Saturday, January 06, 2007

Terrace

Terrace: long row of houses joined together. (Oxford Learner’s Pocket Dictionary)
Terrace: a) a relatively level paved or planted area adjoining a building; b) a colonnaded porch or promenade. (Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, 11th edition)
Beranda: ruang beratap yang terbuka (tidak berdinding) di bagian samping atau depan rumah (biasa dipakai untuk tempat duduk santai sambil makan angin dsb); teras; langkan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga)

Akhirnya. Kelar sudah teras di depan rumah yang pengerjaannya jauh melebihi waktu yang ditargetkan. Tadinya saat BEC libur akhir cawu selama sepuluh hari mulai 16 s/d 25 Desember 2006 saya anggap cukup untuk bisa merampungkan pembuatan teras. Sehingga, saat waktunya ngantor lagi, teras sudah tuntas. Rencana tinggal rencana. Tukang dan kenek yang janjinya mau mulai kerja tanggal 17 jadi mundur ke tanggal 18. Waktu tersisa tinggal delapan hari.

Saat bikin kesepakatan dengan Mang Dayat (tukang), sengaja saya minta tenaga tiga orang termasuk tukangnya sendiri dengan harapan bisa menyelesaikan pekerjaan selama liburan tersebut. Yang saya amati, mereka memang terus bekerja. Tapi rupanya kecepatan kerja dengan hasil maksimal memerlukan waktu lebih lama dari delapan hari. Apa boleh buat. Daripada berantakan dan hasilnya kurang bagus, waktu terpaksa diperpanjang. Dengan tambahan delapan hari lagi, teras rumah yang memang sudah lama saya rencanakan jadi juga. Mang Dayat dan keneknya kerja terakhir 3 Januari 2007. Dengan demikian, ternyata, membuat teras bisa memakan waktu satu tahun. Bener kan? Dimulai tahun 2006, berakhir tahun 2007.

Tahun baru dimulai dengan rumah berpenampilan baru. Sekarang, tidak ada lagi rasa khawatir kehujanan atau kena tempias saat membaca di teras, pun saat menerima tamu. Saya sendiri jadi bisa membuat tamu nyaman bertandang ke rumah dengan duduk di teras yang walaupun sederhana, tanpa harus masuk ke dalam rumah yang kadang berantakan dan tidak memiliki tempat duduk buat tamu.
Tahun baru dimulai dengan rumah berteras baru. Sekarang, teras rumah sudah bisa jadi tempat bercengkerama bersama keluarga. Ngobrol dengan tamu, main catur, juga scrabble, sudah tersedia tempat yang nyaman. Siang maupun malam.

Kapan mau main ke rumah?

Mamah Jatuh

Terjadinya jam 5-an sore tiga hari yang lalu (Rabu, 3/1/07). Mamah jatuh dan paha kiri luar sebelah atas sobek terkena selot pintu pagar sehingga membutuhkan duabelas jahitan, tiga dalam sembilan luar. Namanya juga musibah. Datangnya tidak bisa ditebak atau diperkirakan waktunya. Untungnya saat jatuh ada Mang Dayat, Mang Sadi, dan Asep ( tukang dan dua kenek) yang masih kerja di rumah. Merekalah yang mengangkat mamah ke dalam rumah sebelum dibawa ke klinik.

Saat saya pulang kantor, mamah sudah tergolek di atas matras mengaduh kesakitan. Sebelumnya saya sempat bertanya-tanya juga ketika melihat istri saya berjalan tergopoh-gopoh dengan muka panik. Rupanya dia sedang mencari mobil untuk mamah. Begitu melihat saya datang, segera dia informasikan tentang mamah.

Mobil pak Syabar yang akhirnya dipakai. Mang Dayat dan keneknya sekali lagi mengangkat mamah masuk ke dalam mobil. Saya dan Lili (bu Kris) menemani mamah sementara pak Syabar duduk di depan memegang kemudi. Kendaraan segera membawa mamah ke Klinik Amanah di Cibanteng yang merupakan klinik terdekat yang terpikirkan oleh kami. Begitu sampai segera saya dan pak Syabar membimbing mamah langsung masuk ke ruang periksa. Lega rasanya mamah sudah ditangani oleh ahlinya. Lili yang masuk menemani mamah, sementara saya dan pak Syabar duduk di ruang tunggu.

Ada kejadian yang menggetarkan hati waktu menunggu di klinik ketika itu. Saat saya dan pak Syabar ngobrol sambil nunggu mamah dijahit, masuklah seorang ibu-ibu yang dibopong dua orang laki-laki. Sementara di belakangnya mengikuti seorang wanita yang lebih muda. Rupanya ibu-ibu yang kemudian didudukkan di atas sofa ruang tunggu di depan saya itu dalam keadaan pingsan. Perkiraan saya dia korban kecelakaan meskipun tidak ada luka, hanya lecet sedikit di jempol kaki kanan. Saya kasihan melihat kondisinya. Namun bukan dia yang menggetarkan hati saya, tapi anak muda yang dibawa masuk sesudahnya.

Dua orang laki-laki masuk membopong remaja laki-laki yang merupakan korban kecelakaan yang sama dengan ibu-ibu yang dibawa masuk sebelumnya. Kemudian dia didudukkan di sofa sebelah kanan saya. Segera pak Syabar dan saya berdiri untuk melihat kondisi anak muda tersebut. Dia tidak pingsan. Duduk diam bersandar di sofa. Matanya melek tapi tidak pernah berkedip. Pandangannya kosong lurus ke depan. Kaki, tangan, dan wajahnya lecet-lecet tapi tidak berdarah-darah. Yang menggetarkan saya adalah, setiap beberapa saat dia seperti orang cegukan atau seperti orang yang habis nangis lama. Melihatnya seperti itu, saya tidak bisa atau malahan tidak berani menebak apakah dia bisa diselamatkan atau tidak. Pak Syabar kemudian bilang kepada yang membawa korban bahwa korban tersebut sebaiknya dibawa ke rumah sakit. Rasanya klinik kecil ini tidak bisa memberikan pertolongan yang dibutuhkan karena diperkirakan yang luka adalah bagian dalam.

Para penolongnya mengikuti anjuran pak Syabar. Anak muda tersebut dibawa kembali ke mobil bak terbuka yang membawanya tadi. Dia ditidurkan di bak belakang dengan hanya dikasih bantal untuk kepalanya tanpa tikar atau alas sama sekali. Si ibu-ibu juga dibopong kembali dan didudukkan di sebelah sopir. Mereka akan dibawa ke rumah sakit di Leuwiliang. Mudah-mudahan saja keduanya yang merupakan korban kecelakaan di Cicadas belum terlambat untuk ditolong.

Jam 6 lebih luka mamah akhirnya selesai dijahit. Namun ada satu lagi obat yang harus diberikan ke mamah tetapi klinik tersebut sedang kehabisan. Mamah harus disuntik dengan ATS (anti tetanus). Atas informasi dari petugas di Klinik Amanah, mamah kemudian dibawa ke Klinik Avira di Cibungbulang untuk disuntik ATS. Selesai itu kami langsung pulang.

Mamah ini memang bukan ibu saya ataupun istri saya. Dia itu uwaknya Lili istrinya pak Kris, tetangga saya, yang sudah dianggap ibu sendiri oleh dia karena yang merawatnya sejak kecil. Saya sendiri dengan ikut-ikutan memanggil mamah merasa dia bukan hanya sekedar tetangga, tetapi seperti keluarga.

Thursday, January 04, 2007

Bakso 2007

BEC mengadakan lagi acara tahunan yang diselenggarakan setiap hari raya Idul Adha. Bakti Sosial. Kali ini kegiatan diadakan di Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Bogor, hari Senin (1/1/07). Acaranya sama seperti tahun kemarin. Memotong sapi. Yang agak beda, sekarang ini sapinya benar-benar gede. Harganya saja 15 juta. Dua kali lipat dari harga sapi yang dipotong di tahun kemarin. Selain itu, ada tambahan dua ekor kambing.

Saya diserahi tugas untuk menyerahkan hewan kurban tersebut kepada wakil dari masyarakat desa setempat. Agak kagok juga. Masalahnya, tokoh masyarakat yang mewakili bahasa Indonesianya kurang lancar, hanya bisa bahasa Sunda. Saya, bahasa Sunda nggak bisa. Untungnya Mita berbaik hati menawarkan diri untuk jadi penterjemah. Meskipun deg-degan karena masalah bahasa, akhirnya beres juga acara seremonial tersebut. Kemudian acara dilanjutkan dengan memotong hewan kurban.

Karena badannya yang besar, sapi yang jadi kurban sempat merepotkan. Walaupun sudah dikeroyok, orang-orang masih kewalahan untuk bisa menjatuhkan sapi tersebut. Tidak gampang ternyata main ‘smack down’ dengan sapi. Bagaimanapun juga manusia punya akal. Kalah main sendirian, kompakan main keroyokan. Apalagi temennya sapi tersebut hanya dua ekor kambing. Saya sih hanya menonton saja. Nggak mau ikut ngeroyok. Cukup nyerahin saja.

Sehari sebelumnya, saya juga terlibat dalam kepanitian kurban di kampung. Yang tadinya panitia ragu dengan jumlah hewan kurban yang akan diamanatkan ke panitia, ternyata tahun ini jumlah hewan kurban yang dipotong sebanyak 18 ekor, meskipun domba semua, tidak ada sapinya. Seperti biasa, saya hanya ikut membantu memotongi daging dan mencatat nomor pengambilan daging kurban yang sudah masuk. Saya belum pernah memotong sendiri hewan kurban. Pengennya suatu saat nanti bisa ikut membantu memotong hewan kurban, baik kambing, domba, maupun sapi. Ada campuran antara rasa nggak tega, takut, dan kasihan ketika melihat leher yang terbelah dan memancarkan darah segar karena golok tukang jagal. Namun demikian, selalu muncul perasaan suka cita saat mengikuti acara pemotongan kurban. Para tetangga yang setiap hari tidak bisa ketemu, saat itu datang bersilaturahim sambil rame-rame memotong dan mencacah daging kurban. Itulah berkah lain yang diperoleh dari hari raya Idul Adha.

Thursday, December 28, 2006

Green Walk

Sudah nggak keitung saya ke gunung kapur di desa Karang Mas. Kapanpun main ke tempat tersebut, selalu senang saja bawaannya. Termasuk hari Minggu pagi (24/12/06) kemarin.

Ceritanya di kampung tempat saya tinggal mengadakan acara Jalan Sehat Keluarga. Pesertanya merupakan gabungan RT.02 dan RT.03. Meskipun hanya sebagian keluarga saja yang ikut, acaranya tetap meriah. Semua orang menikmati perjalanan. Termasuk saya sekeluarga. Hamparan rumput menghijau setinggi muka mengapit jalan yang dilewati. Anak-anak yang ikut sudah pasti tenggelam oleh ketinggian rumput. Jalanan menanjak menjadi tantangan lain buat mereka. Nampak jelas terpancar kegembiraan di wajah mereka. Tidak ada istilah capek.

Semua orang bersuka cita. Bukan hanya anak-anak, orang tua pun nggak ada bedanya. Buktinya, coba lihat foto ibu-ibu yang lagi bergaya. Kalau melihat tampangnya, mereka tidak kalah senangnya dibandingkan anak-anaknya. Jalan pagi menyusuri lereng gunung rupanya bisa menjadi obat bagi mereka untuk melupakan sejenak rutinitas di rumah. Disamping murah, sudah pasti menyehatkan.

Jarak yang harus ditempuh sebenarnya tidak terlalu jauh. Lokasi gunung kapur tepat di seberang perumahan tempat para peserta tinggal. Hanya karena banyak anak-anak yang ikut maka waktu tempuh jadi agak lama. Perjalanan dilakukan dengan santai. Lagian kenapa mesti terburu-buru. Kan tidak hendak mengejar kereta atau bis.

Udara pagi yang segar dan rerumputan hijau dengan kilau embun di atasnya menjadi terapi bagi semua peserta. Celana yang basah terkena embun terasa sejuk di kaki. Setelah jalan beberapa saat menembus rumpun rumput gajah yang hampir menutup jalan, para peserta istirahat tepat di bawah lereng yang agak terbuka. Bekal makanan dan minuman yang dibawa dari rumah dikeluarkan dan dinikmati sambil memandang bentangan desa Cibadak. Foto-fotoan tidak lupa dilakukan.

Monday, December 11, 2006

Ada Tamu

Malam ini ada tamu di rumah. Anak-anak BEC angkatan X. Encu, Rosi, Amira, Resti, Idan, ama Ryan (Junot). Sebelumnya nggak ada rencana sama sekali kalau mereka mau maen ke rumah. Sore tadi saat pulang dari kantor, mereka pada ngobrol-ngobrol di pengkolan di depan pos kamling tempat abang-abang becak pada mangkal. Tiba-tiba saja mereka ada yang bilang mau maen ke rumah. Saya iya-in dan .... gayung bersambut rupanya. Mereka jadi pulang bareng ke rumah.

Karena nggak ada niatan sebelumnya, ya terpaksa dijamu dengan yang ada saja. Makan malampun saya suruh masak sendiri. Untung ada yang jago masak. Baru tau kalau Ryan itu tukang masak. Jadi deh kita rame-rame makan malam di ruang tamu, meskipun jam menunjukkan hampir pukul sembilan. Better late than never lah. Mendingan telat daripada kagak makan malam.

Untuk tidur, yang cewek di kamar Izal & Reyhan, yang laki ngampar di ruang tamu. Selamat tidur guys. Nikmati tidurmu malam ini di gubukku. Semoga mimpi sedang tidur di hotel bintang lima. Jangan kapok. Kalaupun mau maen lagi, dengan lebih banyak temen, welcome saja. My door opens widely for you all.