Terrace: a) a relatively level paved or planted area adjoining a building; b) a colonnaded porch or promenade. (Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary, 11th edition)
Beranda: ruang beratap yang terbuka (tidak berdinding) di bagian samping atau depan rumah (biasa dipakai untuk tempat duduk santai sambil makan angin dsb); teras; langkan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga)
Akhirnya. Kelar sudah teras di depan rumah yang pengerjaannya jauh melebihi waktu yang ditargetkan. Tadinya saat BEC libur akhir cawu selama sepuluh hari mulai 16 s/d 25 Desember 2006 saya anggap cukup untuk bisa merampungkan pembuatan teras. Sehingga, saat waktunya ngantor lagi, teras sudah tuntas. Rencana tinggal rencana. Tukang dan kenek yang janjinya mau mulai kerja tanggal 17 jadi mundur ke tanggal 18. Waktu tersisa tinggal delapan hari.
Saat bikin kesepakatan dengan Mang Dayat (tukang), sengaja saya minta tenaga tiga orang termasuk tukangnya sendiri dengan harapan bisa menyelesaikan pekerjaan selama liburan tersebut. Yang saya amati, mereka memang terus bekerja. Tapi rupanya kecepatan kerja dengan hasil maksimal memerlukan waktu lebih lama dari delapan hari. Apa boleh buat. Daripada berantakan dan hasilnya kurang bagus, waktu terpaksa diperpanjang. Dengan tambahan delapan hari lagi, teras rumah yang memang sudah lama saya rencanakan jadi juga. Mang Dayat dan keneknya kerja terakhir 3 Januari 2007. Dengan demikian, ternyata, membuat teras bisa memakan waktu satu tahun. Bener kan? Dimulai tahun 2006, berakhir tahun 2007.
Tahun baru dimulai dengan rumah berpenampilan baru. Sekarang, tidak ada lagi rasa khawatir kehujanan atau kena tempias saat membaca di teras, pun saat menerima tamu. Saya sendiri jadi bisa membuat tamu nyaman bertandang ke rumah dengan duduk di teras yang walaupun sederhana, tanpa harus masuk ke dalam rumah yang kadang berantakan dan tidak memiliki tempat duduk buat tamu.Tahun baru dimulai dengan rumah berteras baru. Sekarang, teras rumah sudah bisa jadi tempat bercengkerama bersama keluarga. Ngobrol dengan tamu, main catur, juga scrabble, sudah tersedia tempat yang nyaman. Siang maupun malam.
Kapan mau main ke rumah?
BEC mengadakan lagi acara tahunan yang diselenggarakan setiap hari raya Idul Adha. Bakti Sosial. Kali ini kegiatan diadakan di Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk, Bogor, hari Senin (1/1/07). Acaranya sama seperti tahun kemarin. Memotong sapi. Yang agak beda, sekarang ini sapinya benar-benar gede. Harganya saja 15 juta. Dua kali lipat dari harga sapi yang dipotong di tahun kemarin. Selain itu, ada tambahan dua ekor kambing.
Saya diserahi tugas untuk menyerahkan hewan kurban tersebut kepada wakil dari masyarakat desa setempat. Agak kagok juga. Masalahnya, tokoh masyarakat yang mewakili bahasa Indonesianya kurang lancar, hanya bisa bahasa Sunda. Saya, bahasa Sunda nggak bisa. Untungnya Mita berbaik hati menawarkan diri untuk jadi penterjemah. Meskipun deg-degan karena masalah bahasa, akhirnya beres juga acara seremonial tersebut. Kemudian acara dilanjutkan dengan memotong hewan kurban.
Karena badannya yang besar, sapi yang jadi kurban sempat merepotkan. Walaupun sudah dikeroyok, orang-orang masih kewalahan untuk bisa menjatuhkan sapi tersebut. Tidak gampang ternyata main ‘smack down’ dengan sapi. Bagaimanapun juga manusia punya akal. Kalah main sendirian, kompakan main keroyokan. Apalagi temennya sapi tersebut hanya dua ekor kambing. Saya sih hanya menonton saja. Nggak mau ikut ngeroyok. Cukup nyerahin saja.
domba semua, tidak ada sapinya. Seperti biasa, saya hanya ikut membantu memotongi daging dan mencatat nomor pengambilan daging kurban yang sudah masuk. Saya belum pernah memotong sendiri hewan kurban. Pengennya suatu saat nanti bisa ikut membantu memotong hewan kurban, baik kambing, domba, maupun sapi. Ada campuran antara rasa nggak tega, takut, dan kasihan ketika melihat leher yang terbelah dan memancarkan darah segar karena golok tukang jagal. Namun demikian, selalu muncul perasaan suka cita saat mengikuti acara pemotongan kurban. Para tetangga yang setiap hari tidak bisa ketemu, saat itu datang bersilaturahim sambil rame-rame memotong dan mencacah daging kurban. Itulah berkah lain yang diperoleh dari hari raya Idul Adha.
Sudah nggak keitung saya ke gunung kapur di desa Karang Mas. Kapanpun main ke tempat tersebut, selalu senang saja bawaannya. Termasuk hari Minggu pagi (24/12/06) kemarin.
Semua orang bersuka cita. Bukan hanya anak-anak, orang tua pun nggak ada bedanya. Buktinya, coba lihat foto ibu-ibu yang lagi bergaya. Kalau melihat tampangnya, mereka tidak kalah senangnya dibandingkan anak-anaknya. Jalan pagi menyusuri lereng gunung rupanya bisa menjadi obat bagi mereka untuk melupakan sejenak rutinitas di rumah. Disamping murah, sudah pasti menyehatkan.
Udara pagi yang segar dan rerumputan hijau dengan kilau embun di atasnya menjadi terapi bagi semua peserta. Celana yang basah terkena embun terasa sejuk di kaki. Setelah jalan beberapa saat menembus rumpun rumput gajah yang hampir menutup jalan, para peserta istirahat tepat di bawah lereng yang agak terbuka. Bekal makanan dan minuman yang dibawa dari rumah dikeluarkan dan dinikmati sambil memandang bentangan desa Cibadak. Foto-fotoan tidak lupa dilakukan.
