaknya punya kebun melati. Kayaknya bagus juga lereng tersebut ditanami melati. Tanaman yang tidak memiliki buah untuk dicuri, tetapi memiliki nilai ekonomis yang lumayan. Jadi bisa dikatakan, pohon melati itu tidak cemolong. Tapi tergantung juga ding. Kalau mereka tahu bunga melati memiliki nilai jual tinggi, akhirnya jadi cemolong juga. Gimana nanti sajalah. Pusing!!
Tya saya telepon untuk janjian ketemu. Hari Sabtu saya ke rumah dia. Tanpa duduk dulu, saya langsung diantar ke kebun melati milik kakaknya yang ada di belakang puskesmas Cibatok dekat pertigaan. Sebelum ke kebun, mampir terlebih dahulu ke rumah kakaknya. Setelah ngobrol beberapa saat, saya putuskan untuk membeli stek melati sebanyak duaratus batang dengan harga Rp.300 per batang. Saya ikut ke kebun untuk melihat bagaimana dia mengambil stek melati sekaligus pengen tahu seperti apa bentuk kebun melati itu.
Begitu sampai di rumah lagi, kantong-kantong polybag berisi tanah langsung saya siapkan untuk menyemai stek melati yang barusan saya beli untuk mengurangi kemungkinan gagal (mati). Rencananya nanti setelah agak besar baru dipindahkan ke lahan yang sudah saya persiapkan. Untuk saat ini, sambil menunggu bibit melati menjadi besar, saya tanami dulu kacang tanah. Tapi sayang, kayaknya sebagian benih kacang tidak tumbuh. Tauk kenapa!
Hidup bertetangga itu memerlukan kesabaran. Baik dengan tetangga yang tinggal sekampung maupun desa sebelah. Saya yang tinggal di perumahan yang diapit oleh desa Cibadak dan Bojongrangkas mau nggak mau juga harus berhadapan dengan segala jenis perilaku orang-orang yang tinggal di kedua desa tersebut. Termasuk juga mereka yang suka maling, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kalau menuruti nafsu sih inginnya marah. Siapa yang nggak emosi, misalnya, ketika buah Sunkist yang bergelantungan menyenangkan untuk dipandang dan tentunya untuk dimakan nanti setelah masak tiba-tiba hilang satu persatu. Atau, saat pohon jeruk kip yang segar untuk dibuat minuman (limun) berbuah lebat saya dapati habis semua bekas dirontoki maling saat pulang dari kantor. Kemungkinan besar pencurinya adalah anak-anak, karena jeruk kip asam banget rasanya kalau dimakan langsung meskipun matang di pohon. Makanya ketika developer memberikan ijin saya untuk memanfaatkan lahan di lereng dekat rumah, saya jadi berpikir. Sebaiknya tumbuhan apa yang mesti saya tanam.
Saya jadi ingat Tya, anak BEC angkatan 8 yang pernah cerita kakaknya punya kebun melati. Kayaknya bagus juga lereng tersebut ditanami melati. Tanaman yang tidak memiliki buah untuk dicuri, tetapi memiliki nilai ekonomis yang lumayan. Jadi bisa dikatakan, pohon melati itu tidak cemolong. Tapi tergantung juga ding. Kalau mereka tahu bunga melati memiliki nilai jual tinggi, akhirnya jadi cemolong juga. Gimana nanti sajalah. Pusing!!Tya saya telepon untuk janjian ketemu. Hari Sabtu saya ke rumah dia. Tanpa duduk dulu, saya langsung diantar ke kebun melati milik kakaknya yang ada di belakang puskesmas Cibatok dekat pertigaan. Sebelum ke kebun, mampir terlebih dahulu ke rumah kakaknya. Setelah ngobrol beberapa saat, saya putuskan untuk membeli stek melati sebanyak duaratus batang dengan harga Rp.300 per batang. Saya ikut ke kebun untuk melihat bagaimana dia mengambil stek melati sekaligus pengen tahu seperti apa bentuk kebun melati itu.
Begitu sampai di rumah lagi, kantong-kantong polybag berisi tanah langsung saya siapkan untuk menyemai stek melati yang barusan saya beli untuk mengurangi kemungkinan gagal (mati). Rencananya nanti setelah agak besar baru dipindahkan ke lahan yang sudah saya persiapkan. Untuk saat ini, sambil menunggu bibit melati menjadi besar, saya tanami dulu kacang tanah. Tapi sayang, kayaknya sebagian benih kacang tidak tumbuh. Tauk kenapa!
Monday, January 08, 2007
Salah Tanggal
Hari Minggu (7/1/07) ada undangan kawinan di Kampung Setu. Saya, istri, dan anak saya yang bontot berangkat untuk memenuhi undangan tersebut. Sengaja tidak naik ojek agar bisa jalan kaki melewati persawahan yang asri di belakang komplek perumahan. Karena berangkat setelah sholat dzuhur dan panas matahari yang menyengat, saya bawa payung yang besar buat dipakai bertiga.Sudah lama saya tidak melewati persawahan yang menuju Kampung Setu. Dulu, mungkin lebih dari setahun, terakhir melalui tempat tersebut adalah kebun semangka. Sekarang yang saya lihat adalah kebun jagung yang sudah tinggi-tinggi. Barangkali hampir waktunya panen melihat buahnya yang sudah besar-besar. Spekulasi saja saya jalan di sebelah kebun jagung tersebut. Alhamdulillah ternyata benar. Jalan tersebut menuju Kampung Setu. Jadi saya tidak kesasar. Begitu sampai di perkampungan, saya langsung menuju rumah yang memiliki hajat. Tapi aneh, kok rumahnya sepi-sepi saja. Tidak ada kegiatan layaknya rumah orang hajatan. Istri saya kemudian nelpon ke rumah. Untungnya anak saya yang gede nggak mau ikut. Katanya mau main komputer saja. Dia kemudian disuruh membaca lagi undangan kawinan yang ada di atas meja. Ternyata ..... bukan hari ini acaranya, melainkan minggu depan. Nasiiiibbbb nasib! Padahal perut saya sudah minta diisi. Tadinya sengaja datang setelah sholat dzuhur ngepasin waktunya makan siang. Apa boleh buat, meskipun perut lapar terpaksa saya tahan.
Setelah basa-basi sebentar, kemudian pamitan. Beruntung pemandangan yang indah di sekeliling jalan yang dilewati bisa membuat lupa sementara perut yang lapar. Saat melewati pabrik tahu, saya sempatkan untuk mampir sebentar membeli tahu segar yang baru diangkat. Kalau tidak salah ingat, pabrik tersebut merupakan pabrik baru. Karena seingat saya ketika terakhir melewati jalan tersebut, pabrik tahu itu belum ada. Dari beli tahu tidak langsung pulang tapi naik odong-odong ke Cikampak. Saya ngamuk di rumah makan Padang Harapan Bundo. Jatah nasi buat nambah milik saya sendiri dan istri saya embat habis. Termasuk sepiring sambal yang baru disusulkan karena baru matang. Perut yang lapar menjadi penyebabnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)