Hidup bertetangga itu memerlukan kesabaran. Baik dengan tetangga yang tinggal sekampung maupun desa sebelah. Saya yang tinggal di perumahan yang diapit oleh desa Cibadak dan Bojongrangkas mau nggak mau juga harus berhadapan dengan segala jenis perilaku orang-orang yang tinggal di kedua desa tersebut. Termasuk juga mereka yang suka maling, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kalau menuruti nafsu sih inginnya marah. Siapa yang nggak emosi, misalnya, ketika buah Sunkist yang bergelantungan menyenangkan untuk dipandang dan tentunya untuk dimakan nanti setelah masak tiba-tiba hilang satu persatu. Atau, saat pohon jeruk kip yang segar untuk dibuat minuman (limun) berbuah lebat saya dapati habis semua bekas dirontoki maling saat pulang dari kantor. Kemungkinan besar pencurinya adalah anak-anak, karena jeruk kip asam banget rasanya kalau dimakan langsung meskipun matang di pohon. Makanya ketika developer memberikan ijin saya untuk memanfaatkan lahan di lereng dekat rumah, saya jadi berpikir. Sebaiknya tumbuhan apa yang mesti saya tanam.
Saya jadi ingat Tya, anak BEC angkatan 8 yang pernah cerita kakaknya punya kebun melati. Kayaknya bagus juga lereng tersebut ditanami melati. Tanaman yang tidak memiliki buah untuk dicuri, tetapi memiliki nilai ekonomis yang lumayan. Jadi bisa dikatakan, pohon melati itu tidak cemolong. Tapi tergantung juga ding. Kalau mereka tahu bunga melati memiliki nilai jual tinggi, akhirnya jadi cemolong juga. Gimana nanti sajalah. Pusing!!Tya saya telepon untuk janjian ketemu. Hari Sabtu saya ke rumah dia. Tanpa duduk dulu, saya langsung diantar ke kebun melati milik kakaknya yang ada di belakang puskesmas Cibatok dekat pertigaan. Sebelum ke kebun, mampir terlebih dahulu ke rumah kakaknya. Setelah ngobrol beberapa saat, saya putuskan untuk membeli stek melati sebanyak duaratus batang dengan harga Rp.300 per batang. Saya ikut ke kebun untuk melihat bagaimana dia mengambil stek melati sekaligus pengen tahu seperti apa bentuk kebun melati itu.
Begitu sampai di rumah lagi, kantong-kantong polybag berisi tanah langsung saya siapkan untuk menyemai stek melati yang barusan saya beli untuk mengurangi kemungkinan gagal (mati). Rencananya nanti setelah agak besar baru dipindahkan ke lahan yang sudah saya persiapkan. Untuk saat ini, sambil menunggu bibit melati menjadi besar, saya tanami dulu kacang tanah. Tapi sayang, kayaknya sebagian benih kacang tidak tumbuh. Tauk kenapa!
Hari Minggu (7/1/07) ada undangan kawinan di Kampung Setu. Saya, istri, dan anak saya yang bontot berangkat untuk memenuhi undangan tersebut. Sengaja tidak naik ojek agar bisa jalan kaki melewati persawahan yang asri di belakang komplek perumahan. Karena berangkat setelah sholat dzuhur dan panas matahari yang menyengat, saya bawa payung yang besar buat dipakai bertiga.
Setelah basa-basi sebentar, kemudian pamitan. Beruntung pemandangan yang indah di sekeliling jalan yang dilewati bisa membuat lupa sementara perut yang lapar. Saat melewati pabrik tahu, saya sempatkan untuk mampir sebentar membeli tahu segar yang baru diangkat. Kalau tidak salah ingat, pabrik tersebut merupakan pabrik baru. Karena seingat saya ketika terakhir melewati jalan tersebut, pabrik tahu itu belum ada. Dari beli tahu tidak langsung pulang tapi naik odong-odong ke Cikampak. Saya ngamuk di rumah makan Padang Harapan Bundo. Jatah nasi buat nambah milik saya sendiri dan istri saya embat habis. Termasuk sepiring sambal yang baru disusulkan karena baru matang. Perut yang lapar menjadi penyebabnya.
Akhirnya. Kelar sudah teras di depan rumah yang pengerjaannya jauh melebihi waktu yang ditargetkan. Tadinya saat BEC libur akhir cawu selama sepuluh hari mulai 16 s/d 25 Desember 2006 saya anggap cukup untuk bisa merampungkan pembuatan teras. Sehingga, saat waktunya ngantor lagi, teras sudah tuntas. Rencana tinggal rencana. Tukang dan kenek yang janjinya mau mulai kerja tanggal 17 jadi mundur ke tanggal 18. Waktu tersisa tinggal delapan hari.
Saat bikin kesepakatan dengan Mang Dayat (tukang), sengaja saya minta tenaga tiga orang termasuk tukangnya sendiri dengan harapan bisa menyelesaikan pekerjaan selama liburan tersebut. Yang saya amati, mereka memang terus bekerja. Tapi rupanya kecepatan kerja dengan hasil maksimal memerlukan waktu lebih lama dari delapan hari. Apa boleh buat. Daripada berantakan dan hasilnya kurang bagus, waktu terpaksa diperpanjang. Dengan tambahan delapan hari lagi, teras rumah yang memang sudah lama saya rencanakan jadi juga. Mang Dayat dan keneknya kerja terakhir 3 Januari 2007. Dengan demikian, ternyata, membuat teras bisa memakan waktu satu tahun. Bener kan? Dimulai tahun 2006, berakhir tahun 2007.
Tahun baru dimulai dengan rumah berpenampilan baru. Sekarang, tidak ada lagi rasa khawatir kehujanan atau kena tempias saat membaca di teras, pun saat menerima tamu. Saya sendiri jadi bisa membuat tamu nyaman bertandang ke rumah dengan duduk di teras yang walaupun sederhana, tanpa harus masuk ke dalam rumah yang kadang berantakan dan tidak memiliki tempat duduk buat tamu.
BEC mengadakan lagi acara tahunan yang diselenggarakan setiap hari raya Idul Adha. Bakti Sosial. Kali ini kegiatan diadakan di Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Bogor, hari Senin (1/1/07). Acaranya sama seperti tahun kemarin. Memotong sapi. Yang agak beda, sekarang ini sapinya benar-benar gede. Harganya saja 15 juta. Dua kali lipat dari harga sapi yang dipotong di tahun kemarin. Selain itu, ada tambahan dua ekor kambing.
Saya diserahi tugas untuk menyerahkan hewan kurban tersebut kepada wakil dari masyarakat desa setempat. Agak kagok juga. Masalahnya, tokoh masyarakat yang mewakili bahasa Indonesianya kurang lancar, hanya bisa bahasa Sunda. Saya, bahasa Sunda nggak bisa. Untungnya Mita berbaik hati menawarkan diri untuk jadi penterjemah. Meskipun deg-degan karena masalah bahasa, akhirnya beres juga acara seremonial tersebut. Kemudian acara dilanjutkan dengan memotong hewan kurban.
Karena badannya yang besar, sapi yang jadi kurban sempat merepotkan. Walaupun sudah dikeroyok, orang-orang masih kewalahan untuk bisa menjatuhkan sapi tersebut. Tidak gampang ternyata main ‘smack down’ dengan sapi. Bagaimanapun juga manusia punya akal. Kalah main sendirian, kompakan main keroyokan. Apalagi temennya sapi tersebut hanya dua ekor kambing. Saya sih hanya menonton saja. Nggak mau ikut ngeroyok. Cukup nyerahin saja.
domba semua, tidak ada sapinya. Seperti biasa, saya hanya ikut membantu memotongi daging dan mencatat nomor pengambilan daging kurban yang sudah masuk. Saya belum pernah memotong sendiri hewan kurban. Pengennya suatu saat nanti bisa ikut membantu memotong hewan kurban, baik kambing, domba, maupun sapi. Ada campuran antara rasa nggak tega, takut, dan kasihan ketika melihat leher yang terbelah dan memancarkan darah segar karena golok tukang jagal. Namun demikian, selalu muncul perasaan suka cita saat mengikuti acara pemotongan kurban. Para tetangga yang setiap hari tidak bisa ketemu, saat itu datang bersilaturahim sambil rame-rame memotong dan mencacah daging kurban. Itulah berkah lain yang diperoleh dari hari raya Idul Adha.